drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

"Tak Nak"


Oleh : drh.chaidir, MM

DALAM perjalanan dari Bandara Internasional Sepang KLIA ke Kuala Lumpur, ada sebuah baliho raksasa berwarna merah menyala dengan jargon simpel mencolok: "Tak Nak!" Dalam hati saya bertanya, apa lagi nih Malaysia. Rasa ingin tahu saya terpancing, apa gerangan maksudnya. Sebagai orang Melayu, tentu saya tahu arti idiom itu. Tak nak artinya tak hendak, tak sudi, tidak mau, tidak ingin, begitulah kira-kira. Saya merasa yakin ini pasti sebuah iklan produk yang beberapa hari kemudian ungkapan singkat itu mungkin akan berganti dengan sebuah produk yang ditawarkan, mungkin iklan mobil Proton terbaru, iklan telepon genggam, atau iklan rokok. Saya meraba-raba.

Malamnya saya nonton tv di hotel dan saya menyaksikan Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Badawi melakukan kampanye besar-besaran anti merokok di Putrajaya Convention Center yang dihadiri lebih dari 3000 pelajar dan mahasiswa, dengan satu motto ringkas: "Tak Nak!" Maka terjawablah sudah rasa penasaran saya. Tak nak yang dimaksud adalah seruan sekaligus tekad yang ditanamkan kepada rakyat Malaysia, mereka tak sudi lagi merokok. Tak Nak, dilengkapi dengan anak kalimat, "Setiap Sedutan Mem-bawa Padah". PM Abdullah Badawi, menekankan dalam pidatonya bahwa tabiat benci merokok perlu disemai sejak di bangku sekolah untuk memastikan agar tidak memberi pengaruh negatif pada anak-anak dan remaja. "Mesej (pesan) saya kepada anak-anak ialah berhati-hati, jangan mudah dipengaruhi bila dipujuk kawan-kawan untuk merokok. Jangan malu untuk katakan tak nak. Bagi orang dewasa pula berhentilah merokok karena ia tak membawa apa-apa kebaikan. Katakan tak nak kepada rokok". Sambil bergurau PM Abdullah Badawi mengatakan bahwa dirinya dan mantan PM Dr Mahathir Mohamad tidak merokok sejak kecil. Jadi kalau mau menjadi Perdana Menteri Malaysia, jangan merokok. Dengan rileks PM Abdullah Badawi melontarkan pantun:

"Anda semua harapan negara,
Jangan merokok jadikan wadah,
Katakan tak nak sekarang juga,
Setiap sedutan membawa padah".

Kampanye Tak Nak mengusung lima ikrar: 1) tak nak merokok, 2) mengikis tabiat merokok, 3) membasmi budaya merokok, 4) menentang promosi rokok dan 5) membanteras penagihan rokok (baca: memberantas ketagihan rokok - penulis).

Ada-ada saja Malaysia. Agaknya di bilangan bangsa-bangsa yang mendiami rantau Asia Tenggara ini, Malaysia bolehlah disebut juara dalam membuat jargon-jargon. Negeri tetangga ini kelihatannya tidak pernah kehilangan ide. Pada tanggal 10 Mei 1996 ketika menyampaikan pidato pada Ulang Tahun UMNO yang ke-50 - begitu ditulis S Hashim Ahmad dalam buku "Mahathir Pencetus Tamadun Insaniah" - Dr Mahathir Mohamad yang waktu itu masih menjabat Perdana Menteri Malaysia, mengkampanyekan "Malaysia Boleh". Dr Mahathir Mohamad mengatakan: "Yakinlah kita boleh. Anak-anak muda kita, percayalah kepada diri kamu, kamu boleh. Yang diperlukan hanya kepercayaan kepada diri sendiri - jati diri. Lepas itu kesanggupan bertekun untuk mempelajari sesuatu sehingga boleh". Kata 'boleh' di sini berarti hebat, mampu, kuat, dan sebagainya, atau bisa juga berarti, kamu bisa. Malaysia Boleh, sampai sekarang melekat di sanubari orang Malaysia, sehingga menjadi idiom sehari-hari yang bisa memompa motivasi mereka dalam meraih berbagai prestasi.

Dua tahun kemudian bahkan sampai kini masih dipakai, Malaysia kembali membuat jargon unik sebagai tema Hari Kebangsaannya, yakni "Keranamu Malaysia". Hanya dua kata, tapi tema ini mengandung filosofi yang dalam. Dalam obrolan saya dengan Konsul Malaysia di Pekanbaru, Ahmad Samad Othman, saya mendapat penjelasan, tema itu bermakna, karena Tuhanlah Malaysia memperoleh kejayaan seperti sekarang atau juga bisa bermakna, karena rakyatlah Malaysia maju jaya. Pokoknya kemajuan itu adalah karena anda semua. Semangat yang terasa disini adalah semangat kerendahan hati, bukan semangat antara kau dan aku. Untuk apa diucapkan 'kita', kalau itu dilakukan dengan menghardik. 'Kita' akhirnya menjadi semu. Tema Keranamu Malaysia, memposisikan, andalah yang hebat maka hasil ini kita peroleh. Apa tidak ada orang yang "PTH" (Pantang Tak Hebat) di Malaysia, orang yang selalu menepuk dada, orang yang sombong karena keberhasilannya? Barangkali ada, namanya juga masyarakat, tapi karena kerendahan hati para pemimpinnya, mereka bisa melakukan persuasi yang memaksa.

Kembali kepada Tak Nak, Malaysia kelihatannya sangat risau (kita saja yang tak) dengan tabiat buruk para pelajar dan mahasiswa yang mudah sekali terpe-ngaruh untuk merokok. Merokok itu laksana virus SARS atau virus Flu Burung, satu kena, maka yang lain akan tertular. Padahal merokok itu, pangkal narkoba, kata Dr Ekmal Rusdy, di Pekanbaru. "Memang betul semua perokok belum tentu penderita narkoba, tetapi ingat semua penderita narkoba pasti perokok", katanya berteori. Dr Ekmal agaknya benar. Merokok memang tidak ada manfaatnya sama sekali, sehingga dalam ajaran agama Islam pun merokok itu digolongkan sesuatu yang makruh. Dikerjakan memang tidak berdosa, tapi kalau ditinggalkan pasti dapat pahala. Dari sudut pandang kesehatan, merokok tidak hanya mempermudah akses narkoba, tapi juga sangat tidak baik bagi kesehatan.

Dalam suatu bincang-bincang santai dengan Prof Muchtar Ahmad, Rektor UNRI, di suatu hari yang sudah agak jauh, secara bergurau Prof Muchtar Ahmad mengatakan, tanda-tanda manusia modern adalah, bisa bekerja dengan komputer (tidak gagap tekonologi), punya handphone, punya kartu kredit, dan tidak merokok. Kita boleh setuju boleh tidak. Tapi, tidak merokok memang boleh jadi telah menjadi salah satu ciri masyarakat modern atau lebih tepat agaknya ciri masyarakat yang rnemiliki apresiasi yang tinggi terhadap nilai-nilai kesehatan. Lihatlah Singapura. Di negera kota itu, semakin sempit saja ruang yang tersedia untuk para perokok. Para perokok ini harus menepi di pojok yang telah ditentukan seperti diisolasi. Para perokok diperlakukan seperti penderita penyakit menular. Salah-salah bila merokok di tempat-tempat umum bisa berurusan dengan kepolisian dan diancam sangsi yang cukup berat. Di Malaysia, jiran kita, juga sedang dibahas undang-undang anti rokok.

Di negeri kita, bahaya rokok merokok ini memang masih belum merupakan agenda prioritas untuk dipikir-kan, tapi bukan karena kita tak tahu. Suatu kali ketika kami berbincang-bincang mengenai bahaya rokok ini, Kepala Kejaksaan Tinggi Riau, Zainuddin Jahisa, SH MM, bercerita, "dari informasi yang ada", katanya sambil senyum-senyum, "pasien yang dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di Jakarta, ternyata tidak ada yang perokok". Saya tentu saja heran, sebab setahu saya, bukankah penderita penyakit jantung itu umumnya perokok berat? Sebelum kebingungan melebar menjadi kebinunan, Zainuddin buru-buru menambahkan, "karena ternyata, pasien perokok keburu mati sebelum sempat sampai ke RS Jantung Harapan Kita". Ooooh, begitu, ketawa pun berderai-derai. Kita boleh mentertawakan diri sendiri, realita mengatakan, dewasa ini industri rokok, setidaknya di Jawa, masih jadi andalan untuk menyerap tenaga kerja dan sebagai pembayar pajak terbesar di Tanah Air. How low can you go, coba?!

Begini sajalah, pinggan tak retak nasi tak dingin, Malaysia tak nak, kita pun tak ingin. Tapi nantilah setelah Pemilu kita pikirkan, semoga partai yang menang bisa mencarikan jalan keluar bagaimana caranya makan buah simalakama itu.

(No. 132/Th III/15 - 21 Februari 2004)


Tulisan ini sudah di baca 174 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/332-%22Tak-Nak%22.html