drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

"The Old Soldier Never Die"


Oleh : drh.chaidir, MM

(Catalan Seorang Kawan untuk Mantan Gubernur Riau Saleh Djasit)

HAMPIR satu purnama tak terdengar beritanya sejak turun dari singgasana, mantan Gubernur Riau Saleh Djasit ternyata belum tamat ceritanya. Semula, sebagaimana pernah diutarakannya, dia tidak lagi akan bersentuhan dengan dunia kekuasaan, dia akan menikmati istirahat panjang bersama keluarga setelah lebih dari 15 tahun berdansa dengan kekuasaan dan kesibukan.

Kekuasaan seakan akrab dengannya, sepuluh tahun sebagai penguasa tunggal, memegang jabatan Bupati Kepala Daerah di Kabupaten Kampar dan lima tahun menjabat sebagai Gubernur Provinsi Riau, bukanlah masa yang terhitung pendek untuk sebuah kebebasan yang terkekang. Selama itulah dia terikat oleh kehidupan yang serba protokoler, jadwal kegiatan yang tumpuk menumpuk, tugas berjibun, tamu yang tak kenal waktu, tidur yang kurang dan terakhir, selama lima tahun sebagai gubernur, ditambah pula dengan tugas membaca proposal yang menggunung. Yang namanya privacy kehidupan berkeluarga nyaris terabaikan. Namun privilege orang nomor satu, juga setiap hari bisa dinikmati. Hendak kemana pun pergi fasilitas VIP selalu melekat, dan dimana pun berada selalu ditinggikan seranting dan didulukan selangkah.

Dinamika kehidupan seorang Kepala Daerah yang super sibuk itu, digambarkan secara lawak oleh seorang teman. Kepala Daerah itu, kata teman ini, enaknya hanya 25%, sisanya 75% ternyata enak sekali. Benarkah begitu? Tanyalah kepada Arnold Schwazeneger. Bintang film Hollywood yang kaya-raya ini, buktinya, belum puas dengan kemewahannya sebagai selebritis sehingga harus merebut kursi Gubernur California. Jadi, agaknya pembagian 25% - 75% itu memang tidak terbantahkan.

Kini, belum lagi satu purnama berlalu, kekuasaan itu kembali mengharnpiri. Dari berbagai sumber dan berita yang bisa kita ikuti di media massa, Saleh Djasit diunggulkan oleh Partai Golkar sebagai Caleg Nomor 1 untuk DPR-RI di Daerah Pemilihan Riau Daratan. Keputusan DPP Partai Golkar untuk menempatkan mantan gubernur itu sebagai calon nomor satu, tentu sudah diperhitungkan masak-masak, bukan sekadar pelipur lara. Secara sederhana, itu bermakna Saieh ujasit dianggap memiliki potensi dan layak jual. Bagi Saleh Djasit sendiri, kepercayaan itu akan memperpanjang hari-hari pengabdiannya. Apalagi yang didambakan oleh seorang prajurit kalau bukan ladang-ladang pengabdian.

Pahlawan Amerika dalam Perang Dunia II, Jenderal Douglas MacArthur, agaknya secara tepat menggambarkan posisi pengabdian seorang prajurit ini. "The old soldier never die" (Serdadu tua tidak pernah mati), kata Jenderal Douglas MacArthur dengan amat tegar ketika dia kembali dari Perang Korea tahun 1951. Ucapan yang dahsyat itu dikenang sepanjang masa. Dia sangat bangga akan pengabdiannya sebagai tentara untuk membela kehormatan tanah airnya. Tentara tetaplah tentara, tua bangka sekalipun, dia tak pernah letih bahkan tak pernah mati. Ucapan itu memang sebuah hiperbola dan tidak bisa diartikan secara harfiah. Sebab secara harfiah, serdadu tua atau muda sama saja, mereka pasti tidak memiliki nyawa cadangan. Sebab tak ada makhluk hidup yang bertahan hidup selamanya. Secara alamiah manusia lahir, menjadi kanak-kanak, dewasa, menapak karir berjenjang sampai ke puncak, kemudian tua, pensiun, lalu mati dan dilupakan. Daur itu sudah menjadi sunnatullah.

Ucapan Jenderal Douglas MacArthur itu mengandung makna yang sangat dalam dan hams dilihat sebagai sebuah pesan (messages) yang mampu melintasi zaman. Yang terkandung di dalamnya adalah semangat yang tak kenal menyerah, jiwa yang selalu bergeiora tak pernah padam, dan pengabdian yang tak ada ujungnya, walaupun tak lagi berada di gelanggang.

Brigadir Jenderal Saleh Djasit tentu bukan Jenderal Douglas MacArthur yang pernah memenangkan Pe-rang Dunia II, bahkan Saleh pun terlihat terlalu sipil dan tutur bahasanya santun. Tapi sesungguhnya dalam darahnya mengalir jati diri seorang prajurit, semangat yang tak kenal menyerah. Dalam kebersamaan saya sebagai mitra Saleh Djasit di pemerintahan provinsi selama lima tahun terakhir (dia Gubernur, saya Ketua DPRD), saya memperoleh kesan yang sangat kuat, betapa dia menjunjung tinggi etika dan akhlak, lemah lembut namun kukuh dalam mempertahankan sikapnya.

Bagaimanapun Saleh Djasit telah menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan Riau. Riau beruntung memiliki gubernur yang cool dimasa sulit, ketika gerakan reformasi sedang mencapai titik kulminasi, ketika bandul bergerak menabrak sekat-sekat, meruntuhkan dinding-dinding birokrasi. Euforia masyarakat ketika itu tidaklah salah dan dapat dipahami. Sebab sebelumnya mereka tertekan, terkebelakang di tengah sumberdaya yang terdepan dan miskin dalam sejumlah kekayaan, sementara mereka tak bisa melakukan apa-apa. Rasa tertekan itu selain memunculkan rasa perlawanan, juga menyimpan bom harapan yang menggunung, atau seperti air yang memenuhi bendungan. Ketika katup terbuka, bendungan pecah, air pun berubah nama menjadi air bah maka semuanya, mimpi, rasa pedih sekaligus harapan ber-hamburan secara tak beraturan.

Saleh Djasit agaknya hadir pada saat yang tepat ketika itu. Di tengah badai, Pemerintah Provinsi Riau di bawah kendalinya berhasil meletakkan dasar-dasar pem-bangunan Riau ke depan terutama di bidang pembangun-an SDM. Hasilnya memang masih samar-samar, tetapi, berdirinya Masjid Agung "Annur" yang megah, Fakultas Kedokteran, SMU Unggul, Politeknik, Pesantren Teknologi, Rumah Sakit, dan menyediakan permodalan untuk program ekonomi kerakyatan, memberi bea siswa S2 dan S3 kepada 1000 mahasiswa selama 5 tahun kepemimpinannya, adalah arah, yang agokiiya sudah tepat. Hasilnya memang baru akan terlihat 10 atau 15 tahun ke depan.

Saleh Djasit sudah menunaikan tugas seperti yang disebut oleh Milan Kundera, yaitu menciptakan kenangan. Menciptakan kenangan merupakan tugas hakiki, karena kehidupan itu sendiri pada dasarnya adalah ke-satuan dari gumpalan-gumpalan kenangan, yang terba-ngun dari tindakan-tindakan besar, perbuatan-perbuatan baik, dan pewarisan-pewarisan yang berguna bagi masa datang. Pengabdian, tak selamanya harus melalui gelanggang. Pergantian musim, itu juga kodrati.

( No. 123/Th III/14 - 20 Desember 2003)


Tulisan ini sudah di baca 154 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/331-%22The-Old-Soldier-Never-Die%22.html