drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

Malaysia Era Pak Lah


Oleh : drh.chaidir, MM

BAS Pesiaran yang kami tumpangi berhenti di bibir highway, jalan yang lapang dan mulus antara Kuala Lumpur dan daerah wisata Genting Highland atas permintaan saya untuk sekadar membeli lemang yang dijual oleh penduduk asli. Pulut yang dimasak dalam bambu ini masih terjerang di tungku perapian yang dibuat rapi. Penjual lemang itu seakan tidak menghiraukan tanda larangan yang terpampang cukup besar. Ketika hal tersebut saya tanyakan, penjual lemang menjawab, bahwa pengawas lebuh raya memang tahu mereka berjualan, tapi sejauh mereka teratur dan tidak mengganggu, dan tetap menjaga kebersihan, mereka pun tidak dikenakan denda. Sangat manusiawi.

Lama tak berkunjung ke negeri jiran, Malaysia, saya sungguh menikmati perjalanan. Ada sesuatu yang terasa lain. Malaysia tambah maju, itu pasti. Tapi agaknya juga, karena pengaruh banyaknya baliho raksasa ucapan tahniah kepada Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi dengan fotonya yang tersenyum sejuk dan khas, yang baru dilantik sebagai Perdana Menteri. Malaysia memang tidak lagi diterajui oleh Dr Mahathir, seorang pemimpin kharismatik. Bapak Malaysia modern ini telah mundur dari kursi Perdana Menteri dan digantikan oleh Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi dalam suasana penuh kemesraan.

Sejauh yang saya dengar, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi yang akrab dipanggil Pak Lah, adalah seorang pemimpin yang low profile, tidak suka menonjol-nonjolkan diri, banyak senyum dan warak. Kalau ber-tutur, bahasanya halus dan tidak konfrontatif. Hari-hari pertama kepemimpinannya, Pak Lah berkunjung silaturrahmi informal tanpa pengawal ke kantor-kantor pe-layanan masyarakat. Gayanya memang berbeda de-ngan Dr Mahathir. Rakyat Malaysia umumnya percaya Pak Lah akan bisa melakukan langkah-langkah besar sebagaimana telah ditunjukkan oleh Dr Mahathir untuk memajukan Malaysia. Pantun yang ditulis oleh Norazarawati bt Samsudin seorang pembaca Harian Metro Kuala Lumpur, agaknya mewakili suara awam: Pak Lah untuk memimpin negara/pemimpin pilihan rakyat Malaysia! berjiwa rakyat ke arah sejahtera/rakyat jelata sepakat semua". Atau seperti SMS yang dimuat oleh sebuah surat kabar: "Yang keruh dijernihkan, yang jernih disulingkan, biar hanya yang benar bersih sahaja, berdiri bersama Pak Lah majukan negara".

Malaysia adalah sebuah negara yang menganut sistem Monarkhi Parlementer, Kerajaan yang berparlemen. Pemerintahan dipimpin oleh seorang Perdana Menteri, sedangkan Kepala Negaranya adalah seorang Raja yang disebut Yang Dipertuan Agung. Malaysia menganut sistem pemerintahan yang berbeda dengan Singapura yang menganut sistem Republik Parlementer dan Indonesia yang menganut sistem Republik Presidensiil. Tapi ketiga negeri ini menjunjung tinggi azas demokrasi.

Sesungguhnya, kehebatan atau ketidakhebatan sebuah negara tidaklah diukur dari sistem yang dipakai. Demokrasi tidak sertamerta membuat sebuah Negara menjadi hebat, begitu pula sebaliknya dengan negara yang dipimpin lewat tangan besi; tidak hitam-putih, karena sejarah dunia mencatat bahwa dua sistem itu masing-masing pernah gemilang dan redup. Dalam sejarah dunia, tidak sedikit pemerintahan yang kita sebut dengan pemerintah diktator, dicintai rakyat, dan kemu-dian menjadi terkenal, sebaliknya tidak sedikit pula negara yang terpuruk di bawah panji-panji demokrasi. Ada banyak contoh untuk itu. Pada tahun 30 Sebelum Masehi, Romawi diperintah oleh seorang diktator yang bernama Gaius Oktavianus. Meski Oktavianus seorang pemimpin bertangan besi, rakyat Romawi sangat men-cintai pemimpin yang bergelar Augustus Caesar ini. Pada zamannya, di tengah pembunuhan lawan politik yang menakutkan, ia mampu mengelola sumber-sumber kekayaan menjadi kekuatan yang mampu memakmurkan rakyat. la adalah seorang administrator ulung. Pada masanya Romawi tumbuh menjadi sebuah kota yang cantik, dengan pembangunan jalan Han geclung y-ng bagus, dan bahkan pada masa sang diktator itu, justru merupakan zaman keemasaan kesusastraan. Jadi, bukan soal sistem yang dipakai, tapi apa yang dilakukan oleh pemegang teraju dalam menjalankan kekuasaannya.

Masyarakat sebetulnya tidak peduli dengan segala sistem. Bak kata Deng Xiao Ping, "tak peduli tikus itu berwarna putih atau hitam, yang penting bisa menang-kap tikus". Bagi sebagian besar masyarakat, urusan politik dan sistem adalah urusan "dewa-dewa". Kepentingan mereka terbatas sampai tersedianya kebutuhan hidup, dan jika harus ditambah, adanya peluang untuk bermimpi. Jika pemerintah masih bisa memberi mereka makan, mereka akan dukung. Jika tidak, get out, tak peduli pemerintahan demokratis ataupun fasis sekalipun. Tak mengherankan kalau sampai saat ini manusia sediktator El Commandante Fidel Castro tetap bertahan di Kuba, meski Amerika (tak bosan-bosannya) telah ikut campur untuk menumbangkannya. Dari pemahaman masyarakat yang demikian itu, maka tak aneh jika di negara demokratis semacam India, pemimpin justru tak bertahan lama, dan dari berbagai sumber, di negeri ini jurang si kaya dan si miskin justru menganga lebar. Sekali lagi ukurannya tak selalu sistem, tapi selalu apa yang bisa diberikan kepada rakyat.

Raja-raja Melayu, baik di Riau maupun semenan-jung, hampir semuanya menganut sistem monarkhi absolut, tapi tak terdengar ada yang ditumbangkan oleh rakyat, karena mereka tak mengabaikan apa yang tak semestinya mereka abaikan. Dalam sistem ajaran Melayu, negara yang baik bukanlah apakah demokratis atau bukan, tapi apakah pemimpin yang ada tersebut dapat atau tidak melaksanakan dua amanat dasar yang diem-ban, yaitu kemampuan untuk menjadi teladan atau imam dan kemampuan untuk memberikan kemakmuran bagi masyarakat banyak. Pemimpin Melayu sangat memahami adagium, "raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah".

Malaysia di bawah kepemimpinan Dr. Mahathir dan Singapura di bawah Lee Kuan Yew, diukur dari kacamata demokrasi, mereka sebenarnya lebih dekat ke model tangan besi. Mereka misalnya, tidak membuka ruang publik yang cukup lebar di media massa, apalagi memberi peluang kepada pers untuk membuat pemberitaan-pemberitaan yang provokatif. Tapi di Asia Tenggara, merekalah pemimpin yang paling selamat dan turun secara terhormat. Satu saja sebabnya: karena mereka mampu memberikan kemakmuran, mampu mengisi penuh selingkar harapan masyarakat. Mampu mewujudkan mimpi-mimpi rakyatnya.

Ada Mahathir, ada Lee Kwan Yew, kini Pak Lah pula di negeri jiran, semogalah menjadi cermin tempat berkaca.

(No. 222/Th III/7 - 13 Desember 2003)


Tulisan ini sudah di baca 129 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/330-Malaysia-Era-Pak-Lah.html