drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

Pecundang dan Pemenang


Oleh : drh.chaidir, MM

ORANG bijak selalu pandai berdansa dengan situasi dan kondisi. Lihatlah, pemilihan Gubernur Riau dilaksanakan sesaat sebelum datangnya bulan suci Ramadhan, sehingga, situasi politik lokal yang memanas, langsung mendingin laksana disirami butiran-butiran es. Pihak yang kalah langsung melakukan perenungan-perenungan introspektif. Pihak yang menang pula tidak menepuk dada dan berpestapora. Justru, kata-kata bijak melantun beralun-alun sejuk rnenyelimuti sanubari. Keikhlasan yang tulus, keyakinan akan adanya hikmah di balik cobaan, kebesaran jiwa, berlapang dada, atau bahkan keyakinan bahwa kemenangan adalah sebuah amanah, adalah butiran-butiran mutiara akal budi manusia yang di awal puasa Ramadhan ini dilantunkan bertalu-talu.

Nurcholish Madjid agaknya benar, ketika dalam suatu tulisannya mengingatkan, "Karena hidup ini tidak selamanya di atas, hendaklah jangan lupa diri, melainkan kita harus membuka sedikit ruang untuk mempesimiskan keberadaan diri kita, dan harus pandai-pandai melihat ke bawah sambil mengingatkan diri kita bahwa suatu saat saya bisa berada di bawah. Begitu pula sebaliknya, bahwa ketika kita berada di bawah, hendak-lah kita tidak boleh putus asa, kita harus terus-menerus membangun ruang optimisme, dan harus rajin mene-ngadah ke atas sambil meyakinkan diri kita, bahwa suatu saat saya bisa berada di atas."

Kalah dan menang adalah fitrat alam, sebagaimana adanya siang dan maiam, laki-laki dan perempuan, hidup dan mati. Kita memang bukan nabi Musa, nabi Isa, atau nabi Muhammad yang sanggup mengubah kesedihan menjadi kegembiraan dalam hitungan getaran suara. Namun, kita sudah dibekali dengan akal budi untuk menyadari situasi dan kondisi sepenuhnya. Bahkan juga menyadari, tidak hanya untuk menjadi pecundang dalam konteks kalah menang, seseorang harus siap, bahkan untuk menjadi pemenang, pun seseorang harus siap mental.

Bagi pecundang, terma-terma kekecewaan, kese-dihan, malu, perasaan dipojokkan, perasaan dikucilkan, perasaan tak dihargai, dan mudah tersinggung, merupakan keadaan yang sulit dihindari, semua orang sudah tahu syndrome itu. Namun demikian, selalu ada jalan untuk mengatasinya, selalu ada resep untuk mengobatinya. Resep sapu jagad itu adalah "sabar"dan "hikmah". "Diperbanyaklah sabar", atau mungkin, "ada hikmahnya", adalah nasehat yang sering diucapkan atau didengar bila ada suatu musibah menimpa, apapun bentuknya, entah itu kematian, kecelakaan, kerugian, kecurian, kekalahan atau sejenisnya yang ber-bau kemalangan. Tapi kata-kata, "mungkin ada hikmahnya?" Kata-kata simpati dan menghibur ini mengandung banyak makna. Sebuah hikmah dapat menjelaskan banyak hal pada manusia, manakala manusia pandai menangkap dan memahaminya secara cerdas dan penuh keikhlasan.

Ada sebuah cerita. Seorang pengusaha di Pakistan harus berangkat dengan pesawat terakhir ke London untuk membuat sebuah perjanjian bisnis yang diperkirakan akan membawa keuntungan jutaan dollar. Semua bahan-bahan yang diperlukan telah dipersiapkan secara matang, dan itu pulalah yang menyebabkan dia agak terlambat berangkat ke bandara. Dalam waktu yang pas-pasan, tiba-tiba saja di sebuah jalan tol, ban mobilnya pecah. Sang pengusaha berusaha keras untuk sampai ke bandara pada waktu yang telah ditentukan, namun dia terlambat beberapa menit dan pesawat sudah take-off. Dengan lesu dia kembali ke kantornya di Karachi dan di situlah dia mendengar warta berita, pesawat yang bakal dia tumpangi jatuh beberapa saat setelah lepas landas dan seluruh penumpangnya tewas. Dalam kasus ini, keselamatan diri sang pengusaha adalah hikmah dari kegagalan keberangkatannya. Dia gagal meraih untung dari bisnisnya, tapi berganti dengan keselamatan jiwa.

Oleh karenanva, sava nun mafhnrn ketika harus menerima nasihat itu dari setiap orang yang menyalami pasca pemilihan kepala daerah, karena saya terpilih sebagai pecundang dalam pemilihan tersebut. Pemenang dan pecundang adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Syair perjuangan yang didendangkan oleh kaum perempuan Mekah ratusan abad yang lampau rasanya menarik untuk kita cermati: "Orang yang menang itu bukanlah mereka yang tidak pernah kalah, melainkan mereka yang tidak pernah menyerah." Di mana ada pemenang, maka di sana ada pecundang. Pemenang dan pecundang, hanya masalah jumlah pemilih dan skor pertandingan. Dalam hal pemilihan kepala daerah, kesepakatannya adalah, yang memperoleh skor terbesar keluar sebagai pemenang, lainnya pecundang. Dalam olahraga golf lain ceritanya; yang memperoleh skor terbesar justru menjadi pecundang, skor terkecil jadi pemenang.

Dalam perspektif kesufian, pemenang atau pecundang, kebahagiaan atau kesedihan, keduanya sama saja. Keduanya ujian dari Allah Swt, tergantung mana yang lebih dulu bertandang, dan kita tak bisa meno-laknya. Keduanya adalah hal terbaik dari Tuhan. Kepada yang satu diberikan kemenangan karena itulah yang terbaik baginya, dan kepada yang lain diberikan kekalahan, karena hal itu juga merupakan sesuatu yang terbaik baginya. Dalam segala sesuatu ada rahasia, dan ilmu manusia selalunya terlalu sedikit untuk mengetahui rahasia yang maha dalam.

Pemenang dan pecundang, kebahagiaan dan kesedihan, tawa dan airmata, datang dari sumber yang sama, Sang Pencipta. Semakin dalam kepedihan meng-gores luka ke dalam jiwa, akan semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan. Kemenangan dan keka-lahan, keduanya adalah ujian. Ujian terbesar sesung-guhnya justru berada dalam peristiwa kemenangan. Sejarah dunia begitu banyak menggambarkan bahwa betapa orang kemudian 'kalah' ketika dia sedang me-nang. Napoleon mempertontonkan itu. Ketika berkuasa, ia justru tak mampu mengontrol diri dengan melakukan perang tanpa henti, dan akhirnya, kemenangan yang digunakan secara salah itu memberikan kegetiran pada dirinya sendiri. Hitler juga melampaui batas ketika sedang menggenggam kekuasaan di puncak, juga Fir'aun di singgasananya. Tak salah kalau orang bijak berkata, sesungguhnya, barang siapa yang mampu mengendalikan kemenangan atau kekalahan, maka dialah pemenang yang sejati.

Pada jabatan melekat banyak hal, tidak hanya segunung hak, tapi juga sebaris panjang tanggungjawab. Jabatan akan jadi semerbak harum mewangi, menjadi sebuah taman yang indah, manis seperti madu, sarat dengan pahala bila dipelihara dengan baik dan dipergu-nakan untuk kemaslahatan orang banyak. Tapi bila salah dan silap dalam merawat atau membawakan tugas-tugas kekhalifahan yang terbeban di pundak, maka jabatan itu akan berbuah musibah. Lebih jauh, ia dapat pula menjadi sebuah pusaran arus yang dapat menenggelamkan siapa saja sampai ke dasar samudera.

Kata kunci yang cerdas, memanglah kesabaran dan keikhlasan. Jika kita ikhlas dengan segala sesuatu yang diberikan pada kita, maka tak ada yang berat dalam hidup ini. Kekalahan adalah sebuah jalan menuju tanah keabadian, menuju kemenangan yang sesungguhnya, begitu bunyi kearifan timur berabad-abad. Dengan cara demikian kita harus memahami sesuatu, dan dengan jiwa yang demikian pula kita akan menuju pada sesuatu.

(No. 117/Th III/2 - 8 Nopember 2003)


Tulisan ini sudah di baca 192 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/328-Pecundang-dan-Pemenang.html