drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

Menang dan Kalah


Oleh : drh.chaidir, MM

SETELAH melewati sejumlah tahap yang melelahkan, DPRD Riau berhasil dengan sukses menyelenggarakan tahap pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau periode 2003-2008. Dari empat pasang calon yang harus dipilih, akhirnya pasangan H. Muhammad Rusli Zainal dan H. Wan Abu Bakar berhasil mendapatkan suara terbanyak.

Duniawi sifatnya selalu ada yang kalah dan ada yang menang. Kalah dan menang, berhasil dan gagal, adalah sebuah hal yang lumrah dalam sebuah proses perjuangan. Iru merupakan hukum alam, sunnatullah, dan tidak seorangpun bisa menidakkannya. Kedewa-saan kita dalam berdemokrasi, justru diuji dalam kondisi demikian. Kita patut berbahagia, bahwa kita dapat melalui semua ini secara bermartabat. Kita dapat memikul amanah pergantian kepemimpinan tanpa perlu menghina hal-hal yang esensial dalam hubungan sosial dan kemanusiaan.

Namun demikian, di balik semua itu, dari proses yang berlangsung, sesungguhnya semua pihak berada dalam kemenangan, khusus bagi Riau, karena kita semua melakukannya secara baik, gagah, dan agung. Kita semua menyaksikan bagaimana prosesi itu berlangsung dengan amat tertib, demokratis, serta bermain dalam mang-ruang kesantunan yang tinggi. Dalam konteks ke-Riau-an, tak ada satu orangpun yang kalah, karena semua pihak sesungguhnya berangkat dari itikat yang baik, menuju satu titik matlamat, yaitu sebuah Riau yang maju, sebuah Riau milik bersama, dan harus dibangun bersama.

Persoalan siapa yang akhirnya tampil untuk memimpin negeri ini, itu hanyalah sebuah instrumen dari seluruh kehendak kita atas kemajuan. Tidak menjadi persoalan bahwa ada pihak yang harus dipilih untuk memegang teraju kepemimpinan, dan ada pilihan yang tidak terpilih. Sepanjang ianya benar, haruslah kita ikuti dengan semestinya.

Sebagai pribadi, saya tentu saja kecewa, dan itu adalah sesuatu yang manusiawi. Tapi saya percaya bahwa kepentingan negeri ini, haruslah lebih tinggi dari kekecewaan pribadi dan kelompok meski sebsar apapun kekecewaan yang bergayut. Semua pihak, secara terus-menerus harus memahami, bahwa ada wilayah atau hal lain yang lebih besar dari sekedar "kita" atau yang "bukan kita", yaitu sebuah negeri, lengkap dengan kepedihan dan harapan besar kafilah panjang yang tergandeng bersamanya. Negeri ini harus menjadi sebuah tanah yang subur bagi kebersamaan itu, sebab hanya dengan cara yang demikianlah, sebuah negeri yang besar dan makmur, menjadi mungkin.

Berlapang dada dan berbesar hati, adalah jalan yang harus kita lalui. Perjalanan sejarah Melayu yang panjang, telah mengajarkan kita, bahwa kemunduran yang kita alami selalu saja disebabkan oleh tidak adanya semangat itu. Lapang dada dan berbesar hati, adalah juga sebuah rumah yang memungkinkan bagi seluruh orang di negeri ini untuk kembali bergandeng tangan, dan berbuat untuk kemaslahatan masyarakat. Dukacita, kekecewaan, dan kepedihan, biarlah semua itu tengge-lam dalam tidurnya yang abadi.

Riau, dengan segenap kemajuan yang ingin dicapai, baik itu kemajuan ekonomi maupun perkembangan kebudayaan, haruslah menjadi sebuah agenda bersama. Dendam harus berubah rindu, pertikaian mesti berganti kebersamaan dan kebencian mesti menjelma rasa cinta. Hanya dengan demikian, kemunduran negeri akan berganti dengan kemajuan.

Kita tidak menginginkan negeri ini menjadi sebuah negeri yang malang dengan mewarisi dendam dan pertikaian. Kita telah melakukan pergantian kepemimpinan ini dengan baik dan demokratis. Sepanjang semuanya berjalan dengan adil dan bermartabat, maka tak perlu ada perpecahan. Perpecahan dan pertikaian tidak akan mampu memberikan sesuatu yang lebih besar dari apa-apa yang akan dibenkan oleh kebaikan, kebersamaan, dan rasa cinta yang dalam. Menuju ke arah itulah kita melangkah. Pihak-pihak yang bertanding, bukanlah pihak-pihak yang saling memusuhi, yang satu tidak menjadi "musuh' bagi yang lain. Yang ada hanyalah bahwa para pihak saling memandang yang lain sebagai "lawan" yang berbeda pendapat, baik dalam sudut pandang maupun kebijakan. Dalam kata "musuh" ada jalan dendam, yang menang jadi arang yang kalah jadi abu, tapi dalam kata "lawan", yang ada adalah semangat berkompetisi secara sportif, yang menang berarti lebih baik. Dalam kata "lawan", justru ada sebuah raang dialog yang besar.

Kecintaan kita kepada negeri ini adalah sebuah kecintaan yang harus dilakukan tanpa tindak kekerasan dan permusuhan. Di depan kita ada sejumlah persoalan yang meminta jawaban, mulai dari persoalan kemis-kinan masyarakat sampai rendahnya tingkat pendidik-an. Semua permasalahan yang ada menuntut kerja keras semua pihak. Setiap orang harus memberikan yang terbaik kepada masyarakat, sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Mengelaborasi pandangan Gandhi, maka saya hendak mengatakan bahwa gagasan dan nasionalisme, adalah bagaimana negeri ini dapat bergerak maju secara terus-menerus. Untuk sampai kepada itu, semua pihak harus bersatu padu, dan menutup tempat bagi kebencian antara satu dengan yang lain. Negeri semacam itulah yang harus dijadikan Riau sebagai acuan masa depan.

Apapun yang telah berlangsung dan terjadi adalah sebuah fitrat demokrasi. Kebersamaan dan persatuan, harus tetap dijaga, karena keadaan di masa depan negeri ini memerlukan energi dan pikiran. Sebaik apapun kebijakan yang akan dibuat oleh seorang pemimpin, jika semua elemen tidak merapatkan barisan maka semuanya akan sia-sia. Kita mencintai negeri ini, dan dengan dasar kecintaan itu kita memahami sesuatu.


(No. 116/Th III/26 Oktober - 1 Nopember 2003)


Tulisan ini sudah di baca 98 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/327-Menang-dan-Kalah.html