drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Surga Yang Hilang


Oleh : drh.chaidir, MM

NAMA Dabo Singkep, Kepulauan Riau, barang-kali sudah cukup akrab di telinga siapa saja. Betapa tidak. Pada masanya, dulu, Dabo Singkep dicatat sejarah, tidak hanya terkenal di nusantara, tetapi juga di manca negara sebagai daerah penghasil timah. Seratus tahun pulau itu dikeruk dan dikeruk tak henti-hentinya, tak kenal ampun. Dan selama seratus tahun pula pulau itu kilau-kemilau karena sinar kehidupan. Kini setelah penambangan itu usai, ketika penambangan timah tidak lagi menghasilkan fulus, Dabo Singkep terperangkap dalam kesunyian yang sedih.

Bandar udara yang dulu ramai didarati pesawat terbang, kini hanya didarati oleh burung-burung camar. Kota yang dulunya cemerlang terang benderang, kini layu tak bermaya. Fasilitas umum yang dulunya terurus, kini sudah lama hanya tinggal nama. Rumah sakit, sekolah, tinggal seadanya. Ekonomi rakyat tidak hanya stagnan, tapi set-back. Satu-satunya kebanggaan masyarakat di sana adalah, bahwa mereka pernah memiliki sejarah yang gilang gemilang. Surga pernah singgah di sana, sesaat saja, kira-kira seratus tahun, membelai, kemudian menghilang sebelum masyarakat sempat me-nyadari, laksana mimpi. Induk ayam yang bertelur emas itu, kini sudah renta, tidak hanya tidak lagi produktif, tetapi dari rahimnya tidak akan pernah lagi meng-hasilkan sebuah telur loyang sekali pun. Ketika dulu masih produktif, kita demikian pemurahnya memberikan telur emas itu kepada anak dagang yang singgah. Kini ketika kita menyadari, kita memerlukannya, semuanya telah terlambat.

Satu-satunya kenangan sebagai pertanda bahwa surga itu pernah bertandang adalah lubang-lubang raksasa yang menganga, kolam-kolam masam dengan derajat keasaman yang tinggi, yang belum-belum juga ditemukan oleh para pakar untuk apa. Mungkin hanya sekadar untuk kenangan itulah, tidak lebih. Masyarakatnya seakan tak pernah tersentuh gemerlapan kehidupan itu. Masyarakatnya kembali seperti sediakala seperti ketika surga itu belum datang. Dulu Dabo Singkep -Jakarta, atau Dabo Singkep - Singapura demikian dekatnya, tapi kini keduanya ibarat dipisahkan seratus tahun cahaya. Terlalu didramatisir? Masalahnya, tidak didramatisasi pun riwavat kehidupan di sana memang telah dramatis.

Dabo Singkep adalah sebuah fenomena dunia yang hampir sempurna, betapa tidak adanya korelasi antara kekayaan sumberdaya alam di suatu wilayah dengan kesejahteraan masyarakatnya. Kita mencatat pula Singapura, Jepang atau Korea Selatan. Itu adalah sedikit contoh yang patut dicatat, negeri-negeri itu tidak memiliki sumberdaya alam, tidak memiliki mineral dan logam untuk ditambang, tidak pula memiliki biji timah dan minyak tanah, tapi kesejahteraan masyarakatnya sangat baik. Anak-anak negeri mereka bisa bersekolah dengan mudah dan gratis dengan mutu yang baik. Pelayanan kesehatan kelas dunia juga bisa mereka peroleh dengan jaminan pemerintah. Demikian pula komponen kesejahteraan lain seperti rasa aman masyarakat Mereka rnu-dah dan aman bepergian. Singkat kata, negeri-negeri itu memperkuat asumsi sunsang, warga negaranya kaya dan sejahtera karena mereka tidak memiliki sumberdaya alam.

Sesungguhnya, tidaklah semestinya demikian. Korelasi seperti itu hanya untuk membuktikan bahwa untuk bisa memanfaatkan kekayaan alam, manusia harus berilmu dan cerdas. Manusia harus menguasai teknologi. Tanpa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia justru menjadi beban bagi alam. Di sinilah tragisnya kisah Dabo Singkep. Penambangan timah di perut buminya tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat tempatan. Masyarakat timah berjalan sendiri, masyarakat tempatannya berjalan sendiri. Tidak ada langkah proaktif keduanya. Hubungan keduanya bahkan nyaris sempurna tidak ada hubungan. Tidak ada upaya pernberdayaan masyarakat tempatan, tidak ada cost recovery, tidak ada social cost, tidak ada community development. Penambangan itu layaknya diberikan gratis oleh masyarakat Dabo Singkep kepada Negara tanpa kompensasi apa pun.

Akibatnya seperti telah kita saksikan, seperti dicatat sejarah, ketika tambang timah itu slow-down dan kemudian tutup sama sekali setelah seratus tahun beroperasi, masyarakat tempatan Dabo Singkep ternyata tidak memperoleh apa-apa. Tapi mau diapakan? Surga itu telah hilang. Tidak ada satu pun yang bisa dipegang sebagai jaminan. Lokomotif telah melaju hilang dari pandangan sementara gerbong tertinggal di belakang karena memang tidak pernah dihela.

Pada bagian lain Riau raya, masyarakat Riau daratan, sudah menunjukkan pula tanda-tanda awal yang hampir sempurna bahwa tragedi Dabo Singkep akan kembali terulang. Namun kalau surga yang hilang di Dabo Singkep itu berlangsung sebelum kita menyadari apa-apa, di daratan, surga itu nampaknya akan hilang dalam kesadaran penuh masyarakat, ketika tangan-tangan menggapai tak sampai. Ini tentu lebih menyayat.

Riau daratan tinggal menghitung hari, minyak buminya akan habis. Persis sama dengan Dabo, tidak ada korelasi antara ratusan ribu barrel minyak bumi yang disedot setiap hari dengan tingkat kesejahteraan masyarakat tempatan. Masing-masing berjalan sendiri. Indikasinya jelas. Riau masih terseok-seok memikul kemiskinan di pundaknya, masih menggendong kebodohan kemana-mana. Kemiskinan sebenarnya sama saja dimana-mana, tidak di Pacitan, kampung Presiden SBY, tidak di Riau kampung "Presiden" Al Azhar, intinya rakyat tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tidak mampu menyekolahkan anaknya dan tidak mampu membeli obat bila anak-isteri sakit, tidak mampu beli pakaian baru dan tidak memiliki aset produktif. Tetapi agaknya, kemiskinan di Pacitan tidak sepedih kemiskinan di Riau, karena di Riau ada surga di depan mata yang pelan tetapi pasti sudah mulai menjauh. Kemiskinan di Riau adalah kemiskinan yang menggeramkan.

Agaknya itu pulalah yang menjadi alasan kenapa beberapa komponen kelompok strategis di Riau yang menghimpun diri dalam GERAM (Gerakan Rakyat Menuntut) menggelar kegeraman mereka dalam aksi unjuk rasa di hari pengucapan sumpah Pimpinan DPRD Riau dan kemudian menyampaikan tuntutan itu langsung by-hand kepada Presiden SBY beberapa hari lalu. Kita sudah letih selama ini menyampaikan tuntutan ke pusat untuk hanya berbuah kekecewaan. Terakhir dalam revisi UU No 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, penambahan Dana Bagi Hasil itu hanya dipenuhi 0,5% dari semula 15% menjadi 15,5% dan mulai berlaku 2009 pula. Rasanya, mendingan tidak dikabulkan sama sekali, sebab, itu sama saja dengan pelecehan, bahkan hanya akan menggarami luka.

Melihat suasana dialogis yang dikembangkan oleh Presiden SBY ketika dialog di Dumai dan Pekanbaru, besar harapan kita presiden akan mendengar dengan sungguh-sungguh jeritan suara hati rakyat Riau.

Tragedi Dabo Singkep tidak boleh terulang kembali, cukuplah sekali.*


(No. 169/Th III/8 - 14 November 2004)


Tulisan ini sudah di baca 101 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/326-Surga-Yang-Hilang.html