drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Kemajuan Beralaskan Kebudayaan


Oleh : drh.chaidir, MM

SEBUAH waktu seperti bulan, tahun, dekade, abad, bahkan sebuah milenium, selalu datang dengan takdir, kecenderungan, dan orientasinya sendiri. Abad pencerahan dunia yang disebut renaissance (di luar kehadiran agama), datang ke Eropa dengan kecenderungan dan kegilaan terhadap ilmu dan filsafat, baik yang datang dari timur maupun dari barat. Abad ke-18 datang dengan tanda dan semangat yang lain pula, yaitu demokrasi. Kemudian datang abad ke-19, dan dunia pun hiruk pikuk dengan berbagai penemuan. Terakhir, abad ke-20, dimana-mana terdengar teriakan nasionalisme, kemerdekaan, dan kebersamaan antar manusia, antara deru perang dan kebiadaban, dan pembantaian. Begitulah, dunia terus berputar dan bergerak maju di lintasan orbitnya sendiri dan dengan takdirnya masing-masing.

Kini kita memasuki abad ke-21, awal milenium ketiga. Abad ke-21 adalah sebuah dunia yang maju dalam berbagai bidang. Sebuah abad, dimana manusia hidup dengan capaian-capaian yang spektakuler, kadang hampir sulit dipercaya. Namun demikian, abad ke-21 juga memiliki masalah yang tidak sedikit. Capaian-capaian besar dalam berbagai lapangan kehidupan dan teknologi modern ternyata menyita dan mengikis banyak hal dari sisi kemanusiaan manusia. Modernisasi yang diciptakan oleh manusia dengan berbagai capaian yang diperoleh di bidang ilmu pengetahuan, ternyata mem-buat kehidupan manusia tidak seimbang, dan manusia justru terperangkap dalam ruang kemajuan yang diciptakannya sendiri. Lebih daripada itu yang paling menakutkan, ternyata modernisasi telah membuat manusia menjadi makhluk yang hampir kehilangan pijakan, norma, rasa, dan cenderung anomi, kejam, sehingga kemajuan itu sendiri menjadi kehilangan nilai dan makna.

Maka untuk mengatasi itu perlu dilakukan percepatan pembangunan di bidang lain yang bersifat menyeimbangkan, dan bidang itu adalah pembangunan kebudayaan. Dalam Megatrend 2000, John Naisbitt dan Patricia Aburdane, menyatakan bahwa ketika teknologi mengaburkan semua hal - membuat dunia seperti kehilangan sekat - hanya satu yang tersisa sebagai alat pijakan dan identitas manusia, yaitu kebudayaan, kesenian (selain agama). Kebudayaan dan kesenian, kata Naisbitt, akan menjadi booming dalam abad ke-21.

Mengapa kebudayaan? Karena dalam kebudayaan terdapat seperangkat sistem nilai yang mengarah pada proses menemukan diri. Dan apabila orang menemukan diri, maka ia akan dapat memahami negeri, atau lebih jauh, seperti yang dikatakan oleh Raja Ali Haji, "Barang siapa menemukan diri, akan menemukan Tuhan yang bahari".

Kebudayaan adalah suatu hal yang penting ketika kita berfikir untuk mendapatkan keseimbangan hidup. Sejumlah negara besar atau negara maju dewasa ini, semisal Amerika, Jepang, Cina, dan sejumlah negara-negara Eropa, rnulai 'pulang' ke rumah kebudayaan mereka masing-masing. Orang Cina membolak-balik ajaran Kong Fu Tse, Amerika Serikat mewajibkan pelajar membaca buku kebudayaan, Jepang menyelami kembali semangat Bushido. Hal ini terjadi setelah di de-pan mereka terbentang padang yang luas dan liar, sebuah kenyataan bahwa kemajuan yang dicapai ternyata memangsa anak-anak negeri secara spiritual. Mereka semua sepakat untuk percaya pada ungkapan Matthew Arnold, bahwa kebudayaan merupakan media yang mampu menetralisir, atau paling tidak meredakan eksistensi kehidupan manusia modern yang sangat agresif, kejam, dan berbau dagang.

Sebuah negeri, atau Negara, yang menidakkan pengusungan kebudayaan, akan menjadi sebuah negeri yang malang, meski semaju apapun capaian yang telah dibuat. Keseimbangan antara material dan spiritual adalah jalan yang mutlak yang hams kita lalui, khususnya jika kita tidak ingin semua hal yang sudah kita bangun dengan susah payah menjadi sesuatu yang kehilangan makna. Scbuah negeri yang ideal. Kata William Butler Yeats, seorang pemenang Nobel sastra dari Irlandia, adalah sebuah negeri yang di dalamnya terdapat nyanyian, puisi, dan balada pada satu sisi, dan sistem pemerintah yang baik pada sisi lain. Kita sudah waktunya melangkah ke sana membangun sebuah simfoni kehidupan.

Riau adalah sebuah negeri yang patut bersyukur karena mampu membaca tanda-tanda zaman menyongsong abad ke-21 dengan semangat menciptakan keseimbangan yang baik antara pencapaian bidang ekonomi dengan pembangunan spiritual dan kebudayaan. Bukti dari semangat itu adalah, timbulnya kesatuan tekad untuk menjadikan Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu pada tahun 2020 dalam lingkungan masyarakat yang agamis di Asia Tenggara, sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 36 Tahun 2001 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Riau. Kebudayaan yang menjadi matlamat bagi Riau bukan hanya karena kesadaran masa depan, seba-gaimana yang dilansir oleh Naisbitt, tapi karena kebudayaan adalah dasar historis Riau itu sendiri. Lebih dari seabad yang lampau, Riau pernah hidup dalam sebuah keranggian budaya, dan ranah kebudayaan itu pernah membuat Riau menjadi sebuah kawasan yang disegani pada zamannya. Bagi Riau semangat kebudayaan yang tumbuh pada hari ini, pada hakikatnya adalah sebuah kelanjutan dari semangat spiritual yang sudah mempunyai akar tunggang sejarah yang kokoh.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, pemikiran terhadap arah pembangunan yang akan dijalankan ke depan, perlu disumbangkan oleh berbagai pihak. Sumbangan pemikiran ini dimaksud agar gerakan kemajuan yang ingin dicapai oleh bangsa yang besar ini, pada gili-rannya dapat berwujud sebuah kemajuan yang seimbang antara material dan spiritual, yang tidak membuat kita tercerabut dari akar budaya dan menjadi orang-orang yang terpinggirkan oleh sejarah. Kenyataan yang kita saksikan atas berbagai ekses pembangunan material yang berlangsung pada banyak negara, harus menjadi sebuah cermin yang tegas bagi Indonesia agar pada masa datang tidak terjebak pada persoalan yang sama.

Dalam konteks itulah seminar nasional kebudayaan yang diselenggarakan oleh DPRD Provinsi Riau dalam rangka HUT Provinsi Riau yang ke-47, layak dipandang. Pertimbangan tentang pentingnya memberikan masukan juga disebabkan karena Indonesia saat ini sedang berada dalam sebuah proses politik yang sangat menentukan, yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden. Adalah sebuah tindakan yang terhormat bagi Riau, jika kita semua memberikan masukan bagi kebijakan yang akan diambil oleh pemerintahan mendatang, tidak kira siapapun diantara kandidat itu yang akan keluar seba-gai pemenang. Sejalan dengan latar historis, rencana pembangunan Riau ke depan, serta memahami kecenderungan dunia, maka wilayah pemikiran yang akan kita sumbangkan adalah bagaimana agar konsep-konsep kebudayaan dapat menjadi alas pembangunan yang akan dilaksanakan kelak sehingga kemajuan yang diperoleh tidak akan kehilangan makna. Semoga!!


(No. 152/Th III/5 - 11 Juli 2004)


Tulisan ini sudah di baca 105 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/325-Kemajuan-Beralaskan-Kebudayaan.html