drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Kelapa Condong Huzrin Hood


Oleh : drh.chaidir, MM

MATAHARI sudah condong ke barat ketika itu. Sebentar lagi akan tenggelam di balik Pulau Penyengat yang jelas nampak melintang dari kursi terde-pan di mana saya duduk bersama Menteri I?alam Negeri, Gubernur Rusli Zainal dan caretaker Gubernur Kepri Ismeth Abdullah dalam acara persemian berdirinya Provinsi Kepri dan sekaligus pelantikan caretakernya. Acara itu berlangsung sangat meriah. Terik matahari vang hari-hari sebelumnya terasa menyengat, sore itu teduh bersahabat seakan tidak ingin melayukan bunga-bunga yang sedang mekar di hati masyarakat Kepri.

Betapalah bunga-bunga itu tak kan mekar berseri. Peristiwa bersejarah tersebut memang sudah ditunggu sejak lama, hari berganti hari, pekan berganti pekan, bulan berganti bulan, bahkan tahun berganti tahun. Kita semua tentu masih ingat, dulu sering ada pernyataan dari tokoh-tokoh negeri, esok hari Kepri akan berdiri. Atau ada yang bilang, pekan depan Kepri akan berkumandang. Di lain masa, dengan asa tak terkira, tunggulah nanti saudara, di hari purnama. Tapi yang ditunggu juga tak kunjung-kunjung tiba. Maka, ketika akhirnya hari yang dinanti itu tiba, masyarakat seakan tak percaya, mereka tumpah ruah mera'ikan. Mimpi mereka telah menjadi nyata.

Dalam kemeriahan dan hiruk pikuk pesta itu saya berupaya merasakan getaran-getaran kebahagiaan dan kegembiraan kawan-kawan di Kepri dalam sebuah kese-pian hati yang aneh yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya berupaya mencari wajah seseorang di tengah ribuan wajah-wajah yang sumringah dan penuh tawa itu. Tapi sia-sia. Siapa yang tak kenal Huzrin Hood? Dimana gerangan pria yang telah menjadi icon Kepri itu berada?

Siapa pun tak akan bisa melupakan peran yang telah dimainkan oleh Huzrin Hood dalam memperjuangkan terbentuknya Provinsi Kepri. Dia telah memberikan semua apa yang dia miliki, tetapi bagi dia pribadi (dalam satu sisi), peresmian Provinsi Kepri yang ia perjuangkan itu agaknya merupakan sebuah anti klimaks. Saya sungguh tak habis pikir bagaimana mungkin SK pencopotannya secara definitif bersama Ansar Ahmad sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kepri diumumkan di media massa pada saat yang bersamaan dengan SK pengangkatan caretaker Gubernur Kepri. Akibatnya media massa pun terpaksa memuat berita enak dan tidak enak itu pada hari yang sama dan pada kolom yang sama. Kita sangat menjunjung tinggi supremasi hukum (dan saya yakin Huzrin Hood dan Ansar Ahmad pun demikian), tetapi keputusan yang mempermalukan, rasanya jauh dari sebuah kesantunan. Saya sangat yakin ini bukan sebuah kesengajaan, tapi tetap saja melukai dan menistakan. Bukankah keputusan Mahkamah Agung itu telah lama turun? Kenapa Mendagri seakan menunggu "saat yang tepat"?

Saya katakan di satu sisi persemian itu merupakan anti klimaks bagi Huzrin Hood, tentulah perspektif itu dari penilaian saya pribadi. Dalam penilaian Huzrin Hood sendiri sebagai seorang sufi (agaknya), dia bisa hadir atau tidak pada saat perayaan peresmian provinsi yang ia perjuangkan, dia dipinggirkan atau tidak, dia dilukai atau tidak, tidak ada bedanya.

Setahun yang lalu, di halaman ini, saya menulis sebuah perenungan tentang Huzrin Hood, yang saya beri judul Balada Huzrin Hood. "Nama Huzrin Hood adalah nama yang sering terucap dari setiap bibir dalam hampir tiga tahun pertama otonomi daerah menjadi paradigma baru pemerintahan di negeri ini. Hampir tiada hari bagi sebuah surat kabar tanpa menulis namanya dan tentu hampir tiada hari bagi pembaca tanpa menyebut namanya. Nama Huzrin Hood disebut dalam suka dan nestapa, terpendam dalam simgati dan antipati, terbayang dalam benci tapi rindu. Sebanyak yang suka, sebanyak itu pula yang tidak suka. Senang dan tidak senang tidak berjarak sejauh mata meman-dang, tapi berada dalam satu ruang yang boleh dikata tidak pula lapang. Hitam dan putih hanya beda-beda tipis. Salah dan benar ada kalanya bisa dipisahkan tapi sulit dibedakan. Mengelaborasi Kahlil Gibran, kebaikan dan keburukan walau bisa diketahui, tapi lebih sering sulit dikenali apalagi dari pakaian dan asessorinya.

Tentu semua itu manusiawi. Itu pertanda bahwa Huzrin Hood adalah manusia. Kendati namanya sering diasosiasikan dengan Robin Hood, pahlawan dalam cerita dongeng Inggris itu. Pembaca surat kabar, pen-dengar radio, pemirsa televisi, mereka juga manusia yang hidup dalam alam nyata, mereka bukan malaikat. Pen-jahat dan polisi adalah manusia, pengacara dan jaksa juga manusia. Tuan dan hamba semuanya manusia. Manusia adalah manusia, memiliki peluang yang sama, di depan satwa membusungkan dada sebagai makhluk paling sempurna, tapi di depan Sang Pencipta mengaku sebagai makhluk tak sempurna, apalagi bila berbuat dosa. Tapi yang namanya manusia, selalu bisa mencari "tempat jatuh", seperti kata orang bijak: kesempurnaan manusia itu terletak pada ketidaksempurnaannya. Maka semua insan punya peluang yang sama untuk berbuat dosa dan mengaku itu sebagai takdir manusia yang memang diciptakan tidak sempurna."

Ketika di perayaan peresmian Provinsi Kepri yang meriah itu saya tak melihat Huzrin Hood, saya teringat balada yang pernah saya tulis. Huzrin Hood adalah sebuah fenomena atau barangkali sebuah contoh soal betapa tidak tentu dan tidak terduganya hari esok dalam sebuah masyarakat yang sedang mengalami turbulensi seperti sekarang ini. Kita berada dalam masa transisi yang panjang, entah kapan akan berakhir. Adakalanya hari esok itu datang dengan sangat manis, adakalanya pahit dan kejam.

Satu hal yang saya catat, di sepanjang jalan dari Bandar Udara Kijang menuju ke tempat acara peresmian di pantai kota Tanjung Pinang yang berhadapan dengan Pulau Penyengat itu adalah, tidak ada spanduk yang menghukum Huzrin Hood, yang bertebaran adalah dukungan moral kepada Huzrin. Sikap ini tentulah sangat menghibur bagi Huzrin Hood, bahwa masyarakat Kepri, tetap saja menganggap Huzrin Hood sebagai seorang pahlawan yang telah memberikan pengorbanan yang luar biasa. Dia bukan pecundang, walaupun dia tersisihkan.

Peresmian pembentukan Provinsi Kepri bagaimanapun telah memberikan catatan perenungan kepada kita semua bagaimana harusnya kita memandang atau memposisikan diri secara arif dalam masa transisi yang tidak nyaman itu. Dan bagaimana kita menyikapinya sehinggalah tidak menimbulkan luka-luka yang membekas. Episode ini nampaknya memang harus kita lalui dalam catatan sejarah negeri ini. Adakalanya kita harus membuat sebuah pilihan yang sulit. Kebersamaan tidak selalu harus diukur dengan bergandengan tangan. Untuk apa bergandengan tangan kalau ternyata kita tidak pernah bersama dan selalu saja berbicara tentang perpisahan. Akan lebih baik, walaupun kita berjauhan tetapi kita selalu bersatu dan selalu berbicara tentang kebersamaan.

Huzrin Hood telah menanam kelapa dan kelapa itu kini telah berbuah, tidak kira kelapa itu condong atau tidak sehingga buahnya jatuh ke laman orang. Sejarah akan mencatat, Huzrin adalah seorang martir dari kepulauan. Apa yang diucapkan oleh Albert Camus agaknya menarik untuk kita simak, "manusia harus mengagungkan keadilan agar dapat berperang melawan ketidakadilan ekstemal, menciptakan kebahagiaan agar dapat protes melawan penderitaan.
Huzrin, keadilan itu akan datang.


(No. 152/Th III/5 - 11 Juli 2004)


Tulisan ini sudah di baca 128 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/324-Kelapa-Condong-Huzrin-Hood.html