drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Berpisah Juga Kita Akhirnya


Oleh : drh.chaidir, MM

SASTRAWAN Allahyarham Ediruslan Pe Amanriza, menggoreskan pena hatinya, berpisah juga kita akhirnya Jakarta ...." Ediruslan Pe Amanriza menumpahkan perasaan ketidakpuasannya terhadap kebijakan Jakarta yang telah meluluhlantakkan negerinya bernama Riau dalam bait-bait puisi yang menggetarkan. Hari ini negeri yang ditangisi Ediruslan Pe Amanriza itu resmi terbelah dua. Terbelah, terpecah, atau terbagi, tidak lagi menjadi penting, itu hanya tergantung dari sudut mana kita memandangnya dan tergantung suasana batin. Air mata keharuan dan kesedihan telah menjadi sebuah emulsi yang tak mungkin lagi dipilah-pilah. Sebuah kenyataan sejarah harus diterima, gugusan kepulauan yang dijuluki "Negeri Segantang Lada" itu resmi menjadi sebuah provinsi, terpisah dari "Negeri Lancang Kuning" Riau. Beruntung, dalam sebuah versi Sejarah Melayu, kapal legenda Lancang Kuning, yang diluncurkan dari galangannya di wilayah Bengkalis, yang akhirnya tenggelam di perairan Tanjung Jati, masih termasuk dalam wilayah administrasi provinsi induk. Kalaulah tidak, maka julukan Negeri Lancang Kuning itu pun akan kehilangan makna dan tidak layak lagi disandang oleh Provinsi Riau.

Sejarah selalu berulang, kata orang bijak. Empat puluh lima tahun silam, Riau memisahkan diri dari Provinsi Sumatera Tengah dalam sebuah isak tangis keharuan. Kini Kepulauan Riau memisahkan diri dari Provinsi Riau yang dulu diperjuangkan bersama itu. Waktu, entah kapan akan berhenti berputar. Barangkali suatu saat kelak akan muncul pula Metropolitan Batam yang memisahkan diri dari Provinsi Kepri, atau Provinsi Riau Pesisir, atau Provinsi Indragiri, atau Provinsi Rokan yang memisahkan diri dari Provinsi Riau. Sekali lagi, waktu masih lagi berputar. Apa yang terjadi esok hari, tak ada seorang pun yang tahu. Today is yours, tomorrow nobody knows, kata orang bijak. Hari ini milik anda, besok tiada sesiapa yang tahu.

Entah sampai kapan paradoks global ini akan menandai perjalanan sejarah dunia, kita juga tidak tahu. Jangankan hanya sebuah provinsi. Ingat Uni Soviet? Tidak ada seorang pun yang menyangka, raksasa Uni Soviet itu akan runtuh dan berkecai-kecai dalam negara-negara kecil yang tak lagi diperhitungkan dan hampir dilupakan sejarah. Cekoslowakia juga terbelah oleh sejarah. Namun pada saat yang bersamaan, Jerman Barat dan Jerman Timur yang semula dipisahkan oleh idiologi, memilih merubuhkan tembok Berlin yang seram itu, dan bersatu dalam Jerman Raya. Beberapa tahun yang lalu ketika saya berkunjung ke Berlin, saya bahkan sia-sia minta ditunjukkan puing-puing tembok Berlin itu. Tembok pemisah itu ternyata telah rata dengan bumi, yang tinggal hanya cerita. Ada kesan Jerman tidak lagi menginginkan catatan buruk itu diungkit kembali. Bahkan dalam kenangan pun tak.

Kecenderungan global yang menjadi paradoks itu, terlihat pula bagaimana negara-negara Eropa yang semula bangga dengan kedaulatannya sendiri-sendiri, kini justru menghimpun diri dalam Masyarakat Ekonomi Eropa atau European Economic Community (EEC). Mata uang mereka pun dilebur menjadi satu. Tak ada lagi lira di Italia, gulden di Belanda, franc di Perancis atau deutsche mark di Jerman. Semua terintegrasi dalam mata uang baru yang bernama Euro, yang ternyata lebih kuat daripada dollar Amerika.

Memang dunia ini penuh dengan fenomena. Dikala ada yang merasa terancam, mereka menghimpun diri dalam sebuah kebersamaan, maka muncullah kerjasama atau pasar bersama seperti NAFTA, AFTA, APEC, EEC dan sejenisnya. Itu yang bernuansa ekonomi. Yang bernuansa pertahanan keamanan juga ada dalam bentuk pakta pertahanan. Namun sayangnya, ketika "kue" itu sudah berada dalam genggaman, mereka berebut sa-ling sikut satu dengan lainnya, minta jatah lebih banyak, lebih banyak dan lebih banyak lagi dengan berbagai macam pembenaran.

Saya teringat sebuah dialog yang monumental di zaman nabi. Pada suatu ketika menjelang akhir hayatnya, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah pertemuan di Masjid Nabawi, Madinah, bertanya kepada para sahabat dan pengikutnya yang duduk di sekitarnya. "Andai kata nanti Romawi dan Persia sudah berada dalam genggaman kalian, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Nabi pelan, karena waktu itu Beliau sudah sakit-sakitan. Para sahabat menjawab, "karni akan tetap bertawakal dan bersahaja ya Rasulullah." Nabi membalas sambil tersenyum, "tidak, kalian akan bertengkar berebut harta dan kekuasaan satu dengan lainnya, bahkan sesama saudara kalian sekalipun. Kalau kalian tidak bertaqwa kepada Allah SWT, kalian akan hancur." Beratus-ratus tahun kemudian, bahkan sampai hari ini, dialog tersebut masih tetap relevan dan kontekstual untuk kita renungkan.

Peresmian Provinsi Kepri adalah sebuah realitas sejarah negeri ini. Tidak ada yang perlu ditangisi. Kontroversi memang selayaknya perlu segera diakhiri bila kita tidak ingin merugi dari hari ke hari. Kepastian hukum adalah sebuah keniscayaan dan salah satu agenda reformasi yang harus dijunjung tinggi. Sejak undang-undang tentang Provinsi Kepri disetujui DPR-RI, jujur harus diakui, tidak ada lagi yang bisa menghalangi keberhasilan perjuangan masyarakat Kepulauan Riau, kecuali sebuah keajaiban. Kita tidak mungkin menghentikan perubahan apalagi memutar jarum jam mundur. Nasihat William Cullen Bryant, seorang sastrawan dan penulis Amerika yang hidup di abad ke-19, agaknya layak direnungkan, "Janganlah menangisi perubahan, sebab apalah jadinya kalau keadaan tidak pernah berubah." Hiruk pikuk yang terjadi sebelum disahkannya sebuah undang-undang adalah sebuah pertanda hidupnya demokrasi di negeri ini namun demokrasi juga nicmiliki demarkasi. Apabila wilayah ini terlewati, maka yang terjadi adalah anarki. Oleh sebab itu ada masa dimana hiruk pikuk harus berhenti dan memberi peluang untuk melakukan kontemplasi. Kita telah terlalu banyak membuang energi untuk perdebatan atau bahkan pertelagahan yang tak perlu. Hasilnya justru disharmonisasi, disorientasi dan fragmentasi dalam masyarakat.

Memang, tidak mudah untuk menyesuaikan diri dan mengelola perubahan-perubahan besar dan mendasar yang terjadi secara cepat dan simultan dalam masyarakat Kepri, baik bagi elit politik maupun bagi masyarakat pada umumnya. Kepri memerlukan kearifan dan kecerdasan yang luar biasa dari seluruh stake holder, agar kapal yang baru berlayar itu sanggup menantang badai.

Tapi sesungguhnya, apalah artinya sebuah garis pe-misah administrasi, secara geografis gugusan kepulauan di pantai timur Sumatra itu tidak akan pernah pergi kemana-mana, selamanya dia akan tetap berada disana. Dan secara kultural pun Riau tidak akan terbelahkan. Jangankan hanya berbeda provinsi, berbeda negara pun tidak bisa memisahkan kesamaan kultural, seperti halnya Riau dengan Malaysia. Pengalaman kita bertahun-tahun telah membuktikan bahwa kita berhak untuk berbicara seperti itu.

Apa yang perlu kita lakukan ke depan adalah melakukan reorientasi dan memantapkan kembali skenario pembangunan sesuai dengan perkembangan. Potensi yang ada perlu diberdayakan secara optimal. Skenario tanpa migas adalah sebuah realitas, tetapi sesungguhnya, sebagai sebuah Provinsi Bahari, Kepri memiliki potensi sangat besar yang selama ini tak terkawal dan tidak tereksploitasi secara optimal. Raksasa yang belum dibangunkan itu adalah potensi kelautan. Kekayaan itu selama ini justu dimanfaatkan oleh pihak luar, oleh nelayan-nelayan asing. Kalau potensi ini dikawal dan dikelola dengan sungguh-sungguh, maka Kepri akan bisa bertanding secara setanding dengan tetangga Singapura dan Malaysia.

Di darat, saya akan selalu menyanyikan sebuah lagu yang dikarang oleh Budayawan kita Daud Kadir: ... hiu-hiu di lautan biru/beranaklah due alah sayang/hatiku rindu ... apalah obatnya .... Kepri, syabas!!!

(Harian pagi Riau Pos, 1 Juli 2004)


Tulisan ini sudah di baca 110 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/323-Berpisah-Juga-Kita-Akhirnya.html