drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Raja Ali Haji


Oleh : drh.chaidir, MM

UDARA di Kuala Lumpur siang itu cukup panas, sementara taksi yang saya tumpangi merangkak perlahan menuju Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur pada jam-jam sibuk akhir-akhir ini memang sudah mulai bersahabat dengan traffic jam, kemacetan lalu-lintas, seperti yang sudah menjadi keseharian Jakarta atau Bangkok.

Dewan Bahasa dan Pustaka, terkesan tidak begitu ramai. Tekad saya tunggal mencari beberapa Karya klasik Raja Ali Haji. Kebetulan, beberapa hari sebelum berangkat, selaku Ketua DPRD, saya menerima sepucuk surat dari Gubernur Riau, yang meminta persetujuan dewan terhadap usulan Raja Ali Haji sebagai Pahlawan Nasional dan Bapak Bahasa Indonesia. Terlampir bersama usulan tersebut dikirim pula sebuah buku pendukung yang berjudul "Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji Sebagai Bapak Bahasa Indonesia". Kesan spontan yang muncul dalam pikiran saya, usulan itu sangat layak disetujui oleh DPRD Riau, bahkan mestinya sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. "Sudah sangat terlambat, tapi tak apalah", kata pujangga Taufiq Ismail suatu kali. Secara jujur harus diakui, sumbangsih Raja Ali Haji rasanya tidaklah kalah dari apa yang telah diberikan oleh tiga orang Pahlawan Nasional terdahulu dari Riau, Tuanku Tambusai, Sultan Syarif Kasim II dan Raja Haji Fisabilillah. Kalau tiga orang Pahlawan Nasional yang sudah dikukuhkan tersebut banyak bergerak dalam dimensi perjuangan fisik, maka Raja Ali Haji banyak bergerak dalam bidang pencerahan dan pencerdasan. Dia tidak berperang menghunus pedang, atau memberikan sumbangan materi bagi masyarakatnya, dia tunak dengan kerja-kerja intelektual. Namun karya-karya inilah kemudian yang melintasi zaman. Ini pulalah yang diakui oleh filsuf barat Francis Bacon. Manusia boleh mati, kata Francis Bacon, tapi ia bisa memperpanjang umurnya, jika ia meninggalkan sesuatu yang 'abadi', yaitu sebuah karya. Karya itu bisa bernama buku, sebuah novel, dan sah pula bila hanya sebuah puisi. Karya inilah yang bisa membuat seorang anak manusia dapat lebih bertahan ketika melawan waktu. Bacon lebih jauh mengatakan, sebuah karya atau monumen yang terbuat dari pengetahuan dan kearifan memiliki kemungkinan bertahan lebih besar dari hasil-hasil karya lain, semisal berupa monumen istana, candi ataupun sebuah kota.

Di Dewan Bahasa dan Pustaka, saya mendapatkan sebuah temuan besar, yakni buku Tuhfat Al-Nafis karangan Raja Ali Haji, yang sudah lama ingin saya miliki. Buku Sejarah Melayu setebal 611 halaman ini ditulis oleh Raja Ali Haji pada abad ke-19. Saya juga membeli buku Sulalat Al-Salatin karangan Tun Seri Lanang dan sebuah buku karya agung lainnya, Hikayat Hang Tuah. Buku-buku tersebut dicetak dalam edisi lux dengan hard cover.

Tuhfat Al-Nafis adalah sebuah karya agung karangan Raja Ali Haji yang dianggap paling lengkap, jauh lebih mendalam dan luas dibandingkan dengan buku-buku sejarah Melayu yang lain. Dalam pengantar buku tersebut, secara kronologis diuraikan Tuhfat Al-Nafis meliputi peristiwa dari awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19, bahkan dalam latar belakang peristiwa mulai dari zaman kerajaan Sriwijaya. Dari sudut geografis, meliputi peristiwa-peristiwa yang terjadi di semua kerajaan Melayu di Semenanjung, di Kepulauan Riau-Lingga termasuk Singapura, di Siak, di Kalimantan Barat, di Sulawesi Selatan, bahkan di Betawi.

Di samping Tuhfat Al-Nafis, masih banyak lagi buku-buku karangan Raja Ali Haji yang kesemuanya dianggap istimewa, seperti Gurindam Dua Betas, kamus monolingual ensiklopedis Kitab Pengetahuan Bahasa, kitab tata ejaan Bustanul al-Katibin, Syair Abdul Muluk, Kitab al-Nikah, Syair Siti Shianah, Syair Sinar Gemala Mestika Alam, Silsilah Melayu dan Bugis, Daeng Celak Hendak Pulang ke Riau, Mukaddimah Fi Intizam dan Tsamarat al-Muhimmah. Kesemua karya Raja Ali Haji ini menandakan bahwa ia adalah seorang budayawan besar, sastrawan ulung, ulama dan sekaligus juga seorang pakar bahasa. Kepakarannya yang beraneka ragam yang ditekuninya dengan tunak dan penuh kesungguhan, menempatkan tokoh ini menjulang di antara rekan-rekan-nya sezaman. Bahkan rasanya sampai kini pun kepakarannya sulit tertandingi.

Tidak mengherankan jika Raja Ali Haji menjadi tokoh kawasan Melayu yang paling banyak dikaji oleh para pakar, baik pakar bahasa, maupun sastra, dan kebudayaan. Hampir semua pakar yang terbilang memiliki sebuah kesepakatan bahwa Raja Ali Haji merupakan tonggak penting bagi kesusastraan Indonesia.

Tradisi menulis dalam dunia Melayu memang sudah bermula sebelum Raja Ali Haji dan ini dibuktikan oleh banyaknya naskah-naskah lama yang memuat beragam hal. Namun demikian, dari sejumlah penulis yang ada, Raja All Haji tetaplah yang terkemuka, jika dibandingkan dengan zaman sebelumnya. Kita beruntung memiliki sebuah tradisi intelektual yang gagah, yang dengannya kita memiliki sebuah cermin jernih bagi memandang diri. Dengan cermin jernih mi, kita menjadi tahu dengan persis apa yang telah terjadi, tentang bagai-mana sejarah kita bermula, sehingga kita dapat pula menentukan suatu sikap yang tepat bagi perjalanan diri, bagi perjalanan negeri.

Di tangan Raja Ali Haji, bahasa Melayu menemukan keindahannya. Keindahan itu dapat kita lihat dari karya-karyanya yang juga sangat indah. Tidak hanya indah, tapi juga sepadan dengan muatan nilai yang terkandung di dalamnya, seperti yang diterakannya dalam Gurindam Dua Belas pasal ke-5:

"Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa."


Melihat pada sumbangannya bagi pemuiiaau manusia, adalah suatu hal yang pantas kalau kemudian Raja Ali Haji dikukuhkan sebagai pahlawan. Memahami itu, maka pada tanggal 11 dan 14 Juni 2004 DPRD Riau melaksanakan Rapat Paripurna untuk membahas dan mendukung pengusulan Raja Ali Haji sebagai Pahlawan Nasional dan Bapak Bahasa Indonesia.

Kita semua mewarisi berbagai hal yang "Besar" di negeri ini. Sejarah yang besar, potensi yang besar, tradisi intelektual yang besar, dan sebagainya. Kesemua itu harus kita lanjutkan dengan semangat yang besar sehingga memberi arti bagi semua. Kita berhutang pada sejarah, dan kita akan menjadi sebuah generasi yang gagal, jika kita tak mampu berbuat sama, jika tidak lebih, dari masa lampau.

Andai setiap generasi dapat menorehkan kecemerlangan pada zamannya masing-masing, maka negeri ini akan menjadi sebuah negeri yang berbahagia. Untuk mendapatkan itu, dan untuk dapat membayar hutang keagungan kepada masa silam, tentu saja kita harus bekerja keras.

Raja Ali Haji memang sudah pada tempatnya mendapatkan kehormatan. Sebagai manusia ia telah selesai melakukan tugas, meninggalkan warisan berharga dan menciptakan kenangan. "Tugas manusia bukanlah menaklukkan masa depan, tapi adalah bagaimana dapat menciptakan sebuah kenangan yang dapat disebut dengan manis pada masa datang". Milan Kundera, sastrawan pemenang Hadiah Nobel berkebangsaan Ceko pernah mengatakan kalimat itu, dan Raja Ali Haji telah melakukan hal itu, sudah, dan bahkan jauh sebelum Kundera mengatakannya.


(No. 119/Th III/14 - 20 Juni 2004)


Tulisan ini sudah di baca 302 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/322-Raja-Ali-Haji.html