drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Seniman Perdana Hasan Junus


Oleh : drh.chaidir, MM

"ARRIVEDERCI", katanya. "Arrivederci, jawab saya refleks dan kami pun berpisah. Sampai jumpa, itulah kira-kira makna bahasa Italia itu, yang diucapkan oleh Seniman Perdana Hasan Junus ketika saya mengucapkan selamat atas Anugerah Seni Tahun 2003 yang diterimanya dari Dewan Kesenian Riau, beberapa malam lalu. Anugerah Seniman Perdana, adalah anugerah tertinggi yang diberikan kepada seorang seniman yang terbilang nama di Riau. Atas anugerah itu, Hasan Junus menerima piala yang molek, piagam yang cantik dan sejumlah hadiah berupa uang tunai yang tidak boleh dikatakan kecil. Tentang hadiah-hadiah itu, sesungguhnyalah hanya masalah cara kita mengapresiasi seni. Gelar seniman Perdana yang dianugerahkan kepada Hasan Junus, untuk negeri pujangga, Riau, kira-kira laksana hadiah Nobel Sastra dari Swedia yang terkenal itu.

Ketika Hasan Junus menyampaikan pidatonya, saya berbisik kepada Rida K Liamsi, seniman, CEO Riau Pos Group, "saya membayangkan Hasan Junus seperti seniman Chile, Pablo Neruda, yang menyampaikan pidato ketika menerima hadiah Nobel bidang sastra" (Pablo Neruda menyampaikan pidato sastra pada suatu hari yang dingin membeku di Swedia, beberapa puluh tahun yang lalu, tepatnya 13 Desember 1971). Saya membaca pidato Pablo Neruda dari sebuah buku yang dihadiahkan oleh Rida K Liamsi. Sayangnya kendati saya pernah membaca puisi atau prosa karya sastra pemenang Nobel lain, saya belum pernah mendapatkan teks pidato para sastrawan itu seperti William Buttler Yeats, seorang sastrawan Irlandia yang juga penerima Nobel Sastra dan Rabindranath Tagore, penerima Nobel Sastra dari India, atau penerima Nobel Sastra lainnya, Gabriel Garcia Marquez, seorang sastrawan kelahiran Kolombia. Atau pemenang Nobel Sastra yang berbangsa Arab, Naguib Mahfouz. Mereka-mereka ini tentulah orang-orang biasa yang luar biasa pada bidangnya.

Hasan Junus adalah Hasan Junus, dia bukan Pablo Neruda, atau Naguib Mahfouz atau Gabriel Garcia Marquez atau Rabindranath Tagore, bahkan dia tidak akan menjadi mereka atau salah seorang dari mereka. Hasan Junus tetaplah Hasan Junus, yang sejatinya dilahirkan di Pulau Penyengat, Tanjung Pinang (sebuah kota yang seiaiu saya kenang mesra entan kenapa), ia bukan lahir di Kolombia, Kairo, atau Roma, kendati dia menguasai tujuh bahasa. Hasan Junus, yang masih memiliki hu-bungan darah dengan "Nabi" sastra Melayu, Raja Ali Haji, pengarang Gurindam Duabelas, telah menghasilkan puluhan karya cerita pendek atau panjang, cerita sandiwara dan esai. Sebagian dari karya-karyanya itu telah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Jeanette Lingard dan diterbitkan dalam Diverse Lives -Contemporary Stories from Indonesia (Oxford University Press, 1995). Sebuah karya seni memang tidak dilihat dari siapa yang menciptakannya, tapi dilihat dari wujud karyanya.

Membandingkan Hasan Junus sang penyandang Seniman Perdana dengan pemenang Nobel Sastra, Pablo Neruda, atau dengan Rabindranath Tagore dan pememang Nobel Sastra lainnya, tentu tidaklah pada tempatnya. Seniman-seniman ini hidup pada era dan domain kebudayaan yang berbeda dan tumbuh dengan logikanya sendiri-sendiri. Masing-masing, kendati memahami universalitas, tapi tetap menjunjung tinggi akar kebudayaan dimana mereka dilahirkan dan menjadi besar. Walaupun mereka memainkan alat musik yang sama (meminjam istilah Hasan Junus), tapi lagu yang dihasilkannya berbeda. "Sang seniman boleh saja bernafas di udara universal namun tempat pijakannya harus kokoh berada di bumi sendiri", begitu pemahaman Hasan Junus. Namun Hasan Junus juga tidak mau dikungkung. "Kalau pilihan seorang seniman berkarya dengan mengandalkan akar budaya setempat, itu tentu bagus dan sah-sah saja. Namun seniman yang memilih tidak mengandalkan akar budaya setempat dan tak suka pa-da warisan lama juga mempunyai hak hidup dan harus diberi kesempatan yang sama". Hasan Junus juga berpendapat bahwa tidak ada suatu ukuran yang tunggal untuk menilai perkembangan kesenian dimana pun, baik di sini seandainya kesenian di sini dikatakan bermutu rendah dan juga di sana kalau di sana terdapat kesenian bermutu tinggi, atau sebaliknya. Pandangan Hasan Junus agaknya tidak jauh berbeda dengan Pablo Neruda, atau Pablo Neruda tidak jauh berbeda dengan Hasan Junus.

Pada benua lain, Pablo Neruda menyampaikan dalam pidatonya: "... Saya tak hendak membela diri, sebab saya yakin bahwa dakwaan maupun pembelaan tidak termasuk tugas seorang penyair. Kala semua sudah dikatakan, tidak ada penyair mana pun yang mampu mengatur puisi. Bila seorang penyair mau bersusah payah mendakwa rekan-rekannya atau jika sejumlah penyair lainnya menyia-nyiakan hidup dengan membela diri dari tuduhan yang masuk akal ataupun yang tidak, saya yakin hanya kecongkakan semata yang bisa menyesatkan. Bagi saya musuh-musuh puisi bukanlah siapa yang menciptakan puisi atau yang menjaganya, musuh puisi adalah tidak utuhnya pemahaman dalam diri penyair. Karena alasan ini maka sesungguhnya tidak ada musuh besar bagi seorang penyair selain ketidakmampuannya sendiri untuk membuat agar diri-nya dipahami oleh orang-orang sezamannya yang paling terlupakan dan paling terhisap, dan dalil ini berlaku di semua zaman dan di semua negeri".

Pablo Neruda maupun Hasan Junus juga sependapat bahwa seniman itu digolongkan sebagai intelektual yang senantiasa menyiapkan makanan pikiran, makanan rohani, karena kesan (boleh juga dinamakan pengaruh) yang ditinggalkannya pada masyarakat di lingkungannya. Penyair adalah orang yang sehari-hari menyiapkan roti bagi kita, ujar Pablo Neruda. la menjalankan pekerjaan mulia tanpa pamrih - mengaduk adonan, memasukkannya ke dalam oven, memanggangnya dalam warna-warni keemasan, dan menyajikan roti setiap hari bagi kita sebagai tugas terhadap sesama manusia.

Sebuah negeri betapa rapi pun sistem pemerintahannya, akan terasa gersang dan hambar tanpa kehadiran seni. Sebab seni memperkaya akal budi, memperhalusnya. "Kita mencita-citakan lahirnya suatu komunitas masyarakat atau negeri yang tersembuhkan, sebuah negeri yang manis oleh lagu, cerita, puisi, serta balada pada satu sisi, dan memiliki kemakmuran beserta sistem yang kuat pada sisi lain", ungkap William Butler Yeats.

Dewasa ini, menurut para pengamat - dengan amat prihatin - modal sosial (social capital) negeri kita telah hancur berantakan. Kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang aman, damai, tenteram dan santun telah terdesak oleh budaya politik yang diwarnai oleh kekerasan, kerakusan, sangar, egoisme yang berlebihan, dan perilaku masyarakat yang anomi. Negeri kita telah kehilangan common platform, sehingga proses reformasi mengalami disorientasi.

Kita agaknya memerlukan penyeimbang. Dan saya sependapat dengan Hasan Junus, selain agama, maka seni dapat dijadikan penyeimbang spiritual, makanan rohani, pembangkit hati, pikiran dan kesadaran, juga tempat berteduh. Seni bisa mengendapkan racun-racun yang secara sistemik berada dalam tubuh negeri kita. Fratello Hasan Junus, teruslah lahirkan karya, karya, karya-karya. Teruslah bercerita, teruslah mencintai. Complimenti, ha vinto!!


(No. 130/Th III/ 1 - 7 Februari 2004)


Tulisan ini sudah di baca 169 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/320-Seniman-Perdana-Hasan-Junus.html