drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Tahun-tahun Yang Pergi


Oleh : drh.chaidir, MM

ENTAH sudah berapa lama tahun-tahun itu datang dan pergi. Kita semua tak pernah mencatatnya sejak awal, karena paling-paling kita hanya mengetahuinya dari penggunaan penanggalan yang tertua, atau perkiraan para ilmuwan, yang tentu belum pasti benar. Meski tak tercatat, ia terus berlalu, tak kembali, dan hanya meninggalkan tanda-tanda: sejumlah negara hilang terkubur dan negara baru bangkit untuk kemu-dian terkubur lagi.

Ada sejumlah wilayah yang dulu sangat luas, kini telah mengerucut, laut kian meluas, dan entah sudah dalam hitungan berapa juta atau milyar manusia mati bersamanya. Kita tak pernah mencatat itu sebagai sebuah substansi pergantian tahun.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun 2003 pun berlalu dan menjadi sejarah dengan sangat bersahaja. Kita pun tidak pernah peduli ataupun memikirkan apakah tahun 2003 itu pergi dengan cinta, keriangan, atau berangkat dengan kepedihan, atau bahkan mungkin menghilang dengan mewariskan dendam yang berkarat kepada tahun berikutnya. Yang jelas, kita mengantarkannya dengan sukacita, dan kemudian menyambut tahun yang datang dengan berlaksa-laksa pengharapan. Di semua tempat, diselenggarakan berbagai acara yang meriah dengan berbagai macam hiburan, seolah-olah, kita sudah yakin tahun yang datang, secara pasti akan memberikan kegembiraan (meski banyak pihak menyambutnya dengan keprihatinan dan doa).

Mulai dari level nasional, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga pedesaan yang terletak di pedalaman, jauh-jauh hari sudah menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut tahun baru. Pada tingkat yang besar membuat acara yang besar, dan yang kecil membuat acara yang sederhana. Yang sempat berkumpul maka datang berkumpul, yang tak sempat, cukup dengan menonton televisi atau mendengar radio. Semua orang sabar menunggu menjelang pukul 00:00, meski yang ditunggu adalah sesuatu yang tak jelas, entah keajaiban, entah kemenangan, dan tak mustahil pula nestapa. Semuanya menahan nafas ketika hitungan mundur pergantian tahun dimulai, seperti seorang calon ayah yang sedang menunggu detik-detik jabang bayi keluar dari rahim sang ibu. Lalu ketika hitungan selesai, semuanya saling berjabat tangan dan berangkulan. Semua orang seakan baru dilahirkan. Azam baru kemudian dibuat, cita-cita digantungkan, dan semuanya ber-tekad untuk meninggalkan silam yang kelam. Setelah hiruk pikuk itu, lalu senyap, lalu sunyi. Begitulah dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi.

Tak ada yang salah dengan kegembiraan yang meluap itu, begitu juga dengan pesta, apa lagi doa-doa keprihatinan yang saling bertembung di udara pada setiap malam pergantian tahun baru. Semuanya sah, meski besok atau lusa, tahun yang datang ternyata tak sejalan dengan harapan.

Tahun-tahun yang pergi sesungguhnya merupakan sebuah pelajaran dan sekaligus sempadan dalam meng-hadapi tahun yang menjelang. Dia adalah sebuah ruang tempat kita melihat apa-apa yang sudah terjadi, seperti seberapa besar keberhasilan dan kegagalan yang sudah kita persembahkan, sudah seberapa benar atau seberapa jauh kita salah dalam bertindak, apa peluang yang harus dilanjutkan, dan apa pula hal-hal yang harus kita biarkan tenggelam dalam tidurnya yang abadi. Itulah arti penting pergantian dari tahun yang lewat ke tahun yang baru, sebuah cermin bersolek, mempercantik yang sudah manis atau menambal sudut-sudut yang mengecewakan.

Pergantian tahun, juga seperti sebuah persimpangan, tempat kita berhenti sejenak untuk merunut kisah dan kenangan, memandang jalan yang sudah dilalui, lalu kemudian memutuskan akan mengambil batang jalan yang mana agar sampai ke tujuan dengan selamat. Atau seperti gambaran sastrawan Syaukani al Karim dalam sajaknya "Ulang Tahun": Bahtera singgah sejenak dari pelayaran semusim, mengisi bekal, memakdl din-ding. Kelasi berpesta-pora di dermaga, bersulang arak atau mereguk rindu .... Esok seiring fajar, kapal mesti berlayar menempuh samudera dan meracik ombak. Menuju tanah harapan atau tenggelam di titik takdir.

Tahun 2004 ini, bisa saja sebuah tahun keberuntungan, tapi bukan tidak mungkin pula akan menjadi sebuah tahun kemurungan. Kedua-duanya punya tanda, kedua-duanya punya peluang. Akan menjadi tahun keberuntungan, karena sudah torlihat adanya sebuah semangat yang besar untuk mengubah keadaan dalam berbagai bidang. Pemberantasan korupsi misalnya, sudah diawali dengan pembentukan sejumlah lembaga atau kerjasama, seperti pembentukan Mahkamah Konstitusi, Komisi Pemberantasan Korupsi, adanya kerjasama NU-Muhammadiyah dalam soal penanganan korupsi, dan sebagainya. Sebaliknya juga bisa menjadi kemurungan, karena tahun 2004 mewarisi pertumbuhan ekonomi yang lemah, persengketaan yang tak kunjung padam, dan akan ditambah pula dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi akibat pelaksanaan pemilu 2004 dan pemilihan presiden secara langsung.

Keduanya punya peluang yang sama besar. Pada level daerah, Riau misalnya, tahun 2004 juga menyiratkan itu. Ada harapan besar melalui berbagai kekuatan yang kita miliki serta semangat yang mengiringinya, tapi tidak sedikit pula persoalan yang sudah tersedia, baik yang diwariskan oleh tahun 2003 maupun tidak, mulai dari intrik-intrik politik lokal, soal kemiskinan yang melilit, pemberitaan-pemberitaan yang menyesatkan, masalah pertanahan, perburuhan, illegal logging, penanganan pasca banjir, dan banyak lagi yang sulit dirunut satu persatu.

Namun demikian, kita harus tetap optimis, karena semua hal yang ingin dicapai sesungguhnya terletak pada tangan kita sendiri. Cita-cita atau harapan - yang rasional - bukanlah seperti sebuah kaki langit yang selalu berjarak sama walau kita sudah mengejarnya demikian jauh. Cita-cita yang rasional itu seperti sebuah lautan yang pasti ada tepiannya, dan itu bisa dicapai sejauh kita berkerja keras, sejauh kita berjuang dengan kebersamaan.

Kuncinya, memanglah sebuah kerja keras dalam bingkai integritas. Tahun yang datang tak akan memberikan mukjizat, tapi sebaliknya tahun yang datang membawa seperangkat pesan, bahwa kita semua harus bekerja keras dengan mengedepankan kejujuran. Kita harus bangkit dalam kebersamaan, karena banyak hal yang harus diselesaikan. Semua persoalan itu meminta perhatian yang sungguh-sungguh dan tindakan-tindakan yang tepat sasaran, dan hanya dengan kerja-keras segala cita-cita menjadi mungkin dan semua halangan menjadi nisbi. "Cita-cita itu sebuah lautan", kata tokoh pelacur dalam film Preety Woman yang dibintangi oleh Julia Robert, "dan aku akan merenanginya, dan hanya akan berhenti pada titik terakhir kemampuan berenangku". Kerja keras dan pantang menyerah dipahami oleh semua anak bangsa sebagai alasan untuk bergembira.


(No. 126/Th III/6 - 13 Januari 2004)


Tulisan ini sudah di baca 100 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/319-Tahun-tahun-Yang-Pergi.html