drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Menyimak Sejarah


Oleh : drh.chaidir, MM

SESUNGGUHNYA ada sebuah helat besar di penghujung tahun 2003 yang luput dari perhatian pers. Helat ini agaknya kurang memiliki nilai "news", kalah dari hangatnya berita mengenai partai politik, atau dari berita penangkapan Saddam Hussein. Helat itu adalah seminar penulisan Sejarah Perjuangan Rakyat Riau. Konsep sejarah yang diseminarkan itu, terbagi dalam dua buah buku tebal, Buku I untuk sejarah periode 1945 - 1958 dan Buku II periode 1959 - 2002.

Helat ini saya anggap besar karena menghadirkan sejumlah pakar sejarah, namun lebih dari itu ruang lingkupnya juga besar. "Sejarah Perjuangan Rakyat Riau", tentu bukan sesuatu yang enteng, dan tidak pula boleh dianggap enteng, sebab kelak buku itu akan menjadi rujukan tidak hanya bagi masyarakat Riau, tetapi juga bagi masyarakat luas dalam dan luar negeri. Sekali penulisannya salah, akan sulit meluruskannya kembali.

Menengok masa lalu, rnerupakan cara yang paling tepat dalam menafsirkan masa kini. Dengan menengok lalu, kita akan menjadi tahu apa yang telah berlangsung dengan segala hiruk pikuknya, pedih pilunya, tempik soraknya, atau tawa bahagianya, yang kemudian sekaligus membuat kita pula menjadi sadar tentang apa tanggungjawab yang harus kita lakukan hari ini, dan kelak kita wariskan kepada masa datang.

Untuk menengok masa lalu, diperlukan seperangkat catatan yang bernama fakta-fakta sejarah. Namun sejarah bukanlah semata-mata tentang masa lalu dan bukan pula mesin hitung. Sejarah adalah sebuah media yang dapat membuka pikiran dan menimbulkan imajinasi.

Sejarah sebenarnya adalah sebuah rangkaian catatan peristiwa yang melingkupi berbagai aspek kehidupan. Aspek itu bisa politik, pertentangan militer atau peperangan, kondisi perekonomian masa lampau, perjalanan perilaku sosial masyarakat, gerakan kebudayaan, dan berbagai aspek lain yang bersangkut-kait dengan ihwal kreatifitas manusia, mulai dari yang baik hingga yang terburuk. Perang Napoleon yang me-milukan di Waterloo adalah sejarah, penemuan mesin uap oleh Tames Watt, perbancuhan kebudayaan di Andalusia, pembantaian jutaan orang oleh Dinasti Chin, dan hingga terkurungnya seorang gadis kecil yang bernama Anne Frank pada perang dunia yang lalu. Semuanya adalah sejarah, dan semuanya adalah peristiwa kemanusiaan.

Tapi entah mengapa, sejarah pada akhirnya "lebih memihak" kepada peristiwa politik, militer, dan kekuasaan, sehingga seringkali sebagian besar buku sejarah lebih banyak berkisah tentang segala sesuatu yang heroik, seperti perang, pertikaian dan konspirasi politik, serta perebutan kekuasaan. Padahal dalam setiap perang, pertikaian politik, ataupun perebutan kekuasaan,hal pertama yang terjungkal adalah peristiwa-peristiwa kemanusiaan, kebudayaan, dan berikut segala aspek sosial yang ada dalam masyarakat.


Pertanyaan sederhananya adalah: Mengapa pembahasan realitas sosial, kebudayaan, dan kemanusiaan seringkali hanya menjadi sebuah sampiran dalam penulisan sejarah? Ketika membaca sejarah Indonesia, misalnya, maka dengan segera kita akan menemukan sejumlah perang dan peristiwa politik, mulai dari perang masa Singosari, Majapahit, hingga perang melawan penjajahan, sementara sisi-sisi lain seakan terabaikan. Tidak hanya pada risalah-risalah sejarah Indonesia, bahkan risalah sejarah dari sejarawan yang paling dipuja di Eropa seperti Leopold von Ranke, hal yang sama terjadi: sejarah politik mendominasi.

Dominasi peristiwa politik dan kekuasaan memang bukan tanpa alasan. Peter Burke, dalam Sejarah dan Teori Sosial (History and Social Theory), Yayasan Obor Indonesia, 2001, mencoba memberikan tafsiran dan kemungkinan alasan atas kecenderungan tersebut. Pertama, menurut Burke, karena sejarah dipandang atau digunakan scbagai dial untuk memngkatkan persatuan bangsa, pendidikan kewarganegaraan, atau, dengan bahasa yang agak ekstrim, sebagai alat untuk propaganda kaum nasionalis. Kedua, karena penulisan sejarah selalu menggunakan sumber-sumber resmi yang boleh dipakai, atau arsip pemerintahan. Ketika yang digunakan adalah arsip pemerintahan, maka masuknya unsur-unsur heroisme negara dengan alasan-alasan tertentu menjadi sesuatu yang sering tak terelakkan.

Karena ada faktor kepentingan, yang pada umumnya adalah kepentingan politik, maka sejarah seringkali berpihak secara tidak adil. Lama kelamaan, kondisi penulisan sejarah seperti ini, seakan sudah menjadi sebuah kebenaran dan keharusan pula. Dengan kata lain, dewasa ini sejarah bukan dianggap sejarah jika tidak berbau perang, perebutan kekuasaan dan darah. Tentu saja, hal itu tidak salah. Hanya saja, sejarah yang demikian, tidak akan berhasil menggambarkan keseluruhan geliat perjuangan itu secara utuh.

Sebuah sejarah akan menjadi hal yang memikat, ketika seseorang merasa segala sesuatu yang berlangsung pada masa lampau, seakan-akan berdenting kembali ketika dia membacanya. Pembaca seperti diajak masuk ke dalam peristiwa tersebut, sehingga dapat merasakan bahwa apa yang ia ketahui merupakan bagian dari diri-nya atau paling tidak, sebagai alas yang diyakini meng-antarkan dirinya pada kekinian.

Sejarah, seperti yang diinginkan filsuf sejarah terkenal, R.G. Collingwood (1889-1943), adalah sebuah upaya mementaskan kembali masa silam (re-enactment of the past). Karena ianya merupakan sebuah upaya mementaskan masa silam, maka bukan hanya kebenaran masa silam itu saja yang mesti dikemukakan, tapi yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana masa silam tersebut dapat seolah-olah bermain di depan mata. Bukan semata-mata fakta, tapi juga bagaimana bisa membuat publik pembaca seakan-akan ikut merasakan kegetiran ketika rakyat disiksa oleh penjajah Jepang, atau seakan-akan dapat mengikuti apa yang dipikirkan atau kepanikan yang dialami oleh masyarakat Bengkalis ketika pasukan Belanda memuntahkan peluru meriam dari laut sejak subuh hingga matahari terbit.

Oleh karena itulah seorang sastrawan peraih hadiah Nobel berbangsa Cheko yang bemama Milan Kundera mengatakan sebuah karya yang bagus, paling tidak berisi empat hal: Adanya keterpercayaan sebuah fakta, memiliki kedalaman sebuah prosa, bermain dalam keindahan film atau dunia teater, dan cermat seperti puisi.

Sebuah buku sejarah, dengan cara apapun ianya ditulis, tetap harus kita pelajari. Dalam konteks pembangunan negeri ini ke depan, pengetahuan yang cukup tentang sejarah akan memberikan kita alas dan sekaligus arah tentang apa yang mesti dilakukan. Sehingga dengan pengetahuan yang cukup itu pula, kita dapat berbuat dengan benar, dan pada gilirannya menciptakan pula sebuah sejarah baru.

Namun demikian, tenggelam dalam romantisme masa silam, juga tidak relevan untuk memecahkan masalah kekinian. Sebab, "yesterday logic" (pola pikir masa lalu), kata Peter Drucker, tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan yang semakin kompleks hari ini.

(Disarikan dari Makalah Penulis dalam Seminar Sejarah Perjuangan Rakyat Riau, di Pekanbaru,tanggal 17 Desember 2003)


(No. 125/Th III/28 Desember 2003 - 3 Januari 2004)


Tulisan ini sudah di baca 131 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/318-Menyimak-Sejarah.html