drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Gurindam Kesunyian


Oleh : drh.chaidir, MM

KERING sudah air mata di Bohorok, tangis tak berkesudahan. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana mungkin hanya dalam tempo sekejap, ratusan rumah, penginapan dan hotel, berikut penghuninya berantakan dan hilang disapu banjir bandang dahsyat, yang mengangkut potongan-potongan log dan dahan-dahan kayu. Tapi tragedi itu nyata terjadi di kawasan wisata Sungai Bohorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Sejuta impian dan harapan hanvut bersama orang-orang tercinta.

Alam agaknya sedang murka, hukumnya tidak bisa ditunda dan dia datang tanpa tanda-tanda. Ebiet G Ade tepat menggambarkan dalam lirik lagunya: "Mungkin alam telah mulai bosan melihat tingkah kita". Dalam konteks keimanan, kita boleh dan harus mengatakan atau memaknai musibah itu sebagai sebuah cobaan dari Yang Maha Kuasa kepada makhluk ciptaannya. Atau hukuman yang diberikan kepada kita atas kesombongan yang kadangkala tidak disengaja. "Kadang-kadang kita tidak dapat melihat hubungan apapun antara penderitaan dan dosa kita, tetapi hubungan itu pasti ada", kata Tolstoy seorang pujangga besar Rusia. Saya sependapat dengan Tolstoy, lambat atau cepat, keza-liman terhadap alam yang kita mini, pasti akan mendapatkan ganjaran, siapa menabur angin akan menuai badai. Manusia acapkali alpa, lalai, sehingga tidak mampu membaca tanda-tanda alam atau hubungan-hubungan sebab akibat yang paling sederhana sekalipun. Dalam konteks realitas, banjir bandang itu, memang sulit untuk dibantah, pastilah akibat terganggunya keseimbangan alam.

Hutan yang mestinya berfungsi untuk menyerap curah hujan dan mencegah banjir, telah rusak akibat ulah manusia yang mencari keuntungan bisnis sesaat dan sama sekali tidak memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Sebuah kajian yang mendalam agaknya diperlukan untuk membuktikan premis itu, sebab banjir bandang mestinya tidak akan terjadi dengan tiba-tiba. Bukankah hujan tidak pernah dicurahkan dari langit, tapi diturunkan berupa tetesan-tetesan? Negeri ini diberi kekayaan alam yang melimpah ruah, lautnya sakti rantaunya bertuah. Hutan tropisnya indah, kaya akan plasmanutfah. Tidak hanya itu, hutan tropis kita bahkan disebut menjadi paru-paru dunia. Sejak berabad-abad yang lampau nenek moyang kita memanfaatkannya dalam kearifan, ada hutan yang boleh dibuat ladang, ada pula hutan larangan yang ditunggui oleh orang-orang bunian, Kemajuan zaman dengan peradaban dan teknologinya memungkinkan manusia memanfaatkan kekayaan alam melalui kemajuan ilmu pengetahuan, dan itu tidak diharamkan. Justru kekayaan alam itu harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia supaya hidup dalam peradaban yang lebih maju. Tetapi sesungguhnya manusia tidak hanya dibekali kemampuan iptek untuk mengubah lahan untuk mengubah lahan menjadi kebun-kebun monokultur, serta mengubah hutan rimba dan pohon-pohon sialang menjadi meubel dan lembaran-lembaran kertas tissue serta dollar, tetapi juga dibekali akal budi dan juga adab. Akal budi dan adab inilah yang membuat perilaku manusia menjadi indah dan harusnya bisa berinteraksi secara harmonis dengan alam lingkungannya.

Prof Koesnadi Hardjasoemantri, seorang guru besar Hukum Lingkungan mengatakan, bahwa manusia telah memasukkan alam dalam kehidupan budayanya, akan tetapi ia nyaris lupa, bahwa ia sendiri sekaligus merupakan bagian dari alam dimana ia hidup. Dengan demi-kian manusia harusnya tidak hanya bertindak sebagai penguasa terhadap alam, akan tetapi juga sebagai pengabdinya. Dengan kekuasaannya atas alam ia tidak dapat melepaskan diri dari ketergantungannya kepada alam. Dengan demikian alam memperoleh wajah manusiawi, tidak hanya sebagai tempat pengurasan oleh homo faber. Prof Koesnadi agaknya benar, manusia mempengaruhi alam, alam mempengaruhi manusia. Dalam pemanfaatan alam, manusia harus memperhitungkan nilai-nilai lain di samping nilai-nilai teknis dan ekonomis. Ini berarti, bahwa ancaman terhadap alam tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak lain, akan tetapi pada sikap manusia itu sendiri, baik secara pribadi, maupun secara kelembagaan.

Memang tidak bisa dipungkiri, pembangunan kita selama ini terkesan terlalu mengejar kemajuan material. Agenda peristiwa materialistik terasa sangat dominan dan gegap gempita, sehingga menimbulkan kegelisahan-kegelisahan bahkan menimbulkan perilaku yang menyimpang dengan berbagai bentuk manifestasinya; seperti pemanfaatan sumber daya alam secara amat sangat berlebihan, seakan semuanya mau dijual habis pada hari ini. Masyarakat terdorong oleh gelombang kehidupan materialistik yang mengagungkan persaingan kebendaan. Tuntutan kehidupan yang luar biasa keras itu pula telah menimbulkan terjadinya disorganisasi hu-bungan antar manusia, sehingga menampakkan perilaku yang agresif dan adakalanya kejam. Sudah ber-kuasa ingin lebih berkuasa, sudah kaya ingin lebih kaya, sudah dapat yang cantik ingin lebih cantik, sudah untung ingin lebih untung akhirnya buntung.

Sesungguhnya kita memiliki kearifan lokal bagaimana harusnya bersikap secara arif dan bijak dalam kehidupan bermasyarakat, berinteraksi dengan sesama manusia dan alam. Masyarakat kita secara tradisional telah memberikan apresiasi alamiah dalam upaya preservasi sumber daya alam terutama terhadap hutan. Kita mengenal adanya hutan sialang, hutan larangan, hutan persukuan, hutan milik desa dan seterusnya. Sayangnya kearifan-kearifan lokal seperti ini tidak terpayungi oleh hukum formal seperti peraturan daerah atau peraturan kepala daerah.

Kita harus mengambil iktibar dari musibah Bohorok itu dengan merenungkan bagaimana sikap kita terhadap alam disandingkan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan yang kita miliki. Di tanah Melayu ini kita memiliki kearifan Gurindam Duabelas karya Raja Ali Haji yang terkenal itu. Coba kita lihat Gurindam ke-4:

"hati itu kerajaan di dalam tubuh jikalau zalim segala anggota pun rubuh;
apabila dengki sudah bertanah datang daripadanya beberapa anak panah;
.............. jika sedikit pun berbuat bohong boleh diumpamakan mulutnya itu pekung;
bakhil jangan diberi singgah itulah perompak yang amat gagah;
barangsiapa yang sudah besar janganlah kelakuannya membuat kasar; ..............."


Dan masih banyak lagi kearifan yang terkandung dalam Gurindam Duabelas itu bila kita ingin menyimaknya dengan tekun. Namun agaknya kini Gurindam itu kesunyian di sudut hati menunggu kita jenguk. Sekali lagi, kita harus mengambil iktibar dari musibah itu.

Manusia boleh menguasai alam, tapi di atasnya masih ada yang maha menguasai. Di atas langit masih ada langit.


(No. 118 Th III/9 - 15 Nopember 2003)


Tulisan ini sudah di baca 138 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/317-Gurindam-Kesunyian.html