drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Bandar Serai Orchestra


Oleh : drh.chaidir, MM

TANGGAL 3 Oktober 2003 yang lalu saya diundang untuk menonton sebuah pertunjukan orchestra. Sebelum mengayunkan langkah, saya menduga-duga, seperti apakah gerangan bentuk dan penampilan Bandar Serai Orchestra (Orchestra Melayu) yang akan saya lihat. Ternyata pergelaran itu adalah sebuah penampilan vang dinamis, harmonis, serta semarak. Penonton antusias, ditambah pula kehadiran Prof. Tabrani Rab dengan istri barunya sang artis, Alicia Johar. iviaka pertunjukan itupun semakin 'menjadi'. Sesuatu yang tak saya duga sebelumnya.

Beberapa nomor disuguhkan secara cantik, seperti Tanjung Katung, Tudung Periuk, Makan Sirih, Dondang Sayang, serta nomor piano seperti Fur Elise dan Spring I. Yang mengesankan, ternyata yang memainkan semua komposisi itu adalah anak-anak Riau yang berasal dari berbagai latar. Ada mahasiswa yang berasal dari Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), ada yang berasal dari sanggar-sanggar musik, lembaga kursus, sampai ke pemusik-pemusik yang sebelumnya tidak terorganisir. Apresiasi patut diberikan atas pemunculan orchestra ini. Tahniah.

Ternyata memang tak bisa dibantah, sebuah pertunjukan musik yang dimainkan oleh sekelompok orang dengan basis pengetahuan yang kuat, terlatih serta terarah, terasa berbeda dan lebih menukik, jika dibandingkan dengan penampilan yang sekadar mengandalkan bakat. Bandar Serai Orchestra membuktikan itu, bahwa dengan pengetahuan yang cukup, sebuah komposisi musik dapat dihidangkan secara lebih atraktif. Dengan pengetahuan dan kemampuan, beragam nada dapat diorganisir secara sinergis sehingga menjadi harmonis, indah dan enak didengar.

Konon dulu pada masa kepemimpinan Arifin Achmad sebagai gubernur, Riau pernah memiliki sebuah kelompok orchestra yang terkenal. Setelah itu, seiring dengan terjadinya perubahan kebijakan, kelompok orchestra itu lenyap dimakan zaman. Setelah itu, tak terlihat lagi sebuah upaya untuk menumbuhkembangkan kelompok musik sekelas orchestra. Kemunculan kelompok musik, semisal Bandar Serai Orchestra ini, merupakan sesuatu yang secara terus menerus harus dipelihara dan dikembangkan, karena ianya merupakan bagian yang pennng bagi pembangunan mental manusia khususnya yang berkaitan dengan sisi pehalusan budi pekerti - sesuatu yang kini terasa gersang.

Perkembangan kebudayaan, khususnya kesenian, di Riau, pada beberapa tahun terakhir, menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Di luar sastra yang sudah lebih dulu melanglang buana, bermunculan berbagai kelompok atau sanggar yang mengembangkan berbagai percabangan kesenian. Ada sanggar tari, sanggar teater, musik, lukis, dan sebagainya. Tidak hanya itu, bahkan saat ini di Riau sudah berdiri lembaga pendidikan khusus kesenian, yaitu AKMR, yang kese-muanya tentu saja akan memberikan sumbangan yang tidak kecil, dan tentu penting bagi pembangunan ke-budayaan negeri ini di masa datang.

Sebagai sebuah negeri yang telah menetapkan kebudayaan sebagai mahkota pembangunan, maka seyogianya kegiatan-kegiatan kesenian seperti orchestra dan lembaga pendidikan kesenian yang sudah dibangun, diberikan dukungan yang semestinya. Hanya dengan cara itulah, harapan akan terwujudnya sebuah negeri sebagai sentrum kebudayaan Melayu pada masa datang, memungkinkan untuk terwujud.

Andai benar apa yang dilansir oleh para futuristik, semisal Naisbitt dan Patricia Aburdane, dalam Megatrend 2000, yang menyatakan bahwa abad ke 21 adalah abad kebudayaan, maka Riau sudah melakukan sebuah tindakan yang tepat dengan menetapkan kebijakan, sebagaimana yang tertuang dalam Perda Riau No 36 Tahun 2001, yang menetapkan kebudayaan di samping perekonomian sebagai inti dari pembangunan yang dilaksanakan. Apa yang harus dilakukan sekarang adalah, bagaimana kebijakan kebudayaan itu dapat diimplementasikan secara bijak sesuai dengan kondisi yang ada. Jika itikad pembangunan kebudayaan, khususnya kesenian itu merasuk pada semua orang, maka keinginan untuk menjadikan negeri ini sebagai pusat kebudayaan Melayu bukan lagi sebuah mimpi.

Pembangunan kebudayaan Melayu ke depan memerlukan langkah-langkah yang tepat, karena masya-rakat negeri ini sesungguhnya laksana instrumen-instrumen orchestra; beragam bunyi, beragam kepentingan, dan beragam pula cara dalam memandang segala sesuatu. Ada suara yang merdu, ada suara yang sumbang, dan ada pula suara yang tak jelas. Kadang-kadang sederhana, dan tak jarang pula rumit. Yang bernada merdu sedap didengar, yang sumbang memerlukan pemahaman khusus, dan yang tak jelas membuat setiap pemimpin harus memasang telinga untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh ada apa sebenarnya.

Pemimpin sebagai seorang conductor, harus mempunyai keahlian yang cukup, untuk dapat mengaransir nada dan suara yang beragam itu, dan pada gilirannya mengubah keragaman suara menjadi sebuah komposisi yang indah dan menggetarkan. Ketika orchestra yang manis bermula dari keahlian menggubah bunyi-bunyi secara sinergis dan harmoni dalam sebuah komposisi, maka kehidupan pun sesungguhnya juga memerlukan keharmonisan seperti orchestra itu.

Laksana orchestra, segala harapan, baik itu pembangunan material, maupun spiritual dan kebudayaan, hanya akan menjadi mungkin jika semua elemen masyarakat yang beragam kehendak, kepentingan, dan cara pandang itu mau membuka atau menyediakan diri untuk saling mengisi, saling dukung, diorganisir, dan menciptakan ruang bagi terciptanya sebuah harmoni. Dengan demikian, semua hal pastilah akan dapat dipersembahkan dengan baik dan memuaskan.

Itulah intinya. Jika semua kalangan berdiri dengan semangat kebersamaan yang kuat, maka semua kepentingan yang beragam itu pasti akan terelaborasi menjadi sebuah kehendak bersama, mengarah pada kemaslahatan bersama, dan demi matlamat bersama. Kita harus coba membaca pesan yang tersembunyi dari sebuah orchestra.

(No. 114/Th III/12 - 18 Oktober 2003)


Tulisan ini sudah di baca 101 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/316-Bandar-Serai-Orchestra.html