drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Belajar dari Sejarah


Oleh : drh.chaidir, MM

PADA tanggal 9 Agustus setiap tahun, Riau berulang tahun. Memperingati hari ulang tahun, sesungguhnya merupakan sebuah prosesi memperingati sebuah rentang perjalanan dari sebuah negeri. Dalam rentang perjalanan itu, terjadi sejumlah peristiwa yang terdiri dari suka dan duka, riwayat kemenangan dan kemunduran, kesalahan dan kebenaran. Dari peristiwa tersebut kita dapat mengambil pelajaran dan pengalaman, teladan dan sempadan, khususnya dalam melakukan pembangunan negeri, pada hari ini dan masa mendatang.

Semua negara di atas dunia, bergerak maju dengan alas sejarah, tidak peduli apapun yang menjadi landasan kehidupan bernegara yang dianut. "Negara", seperti yang dikatakan tokoh fasisme Italia, Mussollini, "bukan hanya masa kini, tapi juga masa lalu, dan di atas segalanya, ia adalah masa datang". Mengelaborasi Mussolini, maka dengan memperingati sejarah berdirinya Provinsi Riau, kita juga hendak mengatakan, bahwa negeri ini, bukanlah sesuatu yang tumbuh begitu saja. la bukan sekedar masa kini, tapi juga segumpal kehendak yang terakumulasi pada masa lampau, dan di atas segalanya, negeri ini adalah sebuah masa depan kita semua.

Sejarah memiliki sederet fakta, tidak hanya memberikan kita ruh, tapi juga, (dan sekaligus) jalan terang untuk melakukan sesuatu secara benar demi kemaslahatan bersama. "Sejarah bukan hanya mengenai keberlaluan masa lalu", kata sastrawan TS Eliot, tapi mengenai kehadirannya pada masa kini. Dalam pengertian Eliot, sejarah adalah sebuah sumber spirit, karena dengan sejarah kita menjadi tahu, matlamat apa yang hendak kita capai. Sejarah juga berperan sebagai pemberi garis batas bagi kekinian. Ketika sejarah secara telanjang menjelaskan kesalahan yang telah terjadi pada masa silam, maka kita menjadi tahu untuk tidak mengulang hal yang sama. Selanjutnya ketika sejarah memberi sebuah teladan tentang suatu kebaikan di masa silam, kita dapat pula meneruskannya.

Sejalan dengan itu, sejarah juga merupakan sebuah medium, tempat bertanya, apakah semua hal yang terpikul di pundak sudah dilakukan sesuai dengan, amanah dan nilai-nilai luhur sejarah? Dengan demikian, peringatan ini juga berfungsi sebagai media koreksi, sehingga dengan sejarah sebagai sebuah koreksi, pada waktu berikutnya kita dapat pula berbuat secara lebih baik.

Sejarah pembentukan Provinsi Riau, adalah sebuah perjalanan yang penuh onak dan duri, penuh suka dan duka, serta sejumlah tangis dan airmata yang tumpah dalam perjalanannya. Sejumlah tokoh Riau, baik tokoh tua, maupun muda pada waktu itu, seperti DM Yanur, Makrifat Mardjani, Wan Ghalib, HM Amin, dan lainnya yang tak dapat disebut satu-persatu, dengan semangat penuh dan kebersamaan yang kuat, bertungkus lumus, bahu-membahu, melupakan kepentingan-kepentingan kelompok, kehendak-kehendak pribadi dan bahkan dengan kesanggupan mengorbankan jiwa dan raga. Semua itu dilakukan demi satu hasrat yang besar, ingin memberikan kepada kita sebuah negeri yang memiliki masa depan, memberikan sebuah negeri yang maju, memberikan sebuah negeri untuk diukir menjadi sebuah negeri yang diinginkan bersama dan untuk kepentingan bersama.

Di atas fakta-fakta sejarah ini, sekarang menjadi tugas kita semua untuk mewujudkan mimpi besar yang tumbuh dalam perjuangan itu. Kitalah yang harus melanjutkannya. Melanjutkan, dengan juga menciptakan sebuah sejarah, sebagaimana yang disebut oleh Robert Mackenzie dalam The Nineteenth Century: A History, yaitu "sebuah sejarah baru yang berisi catatan tentang kemajuan, sebuah kemajuan yang lahir dari akumulasi pengetahuan dan kearifan, sebuah kemajuan yang terus-menerus dengan kesejahteraan yang lebih tinggi". Jika ini yang dilakukan, maka kita akan dapat mewariskan kepada generasi berikutnya sesuatu yang berharga, dan berharap begitulah seterusnya.

Untuk melaksanakan tanggungjawab sejarah, seperti yang disebutkan di atas, memanglah bukan sebuah persoalan kecil. Di depan, terbentang sejumlah persoalan yang tidak kalah dahsyatnya dengan harapan itu sendiri. Persoalan-persoalan itu antara lain, tingkat kemiskinan, pembangunan yang belum merata, pembangunan sumberdaya manusia, persoalan sosial dan hukum, hingga hal-hal yang bersangkut kait dengan pembangunan kebudayaan dan kesenian.

Namun demikian, sebanyak apapun persoalan yang nampak, tidak seharusnya membuat pesimis. Kita masih mempunyai cukup waktu dan peluang besar untuk melakukan perbaikan di berbagai sektor. Yang diperlukan adalah langkah-langkah strategis pemba-ngunan. Tanpa perencanaan strategis yang terarah, pembangunan yang dilakukan, tidak akan fokus. Pada gilirannya akan membuat segala sesuatu menjadi sia-sia, arang habis besi binasa.

Peringatan hari jadi harus dijadikan momentum untuk bersatu padu membangun negeri, serta momentum untuk melaksanakan semua tanggungjawab yang terpikul dipundak sesuai dengan kehendak sejarah. Para pemimpin harus berbuat sesuai dengan fungsinya untuk memberikan keteladanan dan pemakmuran, sementara masyarakat berbuat pula dengan memberikan dukungan secara penuh.

Pertelagahan, permusuhan, dan hal-hal yang saling melukai, sudah waktunya untuk dihentikan, karena pertelagahan dan pertikaian tidak pernah memberikan hasil lebih banyak dari apa yang diberikan oleh persatuan dan kebersamaan tindakan. Pertelagahan, justru akan saling membuka aib sesama. Ini patut menjadi renungan untuk membangun negeri yang lebih cemerlang.

(No. 106/Th 11/17 - 23 Agustus 2003)


Tulisan ini sudah di baca 154 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/315-Belajar-dari-Sejarah.html