drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 1

Rampai Melayu


Oleh : drh.chaidir, MM

KISAH bermula di Bukit Siguntang. Alkisah maka tersebutlah perkataan sebuah negeri di tanah Andalas, Palembang namanya. Nama rajanya Demang Lebar Daun, asalnya anak cucu Raja Suran. Adapun negeri Palembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Muara Tatang nama sungainya, di hulunya ada sebuah sungai, Melayu namanya. Dalam sungai itu ada satu bukit bernama Bukit Siguntang; di hulunya Gunung Mahameru di daratnya ada satu padang bernama Padang Penjaringan .........

Berikut ini saya kutip sepenggal kisah Melayu tempo doeloe : "Sebermula maka tersebutlah perkataan anak Raja Suran yang tiga bersaudara, yang dipeliharakan oleh Raja Aktabu'l Ard. Setelah besar terlalu baik parasnya anak raja ketiga itu; yang tua dinamai oleh Raja Aktabu'l Ard, Nila Pahlawan, yang tengah dinamai Krisyna Pandita, dan yang bungsunya dinamai Nila Utama. Maka ketiga anak itu bertanyakan ayahnya kepada ninda baginda Raja Aktabu'l Ard, maka sahut Raja Aktabu'l Ard, "Adalah ayahmu itu anak cucu Raja Iskandar Zulkarnain, nasab Sulaiman 'alaihissalam, pancar Nusyirwan Adil, raja Masyrik dan Maghrib........."

Begitulah kisah tentang asal usul bangsa Melayu dibuka oleh Tun Seri Lanang dalam kitab Sulalatus Salatin, yang kemudian dikenal dengan Sejarah Melayu. Sebuah kisah tentang sebuah bangsa, yang pada hari ini telah berkembang lebih dari 300 juta jiwa. Sebuah bangsa yang mempunyai sejarah panjang, dengan kegemilangan dan keperihannya, dengan kejayaan dan kemundurannya, serta ikut pula memberi warna signifikan dalam perkembangan masyarakat dunia.

Dalam versi sejarah Melayu itu, dari tanah Palembang sekarang inilah, bangsa Melayu dan keturunannya menyebar, menjadi raja di Riau, di Minangkabau, Tanjungpura, Tumasik, Semenanjung Malaya, menjadi raja di Cempa (Burma), menjadi Yang Dipertuan di Patani (Thailand Selatan), Moro (Filipina) dan hingga sekarang sudah tersebar tidak kurang pada 16 negara yang ada dunia, hingga ke Madagaskar dan Afrika Selatan.

Tak beriebihan jika dikatakan, banwa bangsa Melayu memang bangsa yang besar. Pada masa lampau, bangsa ini mencatat sejumlah kegemilangan yang masih saja disebut orang sampai sekarang. Pada abad ke 16, Melaka muncul sebagai kerajaan penting yang makmur serta menjadi pusat perdagangan internasional. Riau Lingga, tercatat pula sebagai sebuah kerajaan Melayu dengan hasil-hasil kebudayaan yang ranggi, sementara di tanah tempat bermula, Palembang, kerajaan Melayu yang dibangun pada abad ke 7 oleh Dapunta Hyang, tercatat pula sebagai kerajaan nasional pertama di Indonesia. Lebih jauh, dalam konteks keindonesiaan, kerajaan Melayu Sriwijaya bahkan memimpin pada lapangan pemikiran dengan dibangunnya sebuah lembaga pendidikan tinggi, yaitu Universitas Nalanda.

Berdepan dengan itu, hal-hal yang getir pun tak kurang melanda Melayu. Mulai dari perpecahan kerajaan, keruntuhan imperium, sampai kepedihan akibat penjajahan. Meski cukup banyak kegetiran yang melanda, bangsa Melayu tetap berhasil maju, tidak hanya pada masa lampau, tapi hingga masa kini. Ada beberapa negara di dunia yang mengusung nama Melayu, seperti Malaysia dan Brunei, dan ini merupakan prestasi tersendiri. Kemampuan Melayu untuk bangun dari sebuah keruntuhan yang mendera, mungkin menjadi alas bagi ungkapan Hang Tuah, Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, tak Melayu hilang di bumi.

Kini di Riau, bangsa-bangsa Melayu bertemu dalam sebuah helat besar yang bernama Rampai Melayu, sebuah Festival Melayu Sedunia, dan tidak tanggung-tanggung, dibuka oleh Presiden Megawati Soekarno Putri. Festival ini adalah sebuah pertemuan yang diselenggarakan dengan maksud-maksud kebudayaan dan peneerahan. Sejumiah tokoh Meiayu tampil mendedahkan pemikiran tentang berbagai hal, yang pada intinya adalah, bagaimana sebuah kejayaan harus ditegakkan.

Pertemuan serupa ini, memang bukan yang pertama. Dalam konteks Riau, sudah beberapa kali dilakukan, khususnya oleh lembaga-lembaga non pemerintah, seperti Pertemuan Alam Melayu, Dialog Rempang, dan sebagainya. Hanya saja, dari sudut penyelenggaraan, pertemuan ini dapatlah dikatakan sebagai yang paling akbar, karena selain melibatkan beberapa simpul Melayu di sekotah Indonesia juga diikuti oleh hampir semua negara rumpun Melayu.

Meninjau dari perjalanan sejarahnya, Rampai Melayu, Festival Budaya Melayu Sedunia ini adalah semacam "rumah rindu" yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat, entah sekat itu bernama politik, ekonomi, maupun teritorial sebuah negara. Anak-anak Melayu yang tersebar di berbagai negara diibaratkan sebagai anak-anak liar, yang hidup dengan berbagai resapan dan fenomena, dengan kelelahan yang beragam, lalu mereka ingin pulang ke rumah, dan rumah amsal itu adalah helat kebudayaan seperti yang diselenggarakan.

Apa sesungguhnya yang dapat kita petik dari pertemuan ini? Tentu saja banyak. Acara Rampai Melayu, yang digelar dalam Festival Budaya Melayu Sedunia ini, pastilah tidak berangkat dari keinginan untuk sekadar berkumpul dan beramai-ramai, atau sekedar bertemu untuk berbincang. Tapi lebih dari itu, pertemuan ini merupakan media bagi negeri-negeri Melayu untuk berbagi pemikiran tentang berbagai hal yang menyangkut kemaslahatan orang Melayu. Dengan berbagi pikiran, maka akan terjadi proses saling serap, dan kemudian hasil serapan itu dapat pula digunakan bagi pembangunan negeri masing-masing.

Dalam pandangan saya, Rampai Melayu, Festival Budaya Melayu Sedunia ini, merupakan sebuah momentum yang sangat bagus untuk membangun kebersamaan. Saya percaya, jika potensi Melayu yang besar itu diikat dengan sebuah kebersamaan, dengan semangat saling memberi, maka bukan hal yang mustahil, pada masa yang akan datang, bangsa Melayu akan muncul sebagai sebuah kekuatan yang diperhitungkan dalam sistim dan pergaulan internasional.

Sejarah mencatat, bahwa dengan kebersamaan dan kegigihan itulah, bangsa Melayu tumbuh dan menancapkan kekuatannya di mana-mana. Maka mengapa kita tak mengulanginya kembali? Salah satu modalnya memanglah kebersamaan, societal cohesiveness-nya orang Melayu. Dengan adanya persatuan, kata Hernando De Soto dalam risalahnya, Masih Ada Jalan Lain, Revolusi Tersembunyi di Dunia Ketiga, semua cita-cita akan dapat kita raih. Dengan itu kita mengikat diri, dan dengan itu pula kita akan menang.

(No. 104/Th II/27 Juli - 2 Agustus 2003)


Tulisan ini sudah di baca 151 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/314-Rampai-Melayu.html