drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 0

Prakata Penulis


Oleh : drh.chaidir, MM

"Segala pekerjaan pedang itu boleh dibuat dengan kalam,
adapun pekerjaan kalam itu tiada boleh dibuat pedang.
Maka itulah ibarat yang terlebih nyatanya. Dan, berapa
ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, dengan
segores kalam jadi tersarung."
(Raja Ali Haji dalam Bustan Al Katibin)



"Kalau takut dilamun ombak, jangan berumah di tepi pantai", demikian petuah orang tua-tua. Pesannya tentu tak susah dicerna: kalau tak berani ambil risiko, janganlah berbuat sesuatu, karena berbuat sesuatu selalu ada risikonya. Kita sering lupa, tidak berbuat sesuatu pun sesungguhnya ada risikonya: ditinggalkan waktu dan dilupakan sejarah. Gerbong waktu tidak akan pernah berhenti, ia terus berjalan mengangkut berbagai macam muatan. Pilihannya tunggal, kita harus masuk. Dan di sana - suka atau tidak suka - sudah menunggu beragam masalah.

Dalam keseharian kita, masalah hidup tak ubahnya laksana ombak yang menebas pantai, tak pernah berhenti sesaatpun sejak semula jadi. Jangankan berhenti, jedapun tak. Adakalanya ombak itu kecil, ketika itu dia menjadi "ayunan" anak nelayan, tapi tempo-tempo ombak itu besar dan berubah menjadi monster.
Begitupun kehidupan manusia. Berkejar-kejaran, timbul-tenggelam, naik turun, ke tengah ke tepi. Ada daur alam yang tak pernah berubah, selalu berulang walau tak pernah sama. Dan ombak itu selalu saja bergulung-gulung berlarian menuju pantai, menerpa, membelai, kadang menerjang, bersurai demikian saja, lalu sepi sesaat, tapi kemudian datang lagi dan datang lagi.

Waktu adalah kawan sekaligus musuh terbesar manusia. Dia datang tanpa salam dan pergi tanpa basa-basi. Waktu tidak pernah mau berkompromi dengan manusia, dan tidak pernah akan tertaklukkan. Hari demi hari, pekan demi pekan, bahkan tahun demi tahun, terus saja berlalu. Kelahiran dan kematian pun kemudian lalu lalang memperoleh keperkasaan sang waktu.

Meski hidup manusia terkungkung dalam kekuasaan waktu, manusia harus tetap melakukan sesuatu untuk membuat waktu tidak "semena-mena" memperpendek sebuah kehidupan dan memupus sebuah harapan. Harus ada upaya perlawanan agar setiap manusia dapat "memperpanjang umurnya". Sesuatu yang dapat memperpanjang umur itu adalah karya. Sebuah karya lahir dari proses pemikiran, pemahaman, dan pencarian makna. Dengan karya itu seorang manusia yang telah pergi tidak akan pupus, tapi terus disebut, entah dengan puji entah dengan maki.

Kita memang dituntut untuk terus membaca dan rnembaca. Membaca waktu, membaca bulan, membaca bintang, membaca matahari, membaca ombak, membaca angin, membaca karang di laut. Alam memberikan banyak isyarat. Hanya saja manusia seringkali terlambat menyadari, kecerdasannya seringkali terperosok di sudut dan terabaikan. Kita kadang baru teringat pedang yang tersarung di pinggang ketika perang sudah usai, atau kita sudah berada di luar gelanggang jadi pecundang.

Saya, terus terang, tidak ingin terlambat, menunggu berada di luar gelanggang, baru kemudian memandang ke arena dan mulai berkicau. Tidak! Bagi saya, memilah-milah peran kapan berada di belakang meja sebagai praktisi legislatif dan kapan duduk di depan meja komputer sebagai penulis, menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menegangkan. Untuk peran seperti itu, ada yang memuji tapi ada juga yang mengecam. Seperti kritik yang disampaikan Saudara Gusti Amri, aktivis, seorang pengunjung di Website saya: "... apakah Chaidir sebagai intelektual bervisi kerakyatan sesuai dengan fungsinya sebagai wakil rakyat atau malah elit politik apologetik ... pemikiran Chaidir memang mewakili kecenderungan politiknya, terbatasnya wacana yang dikembangkan pada kritik dan refleksi yang tidak berkesudahan terhadap wacana nasional dan global tanpa menggali alternatif penyelesaian, membuat wacana-wacana pemberdayaan Riau kekinian dan kedisinian justru terabaikan. Dari proses ini bukannya praktik politik kerakyatan untuk masyarakat Riau yang akan didapatkan melainkan sekedar tradisi apologetic.

Gusti Amri tentu tak seluruhnya benar. Bukankah tergantung dari sudut mana memandangnya? Adakalanya memang, saya menulis untuk memberikan pemahaman terhadap suatu kebijakan yang dibuat di belakang meja legislatif, ketika pada bagian lain ada kapasitas Ketua DPRD Provinsi Riau yang melekat. Namun tulisan-tulisan itu sesungguhnya lebih banyak dalam rangka memenuhi sebuah panggilan. Saya harus merespon segala macam isu dalam belantara kehidupan yang saya arungi, kemudian memberikan apresiasi dalam keterbatasan diri. Belantara itu terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja tanpa kesan. Ada "pemberontakan" dalam batin yang tidak mungkin saya padamkan. Saya harus menulis sebagai tanda masih hidup, sekaligus sebagai kontrol terhadap sebuah komitmen. Selebihnya, karena memang saya harus menulis. Begitu saja. Tak lebih dan tak kurang. Bukankah tidak setiap artikel atau sebuah buku harus menyelesaikan semua masalah? Sebuah buku, betapa pun buruknya, setidak-tidaknya dapat merangsang pemikiran pembacanya. Maka pandanglah dari sisi ini saja.

Pada suatu hari, saya memperoleh dorongan semangat untuk terus menulis apa adanya ketika Syaukani Al Karim dan para seniman muda Riau mempertemukan saya dalam suatu panel dengan Goenawan Mohamad. Saya menyampaikan, ketika itu, antara Goenawan Mohamad dan saya sebenarnya hanya beda-beda tipis. Seperti halnya Goenawan Mohamad, yang menulis 'Catatan Pinggir' setiap pekan di majalah Tempo, saya pun setiap pekan mengisi kolom 'Minda Kita' di tabloid Mentari di Pekanbaru. Cuma, jangan tanya soal daya jelajah dan tiras: keduanya agaknya berjarak seratus tahun cahaya....

Sebagai anak watan Melayu, saya merasa berutang pada sejarah. Tradisi keberaksaraan, atau tradisi menulis, adalah hal yang ikut membesarkan kegemilangan Melayu, - bahkan tercatat dengan tinta emas. Jika kita menyingkap bilik sejarah Melayu Riau, maka kita dapat menyaksikan dan merasakan bahwa gemuruh agenda intelektual itu sudah berlangsung sejak lama. Kejayaan Melayu Riau terbilang bukan tersebab agenda politik, ekonomi, atau militer, tapi oleh agenda kebudayaan yang sarat dengan supremasi intelektual. Tanda sejarah itu diberikan melalui kehalusan budi pekerti, keluasan pikiran, dan kesantunan tutur bahasa. Ketinggian dan keranggian budaya tulis itu terlihat dalam sejumlah karya penting seperti Tuhfat al Nafis, Muqaddima fi Intizam, Pohon perhimpunan, Bustan al Katibin, Sulalat al Salatin, Gurindam Dua Eelas, Ingat Jabatan, Babul Qawaied, dan sebagainya.

Ada sejumlah penulis penting Melayu di masa lampau, seperti Raja Ali Haji, Khalid Hitam, Raja Ali Kelana, bahkan sampai pada penulis perempuan semisal Raja Aisyah Sulaiman. Kegemilangan itu terus berlanjut dengan munculnya Sastrawan Soeman Hs sebagai salah seorang pembaharu sastra Indonesia, kemudian pengarang perempuan Selasih Seleguri dan pcnyair-penyair lain yang terbilang seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, BM Syamsuddin, Rida K. Liamsi, Idrus Tintin, Hasan Junus, Taufik Ikram Jamil, dan seterusnya hingga generasi terkini. Sejarah yang sedemikian agung itu membuat saya merasa berutang, dan dengan terus menulis saya berharap dapat "mencicil" seberapa pun saya mampu.

Karena itulah, tidak ada alasan cukup kuat sehingga saya harus berhenti menulis. Tulisan dalam buku ini sebenarnya adalah tulisan-tulisan lepas yang saya tulis setiap pekan sebagai rekaman lintasan petualangan pemikiran terhadap berbagai realitas kehidupan,dengan demikian mencakup topik yang beraneka ragam. Lintasan itu adakalanya berbelok-belok dan terputus-putus, sehingga kalau pun kemudian dikelompokkan dalam beberapa bagian, hanyalah karena saya memandai-mandai - karena alasan pengelompokannya tidak begitu kuat. Tulisan-tulisan itu pun pada dasarnya tidak tersusun dalam sistematika yang ketat. Judul buku saya pilih dari salah satu judul tulisan, Membaca Ombak, tanpa alasan khusus. Suatu hal yang tak terlupakan adalah, Membaca Ombak saya tulis selepas sholat Subuh, Ahad 26 Desember 2004, secara kebetulan. Siangnya saya baru mendengar musibah tsunami yang memilukan itu.

Saya sangat berterima kasih kepada Goenawan Mohamad yang bersedia membuatkan catatan pengiring. Sejujurnya saya amat bersuka cita, sehingga ucapan terima kasih setulus apapun rasanya tidak cukup memadai. Saya sangat yakin dan percaya, bila buku ini kemudian dilirik pembaca, tentulah karena Goenawan Mohamad-nya. Tapi, apa salah menumpang tuah?

Tulisan-tulisan dalam buku ini banyak terinspirasi Kawan-kawan dan berbagai komunitas: pemuka adat, pemuka masyarakat, seniman, kawan-kawan di DPRD Riau. Perdebatan selalunya meninggalkan bahan renungan bagi saya. Demikian pula suara air mata orang-orang yang ditakdirkan tidak beruntung, seringkali menggerak pena.

Kepada kawan-kawan yang tak putus memberi dorongan moril, yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu, dari lubuk hati yang terdalam saya mengucapkan terima kasih. Kepada kawan-kawan insan pers pula, khususnya di Tabloid Mentari, dan juga Penerbit AdiCita Yogyakarta, saya merasa berutang budi.

Banyaklah padi - perkara padi
Padi ladang buahnya bernas
Banyaklah budi perkara budi
Budi orang takkan terbalas


Keistimewaan tentulah untuk istriku Lian dan anak-anakku: Rimba, Lingga, Hanna, dan Chaleed, yang selalu berkompromi dan tidak pernah menggugat terhadap kesibukan dan hobiku. Buku yang tidak seberapa inilah kompensasi yang dapat kuberikan. Bagi pembaca budiman, semogalah buku ini bermanfaat.

Pekanbaru, Desember 2005


Tulisan ini sudah di baca 112 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/313-Prakata-Penulis.html