drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 0

Pengantar Penerbit


Oleh : Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M.

MENATING MINYAK YANG PENUH


Para politisi pada umumnya -sekali lagi, pada umumnya- berkomunikasi dengan bahasa formal dan standar. Mereka juga gemar melantunkan kalimat-kalimat diplomatis (sehingga kelak di kemudian hari bisa dijelaskan sebagai "ya" atau "tidak", tergantung perkembangan situasi), normatif, politicking dan sering tidak humanis. Gaya bicara semacam itu adalah satu-satunya model dan modal yang dikuasai para poiltisi, karena selalu aman, menyenangkan, menguntungkan, dan -kadang-kadang- menghibur. Tetapi orang yang sedikit saja melek politik akan mafhum belaka bahwa pendekatan seperti itu tidak menjelaskan duduk perkara sebenarnya, apalagi menawarkan solusi. Realitas yang terjadi, yang dianalisa dan disampaikan oleh politisi melahirkan 'realitas' baru yang enigmatic, penuh teka-teki dan tak kunjung terpahami. Pada domain 'abu-abu' inilah para politisi bermaqom dengan anggun dan innocent.

Chaidir adalah seorang politisi. Oleh karena itu ia -tentu saja- juga fasih melafalkan bahasa-bahasa diplomatis (dan mengambang) seperti itu. Akan tetapi -selalu ada 'tetapi' untuk sesuatu yang extra ordinary - Chaidir bukanlah 'sekadar' politisi biasa yang hanya piawai berbicara di podium ataupun di depan konstituennya saja. la juga lancar menulis bagai air mengalir. Sebagaimana aliran air di sungai, ada kalanya ia mengalir tenang dan memberikan kedamaian, pada ketika yang lain gemericik menimbulkan rasa riang, dan di saat yang lain lagi gemuruh bagai bono di muara sungai Kampar

Membaca tulisan-tulisan Chaidir, rasanya kita akan bisa pula 'membaca' apa yang menjadi elan di balik kelahiran sekian banyak buah pikirnya. Dengan tulisannya, agaknya Chaidir ingin memberikan koreksi terhadap keadaan, sebagaimana tradisi jurnalisme politik Indonesia. Menulis, boleh jadi, juga dimanfaatkan oleh Chaidir sebagai 'saluran pelepasan' untuk membebaskan diri dari kesesakan-kesesakan yang tidak bisa diurainya di ruang sidang DPRD ataupun di kalangan partai. Namun barangkali, kegiatan menulis Chaidir pun sesungguhnya tak lepas dari kerangka image building yang merupakan langkah strategis berkaitan dengan jati dirinya sebagai politikus. Apa pun alasan dan dorongan yang membuat ratusan tulisan Chaidir selalu setia menyapa pembacanya setiap pekan di tabloid Mentari (yang ditulis sejak tahun 2001 hingga sekarang). semuanya tak akan pernah terwujud jika tidak dilandasi hobi dan kemampuan menulis yang kuat dan konsisten.

Chaidir adalah seorang politisi. Tulisan-tulisannya berisi deskripsi, analisis, ekspektasi, sekaligus reaksi dan koreksi atas berbagai situasi yang sedang terjadi di Riau. Riau adalah kisah sebuah negeri yang mengidap penyakit ganjil yang bersifat genetis, ironis, dan kontradiktoris. Dalam kesadaran akan pentingnya persatuan dan menyusun barisan untuk mengemudikan kereta otonomi daerah, para pemimpin rakyat saling bertelagah tanpa pernah sudah. Dalam kemakmuran dan kekayaan sumberdaya alam yang begitu melimpah, kemiskinan justru terbentang demikian telanjang. Setiap saat para pemimpin mendendangkan lagu tentang pentingnya pendidikan, tetapi program-program peningkatan pendidikan tidak pernah dilaksanakan dengan terstruktur, serius, dan lurus. Kecintaan kepada negeri Melayu dan akselerasi pembangunan menjadi slogan favorit para pemimpin, tetapi pada ketika yang sama pem-berantasan korupsi masih menjadi basa-basi. Pada domain dua kutub inilah Chaidir hidup dan berinteraksi.

Di ranah politik yang begitu rumit dan labil, dimana bumi tempat melangkah setiap saat bisa goyah atau terbelah, dahan tempat bergayut sewaktu-waktu mungkin hanyut, pokok tempat bersandar bisa terkapar kehilangan akar, dan angin politik dapat berubah arah tak lagi ramah, seorang politikus memang harus cerdas dan (sekaligus) luwes. Tahu menimbang, pandai menyukat, tahu menghitung jauh dan dekat. Sikap 'berani' bukan berarti 'nekad', sementara sikap 'hati-hati' atau 'penuh perhitungan' sangat berbeda dengan 'penakut'. Sikap 'luwes' tidak sama dengan 'oportunis', sementara 'banyak pertimbangan' sangat lain dengan sikap 'mengambang'. Jarak di antara kedua pasangan kata tersebut kelihatannya hanya serambut dibelah tujuh, tetapi substansi yang dikandungnya sangat berbeda, berjarak seratus tahun cahaya.

Chaidir adalah seorang politisi. Dia memiliki kebebasan untuk memilih konvergensi/rekonsiliasi atau divergensi/konfrontasi politik. Ada kalanya ia berkehendak akomodatif, namun pada ketika yang sama dia juga dianggap kompromistik. Di lain saat, tatkala ia (bermaksud) cepat dan cergas menyikapi suatu keadaan, saat itu pula ia memperoleh predikat 'terburu-buru' dalam mengambil keputusan, atau 'cepat bicara sebelum berkira'. Ketika ia menolak mobil mewah fasilitas Ketua DPRD, boleh jadi saat itu ia sedang 'mendidik' dirinya sendiri maupun kolega-koleganya, agar memiliki seme of crisis dan tidak bermewah-mewah di atas kemiskinan rakyat Riau yang mencapai 42%. Tetapi sebagian orang justru mencibir dengan mengatakan Chaidir sedang "bermain politik", bahkan 'carmuk' (cari muka) untuk mengambil hati rakyat. Disinilah Chaidir bak menating minyak yang penuh, dimana ia harus pandai meniti jalan agar 'minyak tak tumpah, tangan pun tak kotor'.

Chaidir adalah seorang politisi. Sebagai politisi senior, ia dengan penuh kesadaran memposisikan dirinya secara perfect di panggung, untuk didengar, dipercayai, dan diberi amanah oleh rakyat. Oleh karena itu, kita, sebagai rakyat sangat berhak untuk mencermati dan menilai segala perkataan, perbuatan, dan tulisan-tulisannya. Kita berhak menilai, apakah kekuasaan (kewenangan) yang disandangnya benar-benar diaktualisasikannya bagi membangun kesejahteraan masyarakat sesuai dengan amanah yang telah diberikan rakyat. Namun kita tidak boleh menghakimi, karena menghakimi hati nurani manusia adalah kewenangan yang hanya dimiliki oleh Sang Pencipta.

Kami yakin tentu ada pencerahan yang bisa diperoleh dari percik pemikiran Chaidir dalam Membaca Ombak yang sekarang berada di tangan pembaca. Buku yang terdiri atas 72 tulisan ini adalah buku Chaidir yang ke sekian, setelah Suara Dari Lancang Kuning (Yayasan Pusaka Riau, 2000), Berhutang Pada Rakyat (AdiCita, 2002), Panggil Aku Osama (AdiCita, 2002), 1001 Saddam (AdiCita, 2004), Chaidir Menertawakan Chaidir (Yayasan Pusaka Riau, 2005), dan beberapa buku yang lain. Sebagai penerbit yang telah dipercaya menerbitkan empat buku terbaik Chaidir, AdiCita mengucapkan terimakasih yang tak terukur dengan kata. Kebanggaan sebuah penerbit bukan saja jika buku yang diluncurkannya mampu diapresiasi pasar, namun terlebih lagi jika buku yang diterbitkannya adalah karya yang berharga dan memberi enlightenment kepada masyarakat. Tahniah.

Penerbit


Mahyudin Al Mudra


Tulisan ini sudah di baca 100 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/311-Pengantar-Penerbit.html