drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 6

Pantai Solop


Oleh : drh.chaidir, MM

Nada Sambung Pribadi (NSP) produk Telkomsel, kini menjadi mode. Sepuluh tahun yang lalu, teknologi NSP ini belum dikenal, kecuali "nada dering" atau ring tone yang sedikit bervariasi. Dalam dekade terakhir, teknologi komunikasi memang berkembang pesat luar biasa. Hari ini sebuah produk dipasarkan dan dilahap habis oleh konsumen, besok pagi sudah ada produk lain dan lusa sudah ada produk lain, yang lain lagi, tak terduga, begitu seterusnya.

Inovasi teknologi tak habis-habisnya dan sudah menjadi mode dan kebanggaan dunia. Di penjuru negara mana pun ter-pampang baliho raksasa iklan berbagai produk hand phone mode terbaru dengan berbagai software-nya, yang satu cantik yang satu molek, yang lain menawan hati. Kemajuan teknologi komunikasi informasi ini menawarkan berbagai kemudahan dan kenyamanan.

Bagi mereka yang mempunyai hobi elektronika, kemajuan teknologi informasi ini menjadi surga dunia bahkan mereka jadi gila. Semua bahan mentah informasi (audio-visual) bisa diolah menjadi sajian menarik. Tak jarang juga disalahgunakan sehingga menimbulkan fitnah. Beberapa pekan saja kita tidak mengikuti perkembangan, rasanya kita ketinggalan berzaman-zaman.

Ada individu yang demikian jauh tenggelam dalam mode teknologi informasi dan membuat hidupnya diperbudak oleh barang-barang elektronik yang super cerdas itu. Kelompok ini tidak lagi memandang teknologi itu sebagai alat untuk membantu manusia, teknologi untuk hidup, tapi dia hidup seakan untuk teknologi. Tapi ada juga kelompok manusia sekolahan yang apresiasinya terhadap teknologi informasi sangat rendah. Jangankan menggunakan komputer dan berikirim e-mail, berkirim sms saja gagap. Kelompok ini dijuluki gaptek (gagap teknologi). Kedua contoh kelompok pada kutub ekstrim tersebut sama-sama belum bisa menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara pas untuk kemaslahatan. Agaknya fenomena inilah yang disinyalk oleh ilmuwan Si Jenius Albert Einstein 71). Gaptek atau gimod (gila mode) sama saja, keduanya tidak wajar.

Semasa hidupnya, dalam sebuah pidato di depan mahasiswa California Institut of Technology, pada 1938, Albert Einstein pernah mengatakan bahwa, mengapa Imu pengetahuan dan teknologi yang demikian indah, yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita. Jawabannya menurut Einstein sederhana, karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar.

Belajar menggunakan iptek secara wajar, tidak perlu seorang Jenius seperti Einstein. Wajar bermakna, iptek digunakan sesuai keperluan. Iptek untuk hidup bukan hidup untuk iptek. Iptek digunakan untuk membuat sesuatu lebih efektif dan efisien. Andaikan Einstein sekarang bangkit dari kuburnya tentu dia akan terkesima melihat betapa sekarang ilmu pengetahuan dan teknologi informatika itu maju demikian dahsyat. Demikian hebatnya, sehingga kehidupan menjadi serba digital. Pesawat komersial yang mengangkut ratusan penumpang misalnya, diterbangkan oleh seperangkat alat elektronik saja. Sang pilot cukup memasukkan semua data yang diperlukan, kemudian dia boleh baca majalah sambil terkantuk-kantuk dan pesawat akan mengangkasa dengan sendirinya, kemudian mendarat dengan mulus di tempat tujuan. Sang arsitek pula, tidak lagi susah-susah begadang membuat gambar detail engineering. Dengan teknologi digital engineering, komputer akan membantu membuatkan perhitungan teknik gambar detail untuk sebuah gedung pencakar langit bertingkat seribu sekalipun. Semua menjadi mudah, semua menjadi indah dan semua bisa dibuat enak.

Lalu Pantai Solop? Ini hanya masalah ceruk pasar, hanya masalah kepiawaian sang produser memanfaatkan kemajuan teknologi informatika seperti apa yang diungkapkan Einstein. Lagu Melayu Pantai Solop yang dinyanyikan oleh Gubernur Riau Rusli Zainal itu komposisinya memang enak didengar, maka tidak aneh kalau kemudian lagu ini menerobos masuk dalam deretan daftar lagu-lagu pilihan untuk Nada Sambung Pribadi (NSP) produk Telkomsel, sama seperti lagu Hello (Lionel Richie), Teman Tapi Mesra (Ratu), Jujur (Raja), Mantan Kekasih (Sheila On 7), dan sebagainya. Boleh setuju boleh tidak, Pantai Solop menjadi NSP sedikit banyak memberi tanda Melayu Riau. Seorang teman menelepon ulang dari Jakarta hanya untuk mendengarkan Pantai Solop. "Jangan buruan diangkat dong, biar gue dengar dulu lagunye," kata sang teman. Pantai Solop agaknya adalah sebuah gaung susulan, setelah sebe-lumnya ada sejumlah gaung yang mengukuhkan keriauan dalam raung keindonesiaan khususnya dalam konteks dunia entertainment, katakanlah demam lagu Laksamana Raja Dilaut, group lawak Nyanyah, Mickey dan Haikal dalam API, Sagu Band, PUAN, dan seterusnya.

Dari sudut pandang yang lain, Pantai Solop adalah sebuah tanda eksistensi. Kita tahu, bahwa eksistensi sesuatu kaum, bahkan bangsa, ditentukan oleh tanda-tanda peradaban. Orang mengenal Mesir karena ada Piramida, Sungai Nil, Hieroglyf, dan sebagainya. Malaysia karena mata uang ringgit, karena Melaka, dan juga Twin Tower. Indonesia karena Bali, Borobudur, wayang kulit, Aceh dan seterusnya. Lalu Riau, menjadi eksis dan dikenal karena ada tanda Istana Siak, Muara Takus, minyak, ikan patin, songket, hinggalah Pantai Solop. Tidak lama lagi Riau akan memiliki tanda berupa sebuah jembatan ala Golden Gate San Fransisco Amerika, jembatan itu adalah jembatan yang terletak di Siak Sri Indrapura. Siak Sri Indrapura sebenarnya berpotensi menjadi sebuah tanda tidak hanya karena jembatan. Nama Siak Sri Indrapura ini dulu adalah sebuah Kesultanan yang terkenal dari Timur. Tanda kebesaran itu masih terlihat dari Komet, sejenis musik gramopon yang piringnya terbuat dari baja yang terdiri dari musik-musik instrument klasik Jerman abad ke-VIII dan IX, ciptaan komponis terkenal, Ludwig van Beethoven (1770-1827), Wolfgang Amadeus Mozart 1756 -1791) dan Johann Strauss II (1825 -1899). Gramopon itu dibawa oleh Sultan Siak ke-XI dan sampai kini masih bisa dinikmati pengunjung. Komet ini hanya ada dua buah di dunia, satu di Jerman dan lainnya di Siak.

Semakin banyak tanda, maka semakin mudah dikenali, semakin mudah ditemukan, semakin lekat dalam ingatan semua orang. Masyarakat kita memerlukan ikon. Namun demikian tanda yang mengukuhkan eksistensi memerlukan tindakan penjagaan, penguatan, dan sekaligus penghormatan. Karena jika tidak, seringkali hal-hal yang sedemikian itu akan kehilangan makna sebagai tanda diri. Semua tanda itu perlu mendapat perhatian yang layak, atau dijaga eksistensinya. Jangan sampai, Istana Siak yang demikian monumental, karena kita tidak pandai memelihara kemudian layu tak bermaya. Pantai Solop, yang dalam lagu begitu bagus tapi dalam kenyataannya dibiarkan merana tak terawat. Sedikit banyak pasti ada keingin pendengar untuk menyaksikan keindahan pantai tersebut. Sungai Siak dalam riwayatnya gemilang sebagai penggerak ekonomi, tapi dalam fakta tidak lebih dari sungai yang kotor penuh limbah.

Bagan Siapi-api pula sebenarnya pernah menancapkan bendera Indonesia dan nama Riau di mata dunia ketika dikenal sebagai penghasil ikan nomor dua di dunia, tapi masa itu telah lama berlalu, surga itu telah lama hilang, bahkan di perpustakaan pun kini, kita amat susah mencari informasi tentang riwayat emas Bagan Siapi-api itu. Pendangkalan alamiah muara Sungai Rokan akibat sedimentasi membuat pelabuhan Bagan Siapi-api tak lagi berfungsi. Tapi tidakkah boleh ada lagu tentang Bagan Siapi-api? Lagu Doel Sumbang yang liriknya antara lain memuat kata-kata "Lahir di Bagan Siapi-api. ....." tak menggambarkan nama besar Bagan Siapi-api.

Dalam konteks keriauan kita memiliki ikan terubuk yang dulu sangat terkenal, tapi kini juga sudah hampir punah. Ada tambang emas di Muara Lembu yang sekarang juga tinggal kenangan. Hutan tropis Riau yang terkenal karena memiliki plasma nutfah terkaya di dunia, telah dipersiapkan buku sejarahnya oleh Dinas Kehutanan Riau, tidakkah ini tanda-tanda hutan Riau akan segera memasuki domain sejarah? Sebenarnya minyak Riau pun sudah harus dipersiapkan buku sejarah atau museumnya. Surga ini kelihatannya akan segera berlalu.

Ah sudahlah....mari nikmati saja NSP Pantai Solop... Pantai Solop pantai surgawi. . . .

701 Albert Einstein (1879-1955), orang Amerika kelahiran Jerman. Si jenius, pemenang Nobel Fisika pada 1921.

(Tabloid MENTARI No.247/Th V/8 -18 Oktober 2006)


Tulisan ini sudah di baca 111 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/459-Pantai-Solop.html