drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 6

Bola Mania


Oleh : drh.chaidir, MM

Piala Dunia Sepak Bola memang membuat dunia gila atau tergila-gila. Gara-gara sepak bola irama kehidupan berubah. Malam jadi siang, siang jadi malam. Biasanya malam tidur, siang bangun, sekarang terbalik persis seperti kelelawar. Semua pasang mata dan telinga di arahkan ke Jerman dimana Piala Dunia diselenggarakan. Tak laki-laki, tak perempuan, tak tua, tak muda, semua sama saja, hanyut dalam pesona piala dunia yang memang menebar pesona. Semua menjadi sepak bola mania, sebagian lagi barangkali sudah sampai pada stadium parah: menjadi maniak sepak bola.

Setiap kali bertemu wartawan, saya pun serasa bintang piala dunia karena sering ditanya macam-macam tentang piala dunia. Jelek-jelek begini, dulu memang menjadi pemain sepak bola di kampus. Posisi? Karena tidak laku di depan (baca: kalah bersaing), sayapun memilih pemain belakang. Untung ada Frans Beckenbauer, libero tangguh yang mengantarkan Jerman Barat jadi Juara Dunia tahun 1974, dengan gayanya yang anggun dan taktis, gengsi pemain belakang terangkat. Susahnya, sang wartawan selalu meminta prediksi skor pertandingan, walaupun sesungguhnya pertanyaan seperti ini rada-rada konyol. Dua pertandingan yang saya prediksi skornya dan hampir tepat adalah, ketika Jerman melawan Kostarika, prediksi 3-1, hasil pertandingan 4-2, kemudian Inggris lawan Trinidad, prediksi 3-1, hasilnya 2-0. Tetapi semenjak saya memprediksi Argentina lawan Serbia seri 2-2, kapoklah sudah. Tidak ada lagi prediksi-prediksian.. .karena hasilnya mencengangkan, Argentina membantai Serbia 6-0!! Tidak sopan...he..he..he....

Yang sangat menarik dalam Piala Dunia 2006 ini adalah penampilan tim-tim dari benua hitam Afrika. Tanpa mengurangi rasa simpati kepada Korea dan Jepang yang tampil sangat atraktif, tim Afrika terkesan sangat cepat dan tajam. Sayang sekali kesebe-lasan Pantai Gading harus tersisih karena kalah terhormat dari Argentina dan Belanda, dua negara yang memiliki tradisi sepak bola sangat kuat.

Tim Afrika iamnya, Ghana, Togo, Angola, tidak bisa di-pandang enteng. Sampai saat tulisan ini disusun, Ghana bahkan masih berpeluang maju ke babak 16 besar apabila nanti berhasil mengalahkan Amerika Serikat berapa pun skornya, sebab Italia dan Rep. Ceko harus saling bunuh bila ingin maju ke babak 16 besar. Peluang terbesar tentulah pada Ghana, setelah mereka menghancurkan tim kuat Eropa Timur, Republik Ceko 2-0. Dan Angola? Prestasinya tidak buruk. Di pertandingan awal, setelah kalah tipis 0-1 dari favorit juara Grup D, Portugal, Angola mampu menahan tim kuat lainnya di Grup D, Meksiko, tanpa gol. Hanya Tunisia yang agaknya kurang solid. Kesebelasan yang berada di kawasan Afrika Utara ini, relatif kurang menggigit seperti teman-teman lain satu benua, Pantai Gading, Ghana, dan Togo yang berasal dari kawasan Afrika bagian barat dan Angola yang berasal dari kawasan Afrika bagian selatan.

Hal lain yang menarik adalah, Pantai Gading, Ghana dan Togo adalah negara-negara kecil yang bertetangga dekat, berjejer, di Teluk Guinea, Afrika Barat, menghadap ke Samudra Atlantik. Entah bagaimana caranya, ketiga Negara serumpun ini seakan bergandengan tangan erat lolos mewakili wilayah Afrika bagian tengah dan barat, padahal di sana ada negara-negara yang sudah punya nama di gelanggang piala dunia sepak bola, sebut saja Nigeria, Kamerun, Konggo dan Senegal. Ketiga negara pertama, juga Angola dan Tunisia tentulah harus berjuang amat keras untuk lolos dari babak kualifikasi, sehingga negara kuat Afrika Selatan (konon kandidat tuan rumah Piala Dunia 2010) pun harus rela tinggal sebagai penonton.

Ivory Coast atau dalam bahasa kita disebut Pantai Gading, adalah sebuah negara yang memiliki luas 322.463 km2 dengan penduduk 13.900.000 jiwa, lebih kecil dari negara tetangga kita Malaysia (330.442 km2) dengan jumlah penduduk 17.421.000 jiwa. Dibanding Provinsi Papua, Pantai Gading jauh lebih kecil. Dalam hal jumlah penduduk, Pantai Gading kalah dengan Provinsi Jawa Timur (40.000.0UO )iwa lebih), sebuah provmsi yang menyumbang banyak klub sepak bola terkenal, sebut saja Persebaya, Persema Malang, Arema, Persik Kediri, Ps Gresik, dan lain-lain.

Ghana, juga sebuah negara yang tidak luas (238.537 km2), bahkan lebih kecil dari Pantai Gading, tapi penduduknya lebih banyak (16.900.000 jiwa). Tunisia (163.610 km2), penduduk 8.700.000 jiwa. Sementara finalis lainnya Togo hanya memiliki luas 56.087 km2 dengan jumlah penduduknya hanya 4.300.000 jiwa. Bandingkan dengan Provinsi Riau, sebuah provinsi petro dollar yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 4.600.000 jiwa dan jauh lebih luas (107.932,91 km2).

Tapi sepak bola bukan matematik. Prestasi sepak bola tidak berbanding lurus dengan besar kecilnya jumlah penduduk sebuah negara. Artinya, sebuah negara dengan jumlah penduduk besar belum tentu bisa mendapatkan 11 orang pemain sepak bola yang memiliki talenta. China dengan 1,1 milyar lebih penduduknya gagal maju sebagai finalis piala dunia. India dengan 700 juta penduduk, di babak pra-kualifikasi saja sudah terpelanting. Bahkan Rusia yang sudah memiliki tradisi sepak bola di Eropa juga tersisih di babak kualifikasi. Indonesia? Penduduk 220 juta jiwa, tapi di Asia Tenggara saja kita gagal jadi jawara, apa hendak dikata. Tunggulah nanti di suatu masa, saudara, kami akan bicara....hahaha...Tapi setidaknya kita bisa menghibur diri, Indonesia tidak sendiri, ada China, India dan Rusia dari negara "the big five" yang gagal tampil di babak final piala dunia.

Apa yang membuat pemain-pemain sepak bola Afrika menonjol dan memiliki teknik tinggi sehingga mampu bersaing secara setanding dengan negara-negara induknya sepak bola? Entahlah, tapi mereka memiliki keunggulan komparatif, rata-rata fisiknya kekar dan tinggi, konstruksi tubuhnya kokoh. Mungkin karena mereka terbiasa dengan alam yang keras. Kondisi alam ini mendidik mereka tidak manja, tapi mendidik mereka memiliki ftfhting spirit yang tinggi.

Afrika beruntung karena demikian banyak pemain-pemain mereka yang merumput sebagai pemain profesional di berbagai liga sepak bola di Eropa. Kompetisi yang keras di Liga Primer Inggeris, atau Serie A di Italia, Liga Primera di Spanyol, Liga Prancis, Jerman, Belanda, Portugal, dan negara lain, membuat pemain-pemain Afrika terasah dan teruji. Lihatlah pemain Pantai Gading, Didier Drogba (Chelsea, Inggris), Kolo Toure (Arsenal, Inggris), Didier Zokora (Saint-Etienne, Prancis) dan beberapa pemain lainnya yang tersebar di beberapa klub profesional di Eropa. Pemain Ghana juga demikian, ada Samuel Kuffour (AS Roma, Italia), Michel Es-sien (Chelsea, Inggris), Asamoah Cyan (Modena, Italia), Matthew Amoah (Borussia Dortmund, Jerman), dan lain-lain.

Korelasi ini kita lihat pula pada prestasi Korea dan Jepang yang relatif menonjol dibandingkan dengan tim Asia lainnya. Beberapa pemain mereka juga malang melintang di liga-liga Eropa. Pemain Korea misalnya, Ji Sung Park bermain di Manchester United, Young Pyo Lee (Tottenham Hotspur, Inggris), Jung Hwan Ahn (MSV Duisburg, Jerman), dan beberapa pemain lain yang berlaga di Liga Jepang. Pemain Jepang yang merumput di Eropa juga ada seperti Hidetoshi Nakata (Bolton Wanderers, Inggris), Naohiro Takahara (Hamburger SV, Jerman), Mashasi Oguro (Grenoble, Prancis), dan lain-lain.

Kapan pemain-pemain Indonesia merumput di Eropa? Entahlah. Tidak usah jauh-jauh, di semenanjung ASEAN saja PSSI sudah mulai tertinggal. Singapura misalnya, dulu tidak masuk hitungan, tapi sekarang tidak lagi bisa dikalahkan PSSI. Bagaimana di Riau? Di Riau, dulu ada PSPS Pekanbaru yang bercokol di Divisi Utama. PSPS pernah bertambur bintang, penampilannya membangkitkan marwah, kalau bertanding pantang menyerah, terbujur lalu terlintang patah, tapi era itu berlalu sudah, karena pengelola banyak ulah, pemimpin jadi menyerah menyediakan gaji yang tidak murah, akhirnya selaku tuan rumah pun selalu kalah.... .degradasilah sebagai hadiah.... he..he..he......
Sepak bola sesungguhnya sangat dicintai dan digandrungi oleh muda-mudi, sayang sekali kita mengurusnya setengah hati.


(Tabloid MENTARI No.239/Th V/25 Juni - 5 Juli 2006)


Tulisan ini sudah di baca 142 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/458-Bola-Mania.html