drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 6

Demang Lebar Daun


Oleh : drh.chaidir, MM

Rampai pujangga Hasan Junus 67) dengan judul "Ombak" yang merupakan refleksi tetap setiap pekan sang pujangga, di Harian Riau Pos, betapapun sarat dengan kontemplasi kritis, membuat saya merasa tersanjung dan termenung. Karena sebuah karya tulis, menurut sang pujangga, mendapat tempat yang terhormat kalau dengan karya tulis tersebut ada seseorang yang terilhami atau inspire par karya itu. Dan buku Membaca Ombak agaknya telah berhasil memancing sang resi menoleh, bahkan memberi petuah agar saya (dan kita) mengambil teladan dari sosok leluhur Melayu, Demang Lebar Daun.

Dalam sejarah Melayu, Demang Lebar Daun yang bermukim di Bukit Siguntang, Padang Penjaringan, di kawasan yang bernama Parlembang, memposisikan dirinya bukan sebagai mertua raja, tetapi sebagai wakil dari suara rakyat. Konon dalam versi sejarah itu, salah satu hal penting yang dilakukan raja Sang Sapurba sebelum melakukan perjalanan dari Kuantan hingga Siantan, adalah membuat sebuah perjanjian, yang disebut dengan "Ikatan Setia." Suara isi hati masyarakat diwakili oleh Demang Lebar Daun (mertua dari Sang Sapurba, raja itu sendiri). Isi dari Ikatan Setia itu adalah bahwa Demang Lebar Daun dan anak cucunya kelak tidak akan durhaka kepada Sapurba dan keturunannya, apapun yang terjadi. Demang Lebar Daun mengatakan, jika anak cucuku salah dan patut dihukum, hukumlah, jika kesalahannya amat besar dan patut dibunuh maka bunuhlah, namun jangan sekali-kali dipermalukan.

Bagi sebagian orang Melayu, Ikatan Setia Demang Lebar Daun itu setelah zaman berzaman dan kemudian mendarah daging - entah karena salah menafsirkan - akhirnya dianggap menjadi sebuah "kecelakaan sejarah" yang membuat orang Melayu kemudian boleh disemena-menai oleh kekuasaan, boleh dicederai, lambat panas untuk melawan, dan rela menenma berbagal deraan. Ferjanjian itu jelas berat sebelah, hanya mengatur kesetiaan rakyat kepada raja, sebaliknya bagaimana, tidak tersentuh.

Untunglah hal itu tidak berlangsung turun temurun dan dogmatis. Perubahan pemikiran tak terhindar dan paradigma baru tumbuh berkembang dalam kehidupan orang Melayu ketika memandang atau berhadapan dengan kekuasaan. Kekuasaan tidak lagi dipatuhi secara membabi-buta, tanpa reserve sama sekali, kesetiaan diberikan secara kritis sebagaimana ucapan Hang Jebat dalam Hikayat Hang Tuah, "Raja alim raja disembah raja zalim raja disanggah." Raja Ali Haji kemudian dalam Gurindam Duabelas-nya memberikan tunjuk ajar bagaimana hidup bermarwah, dan bagaimana seorang pemimpin mengemban amanah.

Risalah Raja Ali Haji "Tsamarat al-Muhimmah" memberikan koridor, jika raja atau kekuasaan itu salah maka rakyat tak dapat dituduh durhaka jika kemudian mereka melawan. Demang Lebar Daun modern menyadari toleransi kepatuhan tak lagi tak berhingga, tetapi sudah menyempit. Kalau raja salah harus dilawan, kalau raja mempermalukan rakyatnya, maka amuk pun menjadi pilihan.

Para Demang Lebar Daun masa kini (pejabat, wakil rakyat, politisi, LSM, dan lain-lain penyandang atribut kekuasaan), agaknya harus lebih jeli memahami kecenderungan, bahwa apa yang terjadi dalam masyarakat selalu berkorelasi dengan apa yang dilakukan penguasa. Niccolo Machiaveli dalam Discourses mengatakan bahwa rakyat zaman kini, yang suka merampok atau melakukan kejahatan adalah akibat dari kenyataan bahwa pemegang tampuk kekuasaan juga melakukan kejahatan yang sama.

Demang Lebar Daun dalam paradigma baru harus berani memberikan respon yang patut bagi perbuatan yang tak patut para Sang Sapurba. Jika Sang Sapurba tak memiliki kualifikasi moral, kalau berjanji dia ingkar, kalau berkata dia bohong, diberi keper-cayaan dia khianat, lain di mulut lain di hati, maka keberadaannya patut dipertanyakan. Dalam kondisi demikian, Demang Lebar Daun tak lagi terikat pada sumpahnya.

Kearifan Melayu mengajarkan banyak hal kepada kita dalam merespon dinamika yang terjadi di tengah masyarakat. Wacana otonomi khusus yang diusung oleh masyarakat Riau misalnya, tidaklah semustinya dipandang dengan sikap apriori oleh berbagai pihak termasuk pemerintah pusat. Agenda otonomi khusus adalah agenda pemakmuran, yang memang harus dilakukan oleh para penguasa. Tak kira siapa yang memerintah dan dari kelompok mana. Sesungguhnya, pusat tidak akan rugi memberikan otonomi khusus, karena kemakmuran daerah adalah juga bagian dari kemakmuran secara nasional. Bila daerah makmur, "upeti" berupa pajak pasti akan mengalir deras ke pemerintah pusat. Usah ragu dan bimbang, kemakmuran itu lambat atau cepat akan bertandang dari satu daerah ke daerah lainnya. Otonomi khusus bukan hantu yang perlu ditakuti. Dia justru baru akan menjadi hantu sungguhan yang mengejar kemana-mana dan mengepung bila tidak mendapatkan perhatian.

Pernyataan Mentri Dalam Negeri, Ma'ruf, terhadap wacana otonomi khusus di Riau, yang dimuat oleh media massa, mengesankan kejengkelan Sang Sapurba terhadap rakyat yang tak setia terhadap sumpahnya. Jauh dari muatan kearifan. Kita memahami keletihan Mendagri menghadapi berbagai masalah dalam berbagai front, tetapi tidakkah juga keletihan para pemegang amanah di daerah dalam memperjuangkan hak masyarakat tidak patut dipertimbangkan? Sebenarnya, apa yang hendak diwujudkan, kebanggaan pemerintah pusat yang kuatkah dengan kemungkinan daerah-daerah kurang puas ataukah kokohnya masyarakat di daerah dengan konsekuensi pemerintah pusat tidak terlalu dominan?

Kita sudah berpengalaman dengan paradigma dominannya pemerintah yang tersentralisasi di Jakarta, tetapi keropos di daerah, buahnya justru pahit dengan munculnya benih-benih disintegrasi. Tidakkah kita harus mengakui, solusi berupa otonomi daerah sebagai paradigma baru politik pemerintahan pasca reformasi telah membangkitkan harga diri daerah. Otonomi khusus barangkali stadium berikutnya. Lambat atau cepat semua daerah sesungguhnya harus menikmati otonomi khusus, di sinilah kita baru bisa berkata, beban permasalahan bangsa dengan rela dipikul oleh masing-masing daerah. Tidak hanya kerelaan, tapi tanggungjawab pemakmuran itu terdistribusi secara proporsional ke daerah. Bangsa ini terlalu besar untuk diurus oleh pusat dan beban terlalu berat bila hanya dipikulkan di pundak pusat. Oleh karena itulah pemerintah pusat mestinya arif dan bijak membaca ombak. Sikap pemerintah pusat yang jauh dari akomodatif, tapi pada sisi lain permissive terhadap sejumlah kepentingan pribadi atau kelompok - dan ini seringkali menjadi tontonan rakyat akan dicatat oleh sejarah. Keberpihakan terhadap rakyat tidak boleh menjadi sebuah simfoni yang sarat dengan nuansa kebohongan.

Demang Lebar Daun modern saat ini agaknya harus membuat "Ikatan Setia" dalam format baru yang barangkali berbunyi: Andai berbuat mulia hamba dan anak cucu hamba, maka muliakanlah, tapi jikalau salah hamba dan anak cucu hamba, maka hukumlah, jika patut dibunuh bunuhlah, begitu pulalah kami akan berbuat kepada Tuan.

Apa yang ditulis sastrawan Hasan Junus menarik, "barangkali Demang Lebar Daun sudah sangat menyadari bahwa siapa saja yang mempermalukan orang pastilah akan mendapat malu sebagai balasannya. Banyak raja-raja yang mendapat kenistaan oleh mahkamah sejarah. Tidak pernah ada sosok yang dapat menghindar dari pengadilan sejarah. Yang dapat dilakukan oleh para pembohong itu cuma menghindar sebentar saja dari kebenaran agung sejarah. Karena itulah janganlah berbohong, karena setiap denyut kebohongan yang ditanam dalam padang sejarah akan menampar dan menempelak muka dan hatimu. Siapa saja yang sungguh-sungguh belajar sejarah, dan belajar dari sejarah, menjadi tahu bahwa kebohongan yang bagaimanapun kecilnya merupakan musuh besar sejarah. Kepada para pembohong itu kita semua harusiah mengingatkan dengan sungguh-sungguh akan hebat dahsyatnya mahkamah sejarah yang sikap tegarnya samasekali tidak mengenal kata kasihan."

Il Signora Hasan Junus, molto grazie per tu10

67) Hasan Junus (1941 - ), sastrawan Melayu, telah menulis puluhan buku sastra dan aktif menulis ulasan sastra di media masa. Menguasai beberapa bahasa asing seperti Spanyol, Prancis, Inggris. Saat ini menjadi Pimpinan Majalah Budaya Sagang yang terbit di Pekanbaru - Riau.

II Signore, Italia, maksudnya tuan.
Molto grazie pertu, Italia, maksudnya terimakasih banyak untuk anda.

(Tabloid MENTARI No.235/Th V/8-17 Mei 2006)


Tulisan ini sudah di baca 415 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/457-Demang-Lebar-Daun.html