drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 6

Oneng Membaca Riau


Oleh : drh.chaidir, MM

Kenal Oneng? Kalau kenal berarti normal, kalau tidak kenal berarti tidak pernah nonton televisi, ngapain aja? Oneng, bintang sinetron berseri Bajai Bajuri, adalah figur seorang istri yang - minta ampun - bloonnya beda-beda tipis dengan bloon sang suami, Bajuri dalam sinetron tersebut. Tetapi dalam kehidupan nyata, Oneng bernama Rieke Diah Pitaloka, seorang sarjana filsafat, dan bersuamikan seorang dosen Pasca Sarjana. Dengan demikian dipastikan, lingkungan keluarga sehari-hari di rumah adalah lingkungan intelektual yang berbeda bak siang dan malam dengan lingkungan "keluarga"nya dalam sinetron Bajai Bajuri.

"Kalau aku dipanggil Oneng, ya udah aku pulang aja," katanya dengan ekspresi lucu ketika saya memanggilnya Oneng dalam acara peluncuran dan diskusi buku "Membaca Ombak" di Hotel Hilton Internasional Jakarta pada 29 Maret 2006. Oneng memang tampil sebagai moderator dalam diskusi buku tersebut, yang menurut Mien R Uno, salah seorang pembicara di samping Baharudin Ari-tonang, agak diluar kebiasaan, karena tidak biasanya peluncuran dan diskusi sebuah buku meriah dan dihadiri oleh banyak undangan. Dan Oneng pada malam itu memang mencuri perhatian. Dia mampu mencairkan suasana dengan komentar-komentar spontan cerdas. Dia bukan lagi Oneng pasangan Bajuri, tapi Rieke Diah Pitaloka yang smart.

Begitulah. Acara peluncuran dan diskusi buku Membaca Ombak memang diformat dalam paket "menjual." Ketika surat jemputan sudah disebar, memang ada yang bertanya dengan kesal, kenapa acaranya diadakan di Jakarta, sehingga orang daerah terbatas yang bisa menghadiri? Bukankah penulis bukunya Ketua DPRD Riau, bukankah ini zaman otonomi daerah sehingga sebetulnya semua yang di pusat diusung ke daerah, bukankah daerah lebih penting ketimbang Jakarta? Dan, last but not least, ada pula pertanyaan yang rada-rada seram, sangat tendensius, "bukankah calon pemilih pilkada bukan di Jakarta tapi di Riau?" Macam kan iya.

Dari satu sisi barangkali ya. Tapi kehidupan memang ber-sisi-sisi. Ada banyak opsi argumentasi, dan itu nisbi. Sekurang-kurangnya, daerah tidak harus dilihat melulu dari sisi "pilkada." Dan Jakarta - suka atau tidak suka - adalah pusat pemerintahan republik, belum ada niat untuk dipindahkan ke Makasar, Balikpapan, Manado, Medan atau bahkan ke Pekanbaru. Pada sisi lain, Riau dalam beberapa tahun terakhir ini seakan akrab dengan citra negatif. Setiap hari, pemberitaan di media massa tidak pernah sepi dari sesuatu yang berdimensi illegal. Ada tusukan yang menyengat dari illegal logging, ada bau amis illegal fishing, penyelundupan minyak, kebakaran hutan dan lahan, mata yang merah karena asap, konflik lahan dalam masyarakat, pertengkaran buruh dan pengusaha, ada berita bom molotov, ada berita kematian gajah, ada pula berita-berita korupsi mulai dari yang sayup-sayup, sampai pada yang tak percaya tapi nyata.

Berita-berita miring itu kemudian ditingkah pula dengan tuntutan dana bagi hasil minyak yang tak pernah surut karena memang tak pernah direspon secara layak oleh pemerintah pusat. Demikian pula cerita-cerita tentang kekurangan atau ketidakadilan distribusi anggaran yang diperlukan untuk pembangunan. Kita hampir dibuat gila oleh nafsu dan keinginan untuk menguasai dan mendapatkan semua karena merasa itu adalah hak. Setiap hari kita menghitung ribuan barrel minyak yang menyembur dari perut bumi Riau, kalau dikalikan dolar berapa banyak dolarnya, kalau dikalikan rupiah apalagi. Setiap hari kita hidup dalam mimpi-mimpi. Keadaan dan berita-berita itu semua, suka atau tidak, mencerminkan betapa semangat kebendaan sedang menyelimuti masyarakat. Seakan tak ada agenda lain kecuali materi, materi dan materi.

Kalau setiap hari yang berdengung adalah bunyi-bunyi yang menyakitkan telinga, perlombaan semangat materialistik yang berlebihan, kita agaknya sungguh-sungguh akan menjadi sebuah masyarakat yang anomi, masyarakat yang berada dalam kondisi ketidakseimbangan psikologis yang dapat melahirkan perilaku menyimpang dengan berbagai manifestasi. Konon menurut para ahli, masyarakat yang demikian akan mengalami disorgamsasi hubungan antar manusia. Gejala hedonisme semakin menjadi-jadi. Hubungan kekerabatan, persaudaraan, yang menjadi ciri masyarakat kita sejak dahulu kala, tak lagi kohesif. Polarisasi kehidupan semakin senjang. Fragmentasi semakin kentara, budaya instan semakin merajalela, semua ingin cepat kaya, semua ingin cepat menjadi boss, semua ingin cepat terkenal, semua ingin cepat meraih gelar. Pola pikir pada umumnya menjadi struktural, semua diukur dengan jabatan karena jabatan dianggap menjadi sebuah keniscayaan untuk memperoleh kekayaan.

Dewasa ini, samar-samar, masyarakat kita seakan menjadi bukan dirinya lagi, mereka tidak lagi mengenal dirinya yang semula menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, saling hormat-menghormati, saling segan-menyegani, sopan santun dan berbudi bahasa halus. Benarkah tekanan kehidupan yang kian berat dan persaingan duniawi yang semakin hebat telah menggerus nilai-nilai jati diri masyarakat kita? Barangkali ya, barangkali tidak. Tidak seluruhnya benar, tetapi juga diyakini tidak salah semua. Ada pergeseran. Perubahan tidak mungkin dibendung.

Peluncuran buku "Membaca Ombak" hanyalah sebuah noktah di belantara terra incognita (tanah tak dikenal), namun setidaknya ada sebuah tradisi Melayu Riau yang ingin tetap dipelihara: tradisi bahasa, tradisi tulis menulis. Namun demikian, mengaitkan prosesi peluncuran buku Membaca Ombak dengan tradisi Melayu yang agung itu tentu akan terasa berlebihan bahkan bisa jadi seperti sebuah euforia. Tetapi tak dapat dipungkiri buku Membaca Ombak lahir dari perut Melayu Riau. Sebagian besar tulisan dalam buku tersebut memang berangkat dari peristiwa demi peristiwa yang berlatar Riau.

Peluncuran buku Membaca Ombak di Jakarta diharapkan setidaknya ada nuansa baru, Riau tidak dikenang melulu dari masalah-masalah yang berkaitan dengan hal-hal yang berbau ilegal tersebut. Riau (kalau mau) bisa menyapa Jakarta dengan agenda-agenda yang menumbuhkan marwah. Dan seyogianyalah agenda-agenda sejems semakin sering dilakukan, seperti misalnya ketika belum lama ini Geliga Malay Jazz (grup musik jazz dari Riau) manggung di Taman Ismail Marzuki. Dan ternyata pertunjukan tersebut mendapat respon positif. Bukankah kita masih punya stock Bandar Serai Orchestra yang memiliki potensi membelai Jakarta, atau Band Sagu yang sudah mulai mendapatkan simpati? Atau agenda-agenda sastra Melayu yang selama ini selalu menjadi "tanda" Riau? Kemana saja pujangga-pujangga Riau yang terbilang itu? Tidakkah saatnya kini menyapa Jakarta agar ibukota kita tidak sunyi dari kelembutan sentuhan jiwa dan hanyut terbawa arus hedonisme?

Semakin banyak agenda-agenda "smart” yang kita adakan di Jakarta, semakin bagus. Jakarta memang perlu secara terus menerus disapa untuk mengharapkan tumbuhnya empati. Dengan demikian diharapkan dalam back-mind tokoh-tokoh nasional di Jakarta, selalu ada Riau negeri pantun dan negeri pujangga yang nyaris terabaikan itu. Riau memerlukan figur-figur selebritis nasional seperti Rieke Dyah Pitaloka, yang dengan kapasitas intelektualnya mampu membaca Riau dari Jakarta. Empati kelompok intelektual seperti ini barangkali mampu memberi sentuhan terhadap bengkak-bengkok politik pusat yang seringkali berperilaku kurang bersahabat dan terasa aneh bagi Riau.

Di samping anggota parlemen dan anggota senat yang secara resmi mewakili kepentingan dan memperjuangkan Riau di Jakarta, kita agaknya harus membangun "silent representative" di semua lini dan kalangan di pusat, tak terkecuali dengan kalangan selebritis yang memiliki kapasitas intelektual. Sehingga, ketika sebuah pembicaraan menyangkut Riau pada tingkat manapun, mereka akan selalu menabur simpati. Menteri Ka'ban, Menteri Adhyaksa Dault, Baharuddin Aritonang, Mein R Uno dan Oneng.. .eh Rieke Diah Pitaloka adalah orang-orang bertuah yang hadir dalam acara peluncuran dan diskusi buku Membaca Ombak. Jadi apa salahnya kita menumpang tuah?


(Tabloid MENTARI No.233/Th V/13-23 April 2006)


Tulisan ini sudah di baca 167 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/456-Oneng-Membaca-Riau.html