drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 6

Memberantas Kemiskinan Akal Budi


Oleh : drh.chaidir, MM

Pernah dengar Program K2i? Bagi masyarakat Riau keterlaluan kalau belum. Bisa-bisa KTP anda dicabut. Program K2i adalah garis besar program Pemerintah Provinsi Riau berupa Rencana Strategis pemberantasan Kemiskinan, Kebodohan dan Pemban-gunan Infrastruktur. Untuk memudahkannya disingkat Program K2i. Renstra K2i ini berdurasi 5 tahun sebagai penjabaran dari Visi Riau 2020: Mewujudkan Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis sejahtera lahir batin di Asia Tenggara tahun 2020.

Kemiskinan yang ingin dibidik oleh program K2i tentulah kemiskinan ekonomi. Masyarakat yang miskin ekonomi berarti masyarakat yang tidak memiliki daya beli, tidak memiliki harta kekayaan, apalagi asset produktif seperti lahan, mereka tak punya.

Mereka tidak mampu menyekolahkan anaknya, tidak memiliki ak-ses untuk memperoleh pelayanan kesehatan secara memadai dan tidak memiliki sandang, pangan dan papan secara layak. Begitulah kira-kira gambaran ekstrim dari kemiskinan yang mau digempur senjata K2i.

Tetapi sesungguhnya, kemiskinan ekonomi walaupun bisa membahayakan keselematan negara karena bisa berkembang menjadi sebuah kekacauan dan menurunnya kepercayaan umum kepada pemerintah, namun tidak terlalu menjadi ancaman bagi sebuah kebudayaan dan peradaban. Kemiskinan ekonomi hanya memerlukan perencanaan yang akurat, konsistensi dan transparansi. Melalui program-program pragmatis dan sedikit tangan besi, maka kemiskinan ekonomi akan dapat diganyang. Dengan kata lain, kemiskinan ekonomi walaupun multi dimensi tetapi bisa dipetakan dan bisa diraba.

Kemiskinan bentuk lain yang lebih serius adalah kemiskinan akal budi. Kemiskinan akal budi tentulah beda. Program yang pragmatis belum akan menyelesaikan masalah kemiskinan akal budi. Orang yang miskin akal budi belum tentu miskin harta, sebaliknya orang yang miskin harta belum tentu juga miskin akal budi. Yang paling celaka tentulah kelompok yang sudah miskin harta miskin pula akal budi. Tak ada satu pun lagi yang bisa dibanggakan.

Akal memberikan kemampuan kepada manusia untuk bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Akal budi memberikan kemampuan kepada manusia untuk selalu berpikir tentang keterhormatan, lebih dari sekedar kemampuan untuk membedakan baik dan buruk. Akal budi menurut sementara pengikut Aristoteles merupakan kekuatan pikiran atau fungsi tertinggi dari jiwa. Akal budi sesungguhnya sebuah identitas yang paling kentara membedakan makhluk yang bernama manusia dan makhluk yang bernama satwa.

Ada apa dengan akal budi? Adakah indikasi kemiskinan akal budi menampakkan wujudnya di tengah masyarakat kita dewasa ini? Jawabannya terpulang apakah kita mau jujur menjawabnya atau tidak. Ada banyak kasus untuk dikedepankan bahwa kemiskinan akal budi itu memang terindikasi ada. Ada musang berbulu ayam, ada pagar makan tanaman, ada maling teriak maling. Ada manusia yang tidak memiliki hati nurani membiarkan bangsanya terpuruk, sementara mereka berasyik makhsyuk menguras minyak secara ilegal dan menjualnya untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Ada orang kaya menebang hutan sesuka hatinya menumpuk kekayaan tujuh turunan, sementara masyarakat di seputar hutan dibiarkan miskin. Mereka hanya memiliki agenda materialistik yang egoistik, miskin nurani dan miskin kepekaan sosial. Mereka kaya harta tapi miskin akalbudi.

Perilaku masyarakat kita dewasa ini cenderung anomi. Perilaku menyimpang bukan lagi sesuatu yang langka ditemukan di tengah masyarakat. Hampir di semua sudut kehidupan, sudut politik, sudut hukum, sudut ekonomi, sosial budaya berkembang liar tanpa etika dan estetika. Praktik-praktik mafia, praktek-praktek fir'aun, praktek-praktek ilegal yang melampaui batas terjadi dimana-mana. Bila berjanji, ingkar. Bila berkata, bohong. Bila diberi amanah, berkhianat. Mentalitas instan tumbuh dengan subur. Semua terbuai "AH Baba Syndrome", berkhayal mendapatkan harta karun dari dalam gua.

Tidak mudah memang menjelaskan apa sesungguhnya yang tengah terjadi di negeri kita saat ini. Adakah virus akal budi seperti yang ditulis Richard Brodie itu telah merasuk demikian jauh ke dalam sum-sum masyarakat? "Virus akalbudi merupakan unsur-unsur budaya kita yang menular, yang cepat menyebar ke segala lapisan masyarakat, lalu mengubah pemikiran serta kehidupan orang. Virus akalbudi bisa mengendalikan kita agar berpikir dan bertindak dengan cara-cara yang bisa menghancurkan hidup kita." Tulis Richard Brodie dalam bukunya Virus Akalbudi.

Seorang Wakil Presiden Amerika Serikat, sebuah negeri yang menurut kita sangat materialistik dan kapitalistik, ternyata memiliki apresiasi yang sangat tinggi terhadap akalbudi. Wakil Presiden itu, Dan Quayle namanya, pasangan Presiden George Bush (ayah dari Presiden George Walker Bush) pernah mengatakan, "Betapa sia-sianya kehilangan akalbudi atau tidak punya akalbudi sungguh sia-sia. Menyia-nyiakan akalbudi adalah perbuatan yang mengerikan."

Tidaklah mengherankan kalau kemudian dalam kitab-kitab suci, akalbudi menjadi hal terbesar yang diatur atau yang mesti dijalankan oleh para nabi. Nabi Muhammad, misalnya secara tegas mengatakan bahwa keberadaannya sebagai utusan Tuhan adalah untuk memperbaiki akalbudi (akhlak) manusia.

Akal budi merupakan sumber mata air yang paling dasar dalam diri manusia. la menjadi semacam atom yang menggerakkan atau yang menentukan apa yang dilakukan oleh manusia. Jika akalbudi seseorang rusak, maka tindakan yang akan keluar dari dirinya cenderung akan mengarah pada sesuatu yang negatif. Sebaliknya jika akalbudi seseorang tercerahkan, maka kita bisa berharap kebajikan akan muncul dari dirinya.

Dalam Tunjuk Ajar Melayu (2004) sebagaimana ditulis sas-trawan dan budayawan Tenas Effendy, akal budi atau akhlak mulia itu digambarkan:

"Berkuasa tidak membinasakan
kuat tidak mematahkan
besar tidak mengetilkan
tinggi tidak merendahkan
kaya tidak menistakan."


Dalam ungkapan lain disebutkan: "Kepada masyarakat ianya ramah kepada yang tua ianya merendah kepada yang muda ianya mengalah kepada sebaya seiring selangkah."

Bulan puasa Ramadan yang sekarang kita masuki adalah sebuah bulan yang penuh berkah, ampunan dan rahmat. Bagi kaum Muslim, Ramadhan adalah bulan menghitung diri, menghitung pertanggungjawaban moral dan spiritual.

K2i yang paling "suai" untuk memberantas kemiskinan akal budi adalah dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan secara maksimal.
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Maaf lahir batin.


(Tabloid MENTARI No.215/Th IV/10-16 Oktober 2005)


Tulisan ini sudah di baca 168 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/455-Memberantas-Kemiskinan-Akal-Budi.html