drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 6

Bahasa Sastra Bahasa Bunga


Oleh : drh.chaidir, MM

Orang tua itu tersenyum. "Di masa hamba". ia berkata. "tak ada orang yang pernah memikirkan untuk melakukan dosa besar seperti membeli atau menjual gandum, kami tak tahu apa-apa tentang uang. Setiap orang mempunyai gandum sebanyak yang ia kehendaki. Ladang hamba adalah tanah Tuhan. Dimana hamba berladang, di situlah ladang hamba. Tanah itu bebas dan tak ada orang yang menyebutnya sebagai miliknya. Setiap orang mendapat buah dari hasil kerjanya sendiri."

"Katakan padaku dua hal lain", kata Tsar 57), "pertama, mengapa gandum serupa itu pernah tumbuh, tapi tidak lagi tumbuh sekarang. Kedua, mengapa cucumu berjalan dengan dua tongkat dan putramu dengan satu tongkat sedangkan kau sendiri berjalan dengan mudah tanpa tongkat sama sekali. Lagipula pandanganmu masih tajam, gigimu masih kuat, dan bicaramu masih jelas".

Orang tua itu menjawab, "Alasan untuk kedua hal itu ialah kini orang berhenti hidup dengan buah pekerjaannya saja dan mulai menginginkan milik sesama mereka. Di masa kami dulu, hidup tidak seperti itu, Kami hidup menurut firman Tuhan. Kami adalah majikan atas diri kami sendiri dan tidak menghendaki apa pun yang dimiliki orang lain!"

Dialog itu merupakan penggalan dari dialog dalam cerpen "Sebutir Gandum Dari Tanah Tuhan" karya sastrawan besar Rusia Leo Tolstoy 58) yang masih banyak dibaca sampai sekarang. Tsar Rusia yang amat berkuasa pada zamannya, merasa heran mendapatkan sebuah benda seperti telur ayam namun ada alur di tengahnya mirip biji gandum. Tak ada yang bisa memberikan penjelasan sampai datang seorang orang tua yang masih segar bugar, lebih bugar ketimbang anak dan cucu kandungnya sendiri.

Leo Tolstoy merupakan sastrawan klasik Rusia terbesar yang berpengaruh luas dalam pembentukan perkembangan sastra dunia modern. Dia juga seorang penulang moral dan pemikir sosiai terkemuka, karyanya bercorak realis dan bernuansa religius sarat renungan moral dan filsafat. Gagasan yang kontroversial dan tidak lazim dimasa itu membuatnya dicap sebagai anarkis. Lihatlah betapa sederhana alur cerita Sebutir Gandum itu, tapi dengan intuisi seorang sastrawan Tolstoy mengemasnya dalam bahasa penuh pesan moral yang melintasi zaman.

Kesusastraan memiliki sebuah potensi yang besar dalam membawa manusia ke jalan kemanusiaan dan pemuliaan, karena kesusastraan, dengan caranya sendiri, membuka ruang yang sangat besar bagi setiap orang untuk berdialog dengan dirinya sendiri, dengan hati dan rasa, dengan keinginan dan ketakutan, dengan mimpi dan kemungkinan-kemungkinan kenyataan yang dihadapi.

Sastra dalam sosoknya yang kadangkala usang, justru kerap memberi ilham pencerahan. Pembacaan karya sastra seringkali dapat mempertemukan manusia dengan berbagai bentuk kearifan bahkan kearifan yang tak biasa sekalipun.

Sebutir Gandum Dari Tanah Tuhan, memang hanyalah sebuah fiksi, sebuah karangan. Dia lahir dari imajinasi melalui suatu proses kreatif. Para kritikus sastra berpendapat, fiksi sebagai karya seni boleh saja lahir dan besar dari ranah imajinasi. Akan tetapi, arti penting karya fiksi bagi pembentukan dan pelestarian peradaban tidak dapat dikecilkan hanya karena ia menyandang label sebagai buah imajinasi.

Keteguhan pada komitmen-komitmen moral yang kemudian diekspresikan melalui karya fiksi jualah yang membuat orang-orang semacam Pramudya Ananta Toer59) dan Boris Pasternak 60) tergusur dari kesempatan menjalani hidup secara wajar.

Pada hemat saya, sastra merupakan sebuah kreatifitas yang lahir dari sebuah proses panjang pergumulan seorang anak manusia, dengan kerudupan sekitarnya. Persentuhan dengan rasa suka dan duka, dengan semangat cinta atau keluh kesah, dengan rasa bahagia ataupun kecewa yang dalam. Dengan kata lain sastra merupakan sebuah hasil apresiasi mendalam terhadap peristiwa dan makna keberadaan manusia, sesuatu yang tumbuh dan besar dari kedalaman kerja keras dalam menerjemahkan nilai-nilai. Karya sastra dengan demikian menjadi tanda dari kebudayaan yang berlangsung pada zamannya.

Andai kita ingin pula menjenguk fakta sejarah beberapa abad yang lampau, khususnya di Eropa, maka kita juga akan disadarkan oleh sebuah kebenaran bahwa ternyata, sastra atau seni (bersama filsafat), merupakan pendobrak penting bagi terbukanya gerbang kegelapan yang kokoh nan menghalangi jalan menuju cahaya terang. Ketika politik tak dapat berbuat banyak pada waktu itu, ketika pemerintahan berubah wajah menjadi kekuasaan yang me-nindas, atau bahkan ketika agama pada saat yang sama tak dapat melaksanakan fungsi keluhurannya, maka sastra atau kesenianlah yang tampil ke depan sebagai penjaga gawang kemanusiaan dan kemuliaan bagi peradaban manusia. Itulah yang terjadi pada masa renaissance, sebuah zaman pencerahan, di mana seni merupakan tiang agung yang mengokohkannya.

Begitulah, pada akhirnya, sastra dan semangat kemanusiaan, menjadi sesuatu yang seiring di manapun juga dalam sebarisan panjang karya sastra pada berbilang abad dan generasi, hingga saat ini, katakanlah di antaranya risalah-risalah Milan Kundera612) atau Pasternak, kitab Gurindam Duabelas Raja Ali Haji atau naskah-naskah Maxim Gorky625, deretan karya Pramudya Ananta Toer atau bundel-bundel keantan Rabmdranath tagore', Chairii Anwar 64), atau catatan-catatan Gabriel Garcia Marquez 65), atau bahkan dalam bumbung asap mantra Sutardji Calzoum Bachri sekalipun, kita dapat melihat bahwa masing-masing pengarang melalui karya, lewat cara dan sudut pandang masing masing pula, sebenarnya sedang meretas dan menebas jalan kemanusiaan dan bersikukuh membuat jalan itu tak pernah berujung. Masing-masing pengarang, tak ubahnya seperti nakhoda yang melayarkan perahu dari pelabuhan berbeda untuk berombak di laut kemanusiaan yang besar, bermain satu gelombang ke gelombang yang lain, tanpa pernah ada kata menepi.

"Dengan menyentuh konsekuensi-konsekuensi ekstrim tugas kepenyairan tersebut, entah benar entah keliru," ujar Pablo Neruda, dalam pidatonya ketika menerima Nobel sastra pada 13 Desember 1971, "saya menetapkan bahwa sosok saya dalam masyarakat dan dihadapan kehidupan adalah sosok yang dengan cara sederhana memilih berpihak. Saya putuskan demikian ketika saya menyaksikan begitu banyak kemalangan yang bermartabat, kejayaan yang sunyi, dan kekalahan yang agung. Bergabung dengan kehidupan dan jiwa yang akrab dengan derita dan harapan."

Vaclav Havel sastrawan yang terpilih menjadi presiden pertama Republik Ceko-Slovakia pada suatu kali menyebutkan dalam pidatonya, "Kami mencoba dengan cara baru untuk memperbaharui pengertian rakyat mengenai politik. Kami mengajarkan diri kami dan juga yang iainnya bahwa politik seharusnya merupakan suatu pernyataan terhadap kerinduan untuk mendukung kebaha-giaan dan kepentingan umum. Politik sama sekaH bukan keharusan untuk menipu atau memperkosa hak-hak rakyat."

Sastra memang salah satu cara berkomunikasi melalui bahasa bunga. Jika sastra dimaksimalkan dalam membentuk kesadaran manusia akan nilai-nilai kemanusiaan, maka kita percaya, selamanya sastra akan mendapatkan apresiasi yang baik pula dalam hidup manusia.

Negeri ini sesungguhnya adalah negeri pujangga yang mestinya mampu merangkai setiap kata menjadi penuh estetika, bukan dengan kalimat-kalimat kering miskin makna.
(Diringkas dari Orasi Sastra Chaidir di depan Kongres Cerpen Indonesia di Pekanbaru 26 November 2005).


581 Leo Tolstoy.M sastrawan klasik Rusia terkenal dengan dua buah masterpiecenya "War and Peace" dan "Anna Karenina".
571 Tsar, istilah penguasa Rusia dari 1547-1917. Tsar terakhir adalah Nicholas II, tewas dalam suatu perang saudara pada 1918 setelah terjadi revolusi pada 1917.
611 Milan Kundera (1929 -), penyair Cekoslavakia yang hijrah ke Prancis karena tertekan di negerinya sendiri.
622 Maxim Gorky (1868-1936), penulis Rusia, nama aslinya Alexey Maximovich Pyeshkov. Pendukung Stalin.
631 Rabindranath Tagore (1861-1941), Sastrawan dan seniman India, penerima Nobel Sastra pada 1913.
61) Chairii Anwar (1922-49), lahir di Medan 26 juli 1922. penyair dan pelopor Angkatan 45. Salah satu syairnya yang terkenal adalah "Aku".
62) Gabriel Garcia Marquez (1928 -), sastrawan Colombia pemenang Nobel pada 1982. Pada 1967 menerbitkan sebuah novel terkenal yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, yakni "Hundred Years of Solitude" (Seratus Tahun Kesunyian).
59) Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), Iahir6 Februari 1925di Blora, Jawa Tengah Sastrawan. Novel Tetralogi yang ditulisnya di Pulau Buru adalah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.
Boris Pasternak (1890-1960), Sastrawan Rusia, pemenang Nobel Sastra pada 1958. "Doctor Zhivago"
adalah novelnya yang terkenal, di mata Penguasa Stalin novel ini dilarang diterbitkan, Tapi kemudian diterbitkan di Italia pada 1957.

(Tabloid MENTARI No.219/Th V/5-11 Desember 2005)


Tulisan ini sudah di baca 143 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/454-Bahasa-Sastra-Bahasa-Bunga.html