drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 6

Bahasa dan Kecelakaan


Oleh : drh.chaidir, MM

Jangan main-main dengan bahasa. Sebuah game (permainan) menarik yang diikuti oleh peserta outbound training Anggota DPRD Riau beberapa hari lalu, di kawasan lido, Sukabumi, Jawa Barat, setidaknya membuktikan hal itu. Seorang leader (pemimpin) yang ditugasi memberikan perintah, duduk di bawah sebuah ember yang berisi penuh air. Ember itu dihubungkan dengan sebuah tali ke dalam suatu lintasan sulit yang penuh rintangan dan perangkap. Seorang pemain lain dengan mata tertutup harus bergerak melalui lintasan tersebut berbekal instruksi akurat dari sang pemimpin yang duduk di bawah ember di ujung lintasan. Sekali salah perintah dan pemain yang melintasi lintasan bergerak salah, maka perangkap akan berkerja dan air dalam ember secara otomatis akan tumpah tiba-tiba. Dan korban pun jatuh sang pemimpin basah kuyup hanya karena tidak akurat menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi.

Kecelakaan dalam sebuah game tentu menimbulkan efek meriah. Tetapi kecelakaan diplomatik dalam sebuah pertemuan sangat penting tentu membawa konsekuensi yang tidak mengenakkan. Dan itu terjadi bukan karena sebuah mobil diplomat menyerempet orang di jalan, atau berkelahinya dua orang diplomat, tapi karena ulah bahasa. Ulah bahasa? Ya ulah bahasa. Itulah yang terjadi di Belgia beberapa hari lalu dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi pemimpin-pemimpin Uni Eropa (UE)55), ketika 25 pemimpin Negara maju yang tergabung dalam UE berkumpul membicarakan isu-isu strategis.

Presiden Prancis Jacques Chirac memutuskan walk oot /(keluar meninggalkan sidang) ketika Presiden Federasi Serikat Pekerja UE Ernest-Antoine Seilliere, warga Prancis mewakili pekerja UE pidato dalam bahasa Inggris. "Mewakili 20 juta pekerja di 39 organisasi yang tersebar di 33 negara Eropa, saya akan berbicara dalam bahasa Inggris," ujar Antoine Seilliere. Chirac tersinggung rasa patriotismenya, protes, dan kemudian meninggalkan ruang sidang. Sebagaimana disiarkan oleh beberapa koran nasional, aksi Presiden Prancis ini kemudian diikuti oleh Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi, kemudian ikut pula walk out Menteri Keuangan Prancis, Thierry Breton dan Menteri Luar Negeri Philippe Douste-Blazy. Untung amuk Chirac tidak berkepanjangan karena dia kembali masuk setelah Presiden Bank Sentral Eropa, Jean-Claude Trichet (yang orang Prancis) berpidato dalam bahasa Prancis.

Kendati tidak diatur secara resmi, semula bahasa utama yang digunakan dalam pertemuan-pertemuan UE memang bahasa Prancis. Namun dengan keanggotaan UE yang semakin majemuk, bahasa Inggris kemudian lebih banyak digunakan. Ketersinggungan Chirac barangkali karena merasa Antoine Seilliere adalah asli anak jati diri Prancis, kenapa mesti berpidato dalam bahasa Inggris. Chirac nampaknya tak peduli walau dalam European Summit tersebut juga hadir Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Rasa nasionalisme Chirac nampaknya tertantang. Que sera sera. 5)

Persoalan Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi yang ikut solider, kita tentu tidak heran. Sebab beberapa kalangan masyarakat di Italia juga menunjukkan persaingan dengan Inggris. Adakah persaingan dalam Perang Dunia II masih berbekas? Entahlah. Yang pasti persaingan itu diungkapkan dalam sebuah kalimat, "Italia dan inggris dipisahkan oleh bahasa dan sepakbola", walaupun mereka sama-sama Eropa. Kompetisi sepak bola Liga Primer di Inggris dan Serie A di Italia memang bersaing untuk menjadi yang terhebat di dunia. Klub-klub ternama di Liga Primer seperti Manchester United, Arsenal, Liverpool, Chelsea, dan lain-lain selalu bersaing prestasi dan prestise dengan klub-klub tangguh dari Serie A seperti Juventus, AC Milan, Intermilan, AS Roma, Lazio dan lain-lain. Dan, orang Italia pun, seperti orang Prancis, kurang suka menggunakan bahasa Inggris.

Bahasa memang menunjukkan bangsa. Bangsa Prancis menggunakan bahasa Prancis, bangsa Italia menggunakan bahasa Italia, bangsa Jerman menggunakan bahasa Jerman, dan bangsa Inggris menggunakan bahasa Inggris. Di Asia misalnya, Jepang kukuh dengan bahasa Jepangnya, demikian pula Korea, China dan Thailand, mereka tidak ambil peduli dengan bahasa asing. Namun di perbatasan Italia utara dan Prancis Selatan memang terjadi asimilasi bahasa. Mereka mahir menggunakan bahasa Prancis dan Italia sekaligus.

Bahasa adalah elemen terpenting dari komunikasi dan dunia akademis. Oleh karenanya kemampuan verbal menjadi salah satu aspek penting dalam menguji potensi akademis seseorang. Kemampuan verbal yang kuat memiliki korelasi dengan kemampuan akademis, demikian sebaliknya. Semakin bagus kemampuan verbal semakin ada jaminan seseorang akan mampu membangun komunikasi dengan baik dengan lingkungannya. Seberapa canggih pun alat komunikasi tetap menggunakan bahasa sebagai jiwanya. Komputer memerlukan bahasa computer, dunia intelijen memerlukan bahasa sandi. Tidak dapat disangkal bahasa memainkan peranan penting dalam pertumbuhan sebuah bangsa. Tanpa bahasa, kehidupan masyarakat yang lebih bermartabat dan tingkat kebudayaan lebih tinggi akan menjadi sesuatu yang mustahil. Bahasalah yang memungkinkan masing-masing indivisu dapat mengungkapkan gagasannya secara benar. Maka hambatan komunikasi sering terjadi karena lemahnya penguasaan bahasa.

Tidak tercatat dengan jelas siapa yang menemukan bahasa. Tetapi yang pasti bahasa ada karena ada makhluk lain. Bahasa timbul dari kebutuhan individu sebagai anggota komunitas, bahasa bukan penemuan yang diperoleh satu orang. Dalam beberapa buku sejarah disebutkan sejak ditemukannya simbol tulisan, orang-orang Semidah yang pertama melahirkan prosa dan syair, yang menuliskannya dan mengabadikannya pada tanah liat untuk anak cucu. Mereka mendirikan Edubba (perpustakaan) pertama di dunia dimana mereka menyimpan banyak koleksi teks ilmiah, perdagangan, dan sejarah, begitu juga sastra, agama, dan hukum.

Dalam beberapa ensiklopedi disebutkan pengertian bahasa adalah kumpulan kata-kata, arti kata yang standar, dan bentuk-bentuk ucapan yang digunakan sebagai metode komunikasi. Bahasa juga bisa dipahami sebagai cara menyatakan isi kesadaran (perasaan, emosi, keinginan, pikiran).
Penyandang (pengguna) bahasa adalah manusia. Karena manusialah yang menggunakan bentuk-bentuk ucapan sebagai metode komunikasi. Hewan tidak. Mereka hanya menghasilkan bunyi.

Dalam pergaulan internasional dimana seakan tak ada lagi batas antara satu negara dengan negara lain, dan ketika penguasaan bahasa asing menjadi tuntutan yang tak terelakkan untuk menga-tasi hambatan komunikasi dalam rangka merebut peluang dalam persaingan, sikap Presiden Prancis Jacques Chirac dan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi itu, menarik untuk dicermati.

Agaknya itu bukan masalah penguasaan bahasa Inggris, kendati kefasihan berbahasa selalu diidentikkan dengan ketepa-tan, ketelitian, atau kejelasan. Chirac sendiri konon sangat fasih berbahasa Inggris karena pernah lama tinggal di Amerika Serikat. Lagi pula, di forum penting seperti itu tentu tersedia cukup banyak inferpreter handal, sehingga tak ada masalah menggunakan bahasa apapun. Itu agaknya masalah chauvinisme semata.

Kesadaran kita, kebanggaan terhadap bahasa sendiri merupakan bagian penting dari nasionalisme, tetapi untuk sebuah negeri yang sedang berjuang keluar menjauh dari wilayah krisis, semangat seperti itu agaknya perlu dipandang dengan menyipitkan mata. Janganlah hendaknya sampai terjadi, karena kesembronoan menggunakan bahasa sendiri, menimbulkan luka yang tidak perlu.

Bahasa Indonesia harus kita kembalikan kepada keindahannya sehingga menghasilkan prosa dan syair yang indah. Kalau pun digunakan sebagai alat komunikasi, maka wujudnya pun komunikasi yang santun.

560) Uni Eropa, berawal dari pembentukan organisasi European Community pada 1967 beranggotakan negara-negara Eropa Barat. Dikenal juga organisasi masyarakat Ekonomi Eropa (European Economic Community-EEC) yang dibentuk berdasarkan perjanjian Roma pada 1957.

561 Que Sera-sera, Spanyol.maksudnya, apa yang terjadi terjadilah

(Tabloid MENTARI No.232/Th V/28 Maret-8 April 2006)


Tulisan ini sudah di baca 161 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/453-Bahasa-dan-Kecelakaan.html