drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 6

Seniman di Panggung Politik


Oleh : drh.chaidir, MM

Bintang film "Si Tukang Insinyur"52) Rano Karno, mulai melirik panggung politik. Posisi yang diteropong tidak tanggung-tanggung: Nakhoda DKI Jakarta. Menjadi Gubernur Kepala Daerah sebuah megapolitan seperti Jakarta, ibu kota sebuah negeri empat besar di dunia dalam jumlah penduduk (setelah China, India dan Amerika), tentu amatlah berat dan prestisius.

Mimpikah Rano? Tidak. Kecenderungan yang terjadi dalam pilkada langsung, semua kandidat berpeluang untuk terpilih atau tidak terpilih, tak kira calon dari partai besar atau kecil. Dukungan nama besar sebuah partai politik pendukung yang mengusung seorang calon, tidak memiliki korelasi dengan perolehan suara sang calon. Artinya, calon yang diusung oleh sebuah parpol besar atau koalisi parpol besar, walaupun hitung-hitungan di atas kertas ber-peluang besar untuk keluar sebagai pemenang, pada kenyataannya belum tentu demikian. Popularitas tokoh adalah syarat nomor satu untuk kemungkinan terpilih, syarat lain hanya nomor dua.

Rano memiliki popularitas itu. Maka, ketika namanya disebut-sebut, bakal calon lainnya mulai berdebar-debar. Tidak adanya ko-relasi antara parpol pendukung dengan perolehan suara, diperkuat oleh asumsi, masyarakat pemilih tidak mau lagi didikte dalam menentukan pilihan. Bahkan sudah diketahui secara umum, pemilih tetap mengangakan dompet bila sang calon menebar fulus, atau menebar pesona, tetapi masalah pilihan di kotak suara, itu masalah hati nurani. Dan hati nurani tak bisa dikelabui. Apakah, fulus yes coblos no itu tidak termasuk wilayah perselingkuhan politik? Tak akan ada yang mempedulikannya. Pilkada adalah "rezeki" dalam siklus lima tahunan, anggap sajalah penebaran fulus itu saudaranya Bantuan Langsung Tunai. Habis perkara. Siapa suruh?

Bila dalam suatu pemilihan umum, Rano Karno dihadapkan vis-a-vis dengan politisi murni apalagi seorang pensiunan misalnya, saya pegang Rano. Popularitasnya sebagai icon putra asli Betawi dalam film "Si Doel Anak Sekolahan" tentu akan sangat membantu dalam pemilihan. Rano tidak perlu lagi sosialisasi diri (sebenarnya sosialisasi ini tidak lain dari bentuk legalisasi curi start). Sebut saja Rano, orang sudah tahu. Kecenderungan signifikannya popularitas pribadi dalam memenangkan seseorang dalam pemilihan umum, sebenarnya sudah mulai terlihat dalam pemilihan Presiden RI dan pemilu legislatif pada 2004. Kandidat Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang diusung oleh partai kecil (Partai Demokrat), mengalahkan Incumbent Megawati Soekarnoputri yang diusung oleh koalisi dua partai besar (koalisi Partai Golkar dan PDIP).

Dalam pemilu legislatif tahun 2004 itu pula, beberapa orang seniman film dan selebritis terpilih menjadi Anggota DPR-RI. Angelina Sondakh, Ajie Massaid dan Komar, ketiganya dari Partai Demokrat, Marissa Haque (PDI Perjuangan) dan Dede Yusuf (PAN) terpilih di daerah pemilihannya. Mereka melenggang ke gedung parlemen tanpa harus membina karir di partai politik dari bawah atau ikut penggalangan dari kampung ke kampung. Berbekal popularitas dan personaliti, mereka langsung jadi, apalagi pada dasarnya mereka adalah intelektual dan sudah memiliki wawasan minimal yang diperlukan untuk menjadi seorang anggota parlemen. Sebelumnya, ada nama bintang film Sopan Sophian yang juga sempat duduk sebagai anggota parlemen dari PDI Perjuangan.

Sebenarnya masih ada nama bintang film lainnya yang memasuki panggung politik, tapi gagal menempatkan diri dalam supra struktur. Nurul Arifin, misalnya, tidak mampu menggeser hegemoni kader-kader senior Partai Golkar sehingga tidak menempati nomor aman dalam daftar calon legislatif. Anwar Fuadi pula, gagal dalam suksesi pemilihan Gubernur Sumatera Selatan.

Memang terlalu gegabah mengatakan era politisi murni sudah lewat, tetapi kecenderungan yang terjadi dalam pemilu legislatif 2004 dan kemudian diikuti dengan pilkada di berbagai daerah, memberi indikasi, yang sedang naik daun kellhatannya politisi pengusaha dan artis yang politisi. Yang disebut terakhir, agaknya, bahkan lebih berada di atas angin, karena ternyata uang bukan segalanya bagi pemilih.

Sebenarnya, seniman atau bintang film di panggung politik tidak lagi aneh semenjak Ronald Reagan terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-40 pada 1981 dan terpilih kembali untuk periode kedua pada 1985. Reagan sebelumnya bahkan telah menduduki jabatan Gubernur Negara Bagian California dua periode sejak terpilih tahun 1966. Di Negara Bagian ini pula 37 tahun kemudian, pada 2003, superstar Hollywood, Arnold Schwarzeneger, yang sukses dengan film Terminator, terpilih menjadi Gubernur yang ke-38. Di Amerika juga, aktor Hollywood lainnya, Glint Eastwood juga pernah terpilih menjadi Walikota.

Pada kawasan atau negara lain, kehadiran para selebritis atau seniman di panggung politik tak kalah gencarnya. Di Filipina bintang film Estrada terpilih menjadi Presiden. Negara itu juga mencatat nama Fernando Jr yang berkibar di panggung politik. Di Italia bahkan ada tokoh politik - anggota parlemen - yang berlatar belakang bintang film porno.

Andai seniman non artis film, seperti sastrawan, pelukis, perupa, dramawan, kita masukkan dalam satu kelompok, maka deretan seniman yang berkibar di panggung politik akan panjang sekali. Selain Vaclav Havel 54), sastrawan dan budayawan yang terpilih menjadi Presiden di Cekoslowakia, ada pula sastrawan pemenang Nobel sastra Pablo Neruda55) di Chili yang menjadi pemimpin komunis di negeri itu dan kemudian menjadi diplomat. Dan jangan lupa, pendiri Partai Nazi di Jerman, sang dikator mantan Kanselir Jerman, Adolf Hitier pun harus kita masukkan, karena ia juga seniman dan calon mahasiswa akademi seni yang gagal.

Bila kita menjenguk bilik sejarah, kehadiran para seniman (artis secara umum) di panggung politik atau pemerintahan bukanlah barang baru. Tokoh-tokoh istana Cina, Yunani, atau negara-negara yang memiiiki peradaban tinggi di masa lampau tidak sedikit yang berasal dari seniman khususnya sastrawan. Pada masa lalu, seniman/sastrawan merupakan kalangan terhormat dan intelek. Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno, pada dasarnya adalah juga seorang intelektual dan seniman.

Apa alasan para seniman itu merambah ke panggung politik setelah mereka malang melintang di panggung seni? Entahlah. Atau mungkin mereka memiliki pemahaman bahwa rakyat atau bahkan demokrasi itu sendiri, adalah sebuah "takdir." "Takdir" politik seperti yang dikatakan Nixon, selalu datang kepada siapa yang mampu "berpuisi" lebih baik (yang lebih kuat menawarkan pe-nyejuk atau kamuflase, atau sesuatu yang secara lahiriah menghibur penderitaan menahun). Para seniman, paling tidak menurut mereka, mampu melakukan ini. Adalah sebuah fakta bahwa politisasi yang berlebihan, elaborasi program yang nyinyir dan menjemukan, dan hal sejenis, bagi rakyat adalah sesuatu yang memusingkan, bahkan untuk publik sekelas Amerika sekali pun. Skandal seks Clinton-Monica Lewinsky atau Kennedy-Marilyn Monroe, adalah sebuah contoh, betapa program bisa menjadi nomor sekian.

Panggung politik dan panggung seni sesungguhnya memiliki keterkaitan. Paling tidak dalam sebuah hubungan, bahwa politik adalah sebuah seni. Politik sering disebut seni mengatur dan mengurus negara dan ilmu kenegaraan. Politik adalah cara bertindak. Dalam arti yang lebih luas politik diartikan sebagai cara atau kebijaksanaan (policy) untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya politik ekonomi, politik pendidikan, dan sebagainya.

Tidak ada salahnya seniman merambah panggung politik, yang runyam adalah bila politisi merambah panggung seni.

* Pablo Neruda, (1904-73), nama lengkapnya Neftali Ricardo Reyes Basualto. Sastrawan Chili, pemenang Nobel Sastra 1971.
52) Tukang Insinyur, plesetan dalam masyarakat Betawi untuk Rano Karno yang berperan sebagai insinyur pertanian dalam sinetron "Si Doel Anak Sekolahan".
* Vaclav Havel, sastrawan dan budayawan Cekoslovakia, presiden pertama Republik Cekoslovakia sekaligus presiden terakhir, karena Cekoslavakia kemudian pecah menjadi dua negara yakni Republik Ceko dan Republik Slovakia.

(Tabloid MENTARI No.230/Th V/6-12 Maret 2006)


Tulisan ini sudah di baca 143 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/452-Seniman-di-Panggung-Politik.html