drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 6

Menumpang Kasih Pada Pak Tenas


Oleh : drh.chaidir, MM

“KURANG HALAMAN 382-384”

Dalam sambutan pembuka studium generate 51), Profesor DR Hashim Awang, Pengarah Akademi Pengajian Melayu Universiti Malaya menyebutkan bahwa sudah menjadi tradisi akademis lembaga ini mengundang tokoh-tokoh pilihan untuk memberikan orasi. Dan Tenas Effendy adalah tokoh yang keempat. Tiga tokoh sebelumnya yang pernah menyampaikan orasi kehormatan beberapa tahun yang lalu adalah budayawan dan intelektual Malaysia, Allahyarham Tan Sri Zainal Abidin Ahmad (Za'ba), Tun Datuk Patinggi Abdul Rahman Ya'kub dan Allahyarham Prof Tan Sri Datuk Ahmad Muhamed Ibrahim.

Untuk memberikan penghormatan bagi Allahyarham Tan Sri Zainal Abidin Ahmad (Za'ba) yang menggagas forum (majelis) ini, maka majelis inipun diberi nama "Majlis Syarahan Za'ba." Yang membanggakan, Universiti Malaya juga membuka pameran pada ruangan lain yang memamerkan buku-buku dan VCD orasi Tenas Effendy.

Dalam pengamatan saya, kesempatan itu diberikan untuk menghormati penganugerahan Doktor Honoris Causa di bidang persuratan (kesusastraan) oleh Universiti Kebangsaan Malaysia kepada Pak Tenas pada 17 September 2005 sehari kemudian. Anugerah itu, sebagaimana dikatakan Prof DR Datuk Abdul Latiff Abu Bakar, tidak sembarangan, kalau bukan karena dedikasi dan prestasi yang luar biasa, tidaklah mungkin Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) akan memberikannya. Oleh karena itulah menurut Prof Abdul Latiff, Pak Tenas akan berkeliling Malaysia menjelang akhir bulan ini untuk menyampaikan orasi kebudayaan. Mulai dari Melaka, Perak, Sabah, Kelantan, Terengganu, dan dibeberapa Negara Bagian lainnya. "Kami menumpang kasih pada Pak Tenas," kata Prof Abdul Latiff merendah.

Bagi orang Riau dan rantau semenanjung Asia Tenggara, nama Tenas Effendy, adalah sebuah nama yang sangat dikenal, terutama mereka-mereka yang bergelut dalam bidang kebudayaan. Pengetahuan dan pemahamannya yang luas, menjadikan pula dirinya semacam ensiklopedia, khususnya bagi orang yang ingin bermesra-mesra dengan dunia Melayu.

Selain membaktikan segenap kemampuannya pada dunia adat dan kebudayaan, Tenas Effendy juga seorang penulis yang sangat produktif. Sampai saat ini tidak kurang dari 79 buah buku telah diterbitkannya. Sebagian besar buku tersebut justru diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur, Malaysia. Beberapa judul buku Tenas Effendy misalnya, Tunjuk Ajar Melayu (butir-butir Budaya Melayu Riau) yang menjadi masterpieceTenas Effendy, Pemimpin Dalam Ungkapan Melayu, Ragam Pantun Melayu, Bujang Tan Domang (Sastra Lisan Adat Petalangan), Ungkapan Tradisional Melayu Riau, dan lain-lain. Beberapa bukunya telah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris.

Buku-buku Tenas Effendy umumnya memuat tentang tunjuk-ajar, mengenai pantun, tentang sopan santun, tentang adat perkawinan, dan juga cerita-cerita rakyat. Buku-bukunya juga banyak berbicara tentang hal-hal yang patut dan tidak patut, kewajiban anak negeri untuk senantiasa amanah, bernndak ke arah yang baik dan tidak bertindak ke arah yang jahat.

Sadar akan betapa besarnya kapasitas Tenas Effendy dalam bidang kebudayaan Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia tidak segan-segan membuka Pangkalan Data khusus Tenas Effendy pada situs www.malaysivilization.com yang dikelola oleh Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) yang bernaung dibawah universitas tersebut. Siapapun yang mengakses website ini akan menjumpai dari a sampai z karya-karya Tenas Effendy. Oleh karenanya, ketika suatu siang Pak Tenas memberi kabar bahwa dia mendapat anugerah Ijazah Kehormatan Doktor Persuratan (Doktor Honoris Causa) dari Universiti Kebangsaan Malaysia, saya tidak terkejut. Pak Tenas memang layak dan pantas mendapatkannya.

Tenas Effendy, dalam pandangan saya, adalah seorang tokoh yang patut mendapatkan tempat khusus dalam perjalanan perkembangan Melayu. Pada dirinya, kita seakan-akan menemukan sosok Melayu secara utuh. Sebagai orang Melayu dia betul-betul tegak dan tampil sebagaimana Melayu semestinya. Dalam diri seorang Tenas Effendy, dapat ditemukan sosok positif orang Melayu, sep-erti yang pernah dikatakan oleh dua orang pencatat berkebangsaan Portugis, Duarte Barbarosa dan Emanuel Ghodino de Eredia sebagaimana diungkapkan Hassan Junus dalam bukunya Karena Emas Di Bunga Lautan: "Orang Melayu adalah seorang muslim yang taat menjalankan perintah agamanya, lebih suka tinggal diluar kota dalam rumah-rumah besar yang dikelilingi pepohonan. Mereka menyenangi musik dan sangat mendalam-dalam berkasih sayang..... memiliki sekra yang baik dalam hal berpakaian, cukup apresiatif dan menggembirakan dalam menjalin hubungan persahabatan."

Gambaran itu yang saya rasakan dari sosok seorang Tenas Effendy, rumahnya yang besar di Pasir Putin, sangat bercita-rasa Melayu, halamannya luas dipenuhi bunga dan pepohonan, terkesan asri dan sejuk. Dalam berpakaian pun Pak Tenas selalu tampil dengan busana Melayu.
Meski seorang tokoh Melayu yang kesehariannya identik dengan semangat kemelayuan, Tenas Effendy merupakan tokoh yang sangat toleran dengan kebudayaan di luar Melayu. Setiap ada persoalan yang berhubungan dengan dinamika kebudayaan, Tenas Effendy, selalu berusaha di garis depan dalam menyelesaikannya. Sikap ini, saya kira, didorong oleh pemahamannya yang demikian luas tentang kemelayuan itu sendiri. Bagi orang Melayu, yang kemelayuannya sudah sampai ke batas "makrifat" seperti Tenas Effendy, segala sesuatu selalu bermuara pada kemuliaan.

Tenas Effendy memang patut kita sebut tokoh. la berbuat sebagaimana mestinya seorang tokoh. Dalam kearifan lama, seorang tokoh adalah ibarat laut sekaligus mercusuar yang kesepian. la harus berlapang dada, mampu menghidupkan hati, tak pernah mengeluh dalam kesunyian, sanggup menerima dan memangku amanah, tidak berpihak pada satu pihak, membentangkan dirinya secara adil bagi setiap pantai. Tenas Effendy sebagai tokoh Melayu, telah melakukan perannya sebagai laut dan mercusuar dengan sebaik-baiknya.

Konfusius mengatakan seorang pembunuh biasa, membunuh dengan lidahnya, seorang pembunuh yang hebat membunuh dengan penanya, tapi pena bagi Pak Tenas tidak pernah dipergunakan untuk membunuh, justru selalu dipergunakannya untuk menghidupkan hati.

511 Stadium generate, Latin, kuliah umum. 384

(Tabloid MENTARI No.212/Th IV/19-25 September 2005)


Tulisan ini sudah di baca 123 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/451-Menumpang-Kasih-Pada-Pak-Tenas.html