drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 6

Wabah Nyanyah


Oleh : drh.chaidir, MM

ANAK saya Chaleed (8) menelpon mamanya minta dibelikan oleh-oleh. Sebenarnya itu sudah biasa. Yang tidak biasa adalah ketika dia minta mamanya membuat deal: suaiii... ? Mamanya pun menjawab: suaaiii ... 49) (persetujuan) pun terjadi. Saya sungguh tidak bisa menahan tawa. Dua beranak ini sudah dipastikan sudah terkena "Wabah NYANYAH."50

Riau kini memang dilanda wabah NYANYAH. Bahkan kalau cuaca tak menentu, seluruh Sumatera nampaknya akan segera terjangkit. Tanda-tanda ke arah itu sudah terdengar sayup-sayup, walaupun nyaris tak terdengar. Beberapa kawan seperjuangan di Kalimantan dan Sulawesi pun ikut-ikutan mulai tercemar wabah NYANYAH. Tak ketingggalan, Anggota DPRD Riau pun sudah ikut tertular. Mereka kelihatannya mulai mengganti koor "setuju" dengan "suaaiii..."

Bagi anda yang belum tahu apa itu NYANYAH,....keciaaan deh lu.. Cepat cari informasi. Bagi yang sudah tahu cepat kirim SMS sebelum dilarang oleh NYANYAH. Grup lawak yang baru saja lolos audisi dan sekarang bertarung di ajang API (Audisi Pelawak Indonesia) Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) ini, bukan main pedenya saat beraudiensi ke kantor saya. "Kalau abang mau bantu, bantu sekarang, kalau nanti kami sudah top tak ada gunanya lagi.... suaiii?" Saya pun langsung jawab, suaiiii.. ..dan kenaklah saya!!

Kehadiran grup lawak NYANYAH dari Riau dalam API TPI telah membawa suasana baru dalam dunia perlawakan, mereka selalu tampil dengan idiom-idiom Melayu yang dibawakan secara kocak namun bisa dimengerti khalayak. Mereka berani berimprovisasi dan memperkenalkan sebuah trade mark dengan menggunakan kata "suaiii", demikian hebatnya daya pikat kata suai ini, hingga grup ini lebih dikenal sebagai grup suai daripada NYANYAH. "Suai" adalah bahasa prokem dari kata "sesuai" yang cukup populer dalam masyarakat Melayu. Suai artinya sesuai, setuju, sependapat, cocok, atau kira-kira sama dengan agree atau deal dalam bahasa Inggeris. Agaknya karena tampil khas itulah dukungan SMS terhadap grup NYANYAH pada putaran pertama tercatat paling tinggi dari dukungan yang pernah ada terhadap grup lawak yang ikut API TPI.

Dari pemantauan saya di lapangan, masyarakat Riau ternyata mendukung dengan gegap gempita munculnya grup ini. Meski disebut dari Pekanbaru, orang Bengkalis, Rengat, Rokan, Indragiri, Kampar, Siak, Pelalawan, Dumai, atau hampir seluruh daerah di Riau, memandangnya sebagai diri sendiri. Orang Riau seakan menemukan semangat yang sangat besar pada penampilan NYANYAH (seperti menemukan kembali jiwa -bukan batang- yang terendam). Bahkan kabarnya tidak hanya orang Riau, tapi puak-puak Melayu Indonesia, seperti Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Sumsel, Jambi, Bengkulu, Medan, Kalimantan dan lain-lain, ikut pula memberikan dukungan lewat SMS. Saya mungkin berlebihan, tapi semogalah apa yang saya ungkapkan ini tidak salah semuanya.

Setiap kali NYANYAH muncul, saya selalu berusaha menonton dan mengirimkan SMS sebisanya. Ini dilakukan bukan semata mendukung NYANYAH, tapi lebih kepada sebuah panggilan. Membuat orang tertawa untuk sejenak melupakan permasalahan yang dihadapi pada hemat saya adalah sesuatu yang terpuji. Sebagai orang politik, tentulah tidak dilarang menertawakan politik atau sekali-sekali mempolitikkan tertawa. Secara kebetulan saya menerbitkan sebuah buku humor yang diberi judul "Chaidir Menertawakan Chaidir". Tulisan ini dirangkum dari keseharian kehidupan penulis, penuh dengan hal-hal yang menggelikan. Saya tentu belum berani mengatakan sebagai pelanjut tradisi kelakar Melayu, tapi yang jelas saya tak ingin hal-hal yang membuat saya tersenyum, tertawa, dan sekaligus tersadar itu, luput begitu saja dari ingatan. Paling tidak dengan menulis hal-hal yang dianggap lucu, konyol, atau mungkin menggembirakan itu, ada sesuatu yang tercecer dan bermanfaat bagi siapapun yang menemukannya.

Lewat kelakar seseorang juga secara lugas dapat menertawakan diri atas kesalahan-kesalahan yang dibuat, atau kekalahan-kekalahan yang diderita, seperti halnya dengan buku "Chaidir Menertawakan Chaidir" itu. Syukur-syukur ada orang lain yang ikut tertawa dan terhibur.

Dalam tradisi Melayu, kita juga sudah mengenal, dunia kelakar atau humor merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseharian. Pada hari memasak, dalam pesta nikah-kawin, misalnya, orang-orang Melayu bekerja sambil melempar sindir yang lucu atau berbalas joke-joke segar, Begitu juga ketika mereka bersembang-sembang, selalu saja gelak-tawa berhamburan. Realitas ini terdedah pula dalam kegiatan intelektual dan kesusastraan, sebagaimana yang pernah kita saksikan, baca, dan simak dalam pantun-pantun jenaka, dalam kisah pak Pandir, atau Lebai Malang. Makanya nama-nama pengelakar, seperti halnya Yung Dollah, selalu ada di bibir dan menjadi sesuatu yang selalu lekat dalam ingatan. Ini juga yang dikatakan oleh antropolog, James Dananjaya, bahwa dalam tradisi, atau folklore, yang berkembang dalam masyarakat kita, dunia kelakar, menjadi bagian penting di dalamnya.

Memang, ada pihak-pihak yang mengatakan, bahwa sebuah tawa bermula dari keinginan yang keras membunuh tangis. Beberapa psikolog mengatakan, bahwa tawa merupakan salah satu upaya manusia untuk melupakan penderitaan dahsyat yang sedang terjadi, sebuah upaya memahami penderitaan dengan cara menidakkannya, meremehkannya, atau untuk melupakannya sama sekali. Pada kasus-kasus tertentu, sinyalemen ini mungkin saja benar, tapi jika kita menjenguk dalam tradisi Melayu yang terentang panjang, dunia kelakar, sepertinya memang menjadi sesuatu yang inheren. Kita bisa lihat dalam sejumlah kesenian dan tradisi permainan.

Meskipun masyarakat Melayu terkenal sebagai masyarakat yang humoris, namun di Riau perkembangan dunia kelakar mengalami pasang surut, dan anehnya tak banyak muncul kelompok-kelompok pengelakar yang terkenal. Selain Yung Dollah (jika nama ini hendak kita masukkan dalam kategori pengelakar, meski sejatinya bukan), kita hampir sulit mencatat munculnya pengelakar yang piawai. Kelompok pelawak yang mungkin dapat kita catat adalah Semekot Group yang dimotori oleh Otong Lenon, Fakhri dan Udin. Namun demikian beberapa intelektual kita sesungguhnya cukup mewarisi sense of humor, sebut saja Prof Muchtar Ahmad, Prof Tabrani Rab, Fakhrunnas MA Jabbar, mereka bahkan pernah ingin mendirikan Lembaga Humor Indonesia cabang Riau. Pada masa lampau kita juga menemukan kisah-kisah jenaka yang ditulis sastrawan Soeman Hs dalam cerpen-cerpennya.

NYANYAH (seperti menemukan kembali jiwa - bukan batang - yang terendam). Bahkan kabarnya tidak hanya orang Riau, tapi puak-puak Melayu Indonesia, seperti Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Sumsel, Jambi, Bengkulu, Medan, Kalimantan dan lain-lain, ikut pula memberikan dukungan lewat SMS. Saya mungkin berlebihan, tapi semogalah apa yang saya ungkapkan ini tidak salah semuanya.

Setiap kali NYANYAH muncul, saya selalu berusaha menonton dan mengirimkan SMS sebisanya. Ini dilakukan bukan semata mendukung NYANYAH, tapi lebih kepada sebuah panggilan. Membuat orang tertawa untuk sejenak melupakan permasalahan yang dihadapi pada hemat saya adalah sesuatu yang terpuji. Sebagai orang politik, tentulah tidak dilarang menertawakan politik atau sekali-sekali mempolitikkan tertawa. Secara kebetulan saya menerbitkan sebuah buku humor yang diberi judul "Chaidir Menertawakan Chaidir". Tulisan ini dirangkum dari keseharian kehidupan penulis, penuh dengan hal-hal yang menggelikan. Saya tentu belum berani mengatakan sebagai pelanjut tradisi kelakar Melayu, tapi yang jelas saya tak ingin hal-hal yang membuat saya tersenyum, tertawa, dan sekaligus tersadar itu, luput begitu saja dari ingatan. Paling tidak dengan menulis hal-hal yang dianggap lucu, konyol, atau mungkin menggembirakan itu, ada sesuatu yang tercecer dan bermanfaat bagi siapapun yang menemukannya.

Lewat kelakar seseorang juga secara lugas dapat menertawakan diri atas kesalahan-kesalahan yang dibuat, atau kekalahan-kekalahan yang diderita, seperti halnya dengan buku "Chaidir Menertawakan Chaidir" itu. Syukur-syukur ada orang lain yang ikut tertawa dan terhibur.

Dalam tradisi Melayu, kita juga sudah mengenal, dunia kelakar atau humor merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseharian. Pada hari memasak, dalam pesta nikah-kawin, misalnya, orang-orang Melayu bekerja sambil melempar sindir yang lucu atau berbalas joke-joke segar, Begitu juga ketika mereka bersembang-sembang, selalu saja gelak-tawa berhamburan. Realitas ini terdedah pula dalam kegiatan intelektual dan kesusastraan, sebagaimana yang pernah kita saksikan, baca, dan simak dalam pantun-pantun jenaka, dalam kisah pak Pandir, atau Lebai Malang. Makanya nama-nama pengelakar, seperti halnya Yung Dollah, selalu ada di bibir dan menjadi sesuatu yang selalu lekat dalam ingatan. Ini juga yang dikatakan oleh antropolog, James Dananjaya, bahwa dalam tradisi, atau folklore, yang berkembang dalam masyarakat kita, dunia kelakar, menjadi bagian penting di dalamnya.

Memang, ada pihak-pihak yang mengatakan, bahwa sebuah tawa bermula dari keinginan yang keras membunuh tangis. Beberapa psikolog mengatakan, bahwa tawa merupakan salah satu upaya manusia untuk melupakan penderitaan dahsyat yang sedang terjadi, sebuah upaya memahami penderitaan dengan cara menidakkannya, meremehkannya, atau untuk melupakannya sama sekali. Pada kasus-kasus tertentu, sinyalemen ini mungkin saja benar, tapi jika kita menjenguk dalam tradisi Melayu yang terentang panjang, dunia kelakar, sepertinya memang menjadi sesuatu yang inheren. Kita bisa lihat dalam sejumlah kesenian dan tradisi permainan.

Meskipun masyarakat Ivieiayu terkenai sebagai masyarakat yang humoris, namun di Riau perkembangan dunia kelakar men-galami pasang surut, dan anehnya tak banyak muncul kelompok-kelompok pengelakar yang terkenai. Selain Yung Dollah (jika nama ini hendak kita masukkan dalam kategori pengelakar, meski sejatinya bukan), kita hampir sulit mencatat munculnya pengelakar yang piawai. Kelompok pelawak yang mungkin dapat kita catat adalah Semekot Group yang dimotori oleh Otong Lenon, Fakhri dan Udin. Namun demikian beberapa intelektual kita sesungguhnya cukup mewarisi sense of humor, sebut saja Prof Muchtar Ahmad, Prof Tabrani Rab, Fakhrunnas MA Jabbar, mereka bahkan pernah ingin mendirikan Lembaga Humor Indonesia cabang Riau. Pada masa lampau kita juga menemukan kisah-kisah jenaka yang ditulis sastrawan Soeman Hs dalam cerpen-cerpennya. Dunia humor, pada hemat saya, merupakan sebuah dunia yang patut dikembangkan karena dunia ini menawarkan banyak hal kepada kita, serta memberikan pelajaran tanpa "rasa" melukai, dan kita menerimanya tanpa merasa ditikam. Ibarat hukum, kelakar selalu dapat menjadi hakim, dimana orang dapat menerima huku-man sebagai satu hal yang diharapkan bagi dirinya.

Kehadiran Grup NYANYAH, adalah sebuah catatan bagi kita, bahwa ternyata, lewat media humor, kita dapat secara bersama-sama menemukan diri, menemukan buhul persamaan, serta sekaligus menemukan sisi kebudayaan Melayu dalam batas-batas tertentu. Mari bersatu dalam humor, agar kita bisa menikmati kemerdekaan dengan tertawa dan menikmati tertawa dengan kemerdekaan.......... Suaiiii....?Suaai dong.

49) Suai, Melayu, maksudnya kira-kira setuju, sesuai, ok, deal.
50) NYANYAH, group lawak dari Riau, pemenang ke- 2 kontes lawak tingkat nasional yang diselenggarakan stasiun televisi TPI pada 2007.

(Tabloid MENTARI No.205/Th IV/ 25 - 31 Juli 2005)


Tulisan ini sudah di baca 206 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/450-Wabah-Nyanyah.html