drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 6

Istana Kampong Gelam


Oleh : drh.chaidir, MM

SINGAPURA tidak hanya Raffless. Inilah agaknya sesuatu yang ingin dibendangkan ke langit setidaknya oleh komunitas Melayu di Negeri Pulau yang kaya raya itu. Singapura adalah negeri berbilang kaum dan memanjakan semua kaum..Namun dari sekian etnis yang sekarang terbilang, tidak bisa dipungkiri, etnis Melayu adalah penduduk asli negeri itu. Sama halnya dengan etnis Melayu di semenanjung Malaya yang kini jadi Malaysia, Melayu di Kepulauan Riau, Melayu di Sumatera atau Melayu di Kalimantan atau Melayu di belahan bumi lainnya. Walau demikian, secara etnografi, analog-inya, barangkali Singapura tidak jauh beda dengan etnis Betawi di Jakarta atau etnis Melayu di Batam yang komposisinya secara relatif mengalami declining dan terlemahkan. Bukan karena populasinya fnenurun tapi karena pertumbuhannya kalah cepat dibandingkan dengan etnis lain. Demikian pula dalam peran.

Penulisan buku sejarah Singapura pada masa pemerintahan Lee Kwan Yew misalnya, semakin mengukuhkan kekalahan sejarah Melayu, khususnya ketika jejak-jejak sejarah Singapura dinyatakan bermula dari kegemilangan Raffless. Padahal ada saksi bisu Istana Kampong Gelam itu, yang dibangun oleh Sultan All, putra dari Sultan Hussein Shah 162 tahun yang lampau, atau sekitar 1840-an..

Menurut versi sejarah Melayu, konon Raja Tumasik (Singa-pura) Sultan Hussein Shah inilah yang menjadi awal kontroversi Melayu Singapura karena memberikan hak eksploitasi kepada Sir Thomas Stanford Raffless setelah menerima uang sebesar 50.000 Poundsterling sebagai kompensasi. Raffless kemudian membawa orang-orang Cina dan Keling ke sana sehingga akibatnya kepe-milikan Melayu terhadap tanah Singapura itu melemah hingga sekarang.

Di bilik sejarah disebutkan Sultan Hussein sebetulnya bukanlah sultan yang dikehendaki oleh Melayu, khususnya kerabat Riau Lingga. Makanya Engku Puteri Hamidah menolak menyerahkan Regalia (alat kebesaran penobatan diraja) sebagai tanda persetu-juan penabalan Hussein karena Hussein dianggap tidak berhak men)adi raja, sebab masih ada yang lain, meski ia juga anak raja. Namun sejarah tidak bisa dibohongi, Hussein dengan dukungan Raffless tetap ditabalkan sebagai Sultan Tumasik meski tak diakui oleh orang Melayu Riau, dan kompensasinya adalah Hussein harus menyerahkan persoalan ekonomi Singapura kepada Raffless. Maka, kalau hendak disebut pengikisan Melayu, riwayat itu bermula dari kontroversi penabalan ini.

Masa itu memang sudah lama berlalu. Dan kini, etnis Melayu sebagai etnis asli di Singapura telah menjadi minoritas, redup akibat riuhnya perkembangan dan perlombaan di kawasan itu. Kenyataan sejarah ini tak perlu disesali. Mereka agaknya tidak mau hanyut dalam romantisme masa silam. Orang Melayu Singapura kelihatannya sangat menyadari bahwa hidup tidak untuk masa lalu tapi untuk hari ini dan masa depan. Maka mereka mulai menggeliat. Dengan dana yang mereka peroleh dari Pemerintah sebesar 17 juta dolar Singapura atau hampir Rp 100 milyar, restorasi Istana Kampong Gelam pun selesai dilakukan dan sekarang menjadi sebuah museum Melayu yang cukup representatif.

Istana Kampong Gelam sebagai pusat Taman Warisan Melayu, agaknya menjadi simbol kebangkitan Melayu di Singapura. Meng-umpulkan bahan-bahan terpilih yang ditampilkan dalam museum di Istana Kampong Gelam tersebut tentulah bukan pekerjaan yang mudah. Tapi hasilnya memang mengesankan. Kini setiap tahun untuk belanja operasional TWM menghabiskan dana sekitar 800.000 dolar Singapura atau sekitar lima milyar Rupiah termasuk untuk personil. Dana itu disediakan oleh Pemerintah Singapura. Di samping itu mereka masih mendapatkan dana dalam bentuk grant dari pemerintah.

Saya beruntung diundang pada acara peresmian Taman Warisan Melayu (TWM) tersebut. Sebab saya bisa melihat dari dekat dan merasakan aura yang terpancar dari prosesi tersebut dan cerita-cerita latar geliat Melayu di Singapura. Saya memang sudah diberitahu jauh-jauh hari oleh kawan saya Encik Zainul Abidin Rasheed, Menten pada Kementenan Luar Negeri Singapura (orang kedua setelah Menteri Luar Negeri), ketika saya diundang menyak-sikan Konser Nusantara, bulan Desember tahun lalu di gedung konser Esplanade (gedung durian) Singapura. Encik Zainul Abidin Rasheed adalah Ketua Yayasan Kebudayaan Melayu Singapura.

Perdana Menteri Lee Shien Loong yang meresmikan Taman Wisata Melayu itu, datang tepat pukul 17.00 waktu setempat. PM mengenakan baju batik bermotif biru celana gelap. Saya sama sekali tidak menduga, PM ternyata duduk pada kursi biasa dalam satu deretan dengan kursi saya. Kursi saya dan PM hanya dipisah-kan oleh Ketua Malay Heritage Centre (Zainul Abidin Rasheed), Menteri Industri Perdagangan, dan Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin47). Di sebelah kanannya duduk Ketua Parlemen Singapura, Encik Abdullah Tarmugi dan beberapa tamu VIP lainnya. Kami semua duduk berama PM berpanas-panasan. PM Lee Shien Loong kemudian menyampaikan pidato dalam bahasa Melayu kemudian bahasa Inggeris. Tidak ada panggung khusus tempat podium PM, dia pidato di tengah teriknya matahari sore tanpa dipayungi dan tanpa ajudan. Egaliter, itulah kesan saya dari sikap PM Lee Shien Long. Adakah ini karena kedekatan PM Lee Shien Loong dengan etnis Melayu?

"Warisan anda adalah warisan kita semua - warisan Singapura." Kata PM. Lee. "Masyarakat Melayu Singapura harus berbangga dengan tertubuhnya Taman Warisan Melayu ini. Setiap anggota masyarakat Melayu Singapura mempunyai kepentingan memastikan kejayaan Taman Warisan Melayu. Mari kita bersama memberi sokongan padu untuk menjayakan Taman Warisan Melayu agar ia menjadi ikon masyarakat Melayu Singapura." Ujar PM Lee Shien Loong dalam pidatonya.

Lebih jauh PM Lee Shien Loong menyatakan bahwa Taman Warisan Melayu itu adalah pusat kebudayaan masyarakat Melayu. Masyarakat Melayu utamanya, harus menjadikan taman itu sebagai tempat yang dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan intelektual, agenda Kebudayaan dan agenda kesenian Melayu di Singapura, sehingga Kebudayaan Melayu di Singapura diharapkan dapat berkembang maju. Taman ini harus dapat memamerkan secara atraktif tentang asal usul Melayu, sejarah dan tradisi budaya Melayu. Generasi muda Singapura dari semua etnis, harus mampu memahami dan menghargai asal-usul dan warisan mereka. Pemahaman dan penghargaan ini akan memperkuat lagi jati diri, keyakinan masyarakat dan sekaligus membantu membina masyarakat yang lebih tangguh.

Apa pun kontroversi riwayat masa lalu, Singapura wajar berbangga hati. Mereka sudah menancapkan tonggak, laksana tertancapnya sebilah keris yang dicacakkan oleh PM Lee Shien Loong pada cawan emas sebagai tanda peresmian TWM tersebut. Melayu Singapura memang minoritas, tapi langkahnya jelas. Mereka tidak membantah dengan kata-kata sejarah yang ditulis - yang memberikan kesan bahwa Singapura adalah Raffless - mereka menjawab dengan karya.

Pusat kebudayaan Melayu berarti tempat orang mencari tahu segala sesuatu tentang kebudayaan Melayu, memuaskan perasaan dan tuntutan intelektual. Singapura menawarkannya, kita boleh setuju boleh tidak.

471 Tengku Rizal Nurdin, Gubemur Sumatera Utara, meninggal dalam kecelakaan Pesawat Mandala di Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara, pada 2004.

(Tabloid MENTARI No.200/Th IV/ 20 - 26 Juni 2005)


Tulisan ini sudah di baca 136 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/448-Istana-Kampong-Gelam.html