drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 5

Semoga 2007 Lebih Baik


Oleh : drh.chaidir, MM

TAHUN 2006 sudah masuk ke wilayah kenangan, tak akan pernah muncul lagi selamanya. Banyak peristiwa sepanjang 2006 yang pantas kita catat dalam suka dan duka, dan semuanya dapat dijadikan iktibar.

Dalam abad teknologi informasi ini, tak ada sekat antar negara, peristiwa di belahan bumi mana pun dengan cepat menyebar ke segala penjuru. Berita baik adalah sesuatu yang buruk, berita buruk adalah sesuatu yang baik, bahkan semakin buruk semakin disukai. Kadang-kadang dunia juga muncul dengan wajah berita yang aneh, ribuan orang mati, itu biasa, seekor gajah mati menjadi luar biasa. Kita juga mencatat, bencana datang silih berganti, sebagian berawal dari ulah manusia yang kurang arif memanfaatkan sumberdaya alam, sebagian lainnya karena fenomena yang tak terjangkau oleh tangan manusia.

Perang di Lebanon yang memakan banyak korban tak berdosa, wanita, anak-anak dan orangtua merupakan tragedi peradaban, produk dari keangkuhan super-power AS yang mengukur kadar demokrasi di belahan bumi lain dalam perspektif mereka semata. Tuduhan pelanggaran HAM hanya berlaku untuk negeri lain, sementara mereka boleh melakukan pelanggaran HAM demi -katanya- menegakkan HAM. Penghancuran negeri berdaulat seperti Irak adalah contoh betapa AS dan sekutunya sebenarnya telah membuat blunder, tapi mereka tak akan pernah mengakui ini. Kita membaca di media massa bahwa AS sesungguhnya sudah merasa kalah di Irak, mereka tidak mampu mengendalikan negeri boneka itu sebagai sebuah negeri aman dan damai sebagaimana yang mereka angankan. Sikap AS yang membabi buta membela kepentingan Israel adalah arogansi lain yang tak akan pernah dilupakan oleh negari-negeri Arab. Sikap AS ini pula yang memancing kemarahan umat Islam di seluruh dunia karena mendorong sebuah dialektika munculnya Islamphobia di negeri Barat. Padahal semuanya berawal ketika Barat tidak pernah mau membuka mata.

Banyak kejadian lain yang pantas kita catat. Kudeta damai di Thailand misalnya, adalah cara negeri gajah itu untuk menyelesaikan berbagai macam masalah yang dihadapi bangsanya. Yang masih hangat adalah, gagal totalnya Indonesia di pesta olah raga terbesar di Asia, Asian Games. Asian Games hanyalah event olah raga, tetapi olah raga bermakna juga marwah bangsa. Susah dicerna sebuah negeri terbesar di Asia Tenggara dengan penduduk lebih dari 220 juta jiwa (bahkan empat besar di dunia), peringkat perolehan medali kalah dari Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam dan bahkan Singapura. Asian Games, sekali lagi hanya event olah raga, tetapi mengindikasikan dengan kuat, ada sesuatu yang salah dalam diri kita. Pembinaan olah raga buruk dan itu agaknya gambaran dari buruknya manajemen pemerintahan secara keseluruhan. Kecenderungan negeri lain, prestasinya semakin meningkat, kecenderungan negeri kita, prestasi semakin terpuruk. Bahwa rakyat kita memerlukan ekonorni yang lebih baik, itu benar, tapi bahwa rakyat juga memerlukan kebanggaan, itu tidak salah. Untunglah kita masih terhibur dengan keberhasilan pelajar-pelajar kita memenangkan beberapa perlombaan ilmu pengetahuan dalam ajang kompetisi internasional.

Di dalam negeri, bangsa kita menghadapi berbagai macam musibah yang merenggut banyak korban jiwa. Gempa bumi dan erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta, tsunami yang melanda pantai selatan Pulau Jawa, banjir bandang di Sulawesi Selatan, longsor di Solok, Sumatera Barat, gempa bumi yang kembali melanda sumatera, dan last but not least, semburan lumpur panas di Sidoarjo. Khusus mengenai lumpur panas ini sampai sekarang belum ditemukan jalan keluar yang tepat untuk mengatasinya. Kerusakan akibat gempa bumi di Yogya dan Klaten, Jawa Tengah, yang menimbulkan banyak korban jiwa dan bangunan, saat ini juga belum berhasil direkonstruksi dan direnovasi, setelah delapan bulan berlalu. Padahal bantuan mengalir dari segenap penjuru.

Bencana alam yang silih berganti didramatsisir pula oleh kecelakaan-kecelakaan lalu lintas yang juga terjadi seakan beruntun. Kecelakaan pesawat terbang, tabrakan kereta api, tabrakan kereta api dengan angkutan umum, kecelakaan antar sesama bus angkutan, bahkan kebakaran kapal yang membawa korban tidak sedikit, juga menjadi berita yang memilukan. Pada sisi lain, penyakit menular flu burung, HIV/AIDS, demam berdarah, ikut pula menghantui masyarakat.

Di negeri kita Bumi Lancang Kuning, negeri pantun dan negeri pujangga ini, tahun 2006 ditandai dengan beberapa masalah yang menjadi isu nasional bahkan internasional. Masalah kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan asap membuat negara-negara tetangga marah. Karena merasa malu, sampai-sampai Presiden menganggap masalah asap ini sudah menyangkut marwah bangsa. Sebenarnya dalam masalah jumlah titik api yang dipantau oleh satelit NOAH, titik api di Riau tidaklah sebanyak provinsi lain, tapi karena Riau bertetangga dekat dengan Singapura dan Malaysia, jadilah Riau yang ketiban pulung. Di penghujvmg 2006, seperti lazimnya di setiap penghujung tahun, tamu tak diundang itu pun datang lagi. Namun kali ini tamu yang berwujud banjir itu agak berlebihan.

Masalah illegal logging juga banyak menyita pemikiran, waktu dan tenaga. Baik masalah asap, maupun masalah illegal logging ba-rangkali memang menyangkut low enforcement, tetapi penegakan hukum semata tanpa keberpihakan untuk membantu rakyat kecil yang selama ini menumpangkan hidupnya dari kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kedua masalah tersebut, tentu dirasakan kurang berkeadilan sosial.

Masalah lain yang merisaukan kita di daerah ini dan agaknya di tengah bangsa kita secara umum dewasa ini, adalah longgarnya silaturrahim antar sesama. Rasa persaudaraan dan rasa senasib sepenanggungan digerus oleh kepentingan kelompok, pribadi dan berbagai kepentingan lain. Semangat materialistik demikian kuat menancapkan kukunya. Demi kepentingan kebendaan dan kekuasaan kita rela bertelagah antar sesama dengan mengabaikan silaturrahim. Kita berada daiam satu perahu besar tapi kita tidak sependayungan, sedangkan kita belayar menuju pulau yang sama, ombak yang kita hadang pun ombak yang sama, ikan yang kita makan berasal dari laut yang sama.

Masyarakat Melayu Riau sesungguhnya adalah masyarakat yang memiliki tradisi akomodatif. Negeri ini memiliki ketertika-tan historis dengan Suku Minang, Suku Tapanuli Selatan, Suku Palembang dan juga Suku Bugis. Oleh karena itu dalam kearifan melayu disebutkan:

Ketuku batang ketakal
kedua batang keladi moyang
sesuku kita seasal
senenek kita semojang


Dalam bait kearifan lain masyarakat Melayu Riau memahami:

Hidup serumah beramah tamah
Hidup sedusun tuntun menuntun
Hidup sedesa rasa merasa
Hidup senegri beri memberi
Hidup sebangsa bertenggang rasa.


Kearifan-kearifan tersebut selayaknya dijunjung tinggi oleh seluruh stakeholder dalam perahu besar ini, semuanya, baik itu tokoh masyarakat, aktivis, pemerintah, maupun para politisi. Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung, dimana air di sauk di situ ranting dipatah. Seberapa heterogen pun sebuah masyarakat tetap ada jati diri asli yang menjadi acuan. Penduduk Sumatera Barat heterogen, penduduk Jakarta juga heterogen, penduduk Yogyakarta juga heterogen, demikian juga penduduk Bali, tetapi toh tetap ada jati diri asli yang diusung dan dijunjung.

Kita mendukung pemberantasan KKN, kita mendukung tegaknya supremasi hukum, tapi tidak perlulah sampai kemasan-kemasan politik atau kepentingan, meluluh lantakkan nilai-nilai kesantunan yang ada. Nilai penting dari kebudayaan melayu Riau itu adalah sopan santun dalam bertutur bahasa. Ucapan Demang Lebar Daun, seorang tokoh tua dalam legenda Melayu, agaknya layak kita simak. ....kalau orang Melayu itu bersalah, hukum lah, kalau perlu bunuhlah bila itu sesuai dengan kesalahan yang diperbuat, tapi jangan sekali-sekali mempermalukannya....

Media massa memiliki peran dominan dalam pembangunan peradaban. Rasanya kita tidak rela pers yang sesungguhnya memiliki misi terpuji itu, karena kepentingan-kepentingan sempit dipergunakan sebagai corong oleh kelompok-kelompok tertentu sehingga menggoyahkan sendi-sendi kebudayaan Melayu yang kita junjung tinggi. Ke depan rasanya tak salah jika kita bersama berkehendak memelihara sendi-sendi itu. Hal-hal yang kira-kira dapat mengoyahkan, kita jauhi. Bila semangat itu kita suburkan, 2007 akan lebih baik.

(Tabloid MENTARI No.249/Th V/1 - 15 Januari 2007)


Tulisan ini sudah di baca 94 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/447-Semoga-2007-Lebih-Baik.html