drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 5

Merapi Berapi-api


Oleh : drh.chaidir, MM

Gunung Merapi di Yogyakarta, kini sedang berapi-api menakutkan. Padahal gunung berapi dengan tinggi 2911 meter ini merupakan fenomena alam yang sangat menakjubkan. Siapa pun yang pernah menikmati pesona di puncak Merapi, tak akan pernah bisa melupakan sepanjang hayat.

Dalam keadaan normal, Merapi memang bisa didaki, walau-pun gunung berapi ini disebut-sebut sebagai gunung berapi yang teraktif di dunia dari sekitar 500 buah gunung berapi yang dikenal. Pendakian Gunung Merapi merupakan pendakian yang selalu mendebarkan. Merayap di lereng-lereng terjal berbatu dengan jurang menganga di bawahnya, cukup membuat syaraf berdent-ing-denting. Kewaspadaan harus 100 persen, karena bahaya setiap saat mengancam.

Struktur puncaknya demikian atraktif, sehingga tidak akan pernah membosankan berapa kali pun kita melakukan pendakian. Bagi pencinta alam pendaki gunung di Yogyakarta, mendaki Merapi selalu menjadi obsesi. Padahal puncak Merapi tidak selalu ramah menyapa pendaki. Sudah banyak korban, tapi tak membuat jera. Ada dua akses yang selalu digunakan pendaki menuju puncak: mendaki dari arah selatan atau mendaki dari utara. Mendaki dari timur terlalu jauh, di samping itu kita akan berhadapan dengan masalah lain, sesampainya digeger boyo, gugusan bebatuan seperti punggung buaya, di puncak, hampir tidak ada jalan menuju cekungan kawah mati yang ada di puncak Merapi, kecuali melingkar ke utara atau ke selatan, dan itu amat tidak efektif. Di samping itu, pendaki akan terlalu lama berada di kawasan puncak dan itu berbahaya, apalagi dalam kondisi fisik yang mulai menurun. Mendaki dari arah barat, jangan coba-coba. Ke arah barat inilah puncak gunung Merapi mengarahkan corong kawahnya yang aktif itu menumpahkan lava pijar dan meniupkan wedhus gembel (awan panas) setiap hari. Mendaki dari arah barat sama dengan bunuh diri.

Bila mendaki dari arah utara, bermakna kita harus melambung dulu ke wilayah Provinsi Jawa Tengah, masuk ke Boyolali, kemudian menyusup ke Dusun Selo, sebuah dusun sesuai namanya memang terletak di sela Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang menjulang tinggi. Pendakian dari Dusun Selo sebenarnya relatif lebih ringan, medannya tidak terlalu terjal seperti lereng selatan. Namun entah kenapa, rute utara ini telah beberapa kali merenggut korban jiwa para pendaki.

Dimana Mbah Marijan yang sekarang jadi terkenal itu? Mbah Marijan berada di lereng selatan Merapi, masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh karena itulah, karena Keraton Yogyakarta meyakini adanya demarkasi imajiner Utara-Selatan (Gunung Merapi di utara dan Laut Selatan di selatan), maka Mbah Marijan mendapat jabatan sebagai Juru Kunci Merapi. Mbah Marijan bolehlah disebut Penguasa Tunggal Merapi dan dalam posisi demikian ia adalah seorang Abdi Dalem (pegawai) Keraton Yogyakarta. Sebagai penjaga gunung Merapi, Mbah Marijan memperoleh gaji dari Keraton, yang jumlahnya sangat fantastis: Rp. 500,- (lima ratus rupiah) perbulan. Dulu ketika jabatan itu dipegang oleh ayahandanya yang bernama Mbah Hargo, gaji itu hanya Rp 100,- Tetapi kebanggaan Mbah Hargo (dan tentu juga Mbah Marijan) sebagai Abdi Dalem tidak bisa diukur dengan materi. Di sini terbukti, materi bukan segalanya.

Tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya masih studi di Yogyakarta, bersama teman-teman dari Klub Pendaki Gunung "Merbabu" - "Merbabu Mountiner Club" (MERMOUNC, kami biasanya memanggil Mbah Marijan dengan sebutan Kang Marijan. Yang kami panggil Mbah adalah ayahandanya, Mbah Hargo, yang mendapat gelar Ngabehi Surakso Hargo. Sekarang setelah Mbah Hargo tiada, jabatan dan gelar itu turun kepada Mbah Marijan, sang anak. Dusun Kinahrejo di lereng Merapi, yang menjadi tumpah darah Mbah Marijan, konon sekarang sudah bisa dicapai dengan kendaraan bermotor, tidak seperti dulu, hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari Kawasan Wisata Kaliurang lebih kurang satu jam ke arah timur.

Tidak ada satu pun pendaki dari selatan tanpa melalui restu Sang Juru Kunci. Kang Marijan adakalanya mendampingi pendaki sampai ke kawasan Kendit, adakala cukup melepas dari Dusun Kinahrejo. Kendit adalah batas antara lereng Merapi yang masih ditumbuhi tanaman perdu dengan bagian atas yang terdiri dari batu-batuan. Bagian atas yang terdiri dari batu-batuan dan tidak lagi ditumbuhi tanaman meliputi kira-kira sepertiga dari Gunung Merapi. Dari Kendit inilah pendaki mulai merayap, merangkak naik, ekstra hati-hati karena sebagian bebatuan mudah lepas dan ini membahayakan diri sendiri dan teman-teman yang berada di bawah pendaki. kemudian menyerong agak ke Tenggara, harus melewati suatu celah jurang yang curam dan sempit kemudian langsung menusuk ke atas menuju satu-satunya celah geger boyo yang bisa di lewati untuk sampai ke cekungan kawah mati yang tidak seberapa luas di puncak. Bilamana pendaki memilih turun rute ke utara, kita harus melintasi cekungan ini, tapi bila ingin turun kembali ke selatan, kita tidak perlu menyeberangi cekungan tersebut. Geger boyo yang banyak diberitakan media itu adalah deretan batu-batuan dan pasir yang menjulang seakan mengelilingi cekungan di puncak, bentuknya memang mirip punggung buaya.

Berada di cekungan di puncak Merapi adalah sesuatu yang menakjubkan dan menegangkan. Di cekungan itu banyak sekali lubang dengan diameter kira-kira 15 cm yang mulutnya bergelang belerang berwarna kuning yang setiap sebentar menyemburkan asap putih menutup pandangan. Pendaki tentu saja harus menggunakan masker. Ketika asap menyembur kita harus menghentikan langkah agar tidak kehilangan arah. Sebab, hanya beberapa meter di bagian barat menganga kawah yang setiap saat menumpahkan lava pijar ke arah barat. Tidak ada suara lain di puncak Merapi kecuali suara deru gemuruh yang menggetarkan, sementara kita sendiri merasa gamang laksana meniti titian di atas api menyala, karena kita memahami entah pada kedalaman berapa di bawah tempat kita berpijak, lava yang berpijar sedang bergejolak menunggu saat menyembur ke luar. Tidak hanya kegamangan itu, pendaki juga setiap saat terancam kemungkinan menyemburnya gas beracun yang tidak dikenal.

Kini, struktur di puncak Merapi sudah berubah. Geger boyo di bagian selatan telah runtuh sehingga, kawasan lereng selatan yang dulu aman kini tidak mungkin lagi didekati. Celah jurang tempat pendaki merayap dari selatan sebelum mencapai geger boyo di puncak, kini sudah dialiri lava pijar dan awan panas. Jangankan mendaki ke puncak melalui lereng selatan, Dusun Kinahrejo tempat Mbah Marijan bermukim saja sudah menjadi kawasan yang harus selalu dalam keadaan waspada. Bila suatu saat Kinahrejo tertutup, kemana gerangan mengungsi Sang Juru Kunci akan pergi? Akankah puncak Merapi juga tertutup selamanya bagi pencinta alam pendaki gunung?

Olah raga mendaki gunung, seperti olah raga alam lainnya yang bersifat adventure memberikan dampak positif bagi pengem-bangan sikap mental generasi muda. Olah raga ini menuntut fisik dan mental yang kuat dan tangguh, rasa kesetiakawanan, meningkatkan apresiasi terhadap lingkungan, menumbuhkan kesadaran transendental, mempertebal semangat pantang berputus asa, penyayang dan rendah hati. Tidak ada kesombongan pendaki di puncak Merapi, semua merasa tak berarti terhadap kekuasaan Ilahi. Agaknya itulah pesan Merapi yang selalu terpatri di hati pendaki. Tidak ada yang bisa menduga dengan pasti seberapa besar potensi magma yang berada di perut bumi di bawah Gunung Merapi. Logika geologis mengingatkan seperti ada kaitan antara gempa tektonik yang terjadi pada Lingkaran Api Pasifik dengan terdesaknya magma, sehingga Gunung Merapi berapi-api. Adakah ini juga yang menyebabkan lumpur panas menyembur dari perut bumi di Dusun Balongkenongo, Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur? Entahlah. Semakin maju ilmu pengetahuan semakin banyak fenomena alam yang tidak kita ketahui.


(Tabloid MENTARI No.238/Th V/15 -25 Juni 2006)


Tulisan ini sudah di baca 129 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/446-Merapi-Berapi-api.html