drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 5

Bumi Kian Renta


Oleh : drh.chaidir, MM

Planet bumi yang kita huni ini, pada akhir zaman akan hancur berkeping-keping menjadi debu. Kapan masa itu akan datang? Tak ada seorang pun yang tahu atau bisa memprediksi secara eksak. Mungkin sejuta tahun lagi, barangkali seribu tahun lagi, atau bisa seratus tahun lagi, atau mungkin juga esok hari. Siapa yang tahu? Nobodi knows, tak ada yang tahu. Yang bisa dilakukan manusia hanyalah mempertebal keyakinan transendental dan membangun logika-logika duniawi, sesuatu yang berawal tentu akan berakhir. Jika tak sanggup mengakhiri, janganlah memulai. Yang muda akan menjadi tua. Putik akan menjadi buah, buah menjadi masak kemudian membusuk. Pucuk menjadi daun muda, daun muda menjadi hijau, kemudian menguning lalu gugur. Daur hidup itu sudah menjadi hukum alam. Logikanya amat sederhana, tak perlu seorang filsuf untuk bisa memahaminya.

Umur planet bumi ini menurut logika kalender kita memang sudah sangat renta. Beberapa ensiklopedi menyebutkan umur planet bumi diestimasi sudah berlangsung 4,55 milyar tahun45). Tanda-tanda kehidupan pertama dijumpai berupa fosil bakteri yang berusia 3,3 milyar tahun. Bisa dibayangkan betapa tuanya planet bumi kita ini. Membayangkan kehidupan 2000 tahun yang lalu saja tidak mudah, demikian juga membayangkan bentuk peradaban sebelum tahun Masehi, ketika Plato, Socrates, dan filsuf lainnya menuangkan buah pikirannya. Jangankan tahun-tahun Sebelum Masehi, 14 abad yang lampau ketika Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah dalam sebuah perjalanan yang berat, susah membayangkannya. Bagaimana dengan sejuta tahun yang lalu? Atau semilyar tahun yang lalu? Jadi agaknya sudah menjadi hukum alam, bila planet ini, karena sudah dimakan usia, mulai terbatuk-batuk, mengeluarkan dahak panas berupa lahar, mengeluarkan asap dari hidungnya berupa wedusgembel (awan panas), atau tremor (buyutan, gemetar) yang berwujud gempa.

Planet Bumi yang sekarang kita huni ini, merupakan planet terbesar kelima dalam tata surya kita dan ketiga terdekat ke matahan. Karena posisinya diciptakan demikian, maka iklim dan temperatur di planet bumi layak untuk kehidupan. Bumi tidak terlalu panas pada siang hari seperti Planet Venus atau Planet Merkurius. Dan tidak pula dingin membeku seperti Mars atau Jupiter.

Planet Bumi bukan bola raksasa yang statis pada tempatnya, atau terletak di ujung tanduk banteng raksasa seperti keyakinan orang dulu-dulu, planet ini bergerak beredar pada orbitnya dan berputar pula pada sumbunya dengan segala macam muatan-nya yang sarat. Bumi beredar mengelilingi matahari dalam lintasan sepanjang 92.960.000 mil (149.600.100 km) dalam tempo 365 hari. Itu berarti bola mega raksasa Planet Bumi itu melesat dengan kecepatan 409.863 km perhari atau kira-kira 34.155 km perjam. Bisa dibayangkan betapa kencangnya peredaran bumi itu pada lintasannya. Sudahlah benda itu melesat amat kencang, dia berputar pula secara tetap pada sumbunya. Perputaran pada sumbunya berlangsung dalam tempo 24 jam. Sungguh merupakan keajaiban, walaupun melintas dengan kecepatan amat tinggi, sedetik pun planet itu tidak pernah bergeser dari lintasannya. Dan sedetik pun dia tidak pernah terlambat membangunkan manusia. Aneh bin ajaib, manusia yang menjadi penumpang planet tersebut tidak pernah merasa pusing walau dibawa beredar dan berputar dalam kecepatan tinggi.

Planet Bumi juga tidak pernah tabrakan dengan planet lain atau bulan, satelitnya. Padahal planet lain itu juga beredar mengelilingi matahari dalam kecepatan tinggi. Tidakkah kita khawatir sekali sekala planet itu, karena faktor keletihan, berubah irama peredaran dan perputarannya? Hal ini adalah sesuatu yang transenden.

Karena ukurannya yang tak bertambah, bumi tentu memiliki keterbatasan daya dukung, tapi tidak ada yang bisa mengukur dengan pasti daya dukung itu. Tapi satu hal pasti, bumi kita terdiri dari tiga bagian penting. Ada wilayah atmosfer, suatu lapisan udara yang menyelimuti bumi sampai pada ketinggian 300 km. Atmosfer ini berisi udara, dengan udara itu manusia dan hewan bisa bernafas. Lapisan paling atas atmosfer terbuat dari ozon yang berfungsi melindungi manusia, hewan dan tumbuhan dari sengatan ultraviolet matahari yang menghancurkan kehidupan.

Lapisan kedua adalah hidrosfer. Lapisan ini sangat penting bagi kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan. Lapisan ini terdiri dari air dan es. Lebih dari 70 persen dari muka bumi terdiri dari air dan es. Air menguap menjadi awan, awan kemudian menjadi hujan.

Lapisan yang ketiga adalah lapisan perut bumi yang terdiri dari batu-batuan kerak bumi, lapisan-lapisan dan inti bumi. Di sinilah agaknya masalah itu berawal. Ketiga bagian planet bumi itu bisa rusak, rapuh, atau lapuk, baik karena faktor keletihan maupun karena ulah manusia. Lapisan ozon misalnya disebut-sebut sudah mulai belong akibat efek rumah kaca. Padahal sinar ultraviolet matahari itu membunuh kehidupan. Lapisan hidrosfer juga mulai terganggu. Pembabatan hutan tropis secara tidak terkendali dan bocornya lapisan ozon telah menyebabkan naiknya suhu bumi dari hari ke hari. Hal ini diperburuk pula oleh pencemaran lingkungan akibat limbah industri.

Gangguan terhadap atmosfer dan hidrosfer banyak disebabkan karena ulah manusia, tetapi pergeseran-pergeseran yang terjadi pada kerak di perut bumi pada wilayah litosfer, bukan karena ulah manusia, walaupun di beberapa tempat terjadi pengeboran perut bumi untuk kepentingan eksploitasi bahan tambang, seperti min-yak, gas, emas, tembaga dan sebagainya.

Sebagai bagian dari sebuah benda bundar mega raksasa yang secara terus menerus melintas amat cepat dan berputar pada sum-bunya bermilyar tahun, kerak bumi bisa saja bergeser atau patah. Yang namanya kerak bumi, kalau bergeser atau patah seringkali tidak tanggung-tanggung, kerak im tidak hanya bergeser atau patah 2 atau 3 meter, melainkan berkilo-kilo meter panjangnya. Fenomena ini bisa dilihat di San Andreas California, pergeseran itu meliputi panjang 966 km. Pergeseran kerak bumi itu bisa horizontal bisa juga patah vertikal. Nah kejadian inilah yang menimbulkan getaran secara tiba-tiba dan hebat sampai ke permukaan bumi, dan apabila getaran itu sangat kuat, dia bisa merontokkan bangunan apa saja yang terletak di permukaan bumi.

Kerak bumi yang patah atau bergeser biasanya terjadi di perut bumi atau di bawah permukaan bumi. Kalau pergeseran itu terjadi di perut bumi di bawah permukaan laut, gempa ini akan menimbulkan gelombang yang menghancurkan yang dikenal dengan sebutan tsunami. Peristiwa inilah yang terjadi di Nangroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004 lalu yang menelan korban lebih 250 ribu orang tewas.

Di Yogyakarta, menurut para ahli, pergeseran kerak bumi itu kelihatannya tidak vertikal tapi horizontal sehingga tidak menimbulkan tsunami. Walau demikian korban yang ditimbulkannya tidak sedikit, lebih dari 5000 orang tewas dan ribuan bangunan rata dengan tanah. Padahal getaran yang ditimbulkan diberitakan tidak lebih dari satu menit. Hebatnya musibah yang ditimbulkan, agaknya karena episentrum gempa hanya sekitar 31 km di lepas pantai Samas, Bantul, yang berpasir putih mengkilat itu.

Kita tentu sangat sedih dan prihatin dengan musibah yang menimpa saudara-saudara kita, tapi kita hanya bisa menunjukkan simpati. Tidak ada sesiapa yang patut disalahkan, tidak juga Mbah Marijan, juru kunci gunung Merapi di utara Yogya yang selama beberapa pekan terakhir selalu menjadi pusat berita. Salah kita adalah, karena kita ditakdirkan menjadi penghuni bola mega raksasa Planet bumi yang sudah renta ini, dan dia melintas pada orbitnya dengan kecepatan tinggi.

451 Sumber, The New Webster's International Encyclopsdia, 199/hal. 333.

(Tabloid Mentari No. 237/Th V/9-15 Juni 2006)


Tulisan ini sudah di baca 107 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/445-Bumi-Kian-Renta.html