drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 5

Kembalikan Tanah Kami


Oleh : drh.chaidir, MM

"THE Great White Chief wants to buy my land. Can I sell the air we breathe, can I sell the sound of birds in the trees and the gurgling of the rivers, can I sell the grass on the land which is my mother's hair which I hold and comb very carefully everiday? But then I am just a savage, the Great White Chief is a civilised man. The Great White Chief sends soldiers on the iron horse and shoot the bisons in the hundreds. The Indians only kill for food but the white soldiers shoot for fun..."

Maksudnya kira-kira begini, "Kepala Suku Kulit Putih Yang Agung42) ingin membeli tanahku. Dapatkah aku menjual udara yang kami gunakan untuk bernafas, dapatkah aku menjual kicau burung di pepohonan dan suara gemercik sungai, dapatkah aku menjual rumput di tanah dimana terdapat rambut ibuku yang kupegang dan kusisir dengan hati-hati setiap hari? Tetapi aku hanyalah seorang biadab sedangkan Kepala Suku Kulit Putih Yang Agung adalah orang beradab. Kepala Suku Kulit Putih Yang Agung mengirim tentara di atas kuda besi (maksudnya kereta api) dan menembak ratusan bison. Suku Indian membunuh bison hanya untuk makan, tetapi tentara kulit putih menembaknya untuk kesenangan..."

Surat Kepala Suku Indian kepada Presiden Grant43) (Presiden Amerika) itu, dikutip oleh Prof Widjajono Partowidagdo dalam bukunya "Memahami Analisis Kebijakan Kasus Reformasi Indonesia", untuk menggambarkan bahwa kesadaran lingkungan itu tidak selalu ada hubungannya dengan pendidikan atau peradaban. Demikian monumentalnya surat Kepala Suku Indian itu, sampai kini masih tersimpan rapi di museum Lincoln Memorial, Washington DC.

Lebih jauh Prof Widjajono Partowidagdo memberikan opini, Kepala Suku Indian itu mengungkapkan kritiknya terhadap masyarakat kulit putih yang dianggap lebih memiliki peradaban (civilised) namun perilakunya rendah, yaitu merusak lingkungan. Permasalahan lingkungan bukan hanya pada sumber daya alam yang terbatas, tetapi juga karena manusia tidak dapat menahan hawa nafsunya (kerakusannya).

Di negeri kita tidak ada Suku Indian, yang ada Suku Sakai, Bonai, Talang Mamak, Suku Domo, Suku Laut, dan sebagainya. Juga tidak ada bison. Tapi riwayat keterpinggirannya barangkali hanya beda-beda tipis dengan Suku Indian di Negeri Paman Sam itu. Di sini tidak ada bison yang ditembaki hanya untuk kesenangan, yang ditemukan adalah ribuan buldozer yang membabat habis hutan untuk menumpuk kekayaan tujuh keturunan, sementara masyarakat asli hanya menebang kayu untuk keperluan sekedarnya.

Penebangan hutan yang membabi-buta telah memberikan kekayaan bagi sekelompok kecil dan menimbulkan kesengsaraan bagi sekelompok besar manusia. Tidak hanya pemiskinan sistematis, bencana alam lain pun muncul. Bila musim hujan kebanjiran, bila musim kemarau, berasap, karena luasnya daerah yang dibakar atau terbakar.

Program hutan tanaman industri yang demikian massive untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pulp, dalam beberapa wilayah telah memarjinalkan penduduk tempatan. Sebagai sebuah contoh adalah permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat di Kecamatan Kuala Mandau, Kabupaten Siak. Hampir 80% areal dalam wilayah kecamatan ini merupakan wilayah hutan tanaman industri, tapi sayangnya hutan tanaman industri tersebut bukan milik masyarakat. Masalah yang sama juga dihadapi Suku Sakai di Minas. Maka tidak heran konflik lahan antara penduduk setempat dengan para pengusaha sering terjadi.

Pembangunan massive kebun kelapa sawit oleh pengusaha-pengusaha besar swasta juga tidak kalah sering menimbulkan konflik dengan masyarakat setempat. Seperti konflik antara masyarakat dengan pengusaha di Desa Ampaian Rotan, Kabupaten Rokan Hilir, konflik antara masyarakat setempat dengan perusahaan di Kecamatan Tambusai Timur di Rokan Hulu, konflik antara masyarakat Desa Sinama Nenek di Tapung dengan pengusaha, adalah sedikit contoh betapa pembukaan lahan secara berlebihan dengan tidak mengindahkan kepentingan masyarakat setempat, tidak memberikan kesejahteraan, bahkan menimbulkan penderitaan.

Yang lebih tragis lagi, penebangan hutan secara membabi buta, telah pula menimbulkan konflik antara manusia dan satwa. Rusaknya kawasan hutan di Sungai Senepis Buluhala di Dumai telah menyebabkan Harimau Sumatera terganggu habitatnya sehingga "sang datuk" terpaksa ke luar dari habitatnya dan menyerang manusia. Tercatat dari tahun 2002 sampai saat tulisan ini disusun, harimau di kawasan ini telah menyerang 18 orang, diberitakan tiga orang diantaranya tewas. Di Kecamatan Kepenuhan, Rokan Hulu, konflik manusia dan gajah juga tak terhindarkan, beberapa ekor gajah mengamuk karena habitatnya terganggu. Tercatat dua orang tewas dalam konflik tersebut.

Menteri kehutanan dalam suatu pidatonya di Pekanbaru beberapa waktu yang lalu menyatakan secara nasional, akibat illegal logging, hutan kita mengalami degradasi seluas 2,8 juta Ha per tahun. Bila laju perusakan itu tidak bisa dibendung maka dalam tempo 25 tahun kita akan kehabisan hutan sama sekali. Di Riau pun dari beberapa sumber disebutkan tidak kurang dari 100.000 Ha hutan mengalami degradasi setiap tahun. Bila tidak ada upaya penyelamatan dengan sungguh-sungguh, dalam tempo yang sama hutan kita pun akan habis.

Mantan Menteri Lingkungan hidup kita A Sonny Keraf,45) suatu kali menulis bahwa pola developmentalism (paham pembangunan) yang mengutamakan pertumbuhan dan kemajuan ekonomi semata harus ditinggalkan dan diganti dengan pendekatan pembangunan yang lebih holistik dan inegratif dengan memberi perhatian serius kepada pembangunan sosial budaya dan lingkungan. Hal ini terutama karena kemajuan ekonomi yang dicapai seiama ini teiah membawa kerugian sangat mahal di sisi sosial budaya dan lingkungan. Kehancuran sosial budaya dan lingkungan telah menyebabkan negara dan masyarakat membayar mahal. A$dbatnya.,pertama, terjadi kemiskinan yang semakin mendalam, dibanyak negara yang sedang berkembang, tidak saja karena kekayaan sumber daya alam habis terkuras untuk membayar hutang, juga karena degradasi sumber daya alam itu, sehingga masyarakat tidak mampu meningkatkan kualitas kehidupan mereka. Kedua, Timbul berbagai macam penyakit akibat kualitas kehidupan yang menurun dan akibat berbagai pencemaran lingkungan. Ketiga, kehancuran sumberdaya alam dan keanekaragaman sumberdaya hayati membawa pengaruh langsung bagi kehancuran budaya masyarakat di sekitarnya, yang semula sangat bergantung hidupnya dari keberadaan sumberdaya alam dan keanekaragaman tersebut. Balada Suku Sakai adalah contoh faktual kehancuran budaya masyarakat ini, ketika mereka harus tergusur dari tanah moyangnya.

Pembangunan yang menyebabkan terjadinya marjinalisasi sesungguhnya perlu dihindari, demikian pula pembangunan yang merugikan masyarakat setempat. Pembangunan tidak semestinya menyebabkan masyarakat setempat kehilangan mata pencaharian atau menjadi semakin miskin. Disinilah kearifan dituntut. Strategic planning tidak hanya sekedar membuat rencana jangka panjang tentang pertumbuhan ekonomi, kebijakan-kebijakan investasi, proyek-proyek raksasa, yang lebih penting sebetulnya menyusun konsep pembangunan berkelanjutan yang apresiatif terhadap lingkungan dan tidak menimbulkan konflik.

Semua stakeholder idealnya memiliki kesadaran lingkungan, bukan dengan maksud mengorbankan kemanusiaan untuk membela kepentingan lingkungan, tetapi kita tidak ingin untuk kepuasan semusim manusia, kita mengorbankan lingkungan. Masalahnya, anak cucu kita kelak masih akan hidup di kawasan yang sama di rantau ini juga.

Beratus tahun setelah Kepala Suku Indian menyurati Presiden Amerika, sekelompok kecil Suku Indian yang tersisa berunjukrasa di depan Gedung Putih, istana Presiden Amerika, mereka membawa poster: Kembalikan tanah kami. Sementara saudara kita Suku Sakai yang tersisa tidak perlu menunggu seratus tahun untuk membawa poster yang sama. (Disari dari Keynote Speech penulis dalam bahasa Inggeris yang disampaikan pada Short Diplomatic Course Mahasiswa Hubungan Internasional seIndonesia yang dilaksanakan oleh Universitas Riau di Pekanbaru, 20 Mei 2005).

421 Kepala Suku Kulit Putih Yang Agung, ejekan memperolok-olokan dari Suku Indian untuk Presiden Amerika Serikat.
43) Ulysses Simpson Grant (1822-85), President ke 18 Amerika Serikat memerintah selama dua periode 1869-1877.
Sonny Keraf, Menteri Negara Rl pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri. (2002 - 2004).
(Tabloid MENTARI No.197/Th IV/ 30 Mei - 5 Juni 2005)


Tulisan ini sudah di baca 143 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/444-Kembalikan-Tanah-Kami.html