drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 5

Tuan Rumah


Oleh : drh.chaidir, MM

Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-XVIII tahun 2012 masih enam tahun lagi. Tapi demamnya sudah mulai terasa. Dimana-mana berdiri baliho raksasa menjulang ke angkasa, lebih hebat daripada yang biasa. Dimana-mana terpampang spanduk, kemana pun hidung tertumbuk, dimana-mana bertebaran umbul-umbul. Kota Pekanbaru yang diakui pendatang sebagai kota yang tertata rapi bersih, kini tampak semakin berseri-seri. Gerangan apa yang terjadi?

Pelantikan Walikota Herman Abdullah dan Wakil Walikota Erizal Muluk yang menang pemilihan Kepala Daerah, adalah satu agenda. Agenda lain yang tidak kalah pentingnya adalah, Riau kedatangan tamu istimewa: Tim Penilai Kesiapan Tuan Rumah PON ke-XVIII, yang dipimpin oleh Laksamana Madya TNI (Pur) Djoko Pramono. Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau, pusat kegiatan PON ke-XVIII apabila nanti terpilih, wajar memamerkan diri habis-habisan, sebab ada pesaing lain sebagai calon Tuan Rumah yang tak kalah seriusnya, yakni Jawa Barat dan Jawa Tengah. Untuk meyakinkan Tim, Riau unjuk kebolehan mempertontonkan kesiapannya, tidak hanya memperlihatkan fasilitas venues (tempat pertandingan), tetapi juga dukungan dari seluruh stakeholder. "Berdiri bulu kuduk saya melihat dukungan yang diberikan oleh tokoh masyarakat," ujar Djoko Pramono dalam sambutan tanpa teks pada jamuan makan malam yang diadakan khusus untuknya.

Gubernur Rusli Zainal beserta staf nampaknya memang amat serius mempersiapkan segala sesuatu, mulai dari penyambutan Tim di bandara Sultan Syarif Kasyim II Pekanbaru yang lengkap dengan kalungan bunga, silat dan kompang, sampai pada presentasi yang cukup impressive. Temanya tunggal, Riau siap jadi Tuan Rumah PON ke-XVIII. Tak ada kamus tak siap, semua ada, apapun bisa, begitulah kira-kira. Hasil jajak pendapat publik yang dilakukan UNRI guna mengetahui dukungan masyarakat terhadap kampanye Riau sebagai Tuan Rumah PON ke-XVIII memang meyakinkan. Dari sample acak yang diambii, 89,48% responden menyatakan "sangat setuju" dan "setuju," bahkan 92% responden menyatakan yakin pemerintah kabupaten/kota akan mendukung penyelenggaraan pesta olahraga ini. Bila hasil survai dianggap representatif, maka itu bermakna, masyarakat kita memang gemar berolahraga. Kegemaran itu tidaklah negatif, bahkan agaknya lebih baik daripada kesimpulan, masyarakat lebih gemar berpolitik daripada berolahraga.

Olahraga memang berarti sehat. "Mensana in corpore sano," di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Olahraga erat kaitannya dengan kebugaran jasmani, prestasi dan sportifitas. Dalam bidang olahragalah orang sungguh-sungguh siap kalah siap menang. Dalam agenda politik seperti pilkada, semboyan "siap menang siap kalah" hanya hiasan bibir, sebab pada kenyataannya dalam banyak kasus, kompetitor tidak siap kalah. Begitu satu pihak ditetapkan jadi pecundang, ada saja ulahnya mencari seribu satu alasan. Adakalanya jadi pemenang dalam pertarungan politik pun tidak mudah. Di singgasana yang diperebutkan, menunggu jebakan-jebakan yang meruntuhkan.

Di bidang olah raga tidak demikian. Pemenang, diakui lebih baik, yang kalah harus berlatih lebih giat lagi. Dalam keadaan pertandingan berimbang, datang pula "dewi fortuna," yang tidak pernah bisa digugat kepada pihak mana ia berpihak. Lihatlah pertandingan Italia melawan Australia di Piala Dunia sepak bola 2006. Australia boleh menguasai permainan, tapi dewi fortuna berpihak pada Italia. Argentina boleh tampil sangat mengesankan, tapi dewi fortuna berpihak pada Jerman.

Olahraga seperti halnya musik, bebas dari pengaruh diskriminasi. Olahraga juga tidak terpengaruh oleh perbedaan suku, agama dan ras serta perbedaan golongan. Olahraga bisa membuat masyarakat berada dalam sebuah keluarga besar. Beberapa saat menjelang Piala Dunia tahun 1998 beberapa pemain nasional Prancis dikritik karena tidak bisa menyanyikan lagu kebangsaan Prancis, tapi kemudian ketika pemain-pemain ini berhasil memboyong Piala Dunia untuk pertama kalinya bagi Prancis, masyarakat Prancis pun memberikan maaf. Olah raga memang bukan wilayah politik, tapi adakalanya bisa menjadi alat politik.

PON pertama di Solo (Surakarta) pada 9-12 September 1948 dicatat sejarah tidak hanya sekadar ajang pertandingan olah raga, tetapi juga mengandung tujuan politik. Bangsa Indonesia yang baru tiga tahun merdeka berada dalam rongrongan Belanda dan sekutu yangingin kembali menjajah Indonesia. Para pemimpin kita ketika itu memutuskan, kita perlu menunjukkan keberadaan dan eksistensi Negara RI di mata dunia. Ternyata peristiwa itu memang mampu menarik perhatian negara-negara lain di dunia, dan ini terbukti dari gencarnya media massa dunia meliput kegiatan tersebut.

Perjuangan Riau untuk menjadi Tuan Rumah PON ke-XVIII agaknya tidak memiliki agenda tersembunyi seperti PON I di Solo itu. PON mempunyai misi untuk memperkokoh persatuan nasional dan meningkatkan prestasi olahraga. Olahraga terbukti dapat berfungsi sebagai alat pemersatu, dan prestasi yang tinggi dari satu cabang olahraga memberikan pula kebanggaan bagi masyarakat. Olahraga dapat pula menjadi penyalur positif bagi berbagai macam tekanan kehidupan yang dihadapi masyarakat. Bila tidak ada kompensasi positif seperti ini, tekanan kehidupan dikhawatirkan justru akan destruktif. Olahraga juga akan menggairahkan kehidupan masyarakat dan kita sudah merasakan itu ketika PSPS Pekanbaru bercokol di Divisi Utama Liga Indonesia. Pertandingan sepakbola yang bermutu tidak hanya sekadar sebuah suguhan tontonan, lebih dari itu dia memberikan pelajaran bagaimana mengapresiasi sebuah prestasi dalam semangat sportifitas. Sayang sekali karena tidak dikelola dengan profesional dan tidak mendapatkan dukungan yang memadai, surga yang pernah singgah itu pun hilang.

Bagi daerah, PON secara finansial dapat menjadi alat pemberdayaan ekonomi daerah tuan rumah. Tuan rumah berkesempatan menggalang dana dari APBN, APBD, pihak sponsor, donatur, penjualan ticket, dan penjualan cendera mata. Di samping itu, ribuan atlit, official dan. wartawan yang datang dari berbagai daerah, pasti akan berbelanja. Kebutuhan daging, daging ayam, ikan, susu, telur, sayur mayur dan makanan lainnya pasti akan meningkat drastis. Omset perdagangan tentu akan meningkat, dan sebagian dari multiplier effects PON akan dinikmati pula oleh petani yang memproduksi komoditi empat sehat lima sempurna yang sangat diperlukan atlit.

Pembangunan venue (tempat pertandingan) juga menguntungkan tuan rumah karena akan menyerap banyak tenaga kerja. Bisnis bahan bangunan akan bangkit. Bangunan baru akan tumbuh. Setelah PON berlangsung, fasilitas olahraga dan pemukiman atlit akan bisa dinikmati oleh masyarakat setempat.

Provinsi Riau yang berdiri pada 9 Agustus 1957, memang belum pernah menjadi tuan rumah PON. Dari catatan yang ada, Jakarta terbanyak sebagai Tuan Rumah, yakni delapan kali, disusul Jawa Timur dua kali, dan sisanya masing-masing sekali di Solo, Sumatera Utara, Sulsel, Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Yang menarik, tiga kali PON terakhir, diadakan di luar ibukota Jakarta. PON XV (2000) diselenggarakan di Jatim, PON XVI (2004) diselenggarakan di Sumsel dan PON ke-XVII tahun 2008 akan diselenggarakan di Kaltim. Akankah PON XVIII tahun 2012 di Riau? Wallahu 'alam bissawab. "Kepastiannya 12 Agustus 2006," ujar Laksamana Djoko Pramono.

Siap jadi siap tidak, adalah bagian dari semangat sportifitas olahraga. Bila tidak jadi, bersiaplah kampanye untuk PON XIX tahun 2016 atau bahkan PON XX tahun 2020 supaya monumental korelatif dengan Visi Riau 2020. Bila terpilih menjadi Tuan Rumah, maka bersiaplah mengantisipasi perangkap. Dana yang besar akan terkonsentrasi untuk kegiatan ini, dan dana yang besar familier dengan perilaku koruptif, manipulatif atau fiktif. Daerah ini sudah letih menjadi sapi perahan. Sementara di sebuah sudut ada Program K2i (Pengentasan Kemiskinan, Pemberantasan Kebodohan dan Pembangunan Infrastruktur) menanti bukti.


(Tabloid MENTARI No.241/Th V/21 - 31 Juli 2006)


Tulisan ini sudah di baca 141 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/442-Tuan-Rumah.html