drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 5

Flu Burung Akhirnya Tiba


Oleh : drh.chaidir, MM

Penyakit flu burung itu akhirnya menjamah Riau. Sejumlah ternak ayam di Dumai diduga tertular dan dimusnahkan. Ketika tulisan ini disusun, belum ada korban jiwa manusia (semogalah tidak ada). Namun karena propaganda penyakit ini luar biasa melanda dunia, opini terbangun, dan masyarakat wajar was-was. Masyarakat khawatir virus yang tidak kelihatan itu menyebar kemana-mana dan menebar maut.

Dalam beberapa bulan terakhir ini pemberitaan seputar penyakit flu burung melalui media cetak dan elektronik memang hebat, apalagi di pulau Jawa penyakit ini telah membawa korban. Pemerintah terkesan panik, hal ini terlihat dari saling-silang pendapat yang berkembang. Saling menyalahkan, saling cuci tangan dan saling buang badan. Seperti biasanya, ketika dihadapkan pada sebuah krisis, dan ketika tersedia banyak opsi solusi, kita acapkali gagal memilih opsi yang paling sesuai sehingga gerak langkah tidak fokus ke arah satu tujuan. Ada instansi pemerintah sangat "care" sehingga terkesan berlebihan, tapi ada juga yang "cuek bebek" sehingga cuai dan menggampangkan masalah. Pihak yang cuai ini berpendapat, ngurus burung flu saja koq repot, toh Belanda masih jauh. Mereka lupa, Belanda memang masih jauh tapi Jepang kan sudah dekat, bahkan sudah berada di depan pintu.

Maka karena ulah seperti itulah, Riau belum-belum sudah dinyatakan bebas dari flu burung. Apa iya, apakah pernyataan itu tidak prematur? Padahal Sumatera Utara dan dan Sumatera Barat telah terjangkit. Barangkali pernyataan itu dimaksudkan untuk memberi kesan aman kepada masyarakat, tetapi hal seperti itu di masa sekarang rasanya tidak perlu karena akan menjadi boomerang, senjata makan tuan. Sebab pada kenyataannya tidaklah mudah mengawal wilayah ketika kita sudah terkepung, apalagi virus penyakit flu burung itu tingkat penularannya tinggi dan dia datang seperti siluman.

Flu burung secara internasional dikenal sebagai Avian Influenza (AI). Wabah penyakit yang sekarang menggulung itu termasuk penyakit Zoonosis. Artinya, penyakit ini adalah penyakit yang berasal dari hewan tetapi menular dan berbahaya bagi manusia, Sebenarnya AI sudah lama dikenal dan ada di Indonesia, hanya saja AI yang dulu jenisnya tidak berbahaya seperti AI yang kita kenal hari ini. AI yang dulu dari tipe " low pathogenic" (keganasannya rendah). Sedangkan AI sekarang adalah dari tipe " high pathogenic" (sangat ganas). Kenapa bisa begitu? Entahlah, virus juga makhluk, bisa berubah. Barangkali ada mutasi genetika, atau karena virusnya juga dilanda reformasi sehingga ikut-ikutan euforia.

Di beberapa daerah di Indonesia telah dilaporkan adanya manusia yang positif terinfeksi flu burung, tapi anehnya, manusia-manusia yang terinfeksi virus AI tersebut justru bukan para pekerja peternakan ayam. Mereka bukan pula orang-orang yang suka bermain-main dengan burung atau ayam. Fenomena ini tentu menarik untuk dikaji oleh ahli karena menimbulkan pertanyaan, ada apa sesungguhnya?

Dalam kondisi tempur seperti sekarang, tidak ada jalan lain semua pihak harus bahu membahu agar penyebaran virus tidak meluas. Ada beberapa jurus yang agaknya perlu dipertimbangkan untuk dilakukan instansi teknis.

Pertama, adakan pencegahan dan pengendalian melalui maximum security. Idealnya (sekali lagi idealnya), setiap pintu masuk resmi atau tidak resmi harus diawasi dengan ketat. Pengangkutan unggas atau hewan sejenisnya dari daerah tertular, strictly prohibited (dilarang keras) dengan alasan apapun. Semua kendaraan yang berasal dari daerah tertular harus diberi disinfektan (disemprot dengan cairan zat kimia pencuci hama), seperti perlakuan Australia terhadap pesawat yang baru datang dari Indonesia ketika Indonesia terjangkit wabah Penyakit Mulut Dan Kuku (PMK) pada tahun delapan puluhan. Semua barang bawaan digeledah habis. Namun, cara ini sudah barang tentu memerlukan tenaga Karantina Hewan yang cukup banyak dan biayanya juga besar.

Kedua, Dinas Peternakan harus melakukan vaksinasi massal terhadap semua peternakan ayam, baik ayam ras (perusahaan peternakan ayam) maupun ayam bukan ras (ayam kampung milik rakyat). Vaksinasi adalah pemberian vaksin ke dalam tubuh ayam untuk merangsang timbulnya antibodi dalam tubuh ayam. Pemberian vaksin ini harus dilakukan dengan penuh kesungguhan, sebaiknya di bawah pengawasan dokter hewan dinas. Sebab, umumnya vaksin ini sangat sensitif; salah cara pemberiannya, salah penyimpanannya, salah prosedur penangannya, maka vaksin ini akan menjadi non-active, tidak lagi berguna. Di samping itu perlu diwaspadai adanya kepentingan bisnis dibalik pengadaan vaksin tersebut. Barang tersebut habis pakai dan harganya mahal karena dibutuhkan dalam jumlah yang besar. Vaksinasi yang gagal sama dengan ibarat "arang habis besi binasa."

Ketiga, Dinas Peternakan harus proaktif melakukan surveillance (memantau, mendata, mengambil sample) terhadap perusahaan-perusahaan peternakan atau peternakan rakyat pada semua daerah apalagi daerah-daerah yang diduga memiliki kerawanan, dan kemudian melakukan uji laboratorium secara ketat. Adanya virus dalam tubuh ayam diketahui atau dideteksi melalui pemeriksaan sample darah. Ada sejenis cairan yang merupakan saripati cakan darah yang disebut serum; serum ini diperiksa teliti melalui berbagai macam uji di laboratorium. Pengujian laboratoris tidak sederhana. Dibutuhkan keahlian khusus untuk menginterpretasikan hasil uji lab tersebut. Dengan serangkaian uji lab akan diperoleh kesimpulan apakah ada infeksi virus atau tidak pada suatu individu.

Keempat, Dinas Peternakan harus melakukan penyuluhan massive kepada masyarakat secara teratur dan terprogram, tentang upaya dini pencegahan flu burung termasuk bagaimana beternak secara benar untuk mencegah risiko berjangkitnya flu burung. Penyuluhan juga meliputi apa dan bagaimana penyakit-penyakit syonosis. Dengan penyuluhan yang baik, masyarakat akan tahu apa persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi bila mereka ingin memanfaatkan halaman belakang rumahnya untuk beternak ayam atau memelihara burung, baik untuk tambahan penghasilan maupun sekadar hobi. Dalam penyuluhan diberikan juga pengertian adanya keharusan untuk mengikuti program vaksinasi yang dianjurkan oleh Dinas Peternakan setempat. Masyarakat juga harus memahami kemungkinan adanya bahaya penyakit Zoonosis bila tidak mengikuti program vaksinasi. Penyuluhan juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengajak masyarakat menerapkan pola hidup bersih.

Di tengah kemajuan media informasi dewasa ini, baik cetak maupun elektronik, kegiatan penyuluhan bisa dibuat menarik dan atraktif. Grup lawak Nyanyah misalnya tentu tidak akan keberatan diajak untuk kegiatan pengabdian masyarakat. Demikian pula program Ongol-ongol di RTv misalnya. Dan last but not least, mahasiswa yang sedang libur tentu dengan segala senang hati akan membantu sebagai salah satu wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pendek kata, pencegahan dan penanggulangan penyakit flu burung ini harus menjadi gerakan serempak masyarakat. Pemer-intah harus proaktif mengajak partisipasi masyarakat. Tanpa program-program tersebut tentu naif menyatakan suatu daerah bebas dari penyakit hewan menular yang sedang mewabah.


(Tabloid MENTARI No.221/Th V/19-25 Desember 2005)


Tulisan ini sudah di baca 117 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/441-Flu-Burung-Akhirnya-Tiba.html