drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 5

Flu Burung


Oleh : drh.chaidir, MM

Di tahun 70-an ketika saya masih duduk di bangku kuliah Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Yogyakarta, belum dikenal adanya penyakit unggas ganas yang menular pada manusia. Beberapa penyakit menular yang dikenal berjangkit pada unggas tidak menular pada manusia. Penyakit unggas yang paling populer dan ditakuti peternak pada waktu itu adalah "tetelo" atau ND (Newcastle Disease). Disebut Newcastle Disease karena penyakit ini memang dikenal untuk pertama kalinya di Newcastle, Inggeris. Penyebabnya virus, namanya pun virus ND. Penyakit ND sebenarnya bisa menular kepada manusia, hanya saja akibat yang ditimbulkannya ringan, hanya sekedar menimbulkan efek kemerahan pada selaput mata, tidak diobatipun akan sembuh sendiri.

Sebagai penyakit yang disebabkan virus, penyakit ND pada ayam tidak ada obat yang mangkus untuk penyembuhannya. Bila suatu peternakan ayam terserang tetelo, habislah sudah. Kematian tak terbendung, mortalitas 100%. Ribuan ternak ayam berkandang-kandang habis digulung, peternak pun meraung.

Apa yang bisa dilakukan peternak menghadapi penyakit ND? Tidak ada jalan lain, vaksinasi! Vaksinasi adalah pemberian vaksin ke dalam tubuh ayam. Caranya bisa melalui makanan, minuman atau suntikan. Vaksin adalah virus (antigen) yang telah dilemahkan sedemikian rupa, yang apabila dimasukkan ke dalam tubuh ayam atau hewan yang divaksin akan merangsang terbentuknya perlawanan dalam tubuh hewan tersebut, yang dikenal dengan istilah antibodi. Vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak sapi atau ruminansia misalnya, berasal dari virus PMK yang telah dilemahkan, vaksin penyakit cacar, berasal pula dari virus cacar yang sudah dibuat tidak berkutik.

Adanya virus dalam tubuh ayam atau hewan lain bisa diketahui atau dideteksi melalui pemeriksaan sampel darah. Ada sejenis cairan yang merupakan saripati dari cairan darah yang disebut serum; serum inilah yang diperiksa secara teliti melalui berbagai macam uji di laboratonum. Uji laboratonum dimaksudkan untuk mendeteksi virus tertentu. Uji laboratorium ini beraneka ragam dan beraneka seri. Hasilnya? Virus A misalnya, menunjukkan hasil positif untuk Uji I, tetapi negatif untuk Uji II. Virus B sebaliknya. Namun hasil ujinya seringkali tidak sesederhana itu, dibutuhkan keahlian khusus untuk menginterpretasikannya. Dengan serangkaian uji laboratorium akan diperoleh kesimpulan apakah ada infeksi virus atau tidak pada suatu individu. (Ingat, adanya indikasi keberadaan virus dalam tubuh satu individu, belum tentu menunjukkan gejala sakit. Contoh: seseorang yang positif tertular virus HIV melalui uji laboratorium, belum tentu menunjukkan gejala penyakit AIDS).

Timbulnya antibodi yang merupakan simbol perlawanan dalam tubuh terhadap masuknya virus pun bisa diidentifikasi melalui uji laboratorium. Sehingga, efektif atau tidaknya vaksinasi bisa diketahui secara terukur (ada atau tidaknya antibodi dan tinggi atau rendahnya kadar antibodi). Secara teoritis, vaksinasi pasti akan membangkitkan antibodi dalam tubuh sehingga apabila virus sesungguhnya (virus yang ganas) masuk ke dalam tubuh dengan berbagai macam kemungkinan, seperti misalnya melalui makanan, kontak tubuh, udara dan sebagainya, antibodi yang sudah terbentuk siap menyergap sang virus asing tersebut karena tubuh sudah dilatih melawan sang virus sejenis. Sehingga ketika virus belum sempat melakukan pembiakan dalam tubuh induk semang, dia sudah hancur lebur ditebas antibodi.

Tapi cerita teori pembentukan antibodi ini, tidak seluruhnya sesuai dengan kenyataan. Adakalanya antibodi tidak terbentuk, sehingga walaupun sudah divaksinasi sang individu tetap terjangkit virus. Maka petugas pun kena caci-hamun, dianggap pembohong, pembengak atau tidak becus. Padahal masalahnya kadang-kadang tidak berdiri sendiri. Bila vaksinasi tidak menumbuhkan antibodi, ada beberapa kemungkinan. Pertama, vaksinnya sudah tidak bagus, misalnya sudah kadaluwarsa atau tempat penyimpanannya tidak memenuhi syarat. Kedua. cara vaksinasinya kadang tidak sempurna (human error). Ketiga, kondisi kesehatan tubuh individu sedang bermasalah. Atau keempat, gabungan dari beberapa faktor tersebut.

Virus berbeda dengan kuman atau bakteri. Bakteri juga termasuk dalam mikroorganisme, tetapi bakteri lebih mudah penanganannya. Bakteri mudah diisolasi dan dengan teknik pewarnaan akan dengan mudah terlihat dan dibedakan di bawah mikroskop biasa. Bakteri penyebab penyakit Anthrax misalnya, dengan mudah dapat dibedakan dengan kuman penyebab penyakit tbc, atau kuman penyebab penyakit kolera. Penyakit yang disebabkan oleh kurnan, apabila belum terlambat penanganannya masih bisa diobati dengan antibiotik, kemudian untuk pemulihan kondisi tubuh dibantu dengan obat-obatan lain dan vitamin. Sedangkan virus tak bisa dihajar dengan antibiotik. Obatnya belum ditemukan.

Flu Burung atau Avian Influenza (AI) yang sekarang datang melanda, termasuk penyakit global yang kini sangat populer dan merisaukan menyusul penyakit SARS yang sebelumnya juga bikin heboh. Penyakit-penyakit ini termasuk Zoonosis, sejenis penyakit hewan yang menular kepada manusia. Penyakit-penyakit ini semula terdapat pada hewan, tetapi ternyata virusnya juga berbahaya bagi manusia. Sebenarnya AI sudah lama ada di Indonesia, hanya saja jenisnya tidak galak seperti AI yang kita kenal hari ini. AI yang dulu kita kenal merupakan AI dengan tipe "low pathogenic" (tingkat keganasannya rendah). Belum jelas betul kenapa sekarang ada strain virus AI dengan tipe 'high pathogenic' (sangat ganas). Para dokter hewan agaknya harus bekertja ekstra keras untuk mengungkapkan rahasia virus siluman ini.

Sebelum AI dan SARS menjadi momok yang menakutkan, Penyakit Anjing Gila (Rabies) adalah Zonosis yang paling kejam. Rabies ditularkan oleh anjing penderita kepada hewan lain atau manusia melalui gigitan. Air liur anjing yang penuh dengan virus masuk melalui luka gigitan, merambat melalui jaringan syaraf akhirnya bersemayam di jaringan otak penderita. Maka penderita pun menunjukkan tanda-tanda giia, menyendiri, ketakutan melihat air atau bahkan agresif menyerang semua benda bergerak yang terdapat disekitarnya. Dan, 48 jam setelah virus rabies mencapai otak, penderita tidak lagi tertolong.

Sesungguhnya masih banyak penyakit Zoonosis yang perlu diwaspadai manusia. Anthrax adalah salah satu penyakit Zonosis yang pernah bikin geger Amerika Serikat pasca peristiwa "September 11", ketika beberapa kantor dikirimi serbuk misterius yang diidentifikasi mengandung kuman Anthrax. Padahal kuman Anthrax ini semula hanya dikenal menyerang ternak sapi.

Kita berharap pemerintah jangan terlalu banyak berpolemik mengenai penyakit AI ini. Lakukan saja langkah-langkah yang sistematis. Ahli-ahli di labortorium terus bekerja menekuni seluk beluk virus, para birokrat di lapangan melakukan pengendalian secara ketat sehingga penyebaran tidak meluas, dan petugas penyuluh memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan peternak agar melakukan pemeliharaan ternak secara benar. Pemerintah juga perlu mewaspadai atau bahkan menyadari adanya persaingan bisnis global di belakang layar wabah AI ini.

Singapura pernah KO dipukul SARS, tapi ibarat petinju yang dipukul rubuh, mereka segera bangkit sebelum hitungan ke sepuluh sehingga akhirnya cepat keluar dari krisis. Jarak mereka tidak sampai sejauh mata memandang, tak pula jauh beribu batu. Kenapa kita tidak becermin?


(Tabloid MENTARI No.213/Th IV/26 September-2 Oktober2005)


Tulisan ini sudah di baca 108 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/440-Flu-Burung.html