drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 5

Hari Esok Tak Terduga


Oleh : drh.chaidir, MM

Hari esok memang tidak terduga. Siapa yang menduga akan terjadi gempa bumi, kemudian disusul gelombang tsunami yang demikian dahsyat di Nangroe Aceh Darussalam yang menelan korban ratusan ribu jiwa? Siapa yang sungguh-sungguh menduga malam itu, ketika penduduk sudah mulai bermimpi dalam tidurnya, akan terjadi gempa di Nias? Siapa menduga Gunung Talang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat meletus tanpa menunjukkan tanda-tanda yang terpantau oleh penduduk? Siapa menduga gempa tiba-tiba terjadi di Nabire, Irian Jaya? Siapa menduga timbunan sampah di Jawa Barat bisa longsor sehingga menimbun hidup-hidup puluhan jiwa manusia?

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, Padang, Sumatera Barat, dengan pantainya yang indah, masyarakatnya hidup damai tenteram dan ceria, kini hidup dihantui ketakutan. Gempa bumi yang dulu amat sangat jarang terjadi, kini, walaupun dalam skala kecil, sering datang memprovokasi. Ombak pantai Padang yang dulu dikagumi dan menjadi inspirasi para seniman, kini berubah menakutkan, bila-bila masa saja ombak itu seakan bisa berubah menjadi monster tsunami yang menakutkan. Bencana tsunami di Aceh dan gempa di Nias telah menebar rasa ngeri. Masyarakat 1 wajar khawatir. Dan karena kekhawatiran itulah agaknya, sudah ada kawan yang bermaksud menjual rumahnya yang terletak di kawasan pantai Padang.

Siapa juga menduga seorang Mulyana W Kusumah (MWK) ditangkap dalam kasus dugaan korupsi? Rasanya antara percaya dan tidak. Bukankah MWK selama ini dikenal sebagai seorang figur dengan stempel integritas yang jelas? Tokoh ini dikenal memiliki reputasi yang baik sebagai tokoh pengawal hukum dan demokrasi dalam era pasca reformasi. Sejumlah jabatan bergengsi dipercayakan kepadanya sebagai konsekuensi dan penghargaan terhadap komitmennya. Dia ikut mendirikan Kontras bersama Almarhum Munir, dia pernah menjabat sebagai Direktur eksekutif Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang bergengsi itu. -MWK pernah menjabat Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu, dia pernah memegang jabatan Wakil Ketua Panwaslu, bahkan dia juga Anggota Konsorsium Pembaruan Hukum Nasional, Artinya, dengan jabatan-jabatan tersebut MWK sesungguhnya adalah tokoh yang terbilang nama dalam menegakkan keadilan, dan memiliki keberpihakan sangat jelas kepada masyarakat yang mencari keadilan.

Tapi itulah kehidupan, seringkali tak terduga. Cobalah singkap bilik sejarah. Napoleon Bonaparte tak penah menduga akan menjadi Konsul Pertama Prancis (kemudian mengangkat diri menjadi Kaisar dan mendapatkan Margareth Josephine, wanita paling cantik sejagad pada masanya, sebagai isteri). Lenin (Vladimir Ilyich Ulyanov Lenin) tak pernah menduga akan menjadi pemimpin karena pada masanya Rusia menganut Monarkhi Absolut di bawah kepemimpinan Tsar. Tapi takdir ternyata berkata lain. Perang Dunia I membuat segalanya berubah. Kekacauan ekonomi dan politik sebagai akibat perang membuat Tsar akhirnya jatuh, dan Lenin dielu-elukan karena pernah menjadi korban Tsar (dipenjara selama 14 bulan dan dibuang ke Siberia tiga tahun). Setelah melalui serangkaian pemberontakan, pada tahun 1917 Lenin berhasil menjadi kepala negara.

Hal yang tak terduga juga dapat kita simak dalam sejarah kehidupan Hitler. Adolf Hitler tak pernah berpikir untuk masuk dunia politik. la justru ingin berkecimpung dalam dunia seni. Tapi sebagai seniman pun ia gagal dan bahkan ditolak masuk jurusan Seni Rupa. Pada Perang Dunia I ia kemudian masuk militer sebagai prajurit biasa. Kegagalan sebagai seniman ia lampiaskan dalam peperangan, dan untuk keberaniannya dia memperoleh dua medali. Tahun 1919 ia masuk partai Nazi, tapi ia kemudian ditangkap karena melakukan pemberontakan. Tahun 1928 Nazi masih partai kecil dan siapa bisa percaya Hitler akan meroket. Tapi ketika ketidakpuasan dan depresi melanda Jerman dan rakyat kemudian kehilangan kepercayaan pada kemapanan, maka keadaan itu dengan segera membalikkan nasib Hitler (yang juga cepat menangkap peluang). Dengan kegigihannya, pada tahun 1933, dalam usia 44 tahun, ia menjadi Kanselir Jerman.

Umar bin Abdul Aziz pun sebenarnya dapat disebut sebagai orang yang menerima keadaan tak terduga. Sebagai orang yang bukan anak raja (meski keturunan bangsawan) Umar tak pernah berpikir menjadi raja, karena khalifah Bani Umayyah waktu itu, Abdul Malik bin Marwan mempunyai seorang putera yang sudah dewasa yaitu Yazid. Tapi takdir ternyata berkata lain, ketika khalifah Abdul Malik mangkat, dalam surat wasiatnya ternyata menyebut nama kemenakannya Umar bin Abdul Aziz yang diharapkannya sebagai pengganti, dan bukan Yazid anaknya sendiri (sesuatu yang sulit terjadi dalam logika monarkhi absolut).

Nelson Mandela pun menjadi sebuah fenomena. Tidak pernah diduga ia akan menjadi Presiden Afrika Selatan. Tokoh pro demokrasi ini dipenjarakan oleh rezim apartheid selama 27 tahun. Orang pun meyakini Nelson Mandela sudah tamat dan akan menghabiskan usianya di penjara. Tapi kemudian ketika ia sudah hampir dilupakan, ketika angin demokrasi bertiup kencang di luar penjara yang memungkinkan dia dibebaskan pada tahurj 1990, Nelson Mandela kembali memimpin partainya, ANC (African National Congress} dan memenangkan pemilihan Presiden Afrika Selatan. Dan menjadi tokoh yang dicintai oleh rakyatnya, bahkan kemudian memenangkan hadiah Nobel Perdamaian.

Tidak ada yang menduga juga seorang Gubernur seperti Abdullah Puteh, akhirnya dibuktikan bersalah oleh pengadilan melakukan korupsi yang merugikan negara, dan divonis 10 tahun penjara. Dia pun kini terancam pula pidana korupsi lainnya: penyalahgunaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Secara hukum, belum tentu seorang tokoh masyarakat bersaiah karena ada prinsip praduga tak bersaiah. Namun diperlukan proses peradilan yang fair dan tidak bercampur aduk dengan wilayah politik sebagaimana biasanya kebiasaan buruk kita. bila seorang tokoh masyarakat yang tersandung memang sudah terkontaminasi, seandainya tuduhan itu benar, maka semakin kuatlah alasan masyarakat, maling ternyata ada dimana-mana. Semakin terbukti betapa banyaknya maling teriak maling. Benarlah kata burung Hudhud (burung yang menjadi ajudan Nabi Sulaiman), bahwa ribuan orang mati setiap tahun dan dikubur, tetapi anjing nafsu yang bersemayam dalam diri kita masing-masing, tak pernah mati, dan seringkali tak tertundukkan.

Segala macam teori tentang kerak-kerak lapisan bumi boleh jadi benar. Mungkin karena pergeseran-pergeseran dan patahan lempengan tersebut, maka terjadilah gempa bumi. Tapi siapa yang tahu persis rahasia di perut bumi? Jangankan rahasia di perut bumi, apa yang akan terjadi esok hari saja, kita juga tidak bisa memprediksi dengan tepat.

Apa yang ditulis oleh DR Aidh al-Qarni, seorang penulis terpandang dari Timur tengah agaknya benar, "Biarkanlah hari esok itu datang dengan sendirinya; jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Sebab hari ini anda sudah sangat sibuk."


(Tabloid MENTARI No.191/lv/18-24 April 2005)


Tulisan ini sudah di baca 107 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/438-Hari-Esok-Tak-Terduga.html