drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 5

Bila Bumi Bergetar


Oleh : drh.chaidir, MM

Bagi ribuan jiwa korban gempa di Pulau Nias, hidup ternyata hanya sehari, hari Senin tanggal 28 Maret 2005, hari Ahadnya telah berlalu dan hari Selasa tak pernah datang lagi, selamanya. Mereka tewas tertimpa reruntuhan bangunan akibat bumi bergetar hebat tak beraturan secara tiba-tiba. Gempa! Ya, gempa bumi kembali membawa bencana. Masih belum lagi kering akmata akibat bencana gempa dan gelombang tsunami tiga bulan sebelumnya di Nangroe Aceh Darussalam, kini air mata kembali tumpah. Banyak yang kehilangan orang-orang tercinta, dan banyak yang tiba-tiba saja terpaksa harus menjalani hidup dalam lembaran baru mulai dari nol. Mimpi masa depan yang telah dirangkai penuh harapan tiba-tiba saja terkubur. Tidak ada yang menduga sama sekali bumi yang bergetar menjelang tengah malam itu akan menimbulkan kelam.

Bumi yang kita diami ini sesungguhnyalah tak pernah berhenti bergetar, hanya saja biasanya getaran itu teratur, laksana sebuah kapal yang sedang berlayar. Ada getaran halus mesin kapal yang tak pernah berhenti sebelum berlabuh. Planet bumi tak pernah berlabuh, tidak ada pelabuhan yang tersedia baginya. Dia terus bergetar halus dan beredar mengelilingi matahari dalam siklus 360 hari dan di samping peredaran panjang yang tak pernah berhenti itu, bola bumi juga tak pernah berhenti berputar secara teratur pada sumbunya dalam tempo 24 jam sekali putaran. Kenapa kita tidak pening dan terjatuh bila memang bumi ini berputar? Tanya Chaleed (8), anak saya. Karena ada gravitasi atau daya tarik bumi seperti buah catur yang ada magnitnya. Walaupun papan catur kita balik, buah catur tetap lengket. Entah Chaleed bisa paham entah tidak dengan penjelasan papanya. Kebetulan seminggu sebelumnya saya membelikan globe untuknya, dan globe itu pun saya putar sebagai alat peraga.

Kita tak pernah sungguh-sungguh menyadari bahwa bumi yang berputar yang kita pijak ini sudah sangat tua, terbentuk jutaan tahun yang lalu dari debu-debu dan butiran-butiran air yang menyatu dalam persekongkolan tak terduga: tanah dan air. Debu-debu yang terdiri dari berbagai macam jenis dan n dengan berat jenis yang berbeda-beda pula, mengkristal menjadi benda keras berbentuk gumpalan-gumpalan, lapisan-lapisan atau lempengan-lempengan akibat perputaran yang telah berlangsung jutaan tahun tak pernah berhenti. Konon bumi kita ini dulu seperti serbuk tepung gandum untuk roti, cuma saja tepungnya beraneka; ragam, ada yang bisa menyatu menjadi adonan seperti adonan yang kompak, ada yang tidak bisa homogen seperti emulsi. Tapi ada juga yang tidak bisa menyatu seperti minyak dan air. Adonan yang tak bisa menyatu itu, menjadi tidak solid dan tidak beraturan berlapis-lapis dan berwarna-warni. Akibat perputaran yang tak pernah berhenti, suhu yang berubah, atau keletihan (fatigue) lapisan-lapisan atau lempengan-lempengan itu adakalanya retak atau bergeser. Keretakan atau pergeseran yang tak teratur itulah yang menimbulkan getaran dan goncangan hebat, dan menyengsarakan manusia yang berada di atasnya. Getaran itu oleh umat tnanusia disepakati bernama gempa bumi.

Getaran bumi yang disebabkan gempa memang merupakan getaran yang tak teratur, tiba-tiba saja, tak pernah berkhabar dan tak terduga. Manusia boleh bangga dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya sehingga bisa menduga isi perut bumi, tapi manusia tak pernah sungguh-sungguh bisa menduga kapan patahan atau pergeseran lempengan itu akan terjadi. Manusia hanya bisa mengukur kekuatan getarannya yang dikenal dengan Skala Richter (Richter scale], cara pengukuran magnitude gempa yang ditemukan oleh seismologist Amerika Serikat Charles Richter (1900-1985), dan kemudian mencatat kejadian demi kejadian, jumlah korban dan ramalan-ramalan. Selebihnya tidak. Buktinya, para pakar gempa merasa kecele, kenapa gempa yang terjadi di perut bumi di bawah laut antara Pulau Nias dan Pulau Simeuleu ini (yang berkekuatan 8,7 skala Richter - hampir sama dengan Gempa di Aceh, 9,0 skala Richter) tidak menimbulkan gelombang tsunami? Bukankah hanya yang terjadi di bawah laut di utara Pulau Simeuleu itu menimbulkan gelombang tsunami yang hebat dan menelan korban lebih dari 250 ribu jiwa di Nangroe Aceh Darussalam, dan ribuan lainnya di Thailand, Malaysia, Bangladesh, India dan Srilangka? Pusat gempa pada 26 Desember 2004 yang korbannya maha dahsyat itu sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat gempa 28 Maret 2005, bahkan gempa yang menimbulkan gelombang tsunami itu getarannya tidak sampai di Pekanbaru. Para pakar boleh berteori pusat kedua gempa itu berbeda kedalamannya dan berbeda karakter patahan lempengannya, tapi tetap saja mengherankan. Sebab gempa kedua - tanpa gelombang tsunami - getaran yang ditimbulkannya juga cukup hebat, menghancurkan kota Gunung Sitoli, ibukota Kabupaten Nias, Sumatera Utara, dan getarannya terasa sampai ke Padang, Pekanbaru dan Jambi.

Tapi itulah, dalam alam semesta ini tidak hanya melulu berlaku hukum sebab-akibat, yang bersifat empiris dan dapat dilacak melalui penelitian ilmiah atau logika akademis, akan tetapi ada juga hubungan sebab-akibat yang tidak bisa dilacak secara empiris, tetapi ditunjukkan oleh Sang Pencipta, transendental. Dan logika yang Sang Pencipta seringkali tak terduga oleh manusia.

Manusia memang bisa menduga-duga tersebab skenario struktur lempengan-lempengan di perut bumi, dan adanya keretakan-keretakan yang terdeteksi, boleh jadi dulu, terbentuknya pulau-pulau kita ini, Sumatera, Jawa, Kalimantan dan seterusnya, timbul akibat retaknya planet bumi kita ini. Logika ini jugalah barangkali yang memunculkan ramalan, pulau Sumatera ini pun kelak akan terbelah. Wallahualam.

Kita kembali disadarkan, seperti kata orangtua-tua, mujur tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Tak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi esok, bahkan hari esok pun belum tentu akan datang. Dan itulah yang dialami oleh ratusan ribu jiwa korban tsunami Desember lalu dan ribuan korban gempa lainnya di Pulau Nias beberapa hari lalu. Bencana itu tiba-tiba saja terjadi, hanya beberapa menit, dan tiba-tiba telah mengubah sejarah kehidupan sebagian anak manusia. Sebagian tidak lagi ada hari esok, sebagian mendapati hari esok yang berbeda dari impian.

Tapi, bukankah tak selamanya mendung itu kelabu? Sejarah dunia tak melulu berisi agenda kejadian tak terduga hanya ma-lapetaka. Selalu ada sesuatu yang tercecer dari sebuah musibah, yang bernama hikmah. Tapi itu rahasia Yang Maha Kuasa. Namun setidaknya musibah itu harus menjadi iktibar bagi kita betapa tak kuasanya manusia. Kejadian bumi bergetar seperti yang terjadi di Pulau Nias dan Pulau Semeulue, bila-bila masa bisa saja terjadi di bagian lain kepulauan nusantara ini. Siapa yang menduga?

Apa yang ditulis oleh DR Aid al Qarni agaknya bisa menjadi penghibur kita: "Orang yang tidak pernah pedih hatinya, tidak pernah merasakan kelegaan hati. Orang yang tidak pernah merasakan lapar, tidak mengetahui rasanya kenyang. Orang yang tidak pernah sakit, tidak mengerti nikmatnya sehat. Orang yang tidak pernah dipenjara, tidak pernah memahami indahnya kemerdekaan. Ingat, musibah adalah pelajaran."

DR Aid al Qarni benar. Dan takdir tidak pernah ditulis ulang karena tintanya tak lagi tersedia, tinta itu telah lama mengering. Tapi kita manusia yang nisbi tak akan pernah mampu membacanya. Itu rahasia Sang Pencipta.


(Tabloid MENTARI No. 189/IV/4-10 April 2005)


Tulisan ini sudah di baca 169 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/437-Bila-Bumi-Bergetar.html