drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 4

Kura-kura Dalam Perahu


Oleh : drh.chaidir, MM

Agaknya sudah ditakdirkan, Riau tak ubahnya ibarat gua yang ditemukan Ali Baba dalam dongeng "1001 Malam" itu, penuh dengan harta karun. Cobalah lihat: di bawah minyak, di atas minyak, di tengah-tengah gambut tebal. Di bawah bernama minyak bumi, di atas bergelar minyak sawit, yang di tengah ya gambut itu. Gambut bisa menjadi energi alternatif bila nanti minyak buminya habis. Bagaimana cara membuat gambut menjadi sumber energi, tunggulah dulu sampai minyak bumi habis. Sebab kata orang tua-tua, tak ada rotan akar pun jadi.

Kekayaan alam Riau di atas bumi, ternyata tidak hanya minyak sawit, hutan pun kekayaan alam yang terbukti telah menjadi dolar tak terkira banyaknya. Kebun sawit yang sekarang terhampar luas tujuh tahun kuda berlari, sebenarnya juga tersebab hutan. Jutaan pohon telah ditebang, kayu lurus diekspor dalam bentuk kayu gelondongan, kayu bengkok dicincang menjadi "cheap" sebagai bahan baku bubur kertas. Semuanya tentu menjadi fulus. Fulus itu kemudian digunakan untuk membangun kebun sawit di atas lahan yang pohonnya telah dibabat habis. Kayu menjadi fulus, fulus menjadi kebun sawit, kebun sawit menjadi pabrik fulus, itu namanya siklus.

Keenakan dengan modus ini, pembukaan lahan semakin menjadi-jadi, dengan atau tanpa izin. Maka, jurus akal-akalan pun mulai dimainkan. Untuk membangun kebun sawit diperlukan dana tidak sedikit yang tidak mungkin diperoleh dari menabung berdikit-dikit. Apa akal? Dipetakanlah kawasan hutan yang bernama hutan konversi, kawasannya bisa dikoversikan menjadi kebun sawit, kebun karet, coklat dan sebagainya. Hutan di atas kawasan konversi boleh ditebang, kayunya boleh dijual untuk membiayai pembangunan kebun di atas areal tersebut.

Apa lacur? Sebagian kawasan hutan memang berubah menjadi kebun sawit, Alhamdulillah, tapi sebagian lainnya ditinggalkan demikian saja setelah kayunya dibabat habis. Itu biasa. Yang biasa lainnya adalah, diberi izin 10 hektar yang dibabat 20 hektar. Tapi ini masih sopan. Yang kurang sopan, izin 10 hektar, dibabat 100 hektar. Atau izin di kabupaten A, kayunya diambil di kabupaten B. Atau, izin pemanfaatan kayu diberikan di atas lahan marjinal yang tidak ada tegakan pohonnya, tetapi seakan disulap, lahan itu tetap saja menghasilkan kayu beratus-ratus tual. Lho kayunya dari mana? Ya dari mana-mana. Atau, ada kayu lurus dilaporkan bengkok, kayu diameter 30 cm atau lebih, dilaporkan 1 5 cm, maka cukainya tentu saja berbeda jauh. Semua itu menjadi biasa, termasuk juga kemudian menebang pohon di kawasan hutan lindung.

Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) mengungkapkan data yang sangat memprihatinkan. Telah terjadi penurunan luas hutan alam Riau dalam kurun waktu 1984-2005 seluas 3 juta hektar. Penurunan tertinggi terjadi dalam interval 1999-2005, yang mencapai 840.000 hektar. Akibatnya, luas hutan yang tersisa 290 sekarang tinggal kurang dari 700.000 hektar. Hutan alam Riau telah beralih fungsi menjadi areal perkebunan dan hutan tanaman industri.

Gubernur Riau, pada acara pencanangan Gerakan Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional di Minas, Kabupaten Siak, Riau, mengatakan tahun 2004 hutan Riau masih 4,3 juta hektar, namun kini hanya tinggal 2,5 juta hektar (60%), sisanya rusak tidak lagi dapat disebut hutan. Hutan kita memang sudah luluh lantak.

Menteri Kehutanan, Ka'ban, pernah mengatakan, dari tinjauan textbook, hutan kita secara nasional memiliki luas 120 juta hektar, dan menurut UU harus tetap dipertahankan tidak boleh kurang dari 30 persen. Tetapi kondisi saat ini tinggal 25 persen. Bahkan dengan tingkat degradasi hutan rata-rata 2,8 juta hektar pertahun, maka dalam tempo 25 tahun hutan kita sudah akan habis. Menhut selanjutnya menyebutkan setiap tahun Negara dirugikan minimal Rp 30 triliun. Pada tahun 2004, dana yang masuk dari penebangan hutan hanya Rp 2,2 triliun. Perkiraan kerugian tersebut baru pada tingkat produksi rata-rata 30 M3 per hektar, padahal hutan virgin produksinya rata-rata 150-200 M3 per hektar.

Masih menurut Menhut, salah satu penyebab illegal logging yang merusakkan hutan kita adalah akibat amburadulnya perizinan. Perizinan dikeluarkan secara tidak taat azas, sarat kepentingan, sarat kolusi, sering terjadi tumpang tindih dan campur aduk kepemilikan lahan antara pemilik HGU, HPH dan HPHTI. Surat Keterangan Ganti Rugi (SKGR) dan Surat Keterangan Tanah (SKT) yang dikeluarkan pihak desa dan kecamatan umumnya bermasalah.

Perambahan hutan di Riau konon sudah dimulai sejak awal 1970-an. Tapi pembabatan secara besar-besaran baik legal maupun illegal dimulai awal 1980-an. Pemetaan hutan produksi, hutan lindung, hutan konversi, tinggal di atas kertas, di lapangan tidak ada bedanya, absurd. Tebang pilih, tinggal konsep. Kenyataannya, sejak saat itu sampai sekarang, penebangan hutan tetap tak pernah terkendalikan, dan setiap hari ribuan tual kayu dicuri secara terang-terangan, bahkan hutan lindung pun disikat. Bayangkan berapabanyak negara dirugikan.

Apa penyimpangan-penyimpangan itu tidak ada yang tahu? Rasanya untuk waktu yang sudah sekian lama, mustahil tidak terungkap. Tapi itulah kenyataannya. "Para cukong illegal logging ini sangat licin dan sulit dicari jejaknya," ujar Kapolda Riau, Brigjen Pol Ito Sumardi, sebagaimana dikutip Riau Pos (20/1/2006). Dalam Koran yang sama Kapolda mengatakan bahwa bisnis kayu ilegal ini merupakan suatu sindikat. Kegiatan mereka tertata rapi dengan pola sistim sel. "Sistim ini sengaja diciptakan, sulit ditembus karena informasinya terputus-putus." Cukong ini barangkali memang licin seperti belut yang dilumuri oli. Kita mencatat, hingga saat ini, yang namanya Operasi Hutan Lestari Polda maupun Operasi Terpadu Dinas Kehutanan memang belum berhasil menangkap satu pun cukong illegal logging. Yang ditangkap hanya nakhoda, awak kapal, sopir, kernet dan rakyat kecil penebang kayu.

Masalah kehutanan adalah masalah yang kusut masai. Tidak usah seorang pengamat, masyarakat awam pun tahu, illegal logging ini sarat dengan kolusi. Opini yang terbentuk adalah, oknum yang bermain dalam illegal logging ini hampir di semua lini, mulai dari atas sampai ke bawah, tapi semuanya menggunakan jurus ôkura-kura dalam perahu."

Sesungguhnya, sumber daya alam hutan tidak tabu dieksploitasi. Justru kekayaan alam itu harus dimanfaatkan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Membiarkan saja "lumbung" itu tidak termanfaatkan sementara kita mati di atasnya adalah sebuah tindakan yang tolol. Hutan harus bisa memberikan sumber kehidupan terutama bagi masyarakat setempat. Tetapi memanfaatkan sumber daya alam itu secara arif dan cerdas adalah menjadi sebuah keniscayaan.

Illegal logging memang harus diberantas, hukum harus ditegakkan. Namun sebuah realitas pahit, kita dihadapkan pada dilemma Kegiatan illegal logging menjadi mata pencaharian utama masyarakat di desa di tepi hutan. Sementara program ekonomi kerakyatan belum secara substansial menyentuh mereka dan sebagian mereka tidak mempunyai mata pencaharian lain kecuali menebang kayu, menebang, menebang dan menebang. Maka, jadinya seperti buah simalakama.


(Tabloid MENTARI No.225/Th V/23-29 Januari 2006)


Tulisan ini sudah di baca 135 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/436-Kura-kura-Dalam-Perahu.html