drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 4

Buah Simalakama


Oleh : drh.chaidir, MM

Pemerintah kini bak makan buah simalakama, dimakan mati bapak, tak dimakan mati ibu, dikulum-kulum mati sendiri. Biang simalakama itu bernama Bahan Bakar Minyak (BBM). BBM ternyata telah berubah menjadi hantu yang selalu membisikkan mimpi buruk. Dulu bahan tambang minyak ini menjadi darah pembangunan, tapi kini menjadi sumber masalah bahkan menjadi sumber fitnah.

Kalau pemerintah tidak menaikkan harga BBM, negara harus menanggung beban subsidi BBM yang jumlahnya lebih dari Rp 130 triliun lebih per tahun. Jumlah itupun bisa membengkak bila harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barrel. Tradisi pemerintah memberikan subsidi harga BBM sudah berlangsung sejak lama dan ini sebenarnya dimaksudkan untuk membantu meringankan beban masyarakat golongan ekonomi lemah.

Namun ternyata subsidi ini telah menina-bobokkan masyarakat. Yang merisaukan pemerintah tidak hanya menjadi manjanya masyarakat untuk tetap mendapatkan BBM dengan harga murah tetapi kenyataan menunjukkan, subsidi BBM yang jumlahnya puluhan triliun rupiah itu dinikmati oleh kelompok menengah ke atas dan para pengusaha industri yang menggunakan banyak BBM. Dengan kata lain subsidi BBM tidak mencapai sasaran, yang me nikmati subsidi BBM itu sebagian besar justru orang kaya (80%). Penduduk miskin hanya menikmati sekitar 20% saja. Artinya, bukan si kaya membantu si miskin tapi si miskin membantu si kaya. Dunia memang terbalik-balik. Tapi ini tidak mudah dijelaskan.

Apabila subsidi harga BBM dicabut, keuangan negara secara makro akan tertolong, defisit keuangan negara akan teratasi, tetapi harga BBM akan melambung naik. Kalau harga BBM naik, kelompok yang 80% tadi tidak akan menderita, tetapi kelompok; yang 20% akan menderita karena harga sembako akan ikut-ikutan menyesuaikan diri merangkak naik. Semua kebutuhan hidup akan ikut naik termasuk ongkos oplet, bus, bajai dan sebagainya. hidup masyarakat kecil jelas akan lebih berat.

Pemerintah sebenarnya tidak kehilangan akal. Sebagian dana subsidi BBM yang dicabut tersebut dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk dana program pembangunan yang diperlukan rakyat berupa dana kompensasi kenaikan harga BBM. Dan program ini sudah dilakukan sejak kenaikan harga BBM padaj bulan Maret 2005 yang lalu. Program itu meliputi bantuan dana untuk program pendidikan yakni berupa biaya operasional sekolah di wilayah-wilayah yang menjadi kantong kemiskinan, program kesehatan dan program pembangunan infrastruktur di pedesaan.

Kini, dalam kebijakan kenaikan harga BBM 1 Oktober 2005 pemerintah memberikan kompensasi berupa bantuan uang langsung kepada rakyat miskin sebesar Rp 100 ribu per bulan untuk masa waktu tiga bulan. Sebagaimana diberitakan di berbagai media massa, sebanyak 15,6 juta keluarga miskin akan mendapatkan bantuan langsung tunai. Dana itu tentu saja sangat bermakna bagi keluarga miskin. Namun sebenarnya kita telah melanggar tunjuk ajar orang tua-tua kita yang sudah sangat umum kita dengar, kalau memberikan bantuan, jangan beri ikan, tapi berikanlah pancing. Ikan memang langsung bisa dinikmati, tapi sebentar saja akan habis, sebaliknya dengan pancing. Rakyat memang diajar untuk berusaha, tetapi sekali mereka pandai memancing, maka mereka akan makan ikan seumur hidupnya. Dana Rp 100 ribu per KK setiap bulan selama tiga bulan, akan sangat membantu, tapi setelah itu? Kemana rakyat miskin ini hendak mengadu? Kebijakan bantuan langsung ini tentulah sebuah kebijakan yang sangat populis tetapi tidak menyelesaikan masalah.

Pada bagian lain, siapa-siapa yang akan menerima bantuan tersebut masih menjadi tanda tanya. Data kemiskinan yang ada, dari berbagai pemberitaan yang dapat kita ikuti masih simpang siur, jauh dari akurat. Bila kondisinya seperti itu ada kemungkinan akan terjadi: orang-orang yang berhak tidak mendapatkan bantuan, orang-orang yang tidak berhak, mendapatkan bantuan.

Bila itu terjadi maka rakyat akan semakin tidak percaya terhadap kesungguhan pemerintah. Dari berbagai komentar para pakar dan aksi-aksi unjuk rasa yang marak, rakyat memang mencurigai pemerintah tidak jujur, tidak bisa dipercaya dan memiliki banyak agenda tersembunyi. Sederetan fakta pun dionggokkan menjadi setinggi gunung. Tuh lihat, katanya mau memberantas KKN, tapi oknum-oknum yang menurut rakyat harus bertanggungjawab terhadap adanya praktek-praktek KKN dibiarkan bebas tak tersentuh jerat hukum. Pertamina yang dari dulu punya riwayat yang panjang terhadap praktek-praktek KKN yang dilakukan oleh oknum-oknumnya tetap tidak dapat dibenahi. Ada contoh? Ada, coba lihat penyelundupan BBM yang telah berlangsung seperempat abad lebih. Atau kasus illegal logging, atau kasus rekening kingkong oknum perwira tinggi polisi. Semuanya hilang ditelan bumi, tak lagi terdengar kabar beritanya. Rasa keadilan masyarakat kecil terabaikan, tapi jangan khawatir, masyarakat kita kelihatannya mudah lupa.

Tetapi sesungguhnya contoh tidak baik tidak hanya datang dari oknum pemerintah yang tidak bertanggungjawab dan korup. Anggota masyarakat pun ada yang tidak memiliki nurani dengan menyelundupkan BBM secara besar-besaran karena perbedaan harga yang sangat besar antara BBM yang disubsidi dengan harga BBM di negeri tetangga. Ada pula pedagang yang menimbun BBM mencuri kesempatan dalam kesempitan untuk mencari untung sebesar-besarnya.

Maka fitnah pun semakin merajalela. Pemerintah dicurigai melindungi kepentingan bisnis kelompoknya, keluarga atau kroni-kroninya, dianggap lebih pro Amerika ketimbang rakyatnya sendiri. Apa pun yang dibuat oleh Pemerintah semuanya menjadi salah. Padahal mana ada pemerintah yang ingin mencelakakan masyarakat dan bangsanya? Seburuk-buruk pemerintahan, mereka pasti membutuhkan rakyat untuk melegitimasikan kekuasaan yang mereka genggam. Tak ada pemerintahan kalau tidak ada rakyat.

Kita mendirikan pemerintahan dengan harapan adanya keadilan di samping dipenuhinya kebutuhan asasi rakyat. Keadilan adalah bukti cinta pemerintah kepada rakyat, sehingga rakyat akan mencintai pemerintahnya dan akan berpartisipasi pada pembangunan secara maksimal.

Saya tidak bermaksud membangun pesimisme, sebab seburuk-buruk situasi pun, bangsa kita ini tidak akan runtuh. Bangsa kita ini tumbuh dan berkembang berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan itu disadari betul oleh founding fathers kita. Tapi BBM memang membuat pemerintah dan rakyatnya berada pada posisi sulit, vis a vis. Kesalahpahaman kapan-kapan saja bisa terjadi dalam situasi sulit seperti sekarang, namun agaknya kita harus saling membangun kepercayaan, jangan ada dusta di antara kita.

(Tabloid MENTARI No.214/Th IV/3-9 Oktober 2005)


Tulisan ini sudah di baca 130 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/435-Buah-Simalakama.html