drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 4

Ito Sumardi


Oleh : drh.chaidir, MM

Nakhoda POLDA Riau berganti. Brigjen Pol Damanhuri berangkat, Brigjen Pol Ito Sumardi39) datang. Hukum alam, ada yang datang, ada yang pergi, ada yang berangkat ada yang kembali, semuanya berpasang-pasangan laksana siang dan malam, laksana bumi dan langit. Semua memang demikian. Semua peristiwa itu akan terjadi, kalau pun belum, itu tinggal menunggu waktu. Yang penting adalah bagamana kita memaknai sebuah peristiwa, sembari meraba-raba ada apa di balik tabir yang terbuka.

Meneropong peristiwa di balik peristiwa, bukan sesuatu yang aneh dalam dunia jurnalistik. Pembenarannya sederhana saja, seperti pepatah mengatakan, "kalau tak ada berada tak kan tempuai bersarang rendah." "Tak ada asap kalau tak ada api." Kalau tak ada angin, tak ada hujan, takkan mungkin kelambu bergoyang. Maka, adalah kuli disket (atau ku]i flash disk?) yang selalu memiliki segudang pertanyaan. Kalau tak bertanya macam-macam bukanlah wartawan namanya. Kenapa mutasi itu demikian cepat terjadi?

Sesuatu yang di luar adat kebiasaan memang selalu menarik perhatian. Tetapi sesungguhnya mutasi, atau rotasi, atau tour of dutyy adalah sesuatu yang biasa dan wajar dalam tubuh kepolisian atau instansi vertikal lainnya seperti TNI, kejaksaan atau pengadilan. Seseorang yang bertugas di kawasan barat, tiba-tiba dipindah ke kawasan timur atau sebaliknya. Tidak ada yang aneh.

Tapi mutasi Kapolda Riau kali ini ditandai dengan beberapa isu krusial yang menjadi perhatian masyarakat dalam beberapa bulan terakhir ini. Isu itu bersinggungan dengan tugas pokok dan fungsi jajaran kepolisian, sensitif, rawan, dan ngeri-ngeri sedap. Kadang kala akibat ulah nila setetes rusak susu sebelanga.

Pertama, masalah illegal logging. Hutan Riau memang sudah hampir punah ranah, penebangan liar terjadi dimana-mana, tak peduli kawasan hutan lindung. Menten Kehutanan kita, Ka'ban pernah mengatakan tidak kurang dari 100.000 Ha hutan mengalami degradasi setiap tahun. Maka Menteri Kehutanan mengatakan, dalam tempo 25 tahun, bila tidak ada upaya yang sungguh-sungguh menyelamatkan hutan, maka hutan kita akan habis. Praktek illegal logging ini sesungguhnya sudah berlangsung lama, tetapi sayangnya tidak tersentuh. Padahal pencurian itu dilakukan; dengan alat-alat berat. Orang menyebutnya mafia kayu. Wilayah. illegal logging ini rawan fitnah.

Kedua, praktek perjudian. Perjudian ini pun tadinya seakan labirin tak tersentuh, semua bisa melihat dan semua tahu, rahasianya adalah rahasia umum, artinya tidak rahasia. Tetapi perjudian tetap; hidup dengan segala bentuk kemasan, sampai kemudian Jendral Polisi Sutanto, Kapolri yang baru, membuat gebrakan dahsyat ganyang perjudian! Maka perjudian pun menghilang. Alat-alat perjudian dibakar oleh aparat, tapi bandarnya menghilang, tetap aman? Di Riau, jajaran Polda melaksanakan dengan baik instruksi Kapolri. Perjudian dibasmi. Ternyata bisa. Walaupun masih menyisakan kontroversi-kontroversi yang mengundang pertanyaan.

Ketiga, penanggulangan bahaya narkoba. Ancaman bahaya narkoba di Riau tak boleh dianggap masalah biasa. Bahaya narkoba sangat merisaukan dan memprihatinkan para orang tua yang memiliki anak-anak remaja. Korban telah banyak tercatat. Apalagi Riau disebut-sebut sebagai daerah yang subur bagi perdagangan narkoba. Wilayah ini penuh dengan prasangka, apalagi beberapa oknum jajaran kepolisian ikut terlibat sebagaimana beberapa kali terbaca di media massa.

Keempat, praktek premanisme. Premanisme memang merisaukan. Selama ini, para pelaku seperti siluman, tak tersentuh, tak pernah berhasil ditangkap. Tahun ini pelaku bom Molotov sebagai bagian dari aksi premanisme berhasil diungkap oleh jajaran Polda Riau. Masyarakat bernafas lega. Pemimpin proyek pemerintah agaknya tidak lagi perlu terlalu khawatir sehingga bisa menjalankan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Namun masyarakat masih menunggu kelanjutan prosesnya.

Kelima, tertangkapnya pelaku sodomi dan pembunuhan pada anak-anak, sangat melegakan masyarakat. Untuk sekian waktu lamanya para orangtua dihantui oleh kekhawatiran karena satu demi satu korban berjatuhan.

Keenam, perampokan bersenjata api dan bersenjata tajam masih saja terjadi, dan jelas ini menimbulkan citra yang kurang bagus bagi wajah kamtibmas kita. Masyarakat memang mendambakan rasa aman, dan tempat mereka berharap adalah jajaran kepolisian

Ketujuh, penyelundupan minyak, penangkapan ikan secara illegal juga merupakan masalah yang tidak mudah diatasi.

Dan masih banyak masalah-masalah lain yang berpengaruh terhadap kemananan dan ketertiban masyarakat, yang kesemuanya merupakan beban yang terletak di pundak jajaran kepolisian. Memang benar, masyarakat tidak bisa sepenuhnya menyerahkan kamtibmas kepada kepolisian, tetapi kepolisian memang institusi yang diberi tanggung jawab oleh negara untuk menangani masalahl tersebut, mau atau tidak mau. Oleh karena itulah kepolisian juga, disebut sebagai alat negara.

Masyarakat sesungguhnya tidak ambil peduli, berapa kali mutasi dikehendaki oleh petinggi negeri, yang penting bagi mereka adalah bila mutasi atau rotasi dilakukan, kualitas kemananan dan ketertiban masyarakat harus meningkat. Iklim berusaha seyogianya harus tetap kondusif sehingga daerah tetap atraktif bagi investor sebagai garansi terciptanya lapangan pekerjaan. Masyarakat terbebas dari rasa khawatir untuk bepergian; demikian pula kendaraan-kendaraan angkutan umum, nyaman dan bebas dari aksi pemerasan, aksi copet maupun penodongan. Para orang tua pula, tidak perlu khawatir melepas anaknya ke sekolah.

Saya tak memperoleh informasi banyak tentang Kapolda Riau yang baru, yang saya dengar orangnya pintar dan cerdas. Dalam tempo 11 bulan Brigjen Damanhuri bertugas sebagai Kapolda Riau dia telah berbuat yang terbaik bagi kesatuannya melalui beberapa indikator yang bisa dilihat oleh awam. Bila jejak itu kemudian diikuti oleh Brigjen Ito Sumardi bahkan memberikan sesuatu yang lebih bermakna dan berkualitas, itu sebenarnya merupakan suatu keniscayaan dari kecerdasan yang diusungnya ke negeri Lancang Kuning ini.

Pataka Polda Riau yang mengambil sepotong ucapan Hang Tuah yang terkenal itu, "Tuah Sakti Hamba Negeri" tentulah filosofinya dipahami secara dalam oleh jajaran Polda Riau khususnya di kalangan pimpinannya.

Kita ucapkan selamat datang dan selamat bertugas kepada Brigjen Ito Sumardi. Jabatan adalah amanah. Lagu Lancang kuning yang dibawakan oleh KORSIK Polda Riau pada acara Sertijab, memuat kearifan Melayu yang tak kalah dalam maknanya: "Lancang kuning berlayar malam/haluan menuju ke laut dalam/kalau nakhoda kuranglah paham/alamatlah kapal akan tenggelam.

* Ito Sumardi, ketika buku ini diterbitkan menjabat Kapolda Sumatera Selatan dengan pangkat Mayor Jenderal Polisi.

(Tabloid MENTARI No.222/Th V/26 Desember2005 -1 Januari 2006)


Tulisan ini sudah di baca 123 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/434-Ito-Sumardi.html