drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 4

Bakso Tikus


Oleh : drh.chaidir, MM

MEMPEROLOK-OLOKKAN atau bukan, inilah sebuah kenyataan. Formalin dimakan, boraks ditelan. Daging tikus pun diolah jadi hidangan. Kita telah menjadi omnifora sejati, pemakan semua. Yang halal sedap yang haram pun disantap. Makanan sehat disikat, racun pun ditenggat. Adakah kita krisis pangan, sehingga pemerintah terpaksa mengimpor beras bulan ini sebanyak 110 ribu ton? Tidak. Tidak ada kaitannya sama sekali, tidak juga dengan kenaikan harga BBM. Masyarakat makan formalin, boraks, dag-ing busuk, daging tikus, bukan karena kekurangan pangan, tetapi karena kita sedang "sakit" yang tak terdiagnosa.

Seakan tak percaya, semua itu benar adanya. Berita-berita itu sebuah realita tak terbantahkan. Dulu, kita malu karena ternyata kita tidak lagi menjadi bangsa yang peramah, tapi pemberang yang dengan mudah melakukan pembunuhan memenggal leher, membakar orang hidup-hidup, dan sebagainya. Kini, bangsa kita bisa saja dinilai sebagai bangsa yang jorok, tidak memiliki apresiasi yang baik terhadap makanan. Semua dimakan termasuk tikus, yang tidak dimakan cuma kapal selam dan daun pintu, itu pun karena keras. Pemberitaan seputar formalin, boraks, mi basah, ikan asin, bakso, bahkan bakso tikus dan sejenisnya, menyita perhatian kita dalam suasana pergantian tahun 2005-2006. Dan sesungguhnya ini memalukan dan memilukan. Bukankah kita mengaku sebagai masyarakat yang berbudaya dan memiliki peradaban?

Ini bencana. Makanan yang mengandung formalin atau boraks ini boleh jadi telah membunuh puluhan ribu, ratusan ribu atau bahkan mungkin jutaan orang besar-kecil, tua-muda, laki-laki perempuan yang mengkonsumsinya, tanpa disadari, tanpa tercatat.

Apa itu formalin? Formalin adalah sejenis zat kimia, berupa cairan bening tak berwarna, baunya menyengat hidung dan uapnya merangsang mengeluarkan air mata. Formalin sebenarnya adalah larutan yang mengandung 40% zat kimia formaldehida. Formaldehida inilah zat kimia beracun yang terdapat dalam cairan yang bernama formalin. Formaidenida ditemukan pertama kali oleh A.W. von Hofmann pada tahun 1867. Formalin umumnya digunakan sebagai bahan pembunuh hama, pembasmi lalat, bahan pembuat pupuk urea, pengawet mayat, pengawet specimen biologis untuk kepentingan laboratorium, dan lain-lain. Bagi mahasiswa fakultas kedokteran, kedokteran hewan dan peternakan, formalin tidak asing bagi mereka karena dipergunakan sebagai pengawet mayat dan bangkai hewan untuk keperluan praktik ilmu anatomi. Dengan merendam mayat atau bangkai hewan dalam formalin, preparat itu bisa tahan lama dan bisa dipergunakan berulang-ulang.

Pemanfaatan formalin untuk membunuh hama (disinfektan), pembasmi lalat, pembuatan pupuk, pengawet mayat, memang itulah yang sesuai, demikianlah harusnya. Yang terlarang adalah, formalin digunakan sebagai pengawet bahan makanan untuk manusia. Kenapa menggunakan formalin? Inilah rupanya jalan pintas, cara mudah untuk mencegah supaya bahan makanan tidak mudah busuk, basi atau rusak. Cobalah bayangkan. Mi basah apabila tidak menggunakan formalin hanya akan bertahan paling lama 8-10 jam, untuk kemudian busuk. Tetapi, bila dibubuhi formalin, mi akan bertahan 2-3 hari. Maka, mi basah itu pun bisa diangkut untuk dipasarkan sampai ke luar kota.

Bahan makanan yang dibubuhi formalin ternyata tidak hanya mi basah. Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Departemen Kesehatan, ternyata, bahan makanan lain seperti tahu, ikan asin, ikan segar, ikan teri, ayam potong, juga dibubuhi formalin supaya tidak lekas busuk atau rusak. Ini membuat kita kaget, karena hampir semua produk bahan makanan menggunakan formalin sebagai bahan pengawet. Itu artinya, hampir sebagian besar juga orang yang mengkonsumsi bahan-bahan makanan tersebut pernah "menikmati" formalin, termasuk juga saya dan barangkali anda juga.

Boraks juga demikian. Zat kimia ini bukan untuk dicampur dengan makanan, bila dicampur berbahaya bagi kesehatan. Zat kimia berupa hablur atau kristal halus transparans ini sebenarnya digunakan untuk anti septic dan sebagai campuran dalam industri keramik dan industri gelas tahan panas. Tapi entah tunjuk ajar setan dari mana, boraks pun dibubuhkan pada makanan "otak-otak", bakso dan sebagainya. Alkisah beberapa tahun lalu seorang warga negara Singapura membawa "otak-otak" dari Batam, karena "healthy minded" dia memeriksakan makanan tersebut kelaboratorium. Hasilnya? Ternyata otak-otak itu mengandung boraks. Kedubes RI di Singapura diberi tahu, Kedubes pun memberitahu kepada Depkes di Jakarta. Follow-upnya? . . .Tidak ada follow-up. Atau sekurang-kurangnya tidak ada tindakan apa-apa sampai sekarang.

Sebenarnya apabila formalin atau boraks tidak membahayakan bagi kesehatan manusia, maka penggunaannya sebagai pengawet bahan makanan tentulah sebuah inovasi yang bagus dalam industri bahan makanan. Tetapi masalahnya, formalin dan boraks ternyata sangat membahayakan bagi kesehatan manusia. Orang yang sering; mengkonsumsi makanan yang mengandung formalin atau boraks bisa terkena berbagai gangguan penyakit seperti gangguan hati, gangguan pernafasan, ginjal, jantung, dan yang lebih mengerikan, bisa terkena kanker. Formaldehida yang terkandung dalam larutan formalin itu bersifat karsinogen - dapat merangsang tumbuhnya kanker.

Sesungguhnya, cerita tentang makanan mengandung formalin bukan cerita baru, itu lagu lama. Jauh sebelum heboh di penghujung tahun 2005, formalin telah beberapa kali bikin masalah. Riau adalah daerah pertama yang mencuatkan masalah ini ke permukaan di awal tahun 1980-an. Ceritanya bermula kerika seorang tenaga apoteker, Drs Djuharman Arifin, Apt, Kepala Sub Seksi Pengawasan Makanan Minuman Badan POM Pekanbaru (sekarang Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau) melakukan pengawasan rutin ke pabrik mi basah Tenaga Muda di Jalan Melur. "Di pabrik mi basah itu air mata saya meleleh, mata terasa perih. Ini pasti ada sesuatu yang, tidak beres," kenang Djuharman. Dia pun langsung melakukan peninjauan ke gudang. Dan, benar. Di gudang ditemukan dua setengah drum formalin, yang hari itu juga langsung diamankan. Berdasarkan temuan tersebut, pemeriksaan dilakukan terhadap pabrik mi basah di Jalan Durian dan Jalan Riau. Hasilnya, kedua pabrik ini pun menggunakan formalin sebagai bahan pengawet.

Tanpa bermaksud mencari kambing hitam, kita perlu menangkap pesan yang tersirat dari bencana yang kita alami, kalau kita sepakat menyebut itu bencana. Ada sesuatu yang salah, dan kita mungkin bisa melihatnya dari perbagai perspektif. Dari perspektif pengusaha, sang pengusaha makanan agaknya tidak tahu atau tidak tahu dengan kesehatan konsumennya sehingga tidak perlu merasa bersalah menggunakan bahan pengawet beracun. Atau nnenjual makanan yang tidak pantas dikonsumsi manusia. Dari perspektif pemerintah, ada kelalaian dalam melakukan pengawasan dan penyuluhan, mana yang boleh atau tidak boleh, mana yang sehat atau tidak sehat. Senjata ada di tangan berupa peraturan, tapi tidak pernah bisa digunakan. Pengawasan kita seperti pengawasan pedagang kaki lima, hari ini digusur, besok dibiarkan. Dari perspektif masyarakat pula, membiarkan dirinya tidak memiliki apresiasi yang memadai terhadap standar kesehatan minimal. Berbekal suatu sikap "ini cara kita", masyarakat pun "permissive" terhadap pola makan yang tidak sehat.

Sebagai bangsa yang memiliki peradaban, rasanya kita malu. Tapi yang lebih penting sebetulnya, yang patut kita renungkan adalah, terlalu banyak input yang merusak masa depan generasi muda kita. Ada narkoba, gizi buruk, kekurangan protein, air minum yang tidak bersih, lingkungan yang kotor, udara tercemar, cacingan, malaria, polio, dan kini, formalin dan boraks. Kalau pemerintah tidak melakukan tindakan sistematis untuk pencegahan dan penanggulangannya, sama saja kita melakukan pembunuhan perlahan-lahan terhadap anak cucu kita. Janganlah sampai ada nyanyian killing me softly with formalin. ......

* otak-otak, sejenis makanan terbuat dari daging ikan laut yang dihaluskan, dibungkus dengan daun kelapa, kemudian dipanggang.

(Tabloid MENTARI No.223/ThV/9-15 Jan 2006)


Tulisan ini sudah di baca 123 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/433-Bakso-Tikus.html