drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 4

Negeri Illegal


Oleh : drh.chaidir, MM

Ketika banyak pejabat negeri ini yang duduk sebagai tersangka, dan sekian banyak lagi yang menjadi calon tersangka dan bakal calon tersangka, ada yang berseloroh mengatakan negeri ini sebagai "Tersangka". Kini, ada julukan baru yang agaknya "suai" untuk diperselorohkan: Negeri Ilegal.

Kenapa? Karena banyak sekali praktik-praktik ilegal, alias haram, alias tidak sah secara hukum. Ada illegal logging (pencurian kayu gelondongan, penebangan hutan secara liar), ada illegal fishing (penangkapan ikan di laut tanpa izin, yang biasanya dilakukan oleh nelayan asing), ada daging ilegal (yang ini daging sungguhan, daging murah yang diimpor dari India secara tidak sah), ada juga gula ilegal, beras ilegal, dan kini yang sedang heboh: illegal oil (penyelundupan minyak atau oil smuggling). Ada pula limbah ilegal. Dulu, ada pasir ilegal, ada pula Pekerja Seks Komersil illegal (artinya PSK ini WNA, tapi tidak didukung oleh dokumen yang valid), ada penjualan bayi (yang ini tentu saja ilegal), ada tabloid ilegal (tabloid esek-esek) dan sebagainya.

Itu belum kalau kita bicara mengenai praktek-praktek ilegal atau menyimpang yang berkaitan dengan korupsi, kolusi dan nepotisme, atau praktik-praktik lain yang sunsang. Daftarnya bisa panjang berjela-jela. Sebut saja misalnya pembukaan lahan ilegal yang kemudian menetas menjadi perkebunan ilegal, pungutan ilegal, penjualan obat ilegal, senjata ilegal, penambangan ilegal, proyek ilegal, doktor ilegal, profesor ilegal, istri ilegal, suami ilegal dan seterusnya.

Semakin ditertibkan semakin nampak praktik-praktik ilegal itu rupanya sudah berurat berakar, kecambahnya laksana kanker stadium empat. Sudah menjadi rahasia umum, sebagaimana suara-suara yang terdengar bergumam dati grass-root, bahwa gerakan pemerintah menggulung koruptor, menimbulkan peluang bagi pihak lain untuk melakukan praktek ilegal. Jadinya ilegal kontra ilegal. Koruptor tanggung akan segera keok, tapi induk bangkong koruptor nampaknya memiliki 1001 jalan untuk lolos "kejaran". Main kejar-kejaran pun dipertahankan agar masing-masing tetap berada pada kecepatan dan jarak yang sama, sehingga pengejar dan yang dikejar laksana rel kereta api, bertemu di titik sayup-sayup mata memandang alias tak akan pernah bertemu.

Salah satu fungsi pemerintah adalah fungsi pengaturan dan untuk melaksanakan fungsi tersebut pemerintah membuat aturan main, tapi aturan main ini kemudian menjadi aturan untuk "main" dan menjadi permainan, menjadi "ladang" bagi pihak lain. Maka jangan heran bila ada pagar makan tanaman, ada musang berbulu ayam, ada yang senang memancing di air keruh sehingga air tetap dibiarkan keruh, ada maling teriak maling. Kita takut hantu, tapi tempat lari yang tersedia hanya kuburan. Kita sering kecele dan tertipu atau "telmi" (telat mikir).

Agaknya karena sudah berurat berakar, maka pemberantasan praktik-praktik illegal itu bukan suatu pekerjaan yang mudah. Membangunkan orang tidur mudah, tapi yang hendak kita bangunkan adalah mereka yang pura-pura tidur. Dulu, esprit de corp sering mem-buat praktek-praktek ilegal itu tidak muncul ke permukaan, tapi untunglah sekarang paradigma itu sudah mulai berubah walaupun terasa belum sepenuhnya hilang. Oleh karena itulah keberanian Kapolri Jenderal Polisi Sutanto bersama TNI Angkatan Laut dan Bea Cukai untuk menangkap 6.000 ton BBM yang diselundupkan dan membongkar persekongkolan komplotannya patut diacungi jempol. Bila benar informasi seperti yang diberitakan media massa bahwa penyelundupan itu sudah dimulai semenjak dibangunnya Pulau Batam, tentulah penyelundupan ini layak masuk Museum Rekor Indonesia (MURI). Apalagi setiap tahun negara dirugikan sekitar Rp 8,8 triliun.

Bila kita menggunakan asumsi Pulau Batam mulai dibangun pada tahun 1980, maka sampai sekarang berarti sudah 25 tahun dan kalau ditotal, jumlah kerugian bisa mencapai Rp 220 triliun. Tempo 25 tahun tentu bukan suatu masa yang pendek untuk mengungkap sebuan perbuatan ilegal yang berjemaah seperti itu. Kenapa baru sekarang terbongkar? Kemungkinannya ada dua hal, pertama, jaringannya yang sangat rapi, atau, kedua, selama ini kita tutup mata, atau kedua-duanya sekaligus.

Bila dikali-kali, memang tidak sedikit BBM yang telah berhasil mereka selundupkan. Di masa sulit seperti sekarang, ketika patroli pantai sudah semakin baik, dan pengawasan semakin ketat, jumlah yang, tertangkap masih cukup besar, apatah lagi dulu ketika pengawasan tidak seketat sekarang. Bisa dibayangkan berapa banyak BBM yang telah diselundupkan. Dan sedihnya lagi, BBM tersebut adalah BBM yang harganya disubsidi oleh pemerintah. Selisih harganya tentu sangat besar dengan harga BBM di Singapura atau Malaysia. Dan yang amat sangat menyedihkan lagi subsidi itu diberikan oleh rakyat melalui APBN. Alangkah tragisnya.

Dari 58 tersangka, 18 orang diantaranya pejabat Pertamina. Masyarakat tentu tidak terkejut dengan keterlibatan oknum Pertamina, karena perusahaan negara ini dari dulu memang sudah memiliki rekor yang panjang dalam masalah ini. Oleh karena penyakit itulah agaknya Pertamina tidak pernah menjadi besar. Kini masa jayanya telah lama lewat. Padahal Petronas (Pertamina-nya Malaysia) dulu pada awal berdirinya belajar dari Pertamina.

Beberapa tahun yang lalu, saya kebetulan berkesempatan bertemu dan berbincang-bincang dengan pendiri Petronas, Tengku Razaleigh di kantor beliau di Kuala Lumpur. Mantan tokoh UMNO ini bernostalgia, bagaimana bangganya dia dalam suatu kesempatan mengikuti kunjungan kerja Dirut Pertamina ke daerah. Ibnu Sutowo disambut seperti raja, katanya. Menurut Tengku Razaleigh, dia belajar banyak dari Pertamina dalam pengembangan awal Petronas.

Tapi begitulah nasib. Petronas tumbuh menjada raksasa, bahkan telah membangun gedung pencakar langit Petronas Twin Tower di Kuala Lumpur yang menjadi kebanggaan Malaysia. Petronas bahkan sudah mulai merambah, ekspansi ke luar negeri, ke Burma, Kazakstan dan Afrika. Alasan memang bisa dibuat: Petronas bebas menggunakan keuntungan yang diperolehnya untuk pengembangan usaha, sedangkan Pertamina, tidak. Keuntungannya masuk negara. Tapi di masa jayanya dulu Pertamina juga membuat banyak cabang usaha dan anak perusahaan.

Yang ketiban pulung adalah Riau dan Kepulauan Riau. Imej tentu kurang menguntungkan bagi Riau dan Kepulauan Riau. Riau merupakan daerah penghasil minyak terbesar secara nasional (lebih dari 50% produksi nasional), sedangkan Kepri memiliki Pulau Batam, yang berkembang sebagai kawasan industri dan alih kapal (transhipment), disebut-sebut merupakan penyebab awal suburnya penyelundupan BBM di kawasan itu.

Kawasan perairan Riau dan Kepulauan Riau secara geografis memang merupakan wilayah yang sangat dekat dengan Singapura dan Malaysia. Almarhum Prof Mubyarto bahkan mengatakan Singapura, Malaysia, Riau (mencakup Kepulauan Riau) dulu berada dalam satu wilayah perekonomian. Masing-masing saling membutuhkan. Pada masanya dulu, penduduk di wilayah ini bebas saling tukar menukar barang dagangan. Penyelundupan atau smokel (smuggling) kemudian muncul setelah sistem negara tidak lagi memungkinkan pembeli dan penjual bebas saling tukar dagangan. Maka jadilah wilayah ini menjadi habitat yang paling subur bagi para penyelundup. Pulau-pulau dan selatnya bersahabat tempat menikung dan berlindung.

Bagi spekulan peluangnya sangat menarik ketika harga BBM di Singapura dan Malaysia sangat mahal karena tidak disubsidi oleh negaranya sedang harga BBM kita sangat murah karena disubsidi, maka praktik ilegal pun tak terbendung.

Tapi kini era keemasan bagi penyelundup BBM sudah lewat, kita tidak mau menjadi "Negeri Ilegal". Tahniah.

(Tabloid MENTARI No.211/Th IV/12-18 September 2005)


Tulisan ini sudah di baca 161 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/432-Negeri-Illegal.html