drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 4

Saddam Digantung Saddam Tak Mati


Oleh : drh.chaidir, MM

Saddam Hussein divonis hukuman gantung. Tidak ada orang yang selamat dari tiang gantung, semua akan mati dengan cara mengerikan, bergelenjotan meregang nyawa, kemudian hening. Kecuali dalam film fiksi yang memang diskenariokan: sang terhukum mati tiba-tiba diselamatkan oleh seorang hero. Selebihnya tidak.

Saddam Hussein pun demikian, seandainya tidak ada pengampunan, tidak ada keajaiban, mantan Presiden Irak yang digulingkan Amerika Serikat (AS) itu pun mengakhiri hayatnya di tiang gantungan. Kali ini dia tak akan mampu lolos. Lubang jarum terlalu kecil baginya.

Tapi selesaikah urusan AS-Irak dengan tamatnya riwayat Saddam? Tidak. Perseteruan itu akan memasuki babak baru. Saddam Hussein bisa hancur lebur, dan AS berhasil memaksakan berdirinya boneka di Irak, tapi sampai kapan rezim itu akan bertahan? Seratus tahun, atau seribu tahun? Sejarah akan mencatat ulang, seperti yang dicatat terhadap agresor Hulagu Khan dan Timur Lenk. Kekuatan pasukan Mongolia ini dicatat oleh sejarah pernah menghancurkan Baghdad, mendudukinya, tapi kemudian mereka terusir dari negeri itu. AS dan Inggeris memang tampil sebagai pemenang dalam Perang Teluk jilid 2, mereka berhasil menangkap Saddam dan kemudian mengadilinya, tapi tanpa sengaja mereka telah menyemai Saddam di Irak dan di bagian dunia lainnya. Akan segera tumbuh 1001 Saddam yang mungkin akan lebih Saddam daripada Saddam.

Saddam Hussein agaknya tak lagi hanya seonggok daging tua yang tidak berdaya di bawah todongan senjata Amerika, Saddam sudah berdeser ke wilayah lain, atribut orang-orang lemah yang tertindas oleh kekuasaan. Saddam boleh mati secara fisik, jasadnya akan hancur ditelan bumi, tapi semangatnya tetap akan bersemayam pada dada pemuda-pemuda Irak yang tak sudi berbagi apa pun dengan Amerika.

Para pemimpin Barat kini menyadari itu, mungkin karena ira pulalah maka pemimpin negara Eropa sebagian besar mengecam vonis hukuman mati Saddam Hussein. Bahkan, PM Inggris Tony Blair yang biasanya satu kata dengan AS juga menentang hukuman mati itu. Hanya saja, Blair masih membungkusnya, dia tidak setuju hukuman mati Saddam atau siapa pun. Sebagaimana diberitakan media massa nasional, Menlu Italia Massimo D'Alema mengingatkan, menghukum Saddam akan menjadi 'kesalahan yang tak dapat diterima' dan bisa menyebabkan Irak ke perang saudara tak berkesudahan (Kompas, 8 November 2006 hal 9). Mungkin maksud ll Signor Massimo adalah perang saudara antara pengikut Syiah dan Sunni. Kedua kutub ini memang sangat kentara di Irak. Lihatlah, betapa bersukacitanya kubu Syiah mendengar Saddam Hussein divonis hukuman gantung, dan lihat protes keras kubu Sunni yang tidak bisa menerima vonis tersebut. Saddam Hussein adalah pengikut Sunni.

Saddam mungkin bersalah telah menggunakan kekuasaan secara amat berlebihan ketika dia duduk di singgasana sebagai Presiden Irak. Kesewenang-wenangan seorang pemimpin negeri yang menampilkan dirinya sebagai seorang diktator, otoriter, memang terlarang. Declaration of Human right dengan tegas menyebutkan, "Untuk menjaga agar orang (negara) tidak mengambil jalan kekerasan sebagai jalan terakhir, maka kekuasaan sewenang-wenang dan penindasan harus ditentang keras". Saddam Hussein memang dicatat sebagai seorang pemimpin diktator, tapi dengan demikian tidaklah semerta-merta menjadi pembenar bagi AS untuk menyerang sebuah negara yang berdaulat dan kemudian mendudukinya. Sebab ketika sebuah kesewenang-wenangan tumbang, maka kekuatan yang melibasnya seringkali menjadi sebuah kesewenang-wenangan baru pula. Menghantam orang-orang yang salah dengan cara-cara yang tidak benar tetap akan dicatat sebagai sebuah kesalahan.

Sikap AS terhadap Irak kelihatannya sempurna mewakili kesalahpahaman Barat terhadap Irak. Atau sebenarnya ketidakpedulian Barat terhadap keluh kesah dunia Islam, khususnya negara-negara Islam di Timur Tengah. Israel adalah awal dari semua kemarahan dunia Islam yang tidak bisa dipahami oleh Barat. Presiden Iran Ahmadinejad pernah bertempur melawan Irak, tetapi bukan berarti dia pro Barat. Presiden Ahmadinejad bahkan dengan sederhana merumuskan akar masalah di Timur Tengah bahwa biangnya adalah konspirasi Barat dengan Kaum Yahudi. Ketika kaum Yahudi terusir dari Eropa, kenapa jazirah Arab yang harus menyediakan wilayah untuk mereka dengan mendirikan negara Israel? Kenapa bukan Eropa dan atau Amerika saja yang menyediakan wilayah untuk Yahudi ini, bukankah mereka yang mengusir Yahudi? Ingat, negara Israel belum ada sebelum Perang Dunia II. Mereka negara baru dan dipaksakan berdiri di atas wilayah Arab dan langsung diakui oleh AS dan negara Eropa lainnya. Ketidakpuasan itulah akhirnya yang menyulut sikap-sikap ekstrim kelompok-kelompok masyarakat Timur Tengah, maka Irak pun dituduh ikut mendalangi penyerangan terhadap gedung kembar pencakar langit World Trade Center di New York 11 September 2001.

Rumitnya, otak manusia sudah dijejali dengan prasangka, akibat inforrnasi yang terbukti tidak mengandung kebenaran, bahkan cenderung direkayasa. Misalnya, tuduhan Irak memiliki senjata pemusnah massal yang digunakan sebagai alasan utama oleh AS dan sekutunya untuk melibas Irak, ternyata tidak terbukti. Padahal, banyak pihak sebelumnya meyakini Saddam memang membangun senjata yang mengerikan itu. PBB sudah beberapa kali mengirim tim ahli ke Irak setelah negara itu diduduki Amerika untuk mencari dan menemukan senjata pemusnah massal tersebut, tapi hasilnya nihil. Isu senjata pemusnah massal, boleh jadi hanya isapan jempol, jurus akal-akalan AS dan sekutunya atau karena gertak Saddam Hussein untuk menakuti-nakuti Amerika, dan ditelan mentah-mentah oleh agen intelijen AS.

Nasi memang sudah jadi bubur, Irak sudah telanjur digilas. Negeri 1001 Malam itu sudah telanjur hancur lebur. Presiden Saddam Hussein ditangkap dan digantung. Dan, Amerika dan sekutunya membayar mahal dengan banyaknya tentara mereka yang tewas sia-sia, baik selama perang maupun pasca perang. Kematian yang disesali oleh keluarga dan masyarakatnya, karena serdadu-serdadu itu gugur bukan karena membela Tanah Air, tapi tewas di negeri orang dalam perang angkara murka.

Pembohongan publik tentang senjata pemusnah massal tersebut telah menimbulkan imej yang buruk bagi sekutu, utamanya AS dan Inggris. Kerugian material bisa dihitung, tapi kerugian moril, runtuhnya kredibilitas tak akan bisa ditebus dengan apa pun. Pemerintah Tony Blair di Inggris sempat goyang ketika Penasehat Pertahanannya, seorang pakar senjata, Dr David Kelly, membeberkan kebohongan tentang senjata pemusnah massal tersebut ke publik melalui corong BBC. Dr David Kelly mengungkapkan tuduhan senjata pemusnah massal tersebut adalah isapan jempol. Akibatnya, David Kelly terbunuh (atau dibunuh?) beberapa saat kemudian. Sampai sekarang pembunuhan itu beku ditelan waktu.

Pemerintahan Presiden AS George Walker Bush, anak mantan presiden AS George Bush, beberapa hari lalu menuai hasil dari kebijakannya yang gemar pamer kekuatan pada dunia. Partai Republik kalah dalam Pemilu sela di AS. Dari 100 kursi Senat yang diperebutkan, Partai Republik hanya meraih 49 kursi, 51 kursi lainnya diraih Partai Demokrat, saingan abadinya. Maka, kejayaan Partai Republik di Senat AS sejak 1994 berakhir sudah. Artinya, menjelang akhir periode kepemimpinannya, Presiden George W Bush akan duduk di kursi panas karena setiap kali akan berhadapan dengan lembaga perwakilan rakyat yang tidak berpihak kepadanya.

Dalam pemilu sela tersebut Partai Republik menggunakan isu ketegasan sikap AS terhadap Irak dan vonis mati Saddam untuk memenangkan pemilihan umum. Pada kenyataannya Partai Republik dikalahkan oleh Partai Demokrat dengan isu yang sama. Rakyat Amerika ternyata tidak setuju dengan perlakuan Pemerintah Amerika terhadap Irak. Maknanya rakyat Amerika agaknya sudah letih dengan setiap hari selalu dalam kewaspadaan tinggi menghadapi serangan balik Irak. Padahai, AS hanya takut kepada hantu bayang-bayangnya sendiri, kecuali anak-anak mereka yang bertugas sebagai tentara di Irak yang setiap saat menghadapi ketakutan lain. Tentara AS itu memang setiap hari berhadapan dengan hantu-hantu pencabut nyawa, setiap hari ada saja yang tewas, entah karena bentrokan senjata, entah karena bom bunuh diri, bom waktu, bahkan ada pula yang tewas bunuh diri karena stres.

Betapa pun lantangnya Menlu AS Condoleezza Rice berteriak, bahkan kedengaran sampai ke langit ketujuh, bahwa Amerika tidak bersangkut kait dengan pengadilan Saddam, dunia tidak akan percaya. Yang perlu diingat AS adalah, Saddam digantung Saddam tak mati. Dia akan tetap hidup dalam dada setiap pemuda Irak. Yakinlah.

(Tabloid MENTARI No.248/Th V/10 - 20 November 2006)


Tulisan ini sudah di baca 340 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/429-Saddam-Digantung-Saddam-Tak-Mati.html