drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 4

Melodrama Mahathir-Badawi


Oleh : drh.chaidir, MM

Sebuah berita mengejutkan datang dari seberang, Dr Mahatir Mohammad34), mantan perdana menteri Malaysia, diserang oleh orang tak dikenal dengan serbuk merica di Bandara Pangkalan Chepa, Kota Baharu, Kelantan, sesaat akan memulai orasinya. Spekulasi segera merebak, adakah ini kaitannya dengan sikap Dr Mahathir yang akhir-akhir ini gencar melakukan kritik terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi35)? Ataukah ini ulah dari fundamentalis pengikut Cik Gu Nik Aziz Nik Mat 36), pemimpin Negeri Kelantan, yang tidak pernah berhasil ditundukkan Dr Mahathir?

PM Pak Lah nampaknya sangat menyadari, insiden itu sensitif dan buru-buru memerintahkan kepolisian negara untuk melakukan penyelidikan dan mengungkapkan kasusnya supaya tidak ada yang memancing di air keruh. Opini di Semenanjung memang sudah terbentuk, ada kekurangserasian komunikasi antara Dr Mahathir dan PM, hal itu terlihat dari kritik-kritik tajam yang dilontarkan Dr M. Apa sesungguhnya yang terjadi?

Sebagai sebuah negeri jiran yang sangat dekat dengan Riau secara geografis, bahasa, budaya dan agama, apa yang terjadi menarik untuk diamati. Masalahnya, seperti halnya Singapura, Malaysia telah memberi contoh bagaimana proses suksesi kepemimpinan Negara dapat berjalan dengan aman dan lancar, dalam suasana yang memberikan gambaran penuh keterhormatan. Di Singapura misalnya, PM Lee Kwan Yew "mewariskan" jabatannya kepada Goh Chok Tong. Goh kemudian menyerahkan pula jabatannya kepada Lee Shien Loong, semua berjalan dengan lancar tanpa intrik-intrik politik. PM Datuk Seri Dr Mahathir Mohamad pun mundur terhormat dan memberikan laluan kepada wakilnya Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi untuk menggantikannya dalam suasana yang penuh kekompakan dan persaudaraan.

Siapa tak kenal Dr M? Mantan Perdana Menteri Malaysia ini disebut Bapak Malaysia modern yang telah berhasil membangun Malaysia menjadi sebuah negeri maju yang terkemuka dan bermarwah. Pemimpin Barat selalu dibuat tidak tidur nyenyak oleh kritiknya yang tajam. Ketika krisis ekonomi melanda dunia, tak terkecuali Malaysia, Dr M menolak bantuan IMF, bahkan kemudian dengan penuh percaya diri, dia mematok nilai tukar Ringgit, salah satu hal yang membuat Dr M berbeda pendapat prinsip dengan Dr Anwar Ibrahim, wakilnya ketika itu. Tapi waktu kemudian mencatat, keputusan Dr M benar. Dengan mematok nilai tukar Ringgit, menutup peluang Soros37) untuk memperdagangkan secara spekulatif mata uang Ringgit.

Dunia Barat menjadi berang karena itu sudah dianggap keterlaluan dan keluar dari kaidah-kaidah pergaulan internasional. Ibarat main sepakbola Dr M dianggap offside. Tapi Dr M bersikukuh dengan kebijakannya, bahkan menantang Barat untuk berdebat. Kini semua mengakui Dr M adalah solusi untuk mengatasi krisis. Dr M pada kenyataannya telah berhasil membawa Malaysia menjadi sebuah negeri yang cemerlang, gemilang dan terbilang, sebelum PM Abdullah Badawi mengumandangkan tiga kata itu yang disingkat dengan "Tiga Lang" sebagai tema kampanyenya dalam Pilihan Raya Malaysia tahun 2004.

Ketika Dr M tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri, kalangan dalam dan luar negeri Malaysia menilai, Dr M melakukannya pada saat yang tepat. Sebagai seorang negarawan, dia telah mempertimbangnnya dengan cermat dan penggantinya Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi yang akrab disapa Pak Lah, adalah seorang tokoh yang dianggap mapan, cool, murah senyum dan warak.

Pak Lah dikenal sebagai seorang tokoh yang low profile, tidak suka menonjol-nonjolkan diri. Kalau bertutur bahasanya halus dan tidak konfrontatif. Gayanya memang beda dengan Dr M yang amat kritis dan progresif. Dari kesan pada awal pelantikannya sebagai Perdana Menteri Malaysia, Pak Lah diyakini oleh rakyat Malaysia akan mampu melakukan langkah-langkah besar untuk memajukan Malaysia sebagaimana yang dilakukan pendahulunya Dr M.

Lalu kenapa perbedaan pendapat kini mencuat ke permukaan? Ringkasnya, tentulah ada sesuatu, atau barangkali ada komunikasi yang terputus. Atau ada harapan yang tak sesuai kenyataan. Merasa sebagai seorang pemimpin yang meletakkan dasar-dasar Malaysia modern dan merasa jalur yang ditempuh sudah berada pada lintasan yang benar, Dr M agaknya mengharapkan penerusnya dapat melanjutkan kebijakannya. Namun yang terjadi tidak seperti yang diharapkan, dalam beberapa hal, kebijakan yang diambil Sang Penerus bahkan dikhawatirkan dapat menurunkan kredibilitas negeri. Maka, bukan Dr Mahathir namanya kalau dia diam saja melihat sesuatu yang tidak beres terjadi pada negerinya. Dalam hal ini, tokoh Singapura, Lee Kwan Yew juga tidak beda. Dari liang kubur pun saya akan bangkit bila melihat negeri saya tidak diurus dengan benar oleh pemimpinnya, begitu ujarnya dalam suatu pidato.

Adakah indikasi yang menyebabkan Dr Mahathir gatal untuk tidak angkat bicara? Dari beberapa pemberitaan, kelihatannya ini masalah kebijakan Pak Lah terhadap rasionalisasi beberapa industri strategis di negeri itu yang cukup merisaukan beberapa kalangan. Banyak pihak sangat khawatir "syarikat-syarikat tempatan" yang mengurus kepentingan umum seperti industri transportasi, teleko-munikasi, perbankan dan kejuruteraan, dibeli oleh pihak entitas luar, terutama Singapura yang sangat agresif. Hal ini menyangkut kepentingan strategis Malaysia ke depan. Malaysia kelihatannya sangat khawatir penjualan saham industri-industri penting tersebut akan mengganggu agenda pembangunan perekonomiannya.

Sebagaimana diberitakan Utusan Malaysia, Presiden Transparency International of Malaysia, Tan Sri Ramon Navaratnam mengatakan, sebenarnya pembelian saham beberapa perusahan publik Malaysia oleh perusahaan luar negeri adalah sesuatu yang biasa saja terjadi dalam era globalisasi. Tetapi ceritanya akan lain bila itu dilakukan oleh perusahaan Singapura yang dianggap merupakan pesaing ekonomi terberat bagi Malaysia. "Kerajaan perlu terus berhati-hati dalam melibatkan Singapura. Walaupun penjualan saham itu akan menghasilkan keuntungan jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang syarikat asing itu akan mengeksploitasi kepemilikan tersebut untuk kepentingannya sehingga akan mengganggu perekonomian Malaysia." Perusahaan Singapura memang terkesan menaruh minat yang besar terhadap bidang strategis di Malaysia yang memiliki potensi perniagaan amat besar dalam jangka panjang.

Pembelian sebagian saham perusahaan penerbangan swasta Malaysia, AirAsia oleh Temasek, sebuah syerikat perniagaan Singapura, misalnya, cukup memberikan indikasi bagi Malaysia, bahwa Singapura ingin ikut bermain dalam bisnis transportasi penerbangan domestik Malaysia. Kebijakan rasionalisasi penerbangan domestik PM Abdullah Badawi, dinilai menguntungkan pihak Singapura. Pada bulan Maret 2006 lalu Pemerintah Malaysia mengumumkan bahwa rute-rute domestik yang biasanya diterbangi oleh MAS (Malaysia Air System - BUMN seperti Garuda Indonesia), sekarang diberikan kepada AirAsia. Hanya 19 rute penerbangan domestik yang akan diterbangi bersama oleh MAS dan AirAsia, sisanya 99 rute diberikan kepada AirAsia. Padahal MAS memerlukan minimal 30 rute penerbangan domestik. Kebijakan ini konon membuat Dr Mahathir jengkel. Sebab kebijakan rasionalisasi itu membawa konsekuensi lain. MAS terpaksa harus mengurangi jumlah pesawatnya dari 40 menjadi 21, yang paling memprihatinkan, tenaga kerjanya akan dikurangi dari 23.000 menjadi 16.500 orang. Apa yang akan terjadi dengan 6.500 kaki tangan MAS yang lain?

Dr M juga tak habis pikir bagaimana mungkin Menteri Perdagangan Luar Negeri, Rafidah Aziz (Mentri yang dulu juga menjadi orang kepercayaannya), mengeluarkan Import Permit atau Izin Impor mobil-mobil build-up (mobil rakitan dari pabrik luar negeri) dengan perlakuan khusus, sehingga seakan tidak ada lagi proteksi bagi Proton, mobil-mobil build up ini, seperti dari KIA Korea, harganya murah dan menjadi ancaman yang serius bagi Proton, industri mobil dalam negeri yang menjadi kebanggaan Malaysia.

Pembatalan pembangunan jembatan Johor - Singapura dan menggantinya dengan moda transportasi high speed tram, yang konon melibatkan orang-orang dekat Pak Lah, juga menimbulkan isu yang kurang sedap.

Fenomena orang-orang dekat, memang selalu saja bikin runyam bagi kepemimpinan, tak peduli dimana dan pada level apa. Termasuk juga di negeri kita, atau bahkan di depan hidung kita. Tapi tradisi buruk itu memang sudah bermula dari zaman Fira'un.

Akan halnya melodrama di Malaysia, kita pantau sajalah dari seberang Selat Melaka. Semoga happy ending.


(Tabloid MENTARI No.242/Th V/5 -15 Agustus 2006)

34)Dr Mahathir Mohamad (1925 - ), Perdana Menteri Malaysia ke-4, memerintah 1981-2003
35)Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi (1939 - ), Perdana Menteri Malaysia ke-5 2003
36)Cik Gu Nik Aziz Nik Mat, tokoh spirititual, Pemimpin Partai Islam Se-Malaysia) yang dalam beberapa kali Pemilu selalu mengalahkan UMNO dengan Barisan Nasionalnya di Negara Bagian Kelantan.
37) George Soros, Ketua Soros Fund Management. Lahir di Budapest, Hongaria pada 1930, sekarang tinggal di Amerika Serikat.


Tulisan ini sudah di baca 131 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/428-Melodrama-Mahathir-Badawi.html