drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 4

Kala jusuf Kalla


Oleh : drh.chaidir, MM

Beberapa orang kawan memberikan apresiasi terhadap penampilan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla ketika membuka Asian Physics Olympiad (APhO) di Gedung Lancang Kuning DPRD Riau di Pekanbaru pada 26 April 2005. Penampilannya sederhana, minimalis, begitu kata mereka, dan substansi pidato yang disampaikannya tanpa teks juga dirasakan tidak mengawang-awang, tapi mengena dengan suasana dan tema.

Dengan kemeja lengan panjang berwarna putih, Wapres JK memang memberikan kesan sederhana. Dia tentu tidak bermaksud meniru-niru gaya pemimpin Singapura yang selalu tampil bersahaja dan biasa menggunakan kemeja putih, tapi karena memang sudah dari sononya begitu, selalu tampil dengan gaya minimalis. Penampilan Wapres JK memang jauh dari kesan selebritis apalagi Wapres didampingi oleh sang istri Ibu Hj Mufidah Kalla yang juga memberikan kesan biasa-biasa saja. Padahal kalau mau, pasangan milyuner itu bisa tampil gemerlapan. Bukankah JK adalah pengusaha besar yang sukses sebelum jadi Wapres?

Dalam pengamatan saya pada saat acara pembukaan APhO itu, Wapres agaknya terlalu cepat tampil sehingga dia harus berdiri beberapa saat sampai protokol selesai memberikan announcement dalam bahasa Indonesia dan Inggeris. Tapi peristiwa yang kebetulan itu memberikan pula kesan, Wapres orangnya tidak terlalu protokoler.

Oleh karena itu agaknya tidak berlebihan, bilamana hari itu Wapres JK berhasil merebut ruang publik dan mencuri simpati para undangan. Hari itu bolehlah disebut kalanya (term-nya) Wapres Jusuf Kalla. Saya terus terang agak terkejut mendengarkan pidato Wapres JK. Bayangan saya sebelumnya, tentulah Wapres akan menyampaikan pidato basa-basi dan memberikan apresiasi secara global terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya menduga Wapres akan mengaitkan semangat APhO sebagai tema Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) atau bahkan mengusung APhO ke arah semangat Hari Kebangkitan Nasionai (20 Mei). Tapi ternyata tidak. Wapres JK rupanya langsung menukik mengambil salah satu angle (sudut), bahwa kegiatan APhO ini adalah salah satu evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar. Wapres seakan ingin mengatakan, lihatlah dari sudut yang paling sederhana, jangan dibawa melebar kemana-mana. Siswa yang pintar perlu diberi kesempatan untuk diadu kebolehannya. Yang menang perlu dibiasakan untuk menerima kemenangan tanpa kesombongan dan yang kalah dilatih untuk menerima kekalahan secara sportif tanpa harus merasa terpuruk. Bagi siswa-siswi yang belum memiliki kesempatan untuk ikut berlomba agar termotivasi untuk maju dan menjadi yang terbaik. Wapres pun tidak segan-segan menyela pidatonya dengan bahasa Inggris, yang khusus ditujukannya kepada siswa-siswi yang berasal dari 19 negara dan akan berkompetisi, memotivasi dengan memuji mereka karena telah berhasil menjadi yang terbaik dan mewakili negaranya dalam olimpiade fisika ini.

Dalam obrolan dengan Presiden Olimpiade Fisika Asia (Asian Physics Olympiad-APhO), Yohanes Soerya, pada acara welcome party sehari sebelum pembukaan olimpiade, diceritakan bahwa soal-soal yang disusun oleh sebuah tim ahli selama enam bulan sangat sulit. Siapa yang mampu menyelesaikan soal-soal baik teori maupun praktik 100 persen dalam olimpiade fisika ini, bisa dijuluki sebagai Pemenang Sejati (The Real Winner). Sebab, soal-soal tersebut telah diuji-cobakan kepada beberapa doktor fisika dan kebanyakan dari para doktor ini tidak bisa menyelesaikannya. Begitulah gambaran sulitnya soal-soal yang dipersiapkan oleh tim ahli, sehingga bolehlah disebut soal-soal yang disediakan melebihi standar doktor. Tapi peserta tak perlu cemas, kata Yohanes, karena panitia sangat fair. Peserta diberi kesempatan untuk memilih soal dan soal yang dipilih dibantu dengan bahasa negara yang bersangkutan.

Pembangunan kita ke depan membutuhkan teknologi, teknologi butuh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan diperoleh dengan belajar. "Harus diingat, Tuhan tidak menciptakan otak orang Indonesia lebih kecil dibandingkan dengan bangsa lain. Orang pintar karena banyak belajar, orang bodoh karena kurang belajar. Belajar adalah kuncinya," ujar Wapres JK dalam pidatonya. Wapres juga menambahkan, bagi anak didik, tidak ada motivasi tanpa ujian. Tidak ada satu negara pun di dunia ini yang meluluskan demikian saja siswanya tanpa melalui suatu ujian.

Wapres JK lebih jauh mengingatkan, jangan hanya karena alasan nama baik sekolah misalnya, atau karena rasa kasihan, lantas siswa-siswi diluluskan semuanya tanpa mempertimbangkan lagi kualifikasi yang telah ditetapkan. Wapres memandang, siswa berprestasi perlu diberi penghargaan dan kesempatan untuk rnengembangkan kepercayaan dirinya, sedangkan yang belum berprestasi harus ada sikap yang tegas dari majelis guru untuk memacu keseriusan anak didik. Wapres kelihatannya mengajak dunia pendidikan kita untuk berpikir realistis, tidak terperangkap dalam kesemuan. Untuk apa lulus 100% kalau kemudian lulusannya tidak siap berkompetisi, hanya jago kandang?

Wapres benar, dalam era globalisasi, persaingan akan menjadi demikian tajam. Para ahli dari luar negeri akan leluasa merebut kesempatan di rumah kita sendiri, sebaliknya juga demikian, para ahli kita pun mendapatkan peluang yang sama untuk merebut kesempatan di negara lain. Yang terbaik menang yang lain jadi pecundang. Oleh karena itu mutu dengan kualifikasi keunggulan kelas dunia sudah menjadi sebuah kebutuhan. Kalau tidak, maka ibarat liga sepak bola, kita hanya akan bertanding dalam Divisi W atau bahkan Divisi V, karena hanya di divisi itulah kompetisi tidak keras. Alangkah menyedihkannya. Bertanding di Divisi IV kira-kira samalah artinya bertanding di tingkat RT dengan penontonnya juga lingkungan RT. Begitulah kira-kira.

Tanpa membiasakan diri dengan soal-soal yang sangat sulit dengan standar kelas dunia, sukar diharapkan kita akan memasuki domain mutu kelas dunia. Dan itu semua memerlukan kerja keras dan biayanya memang mahal.

Memang tidak semua persoalan pendidikan atau persoalan sumberdaya manusia di daerah ini akan terjawab dengan APhO. Mengaitkan semua masalah yang berkaitan dengan kemiskinan, kebodohan dengan APhO, agaknya akan menjadi terlalu utopis. Tanpa mengeluarkan biaya untuk APhO pun kita belum akan bisa menyelesaikan masalah yang melilit dunia pendidikan kita yang menimbulkan stigma kebodohan dan ketertinggalan itu. Masalah pendidikan kita bukan pada tersedia atau tidak tersedianya anggaran, tapi adalah pada masalah visi, masalah skenario dan masalah manajemen. Kita belum memiliki design yang jelas menuju pendidikan yang berkualitas sebagai jawaban terhadap kebodohan itu. Kita masih menganggap, dengan penyediaan dana lebih dari Rp 400 miliar setiap tahun untuk pendidikan, semua masalah pendidikan sudah selesai. Tidak. Justru kalau kita tidak hati-hati kita akan mendidik suatu lapisan dalam bidang pendidikan kita menjadi budget minded, semua diukur dengan uang. Ditambah sekalipun budget pendidikan kita menjadi 500, 600 miliar atau bahkan satu triliun rupiah setiap tahun, belum tentu akan menyelesaikan masalah selama akar permasalahannya tidak diselesaikan. Sebab dana itu tidak akan efektif sampai ke sasaran, sebagian besar Justru tercecer atau bercecer-cecer.

Dalam pandangan saya Wapres JK telah memilih sudut pandang yang tepat dalam pidatonya. Penekanannya pada mekanisme ujian sebagai evaluasi terhadap prestasi seorang anak didik, mengharuskan kita memperhatikan secara cermat proses belajar mengajar di kelas. Inilah yang menjadi kelemahan kita selama ini. Anggaran pendidikan kita besar, tapi habis oleh pernik-pernik, yang namanya proses belajar mengajar di kelas juga tetap merana tanpa sarana.

Konon, Presiden John F Kennedy33 pernah marah dalam suatu rapat kabinet ketika mendengar berita pesawat ruang angkasa tanpa awak Soviet telah lebih dulu mendarat di bulan. "What did you do in the classroom (Apa yang telah anda lakukan di kelas?), sergahnya. Begitu jauh hubungan antara teknologi ruang angkasa dengan ruang kelas, sebuah pertanyaan yang sangat mendasar. Dan Wapres JK menyentuh itu.


(Tabloid MENTARI No. 193/1V/2-8 Mei 2005)

33) John Fitzgerald Kennedy (1917-1963), Presiden ke-35 Amerika Serikat, memerintah 1961-1963, terbunuh di Dallas pada 22 November 1963 ditembak oleh Lee Harvey Oswald yang juga mati ditembak oleh petugas keamanan.


Tulisan ini sudah di baca 136 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/427-Kala-jusuf-Kalla.html