drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 4

Mendung Di Atas Semenanjung


Oleh : drh.chaidir, MM

Semenanjung Asia Tenggara dalam beberapa bulan terakhir ini ditutupi mendung kelabu yang menghalangi sinar matahari menyinari bumi. Mendung kelabu tidak hanya berupa jerebu 30), masalah datang silih berganti, tak henti-henti. Gempa bumi yang diikuti gelombang tsunami tak terperi, yang menghajar Aceh, Sumatera Utara, Thailand dan Malaysia, masih menyisakan sejuta duka, kini muncul masalah lain yang tidak kalah merisaukan, kawasan ini terancam perang. Ya perang! Perang konvensional sungguhan, yang melibatkan angkatan perang, bukan perang ekonomi atau perang teknologi sebagaimana layaknya sebuah negeri modern. Padahal tak ada apapun yang diperoleh dari sebuah perang. Kata orang bijak, yang tertinggal dari perang adalah kematian, cacat, janda dan hutang.

Semenjak Konfrontasi Malaysia pada tahun 1964, sudah lama wilayah ini tidak pernah terseret dalam krisis bersenjata antar negara. Tapi kini konfrontasi bersenjata hampir saja meletus akibat persengketaan Kepulauan Ambalat di Laut Sulawesi. Kedua Negara mengklaim sebagai pihak yang berhak atas kepulauan tersebut dan kemudian menyeret kedua angkatan perang berhadap-hadapan, siap tempur. Untunglah berita terakhir yang kita terima - kedua hala31 - Indonesia dan Malaysia sepakat damai. Kalau tidak, entah apalah jadinya. Kalaulah boleh kita memilih biarlah sejarah manis yang berulang, jangan sejarah yang kelam.

Hubungan Indonesia - Malaysia semenjak berakhirnya konfrontasi "Ganyang Malaysia" di era orde lama, sebenarnya terus membaik. Walau perang mulut sesekali terjadi juga akibat ulah "anak-anaknya" yang nakal, seperti masalah pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKJ) misalnya, beberapa kejahatan kriminal yang dilakukan oleh TKI, tetapi hal itu tidak membawa dampak serius, karena masalah TKI bukan masalah kedaulatan, itu hanya masalah perut.

Namun masalah Kepulauan Ambalat memang beda, ini masalah kedaulatan, apalagi sebelum ini kita pernah menghadapi masalah yang sama dengan Pulau Sipadan dan Ligitan. Situasi ke-mudian terdorong menjadi dramatis akibat euforia, dan agaknya juga karena provokasi. Provokasi pemberitaan memang luar biasa dan ini direspon secara berlebihan oleh masyarakat, maka berdirilah Posko Relawan Ganyang Malaysia di berbagai tempat.

Krisis hubungan yang terjadi beberapa hari ini mau tak mau mengingatkan kita kembali kepada sejarah hitam yang tergores ketika terjadi konfrontasi Ganyang Malaysia di awal tahun 1964 sampai tahun 1965. Bagi warga yang secara langsung mengalami peristiwa konfrontasi Ganyang Malaysia ketika itu, tentu masih dapat mengingat-ingat peristiwa tersebut, tapi bagi yang dilahirkan setelah tahun 1960-an, apalagi tidak pernah membaca buku-buku tentang konflik tersebut, diyakini tidak akan memahami kenapa peristiwa konfrontasi Ganyang Malaysia terjadi. Sehingga, agaknya, konfrontasi dulu dan sekarang, dianggap sama saja. Ketika sekarang kita dihadapkan pada krisis hubungan bilateral, masyarakat demikian cepat terprovokasi. Padahal benda yang dipersengketakan itu adalah sesuatu yang nyata, yang tentu bisa dikaji asal-usulnya.

Dalam konfrontasi Ganyang Malaysia pada tahun 1960, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) bersama sukarelawan sesungguhnya tidak berhadapan frontal dengan Malaysia, tetapi dengan tentara Inggeris yang diperkuat oleh pasukan Gurkha (tentara bayaran) dan tentara Australia. Mereka inilah yang berada di garis terdepan sebagai tameng Malaysia di belantara hutan rimba Kalimantan Utara, pada garis perbatasan sepanjang lebih kurang 1000 mil. Negara Malaysia yang waktu itu, baru sekitar tiga tahun dibentuk oleh Inggeris, memang tidak punya kekuatan untuk menghadapi Indonesia. Setelah Indonesia menyatakan keluar dari PBB pada tahun 1964, Armada VII Amerika Serikat ikut pula memperkuat Inggeris dan Australia membela Malaysia.

Ketika konfrontasi itu, bangsa kita memang terbakar oleh semangat nasionalisme yang berkobar-kobar. Presiden Soekarno yang sangat karismatis, marah besar kepada Malaysia karena menganggap negara itu khusus dibentuk oleh Inggeris hanya sebagai boneka untuk melegitimasi pangkalan militer Inggeris dan Amerika di Malaysia (yang pada awalnya masih mencakup Singapura). Malaysia dianggap antek imperialis dan Presiden Soekarno sangat anti imperialis.

Tetapi sesungguhnya konfrontasi Indonesia-Malaysia pada ta-hun 1964-1965, adalah konfrontasi setengah hati. Bahkan ada faksi di Malaysia ketika itu mengkaji, bahwa konfrontasi terjadi lebih karena persaingan pribadi antara Bung Karno dengan Tunku Abdul Rahman, pemimpin Malaysia. Buku biografi "Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan" yang ditulis Julius Pour, memberikan gambaran yang cukup gamblang. Ketika Malaysia diproklamasikan kemerdekaannya, sasaran utama amukan massa unjuk rasa di Jakarta bukan justru Gedung Perwakilan Malaysia, tetapi Kedutaan Besar Inggris. TNI-AD dan TNI-AL pun ketika itu sangat hati-hati merespon suasana yang sangat provokatif karena tidak mau terlibat dalam perang terbuka dengan Inggris, yang dianggap dapat membahayakan keutuhan bangsa.

"Perselisihan diantara kedua Negara", demikian ditulis Julius Pour lebih lanjut, "nampaknya kurang memperoleh dukungan yang bulat. Berlainan dengan situasi ketika pemerintah Indonesia melancarkan kampanye untuk membebaskan Irian Barat. Maka, selama berlangsungnya Konfrontasi Malaysia, terasa hanya massa komunis dan unsur radikal kiri lainnya yang memberikan sambutan hangat. Para pemimpin golongan kiri tadi bahkan mulai berusaha untuk memanipulasi situasi, seolah-olah sudah muncul dukungan meluas dalam pelaksanaan konfrontasi." Pangeran Norodom Sihanouk, Pemimpin Kamboja, sahabat kental Bung Karno, juga menilai, ganyang Malaysia tidak dilakukan secara tulus.

Dua hari lalu saya ditelepon oleh dua orang sahabat dari Kuala Lumpur. Seperti biasa kami bertegur-sapa dalam nada ceria penuh canda. Seorang diantaranya mengatakan akan berkunjung ke Pekanbaru pekan depan. Beberapa hari sebelumnya, saya menerima email dari Guangzou, Cina. Tapi yang berkirim email bukan petinggi negeri Tirai Bambu itu, dia adalah Konsul Jenderal Malaysia di Guangzou, Encik Samad Othman32), sahabat saya yang sempat lama bertugas sebagai Konsul Malaysia di Pekanbaru, Riau.

Encik Samad mengatakan dia rindu berat dengan teman-teman di Pekanbaru yang sangat familiar dan menyenangkan. "Bertugas di Riau, saya tidak pernah merasa seperti di negeri lain," katanya. Kedua orang sahabat saya yang dari Malaysia itu, tak sepatah katapun berbicara tentang Ambalat, kepulauan yang dipersengketakan. Padahal dalam beberapa hari ini beritanya sangat seru terutama di dalam negeri. Saya pun tak hendak bertanya masalah itu.

Ada dua kemungkinan kenapa sahabat saya tak berbicara tentang Ambalat. Yang pertama, mereka mungkin tidak tahu. Kalau mereka tidak tahu, berarti Ambalat tidak menjadi berita penting di Malaysia. Atau kedua, mereka tahu tapi tak ingin ikut campur, sebab masalah Ambalat murni urusan G to G (Government to Government), bukan urusan rakyat.

Saya teringat ucapan Albert Camus, "Sebuah bangsa tidak dijastifikasi dengan cinta buta putra-putranya, sebab cinta semacam itu akan berbuah kehancuran."

Kalau tak ada mendung kita tak akan pernah menikmati matahari. Konflik itu tak ubahnya awan mendung yang menggayut di atas semenanjung, sekejap saja akan berlalu ditiup angin.

(Tabloid MENTARI No.186/IV/14-20 Maret 2005)

30) jerebu, Melayu, asap/kabut yang disertai debu yang melayang di atmosfer dan menyebabkan keadaan sekeliling menjadi kabur.
31) hala, Melayu, arah yang dituju; dua hala berarti dua arah/kedua belah pihak.
32) Encik Samad Othman, saat buku ini diterbitkan, menjabat sebagai Duta Besar Kerajaan Malaysia di Yaman.


Tulisan ini sudah di baca 131 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/426-Mendung-Di-Atas-Semenanjung.html