drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 3

Perahu Kencana


Oleh : drh.chaidir, MM

Inilah masa ketika perahu diyakini bisa mengantar seseorang ke singgasana, tidak ada cara lain. Tak dengan pesawat, tak dengan mobil jaguar (yang bikin riuh itu), tak pula dengan kereta kencana. Harus perahu, perahu kencana! Maka tak heran bila demikian banyak orang mencari dan ingin menggunakan perahu kencana, menumpang dan mendayungkannya ke pulau seberang. Banyak yang tak segan-segan mendaki tujuh bukit tujuh gunung, menuruni ngarai untuk sampai ke tepian dimana perahu tertambat. Tapi sayang, sang perahu kencana jumlahnya sangat terbatas. Maka, berlakulah hukum ekonomi, semakin banyak permintaan - sementara persediaan terbatas - harga pun semakin melambung.

"Bisnis perahu" semakin menjadi-jadi. Ada yang mencari ada yang menawarkan. Perahu besar atau perahu kecil, panjang atau pendek sama saja, yang penting ada. Ada yang berteriak-teriak, perahu panjang namanya 'jalur', perahu pendek 'tiga seribu'. Lantaklah...he..he..he... Perburuan untuk mendapatkan perahu menjadi tontonan menarik karena penuh dengan jurus-jurus yang mengagumkan dan memabukkan. Praktik-praktik illegal pun menjadi sesuatu yang inheren dalam perlombaan untuk mendapatkan perahu kencana ini. Sikut lawan sikut kawan, tipu lawan tipu kawan menjadi keseharian. Calo pun merajalela menawarkan perahu kencana, mengaku memiliki perahu, mengaku bisa mengupayakan, atau mengaku sebagai perantara melakukan tawar menawar mewakili pemilik karena sang pemilik konon pemalu. Sang calon penumpang pun tidak segan-segan menyerahkan pundi-pundi, yang penting dapat perahu. Sang calon dan sang calo sama-sama menari dan menyanyi di sini senang, di sana senang. Ada calon penumpang yang sudah kenduri tujuh hari tujuh malam dan menumbangkan beberapa ekor lembu, tapi kemudian gagal berangkat karena perahu kencana yang dijanjikan ternyata hanya dusta. Tapi apa hendak dibuat, pat gulipat, tahi kambing bulat-bulat dimakan tak pula jadi obat....

Dalam perlombaan mendapatkan perahu kencana berlaku hukum: tidak ada hukum! Yang memerlukan perahu kencana adalah sang bakal calon penumpang. Perahu tidak akan pernah bisa berangkat sendiri, dan sesungguhnya perahu yang asli tidak memerlukan upeti. Bila sang bakal calon merogoh pundi-pundi, risiko tanggung sendiri. Bila uang tak kembali jangan sakit hati.

Perahu ternyata bisa membuat orang bermimpi terbang ke awan. Dengan adanya perahu seseorang membayangkan bisa mendayung perahunya dengan laju, untuk sampai ke pulau seberang. Di pulau seberang telah menunggu istana yang indah, singgasana yang bertatahkan mutu manikam, permaisuri yang cantik jelita dengan seribu dayang-dayang dan - tentu - beberapa selir yang molek aduhai. Makanan pun melimpah ruah, semuanya enak dan enak sekali. Pakaian pun tersedia, semuanya bagus dan bagus sekali laksana pakaian selebritis dan raja-raja.

Bagi yang beruntung mendapatkan perahu kencana - tentu dengan kenduri tujuh hari tujuh malam tujuh lembu dan tujuh penjuru 'jemputan' - lupa bahwa itu belum jaminan seseorang akan sampai ke seberang untuk menduduki singgasana. Bukankah dia harus menjadi nakhoda bagi perahunya sendiri? Itu artinya, dia harus memiliki kemampuan yang teruji untuk melayarkan perahunya dan menjadi seorang nakhoda yang paham. Tidak hanya itu sang nakhoda harus berani menantang badai, membaca ombak dan mampu melayarkan perahunya di tengah malam yang kelam bersuluh bintang di langit. Oleh karenanya dia juga harus piawai membaca bintang di langit, membaca angin, bahkan membaca karang di dasar samudra. Bukankah cuaca tidak sepenuhnya bisa diramal dan tidak selamanya bersahabat? Bukankah tidak ada jaminan perahu akan belayar di tengah laut yang tenang? Bintang-bintang yang digunakan sebagai suluh dimalam kelampun adakalanya tidak menampakkan diri. Malam memang sekali sekali sepi bintang.

Singkat kata, untuk melayarkan perahu kencana itu dengan selamat tidak cukup hanya dengan kemampuan sekadarnya. Apalagi hanya bermodal nekad dan nasib. Bila perahu dilayarkan dengan hanya bermodalkan nekad, dijamin sang perahu akan tenggelam. Sang nasib pun tidak akan berpihak kepada nakhoda-nakhoda yang tak pandai membaca ombak dan mengukur bayang-bayang sepanjang badan.

Untuk diingat, hanya ada satu perahu yang akan sampai dengan selamat ke pulau seberang, yang lainnya harus kembali ke tepian pemberangkatan atau tenggelam. Kenapa demikian? Karena demikianlah hukumnya. Singgasana yang bertatahkan mutu manikam itu hanya satu, tidak lebih walaupun dayang-dayangnya banyak. Untuk itu berani berlomba mendapatkan perahu, berani berlomba mengarungi samudra, harus siap kalah siap menang.

Perahu kencana yang diperebutkan dan diperlombakan itu mengingatkan kita kepada sejumlah kearifan Melayu yang akrab dengan budaya sungai dan selat. Perahu itu bila diperoleh dengan permainan yang fair dan diperlombakan dengan penuh kesantunan, maka kemenangan yang menunggu akan diperoleh dengan keterhormatan. Tapi bila diperoleh dengan cara-cara yang tidak fair, maka dia ibarat mata air yang keruh, kelak akan senantiasa mengalirkan ak yang keruh, tidak pernah akan menjadi jernih.

Kearifan perahu juga mengajarkan kepada kita betapa tidak mangkusnya tenaga yang digunakan bila kita tidak mendayung serempak. Dan, situasinya akan lebih buruk bila kita sampai pada suatu keadaan: kita seperahu tapi tak sependayungan, maka kita akan menjadi orang-orang yang malang.

Perahu kencana itu juga memberikan perspektif, betapa seorang nakhoda dituntut untuk paham. Paham bermakna sangat dalam. Seorang nakhoda harus memiliki kompetensi yang 'mumpuni'. Bila kita renungkan lebih jauh, kata 'paham' mengandung dimensi capability, capacity dan credibility. Ketiganya merupakan persyaratan minimal untuk menjadi seorang nakhoda yang paham, sehingga tidak akan mencelakakan kapal dan penumpang, sebaliknya bahkan, dengan modal itu sang nakhoda akan dapat memanjakan penumpangnya.

Capability, capable, kapabilitas, mengandung makna cakap, tanggap, tangguh. Seorang nakhoda harus mampu melayarkan perahunya di tengah malam yang kelam dengan hanya bersuluh bintang. Sang nakhoda tidak boleh mabuk diayun gelombang, sekali layar terkembang berpantang surut ke belakang. Capacity, kapasitas, mengandung makna mampu. Sang nakhoda harus memiliki kemampuan membaca bintang di langit, mengerti ilmu falak, menguasai navigasi sehingga mampu mengarahkan haluan seuai tujuan. Credibility, kredibilitas, mengandung makna dapat dipercaya. Di tangan nakhoda tergantung nasib dan nyawa penumpang.

Perahu dan pilkada, dua padanan yang tak terpisahkan, keduanya alat untuk mencapai tujuan, bukan segala-galanya. Dunia tak akan kiamat bila seorang calon tidak mendapatkan perahu atau tidak mampu melayarkan perahunya menjadi pemenang. Sebab, pemenang dan pecundang hanya dipisahkan oleh sebuah labirin, kedua-duanya bisa menjadi berkah atau kedua-duanya akan menjadi musibah.


(Tabloid MENTARI No.224/Th V/16-22 Januari 2006)


Tulisan ini sudah di baca 147 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/425-Perahu-Kencana.html