drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 3

Resentralisasi Samar-samar


Oleh : drh.chaidir, MM

Semboyan "Merdeka atau mati!" tak lagi menjadi jampi sakti hari ini. Masa 61 tahun yang lalu ketika semboyan itu memenuhi relung dada setiap pemuda di nusantara ini, atau siapa saja yang membenci penjajahan, memang sudah lama berlalu. Saksi hidup yang berjuang hidup-mati mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta tanggal 17 Agustus 1945 itu tak lagi banyak. Satu demi satu mereka berangkat bersama burung waktu (meminjam istilah sastrawan Allahyarham Idrus Tintin) meninggalkan jejak-jejak sejarah.

Para pejuang kemerdekaan itu memang tak mungkin melawan waktu. Tapi apa yang mereka lakukan dengan semangat bergelora tanpa kenal rasa takut telah mengantarkan kita ke gerbang kemerdekaan menjadi sebuah bangsa yang berdaulat. Banyak diantara pahlawan kusuma bangsa itu yang tercatat namanya, tapi lebih banyak lagi yang tak dikenal; mereka gugur di hutan di sungai di laut, tak terhitung jumlahnya. Para pejuang kita yang bertempur sampai tetesan darah penghabisan tidak pernah berpikir tentang tahta dan harta. Agenda mereka tunggal, merdeka atau mati. Mereka berjuang tanpa letih, siang dan malam, dengan mengorbankan apa saja, untuk memberikan warisan yang berharga kepada masa sesudahnya, untuk menciptakan mahkota martabat yang mungkin saja tak terpasang di kepala mereka, untuk memajukan sebuah negeri yang mungkin saja tak sempat mereka lihat gelegarnya. tapi mereka melakukannya dengan sepenuh hati, atas nama tanggung-jawab terhadap tanah, atas nama penghormatan dan pengabdian kepada sebuah negeri yang sudah mengasuhnya berbilang waktu dan bermusim purnama. Mereka telah menebas sebuah jalan lapang dan mempersilakan kita untuk berjalan di atasnya.

Oleh karena itulah sekali setahun menjadi kewajiban sejarah bagi kita untuk mengenang jasa-jasa mereka sambil melakukan perenungan apa yang telah dan akan kita perbuat untuk mengisi kemerdekaan yang telah dihidangkan dengan bertalam-talam darah, air mata, bahkan nyawa.

Sejarah adalah sebuah pesan bagi kita yang masih hidup bagaimana seharusnya melakukan tindakan pada hari ini dalam rangka menyongsong masa depan. Sejarah bukan semata soal masa lalu, tapi memiliki arti penting bagi kekinian, karena sejarah pada hakikatnya adalah sebuah pondasi bagi seorang manusia, komunitas, puak, bangsa, atau negeri, untuk terus membangun apa yang menjadi kehendak, cita-cita, maupun hasrat yang menjadi dasar luhur keberadaannya.

Kearifan dan tindakan yang benar dalam memahami sejarah merupakan sebuah syarat mutlak dalam upaya mencapai kemajuan. Sejumlah negara di dunia dapat menjadi besar atau sebaliknya menjadi kecil, juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana generasi penerus negeri itu memahami sejarahnya. Ketika Jepang, Cina, dan sebagian besar Eropa, dapat secara bijak membaca dan mengambil secara benar "muatan" masa lalunya, maka mereka kian hari kian tumbuh menjadi negeri yang besar dan disegani. Namun demikian tak sedikit pula bangsa yang dalam sejarahnya demikian besar, penakluk agung, bangsa yang memunculkan pencerahan seperti Yunani, Mesir, Babylonia, Persia dan Mongol, misalnya, tidak tumbuh sebagaimana mestinya, bahkan menjadi hilang dalam gemuruh kekinian. Hal ini terjadi karena generasi penerus bangsa itu tidak melakukan tindakan-tindakan yang semestinya, atau tidak mengambil nilai nilai secara benar dari sejarah mereka sendiri. Kegagalan generasi dalam membaca sejarah secara benar itulah yang menjadi penyebab, mengapa kawasan-kawasan yang pada masa lampau pernah menjadi pusat peradaban umat manusia, pada hari ini gagap di tengah gelegar kemajuan yang ada.

Inti penting dari sebuah sejarah dalam konteks kekinian, adalah bagaimana kita mengambil iktibar dan melakukan sesuatu atas pelajaran itu. Kita tahu bahwa dalam sejarah ada sesuatu yang menggembirakan, maka tugas kita hari ini adalah menggenapi kegembiraan itu. Kita tahu dalam sejarah ada catatan kebesaran, maka tugas kita adalan meneguhkan kebesaran itu pada hari ini dan mempersiapkannya pula untuk masa datang. Kita tahu dalam sejarah ada kegagahan dan kemegahan, maka tugas kita hari ini adalah melanjutkan keagungannya. Kita Tahu dalam sejarah ada gemuruh juang, maka tugas kita hari ini adalah menjadi pedang yang terus teracung untuk menebas rintangan. Kita tahu bahwa sejarah pernah mengirimkan luka, maka tugas kita hari ini adalah mengo-batinya dan tidak membuat luka itu menjadi berdarah kembali. Kita tahu bahwa sejarah pernah menggemakan gundah gulana, maka kita semua pada hari ini adalah orang-orang yang harus berbuat secara benar untuk menggantikannya dengan sesuatu yang lebih berharga demi kemaslahatan semua.

Jika kita tak menghiraukan itu semua, maka kita akan menjadi sebuah bagian dari generasi yang berkhianat kepada sejarah. Tindakan kita hari ini semuanya akan menjadi sejarah. Sambil mempelajari sejarah, kita menjadi bagian dari sejarah di masa depan. Kitalah yang memutuskan, apakah kita ingin menjadi generasi yang mengirimkan luka ke masa depan atau berkirim cinta. Semua tergantung kita. Jika kita tidak berbuat sebagaimana yang diamanatkan oleh sejarah, maka sungguh, pada masa datang kita akan dikenang sebagai sebuah penggalan sejarah yang kelam, sunyi-senyap, atau bahkan dicela dalam setiap kenangan. Alangkah menyedihkan.

"Merdeka atau mati!" dewasa ini memang tidak lagi menjadi jampi. Tantangan sudah berbeda. Pemuda-pemuda bunga bangsa yang tumbuh mekar hari ini, adalah mereka yang dilahirkan di alam kemerdekaan, jauh dari baru mesiu dan anyir darah perang, jauh dari masa kelaparan. Banyak yang sudah dilakukan republik tercinta ini, pembangunan di segala bidang, jatuh, bangun, jatuh-bangun. Ada orde lama, orde baru, orde reformasi, ada senttalisasi, ada pula desentralisasi. Semuanya dalam upaya mencari format terbaik. Kita tak mau disebut penganut paham liberalisme, tidak juga sosialisme apalagi komunisme. Kita beda. Apapun namanya, sebenarnya pesan sejarah itu sederhana. Bangsa ini tidak boleh memangsa anak negeri, tapi harus memberikan mangsa yang berlimpah ruah untuk anak negeri. Aman, damai, tenteram, terhormat, sejahtera lahir batin, itulah yang dicita-citakan.

Usia 61 tahun memang masih kalah jauh dibandingkan dengan Amerika Serikat yang sudah merdeka lebih dari 200 tahun. Tapi 61 tahun bukan masa yang pendek untuk sebuah pertanggungjawaban.

Hari ini mestinya kita tak lagi disibukkan dengan format-format dasar. Hari ini harusnya semua sistem dasar sudah duduk. Kerangka besar sudah tak berubah-ubah. Tapi pada kenyataannya kita masih bongkar pasang sehingga menghabiskan energi. Akibatnya kita tidak bisa berkonsentrasi mengatasi masalah kemiskinan, kebodohan, masalah kesehatan, masalah pertanian, masalah sosial dan sebagainya. Otonomi daerah sebagai jawaban terhadap masalah serius ekses kebijakan senttalisasi, misalnya, tidak sungguh-sung-guh diapresiasi. Bahkan ada indikasi adanya upaya-upaya untuk resentralisasi. Perpres tentang pertanahan misalnya, memberikan kewenangan sangat besar kepada Badan Pertanahan Nasional untuk mengambil kebijakan terpusat, padahal semua kita tahu masalah pertanahan itu spesifik karena banyak dipengaruhi oleh hukum adat di daerah.

Upaya-upaya memperkokoh institusi pusat dan memperlemah institusi daerah sebagai upaya untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan nasional, adalah pendekatan tempo doeloe yang sudah ketinggalan zaman.

Kesejahteraan, kemajuan, dan ketinggian martabat yang menjadi inti dalam perjuangan pembentukan negara ini tidak akan terlaksana sebagaimana mestinya, jika semua persoalan yang terbentang di depan mata kita tidak terselesaikan secara baik. Zamrud khatulistiwa, akan terabaikan jika tidak dikelola dengan sebuah dasar yang bagus, tidak diurus dengan niat yang baik. la bahkan akan menjadi sebuah "kutukan" bagi semua. Berapa banyak bangsa dan negeri, mundur dan hancur karena kegagalan membangun cara pandang yang benar terhadap diri, dan tanah tempat ia berpijak.

DIRGAHAYU INDONESIA.


(Tabloid MENTARI No.243/Th V/17 - 27 Agustus 2006)


Tulisan ini sudah di baca 169 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/420-Resentralisasi-Samar-samar.html